Total Tayangan Halaman

Minggu, 30 Maret 2025

YANG TERLUKA

 YANG TERLUKA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Malam takbiran menjadi penyatu semua keluarga. Senyum dan canda tawa menyeruak di ruang makan. Semacam gala dinner keluarga. Opor ayam dan aneka sajian pamerkan semua pesonanya. Penuntasan puasa disambut santapan serba lezat yang biasa didapatkan setiap saat, ditambah lagi dengan berkumpulnya semua keluarga.


Malang bagi Zara Eng yang sejak bulan-bulan menjelang puasa sudah terjangkit Gastritis semacam peradangan lambung. Jangankan menyantap sajian yang begitu lezat, menghirup aromanya saja sudah hendak muntah. Perutnya bergejolak, ditambah lagi pemasukan ekonominya yang teramat sulit, sementara kebutuhan keluarga kian membengkak saja. Anggota keluarganya hanya cukup berkata, "kasihan" tanpa adanya solusi. Sementara sahabatnya yang senantiasa mensupport ternyata selama bulan puasa ini seakan acuh dan tak mau peduli. Memang dianya telah berkata, selama ramadhan koneksitas diputusin dulu agar konsentrasi dalam ibadah. Masa sih keadaan yang sudah genting begitu masih cuek saja? Yaa begitulah sebuah komitmen yang telah sama menyetujuinya.


Menjelang Maghrib tiba, tetiba saja Zara merasa sama sekali tak punya daya, dan dia pun ambruk di tempat tidurnya. Bukankah besok hari lebaran dan semua bersukacita meraih hari kemenangan? Di perasaan Zara, "aku harus tumpahkan semua air mata menerima semua kenyataan". Dia mencoba menenangkan diri walau sebenarnya begitu perih menyiksanya. Dia mulai merasakan penyesalan, bukankah sebelum bulan puasa tiba, sahabatnya telah berkata, "bermanjalah senyampang belum puasa tiba, karena di bulan itu kita harus berkontemplasi, fokus ibadah". Dia telah menyia-nyiakannya dan lebih cuek dan asyik dengan medsos dan teman-temannya yang lain. And so mungkin hanya alasan saja sahabat sejatinya mengatakan hendak fokus puasa, padahal telah mencampakkannya. Yach, kan hanya sekedar teman sejati, pacar pun bukan? Ngapain harus dihiraukan? Di otak Zara berkecamuk semua perasaan itu. Tetiba saja sang teman menghubungi agar segera rujuk ke dokter pribadinya, walaupun hanya sedikit finansial ditransfer kepadanya. Tanpa rujuk ke dokter, separuh rasa sakitnya mulai hilang. Kepeduliannya menjadi pembalut luka hatinya. "Sembuhlah bidadariku", itulah kekata yang membuat Zara tak merasa lara sendiri, ternyata ada teman spesial yang masih tetap mengerti dalam situasi apapun padanya.

-----

Bondowoso, 30 Ramadhan 1446

Senin, 24 Maret 2025

Munajat RINDU

Munajat RINDU 
Pak Tyqnue Azbynt 


Beberapa bulan terakhir aku sengaja mengesampingkan Zara dalam ingatanku. Menuntaskan tugas penelitian dan tetekbengik lainnya dari kampus telah memaksaku melupakannya. Ternyata di luar Zara masih banyak orang-orang asyik lebih membuatku nyaman, Tinimbang dia yang selalu merepek memanja, tapi saatnya aku cemburu kala dia dibersamai orang, dianya malah menganggap hanya sekedar teman, atau tak punya hubungan apa-apa. Dia sendiri begitu pencemburu dan sahabat-sahabat cewekku dicurigai semua. Hello, mana kuat aku kawan!

Biar tidak tambah runyam semua teman Zara, kujauhi semuanya. Mending cari sahabat baru yang jauh dari pantauan mereka. Bagiku, sahabat cowok adalah sahabat pemuncak karir, sedangkan sahabat cewek adalah penenang jiwa. Berkali-kali calling dari Zara dan kawan-kawannya aku acuhkan. Mau marah, mau sedih, aku tak mau ambil pusing.  Tekatku adalah menjauhi mereka demi karir dan kuliah segera tertuntaskan. 

