SAMBAL ANGGUR MERAH
Pak Tyqnue Azbynt
Hem MBG, MBG. Makanan bergizi gratis itu masih tersisa beberapa ompreng di pojok kantor dekat pustaka guru. Ada sekitar 20 yang masih menunggu sentuhan guru-guru yang ogah-ogahan gegara waktunya kurang pas. Mau di bilang santap siang masih pukul sepuluh mau dikata sarapan sudah semenjana waktu. Akhirnya mereka mereka seperti merana diacuhkan para guru.
Walaupun sedikit acuh kucoba membuka tutup omprengnya, hemm setangkup nasi, sekepal naget, sayur bening plus empat butir anggur merah. Akhirnya kupaksa tuk memindahkannya ke dalam beberapa box plastik yang terpisah. Kalau tak dipindahkan pasti para petugas kurir MBG itu meminta untuk dikonsumsi. But, teman-teman guru seperti hilang selera, bukan hanya karena sudah kenyang tapi juga soal masakannya yang hambar. Biasanya sih, ada saja teman yang menyiasatinya dengan membawa sambal dari rumahnya, tapi kali ini tak ada satu pun yang membawanya. Mau beli di kantin madrasah, kami para guru tak punya e_maal kartu belanja.
Terpaksa aku blusak-blusuk ke rak cangkir di ruang sebelah. Alhamdulillah-nya aku menemukan sedikit garam dapur dan cabai yang sudah hampir mengering. Tanpa ba-bi-bu langsung saja kueksekusi, tapi rasanya hancur tak semeriah permen nano nano. Atas saran untaz Rian agar diberi anggur MBG agar sedikit ada airnya. Dilalah selepas diramu dengan anggur merah rasa sambal itu menjadi beda dan menggugah selera. Setelah selesai diulek oleh ustaz Ahmadi yang bersebelahan dengan ustaz Rian. Kami pun melahap nasi MBG dengan sambal anggur merah. Disela-sela makan Ustaz Rahman berseloroh, "hah ini perlu dilaporkan ke Pak Presiden Prabowo, bahwa sambalnya adalah sambal saingannya masakan Eskimo". "Pasti beliau acung jempol atas kejeniusan guru-guru yang sudah disuplai menu MBG tiap hari, karena otaknya makin smart", timpal ustaz Rahman sembari mengunyah santapannya.
___
Bondowoso, 30 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar