IFTARA RAMADANY
Pak Tyqnue Azbynt
12 tahun lalu bayi masih merah itu ditemukan seorang guru honorer di sebuah peron stasiun kecil Bondowoso. Bu Hasnah sang guru begitu bingung saat menemukannya. Ini bukan tertinggal sebab di kain gedong yang di-cover selimut biru muda itu ada selembar memo bertuliskan maafkan bunda malaikat kecilku, semoga kamu berada di tangan yang tepat. Bagi Bu Hasna yang hanya sebagai seorang guru honorer merawat bayi itu sedikit merepotkannya. Mau dibawa ke panti asuhan tidak tega, mau dilaporkan ke pihak berwajib takut dengan nasib ibunya kalau dilacak. Ibu bayi ini bukan orang jelek orang jahat karena dia masih menyebutnya malaikat kecil pada bayinya, begitu benak Bu Hasna.
Bu Hasna bersama rombongan menuju jalan dekat stasiun mengantar murid-muridnya tuk berbagi takjil bagi pelintas depan Musium Kereta Api Bondowoso. Baginya anak-anak didik dianggapya bagai anak sendiri, seperti Doni anak semata wayangnya yang telah ditinggal ayah berpulang ke hadapan Sang Kuasa. Gaji sebagai guru honorer di Yayasan sebuah pesantren cukuplah untuk hidup sederhana di kota kecil itu. Saat bagi-bagi takjil dia masih memilih beberapa spot untuk memfoto kegiatannya. Ia merangsek menuju loket dengan view beberapa pajangan tiket atau karcis dari masa ke masa. Beberapa foto terpajang di dinding utara dengan wajah tempo dulu saat kereta menjadi transportasi murah meriah kala itu. Sampai semua muridnya pulang bersama para guru termasuk Doni anaknya, ia masih betah meihat-lihat railway mengenang saat pertama kali dulu bersama mas Dodi almarhum ayah Doni. Ya hitung hitung bernostalgia walau hanya seorang diri.Para pegawai musium itu sudah pulang, namun orang masih bisa mengunjunginya di bagian pelataran stasiun karena areanya semi terbuka.
Tangis suara anak bayi merengek minta perhatian terdengar dari deretan kursi peron di pelataran timur. Benar saja seorang bayi yang sengaja ditinggal seseorang. Susu formula di dekatya masih belumlah dingin, rupanya sang bunda belumlah lama meninggalkannya. Tanpa berpikir tuk mencari ibundanya, Bu Hasna dengan naluri keibuannya langsung mendekap memberikan dekapan hangat tubuhnya pada si kecil. Beduk maghrib tiba ia masih berkutat dengan bayi itu tampa memedulikan dirinya tuk sekedar meneguk air pembatal puasanya. Ia segera menyodorkan dot susu ke mulut mungilnya. Dia mulai tenang dan tak merengek lagi seakan merasa aman di dekapannya.
Beberapa kali calling dari guru di sekolahnya, ia tak sempat menjawabnya karena sibuk menenangkan si mungil. Setelah tenang barulah ia telpon balik yang ternyata hanya diajak berbuka bersama di sekolahnya. Aku langsung pulang bu, lagian Doni kan masih di pondok situ, jawabya di HP-nya. Ia menyempatkan makan roti sisa bagi-bagi takjil yang ada di box kardus tanggung. Kota mulai sedikit lengang barulah ia bersiap-siap pulang, namun ia kesulitan tuk membawa bayi kecil itu karena tak ada gendongan. Terpaksalah diletakkan dalam kardus yang kemudian diletakkan di footboard motor metiknya. Sambil melajukan motor ia menerawang jauh, harus bagaimana dengan bayi itu.
-------
Seorang guru BK dan wali kelas Iftara datang ke rumah Bu Hasna seraya melakukan pengaduan perihal kelakuan anaknya yang telah memukul seorang temannya hingga dibawa ke ruang health section untuk dilakukan tindakan pertolongan awal pada kepalanya bercucuran darah akibat dihempas ompreng MBG Iftara. Sesak terasa di dada saat mendengar anaknya yang sehari-harinya selalu baik ternyata di sekolah sok jagoan. Mana mungkin ia akan begitu dia anak baik kok benaknya.