Selepas santap sahur, kucoba membuka-buka email. Biasanya sih teman-teman penulis yang minta pandangan atau bahkan mengeditkan karyanya. Aku tertarik pada sebuah tulisan yang ditulis oleh "Zie" yang berjudul "Munajat RINDU". Sepertinya ini penulis baru, namanya asing bagiku. Cerita-cerita tentang kerinduannya dinrasikan dengan apik, pilihan kata, pertautan rasanya lumayan menarik, pinternya si penulis membuat alur ceritanya  bersambung. Saat aku menunggu surel berikutnya ternyata tak begitu lama datang juga episode berikutnya.  Begitu ada notulasi surel masuk, alangkah terkejutnya aku. Berlembar-lembar fotonya saat di Kampus, tempat kost dan lain-lain di sertakan pada surel yang baru kuterima. Ternyata si Zara Eng yang memaksa menghubungiku. "Mas, wanita selalu punya cara tuk meruntuhkan keangkuhan lelaki!"
"Ciye ciyeee paling mas pengin dekat aku lagi, cuman sok cuek, come on sayang jangan diemin aku akan kuadukan ke papa mama, bahwa engkau
 melecehkan aku"

---
Bondowoso, 24 Ramadhan 1446

Kamis, 13 Maret 2025

KETIKA UANG SAKU MENGERING

 KETIKA UANG SAKU MENGERING 

Pak Tyqnue Azbynt 



Artificial Intelegence benar-benar menjajah dunia para seniman. Dulu hanya dengan kanvas 40x60 sudah bisa meraup jutaan rupiah hanya satu pose wajah saja. Kini lukisan AI lebih sempurna dan super murah. Utak-atik sendiri via android lalu cetak kanvas, and jadilah lukisan profesional. Bagi orang awam itu sangat bagus, tapi bagi para perupa justru kering makna. Bagi tubuh tak bernyawa.


Terpaksa aku beralih ke dunia literasi, yaa lumayanlah mendapat upah berpena di beberapa media. Namun tak seberapa lama Meta AI memporak-porandakannya. Penyuka tulisan fiksi lebih menghalukan dirinya sebagai tokoh cerita, setting dipesan, nama-nama tokohnya dipesan, dan dalam hitungan detik jadilah cerpen dan sejenisnya. Otak cerpenis yang biasa membuat imaji dengan 1000 kata menjadi kalah telak pada Kenakalan AI. Dus apa imbasnya? Uang sakuku sering mengering karena tak ada kerja seni yang bisa bercuan.


Pagi itu Bu kost sudah ceramah dan membaca hotbah tagihan uang kost. Celotehnya yang memekak di gendang telinga menjadi aku tak betah di ruang kost. Walhasil Osmond gitar akustik kubawa ke komplek perumahan tuk mengamen. Wajah seperti terbakar saat dibully anak-anak kostan cewek yang kadang bikin marah di hati. Malu? Ya jalani saja dari pada Bu kost marah-marah macam penyidik KPK saja. Dilalah di salah satu gang yang juga komplek kost cewek aku dan temanku diajak mampir ke terasnya sembari nyanyi-nyanyi lagu balada. Entah mereka iseng atau apalah aku diberi cuan yang bisa nutupi uang kost. Fathma Fung mahasiswi Amoy itu memberiku uang yang tak wajar. "Besok-besok bali lagi mas, kita bisa nyanyi-nyanyi sama teman-teman di sini, oke?" "Yap, I Will" pungkasku. Dan kami segera pulang dengan kebahagian full tuk lapor bulan pada Bu kost. Kebahagiaan itu bukan karena cuan belaka tapi kerlingan mata Fung yang telah menjerat hati ini. 

-----

Bondowoso, 13 Ramadhan 1446

Rabu, 12 Maret 2025

NGAMPUS SENDIRI

 NGAMPUS SENDIRI 

Pak Tyqnue Azbynt 



Materi kuliah statistik sama sekali tak menarik bagi kami, ditambah lagi dosennya kurang simpatik ya bisa dipastikan sepi peminat. Hanya mereka-mereka budak kampus yang begitu serius mengikutinya. Semua gengku dipastikan tak menyukai materi kuliyah itu.


Aku memilih memanjakan diri di studio lukisku. Bermain warna di atas kanvas, berekspresi lewat sapuan kuas dan palet knife. Salah satu rekreasiku adalah merupa atau menyanyi di studio. Finally kulupakan saja semua teori-teori di kampus.


"Bro, bidadarimu kenapa nyasar di pelataran kampus? Kuliyah kagak tapi malah ngampus", celetuk Ali Swarno kating kampus. Sontak saja saat santaiku terganggu. "Huh bakalan runyam ne dunia" begitu benakku. Apa masih belum selesai cemburunya, atau ada masalah lain? Aku tahu betul karakter Zara yang sensitif itu. Mau dibiarkan takut terjadi apa-apa, mau disamperi takut malah tambah runyam. Akhirnya kudatangi jua dan pantau dari kejauhan siapa tahu ada info lainnya yang bisa aku dapatkan. Ah, jangan-jangan dia hanya pura-pura cemburu demi lepas dariku, atau dia dah punya gacoan lain? Perasaan mulai kacau dah, mau dilindungi, dimanja, atau campakkan saja? Dilalah pas aku ngafe ada pemain badut di seberang jalan, yaa bisa pinjm kostumnya. And finally aku memakai kostum badut yang ternyata tidak sebegitu bau keringat mungkin karena lumayan baru. 500 ribu kuberi pada mas badut, dan aku pun mulai beraksi menari-nari mendekati Zara. Kuberi dia mawar sulap milik mas badut lalu kuucapkan "I Love you" padanya. Dia menarik tanganku seraya berbisik, " Maaf aku sudah punya mas Dino, yang biasa menjaga dan memanjakanku". Mendengar kata-katanya aku merasa senang, kuberikan dia Pager (pengirim pesan SMS sebelum ada HP), " tolong dijaga, pager ini terkunci dengan sandi, suatu saat orangnya yang kan membuka sandinya", dia hanya mengangguk setuju. Aku pun berlalu mengembalikan kostum mas badut. 

___

Bondowoso, 12 Ramadhan 1446

Selasa, 11 Maret 2025

ME TIME

 ME TIME

Pak Tyqnue Azbynt 



Setelah berpekan-pekan otakku penuh sesampah kini kusegarkan kembali semuanya. Enyahkan semua beban, memanjakan pikiran tanpa rumus-rumus dan retorika-retorika tak penting. Dengarkan suara alam, belai Sepoi angin dan kembarakan angan ke alam santai.


Saat mengenyahkan semua penyiksa bathin lalu berbicara lewat rasa, baru dapat kumaknai bahasa angin, arti cahaya, bahkan terbangnya dedebu. Pergi ke pelataran huma yang tanpa suara elektronik, tanpa kelakar tetangga, tanpa bising motor dan mobil. Baru kurasakan ketiadaanku, dan terakhir harus berlabuh pada Sang Ilah penguasa segala.


Perlahan kunikmati harum bebunga liar, gemeretak ranting patah dan segalanya kunikmati bersama makluk di sekitarku. Lama duduk bersila memusatkan semua indra dan bertumpu pada otak dan hati, baru aku mengerti bahwa aku bukan siapa-siapa, hanya bergerak mengikuti takdir. Harapku semoga takdir ini menjadi akhir yang indah, mendapat Ridha Sang Ilah.

---

Bondowoso, 11 Ramadhan 1446

Senin, 10 Maret 2025

IFTAR

 IFTAR 

Pak Tyqnue Azbynt 



Langit masih saja menjanjikan deras hujan, tampak begitu berat awan menggelayut di tiang cakrawala. Desau angin kabarkan resah seperti Zara Eng yang masih saja uring-uringan. Entah harus dengan apalagi agar luka hatinya bis kuobati. Wajah murungnya dan kekatanya yang sering ketus itu membekap napas hatiku.


Tak selaiknya puasa ini menyimpan dendam dan aku harus bisa mengobatinya. Otakku seakan membuntu saja. 

Tetiba ada calling dari salah seorang sahabat penulis yang mengajak untuk buka puasa bareng di Gandok gede miliknya.


Zara kujemput di rumahnya tuk menghilangkan bad mood-nya, atau setidaknya semacam pendekatan ulang. Kan kurajut lagi dari awal dan memulai semua cerita dari lembar-lembar awal.    Saat azan Maghrib tiba kuambilkan dua buah kurma Tunisia yang kuning keemasan. Kusuapkan walau dia sedikit mengelak. Dilalah tanpa sengaja dia melihat gantungan kunci replika tarantula, dia yang fobia binatang itu seketika saja langsung memelukku erat sekali. Anehnya saat ganci itu dijauhkan oleh temanku, dia tetap saja menggelayut, yang semula dingin ketakutan, kok menjadi hangat. Aneh? ,"Sabar sayang ada kang mas yang akan melindungimu" Tatapan tajamnya dan sedikit senyum di bibirnya menjawab semua cerita itu.

---

Bondowoso, 10 Ramadhan 1446

Selasa, 04 Maret 2025

RINDU LANGIT SENJA BUKHARA

 RINDU LANGIT SENJA BUKHARA 

Pak Tyqnue Azbynt 


Pertemuan di Kalyan Minaret antara Inar arroisy cewek Indonesia dengan Alee Mahmoudov seorang seniman pahat dari Bukhara menjadi catatan tersendiri bagi Inar. Tangga menara yang hampir 200an itu memang benar-benar menyiksa kaki cantiknya. Baru sekitar 100an anak tangga dia terkilir, beruntunglah tubuhnya langsung disanggah oleh sang seniman. Cowok lokal tampan dan sopan membuat dadanya bergetar. Tampak bulu halus di tangannya, terasa merinding saat menyentuh tangan Inar. 


Dengan kaku cewek itu melakukan dialog bahasa Arab padanya. Bukan karena tak bisa Bahasa Arab, kan di kampusnya sudah terbiasa dengan Abuya sang pengasuh. Intinya kekakuan berdialognya bukan karena tak bisa tapi justru karena berhadapan dengan cowok asing yang menolongnya. Untunglah Iseh dan Ayesha menimpalinya dan sesekali berbahasa Uzbekh dengannya. Inar berpikir kalau ia hendak di bully oleh dua cewek Indo-Kazakh itu. Tapi perasaan itu segera di tepisnya jauh-jauh, toh dua cewek itu yang pernah membantunya saat di Degistan Samarkand Square dulu. 


Ayesha menelponku saat rehat santai di hotel Madrasa katanya suruh menemuinya di pelataran masjid Bukhara, dan pesannya agar Inar and the Genks turut diajak. Singkat cerita kami pun meluncur ke sana di sore itu. Sesampai di lokasi ternyata dia telah bersama Si Alee Mahmoudov. Beberapa souvenir Wood carving dibawanya untuk kami, tapi yang paling bagus justru untuk Inar. Sebuah  souvenir tempat Alqur'an warna coklat kemerahan dengan  kaligrafi Arab bertuliskan "INAR Arroisy and ALEE Mahmoudov".  Wah ada sinyal ne, begitu pikirku. Sore telah menyila senja saat Alee dan Inar saling berjabat tangan sembari melepas senyum tipis penuh makna.

__

Bondowoso, 4 Ramadan 1446


Senin, 03 Maret 2025

LEPYOSHKA dan BENCANA KECIL INAR

 LEPYOSHKA dan BENCANA KECIL INAR

Pak Tyqnue Azbynt 



Libur pasca semesteran di sebuah kampus Istitut Agama Islam al-Maliki Bondowoso menjadi anugerah tersendiri bagi Inar dan kawan-kawan. Rutinitas, ngitab, mengkaji literasi, dan tetekbengik lainnya memang menyiksa otaknya. Sengaja kutawarkan kejutan bagi dia dan beberapa kawannya tuk sekedar "kabur aja dulu" ke Uzbekistan yang bebas visa bagi kita orang Indonesia, lagian aku juga punya teman indo dari sana Ayesha Zhanar dan Iseh Gulzhan yang kebetulan juga pulkam ke rumah mamanya.



Degistan Samarkand Square menyambut kami di suhu minus satu derajat, tampak pepohonan sudah bermahkota salju. Alun alun yang diapit masjid dan beberapa madrasah dengan bangunan megah abad pertengahan menjadikan penyihir hati kami. Walau sudah dijadikan spot wisata dan orang berjualan souvenir tapi nuansanya masih terasa saja. Saking girangnya Inar dan kawan-kawan duduk lebay di pelataran masjid yang sudah tak ditempati beribadah itu. Jepret sana sini, berputar-putar Sampai guling-gul8ng. Ah lebay amat, karena ulahnya roti lepyoshka (lepyshka) yang dipegangnya jatuh ke lantai. Sontak saja seorang ibu-ibu memarahinya begitu pun orang disekitarnya ikutan marah. Dalam suasana kacau itu terpaksa kutelpon Ayesha untuk segera datang mengatasi masalahnya. Ya sekitar beberapa menit dia datang mengurai keruwetan itu. Usut punya usut ternyata ada keyakinan masyarakat sana kalau meletakkan Lepyoshka di lantai itu tabu, yang diyakini bakal ada bencana di daerah itu. Untunglah penjelasan Ayesha bisa dimaklumi oleh orang sana. Ya intinya di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Jaga sikap, jaga etika.

_

Bondowoso,  3 Ramadhan 1446





Minggu, 02 Maret 2025

NGEDAI BARENG AYESHA ZHANAR

 Ngedai bareng AYESHA ZHANAR 

Pak Tyqnue Azbynt



Liburan semester telah mendamparkan aku ke kampung halaman yang damai. Otak kembali segar dan tenang dengan sendirinya dengan healing di kota kecil Bondowoso. Sore hari keliling di bilangan main road dengan menunggang motor listrik dengan santai. Bergerak dengan senyap lebih memprioritaskan telingaku menangkap semua suara. Kota kecil masih lumayan damai dari kepadatan lalu lintas apalagi di hari Sabtu dan Ahad.


Ahad 2 Maret aku ke Orilla Cafe tuk menghadiri temu penulis  Griya Literasi Bondowoso yang biasanya kami hanya temu lewat maya. Di lantai dua lumayan sepi, dan sedikit privasi karena sekat ruangnya yang semi tertutup. By the way saya memilih di tempat itu tuk sekedar nyantai sembari membaca-baca karya para sahabat literasi sebelum peserta lainnya tiba. 


Takdir memang sulit dinyana, buktinya aku bisa bertemu dengan si manis Ayesha yang selama sepekan berwisata ke Kawah Ijen dan beberapa spot wisata lainnya di Bondowoso. Memang kakek neneknya tinggal di bilangan kota kecil ini, ya mungkin sekalian berkunjung ke kampung bapaknya dulu. Kopi Raung Arabikalah yang telah membawa si cantik ke kedai Orilla Cafe. 


Ayesha kini dah jadi WNI mengikuti kewarganegaraan sang ayah. Walaupun sang ibu tetap memilih kewarganegaraan Uzbekistan,  Lidah Ayesha lebih mengindonesia dan makannya lebih banyak menu lokalnya.


Operasi yustisi merusak suasana. Entah sedang sial atau apalah, tetiba saja ada operasi yustisi di tempat kami sedang bercengkrama menikmati suasana. Pol PP, scurity kedai itu dan seorang polisi mengintrogasi kami semua. Semua KTP disuruh tunjukkan, termasuk punya Ayesha yang baru menjadi warga +62 ini. Beruntunglah dia telah naturalisasi beberapa Bulan yang lalu. Sialnya kami berdua diborgol dan dinyatakan sebagai pengedar sabu. Berbagai argumen dan alasan kami mentah di mata mereka. Ayesha menangis sejadi-jadinya dan sedangkan aku marah semarah-marahnya. Suasana kian tak terkendali ketika banyak HP yang menyorot kami.  Di tempatkan di ballroom dan disaksikan banyak orang. Tetiba pemilik cafe memohon maaf atas ketidak nyamanan pada para pengunjung, "Saudara-saudari sekalian sebagai owner kami mohon maaf atas situasi ini, dan khusus untuk mas Nano serta bak Ayesha selamat ulang tahun, kalian berdua ulang tahun di bulan yang sama, anda kena prank, dan untuk pengunjung sekalian hari ini kami gratiskan semua hidangan karena hari ini juga ulang tahun saya", bersamaan dengan hal itu Ayesha yang menangis tersedu hanya pasrah dan rebahan di pangkuanku dengan tangan yang masih terborgol.

--

Bondowoso, 2 Ramadhan 1446

Sabtu, 01 Maret 2025

ISEH dan AYESHA

 ISEH DAN AYESHA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Duduk nyantai di taman kota sembari memandangi Bougenville Golden Rao yang memukau mata menjadi penyanding rasa di sore itu. Nun di sebelah Utara tampak dua mahasiswi fakultas sastra yang tak asing bagiku. Iseh dan Ayesha, mereka sama sama indo Kazakhstan, bapak mereka sama-sama berbapak pekerja migran yang kemudian menyunting dua cewek Asia tengah nan jelita. 


 Iseh Gulzhan lebih mengindonesia dengan julukan Isehnya, sementara Ayesha Zhanar* sama sekali tak tampak panggilan lokalnya. Memang basis nama mereka sama merujuk pada nama Aisyah tapi dengan pelafalan uzbeknya. Alasan kedua bapaknya sama benar, yang satunya biar kelihatan lokalnya yang satunya biar kelihatan negeri ibunya. 


Kang Joko ayah Iseh punya alasan sederhana tapi mengena yaitu biar cinta Indonesia dan lebih mudah mengurus naturalisasinya, walaupun kenyataannya ya sama saja. Sementara mas Joni memberi nama anaknya Ayesha Zhanar biar tak seperti cewek lokalan. Kedua cewek itu sama-sama membawa perawakan ibunya yang tinggi dan cantik, mata hazel rambut pirang dan kulit putihnya. Yang membedakan lainnya adalah Iseh berbahasa Jawa medok sementara Ayesha berbahasa Turkey dan Kazakh. Dua cewek itu begitu iconic di fakultas Sastra Nusantara dengan bahasa Indonesia, Melayu, Tagalog, dan Thay. Keduanya sama betah tinggal di Indonesia.


Di Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan Jaksel kembali lagi kubertemu dengan mereka. Tumben mereka memakai busana batik saat berada di kav. 5 Kantor Kemenkumham. Benakku beritanya-tanya ada apa dengan gerangan mereka berdua?. Aku yang sedari dulu ingin lebih dekat dengan meraka sontak saja bergegas. Senyampang lagi mengurusi ijin yayasan pendidikan di tempat yang sama. 

"Eh ellu ngapain di sini?"

"Hmmm proses naturalisasi deh", timpal Ayesha dengan logat asingnya. 

"Dan ellu?"

"Podho mas pengen dadi wong Indo koyok bapakku, kan kene nganut sistim Ius Sanguinis?"

Benar saja proses Iseh lebih lancar tinimbang Ayesha karena komunikasinya lebih sat set. Dan akhirnya akulah jadi malaikat penolongnya, lagian kesempatan takkan terulang, ya gak?. Kumanfaatkan moment itu, sembari menggandeng tangannya kudampingi dia sampai kelar, walaupun begitu melelahkan.

"Oh yaa trim ya bantuannya, mesti balas apa aku ini?"

"Aah ga perlu kok, hmm tapi boleh gak aku cium keningmu cah bule?"

Heem boleh aja ga papa kok"

"Cuit cuiiit, masse modus bok...",  celetuk Iseh sembari nyengir manis.

__

Bondowoso,  1 Ramadhan 1446

SAMBAL ANGGUR MERAH

 SAMBAL ANGGUR MERAH Pak Tyqnue Azbynt  Hem MBG, MBG. Makanan bergizi gratis itu masih tersisa beberapa ompreng di pojok kantor dekat pustak...