“Maaf bu, yang dipukul Tara kebetulan anak ketua yayasan, jadi kami juga panik, kata wali kelasnya. Di otak Bu Hasna tergambar wajah Pak Latif ketua yayasan yang telah memecatnya dulu, padahal ketua yayasan sebelumnya selalu negosiatif kalau ada masalah pada anak buahnya. Warga sekolah justru lebih suka pada Pak Budi mantan ketua yayasan sebelumnya. Karena alasan tugas negaralah ia harus meninggalkan kota kecil itu. Dan Pak Latif sebagai penggantinya berhaloan ekstrim, super tegas dan kaku. Bu Hasna dipecat gegara harus menjaga Iftara yang dalam perawatan kala itu.
Seharusnya aku tak menyekolahkan Tara ke sekolah itu Pak, Bu, karena aku telah dipecat di sana. Kalau tak karena kebaikan Pak Budi yang menanggung semua keperluan sekolah Tara, mana mungkin aku menyekolahkannya di sana, keluh Bu Hasna. Usia yang sudah menua sedang Doni anaknya hanya kerja serabutan di luar kota dan lama tak kunjung memberi berita. Kalau dulu masih banyak orang yang menyuruhnya tuk mencuci baju, namun kini sudah ada mesin cuci yang menyingkirkan tenaganya. And finally dia tak ada penghasilan. Berat benar bebannya, makan seadanya dan sering berpuasa, ditambah kasus Tara.
Untuk sementara Tara kami skorsing dulu selama sepekan bu, tapi Tara bersikukuh akan tetap masuk dan mengancam akan lebih nekat katanya. Karenanya saya melakukan kunjungan rumah ini bu untuk menemukan solusi yang tepat, Kata Pak Jakob sang guru BK. Bu Hasnah hanya diam meneteskan air mata.
Kalau boleh tahu bagaimana keseharian Tara di rumah bu, kami tak menduga dia senekat itu se-brigas itu. Sebelumnya dia pendiam, selalu rapi dan maaf kami tak menduga kalau..., maaf sekali maaf bu kehidupannya ibu teramat sederhana imbuh Bu. Wali kelasnya.
Maaf Pak, Bu, kalau soal perlengkapan sekolah dan baju-baju Tara selalu disuplay Pak Budi, karena saya pernah ngajar di sekolah itu, jawabnya.
Tampak kedua guru itu kebingungan. Ya maklumlah mereka guru baru, dan hampir semua guru di sekolah itu guru yang diangkat oleh ketua yayasan yang baru ini.
Tara sebenarnya anak adopsi kami dan sampai saat ini dia tak tahu siapa orang tuanya, dan dia menganggap aku asli ibunya karena aku tak menceritakan ikhwanya. Nama Iftara Ramadany sengaja aku sematkan padanya karena saat aku menemukannya ketika aku mau iftar menyegerakan berbuka puasa saat aku menemukannya dulu. Mohon bapak ibu tak menceritakan ini pada Tara. Jejak yang bisa aku lacakkan nanti hanyalah kain popok, gedong dan tulisan yag sampai saat ini ak simpang rapi”, tuturnya..
Setelah panjang lebar meneritakan kehidupan Tara dari kecil, akhirnya kedua guru itu banyak memahami jati diri Tara. Dan mereka pun pamit pulang karena harus kembali ke sekolah tuk melanjutkan tugasnya dan melakukan interogasi mendalam pada Tara yang masih berada di ruang BK.
______
Tara..., kamu tahu apa kosekwensi atas tindakanmu ini? Dinar itu anak ketua yayasan di sekolah ini. Walau pun ini di bawah yayasan pesantren tapi pola dan tata kelolanya beda, and so kamu dah tahu jawabannya. Kalau tak karena jejak kelakuanmu semala ini yang baik, mungkin hari ini juga akuu sudah keluarkan kamu dari sekolah ini, daulat Pak Jakob.
Tara.. coba kamu ceritakan apa maksud dari tindakanmu itu! Tara ayo bicara jangan diam saja agar aku bisa membatu cari solusinya, desak Pak Jakob, sementara Wali kelasnya membujuknya dengan halus.
“Bapak, Ibu tahu kan, aku tak pernah mengkonsumsi makanan MBG di sini. Aku selalu bawa kotak nasi ini tuk kubawa pulang, mungkin aku hanya makan buahnya saja, atau minum susunya kalau kebulan menunya pas ada susunya, jawa Tara emosi.
Trus?
Aku harus bawa pulang tuk dimakan berdua sama ibu, makanya kalau libur aku sedih pak, gak bisa ambil menu MBG tuk kami makan berdua
Lalu, apa hubungannya dengan pemukulan itu?
Dinar itu sok-sok-an Pak, ompreng MBG saya dituangi tinta spidol papan tulis dan nasi saya hitam peuh tinta, padahal harus saya bawa pulang
Dinar pun dihadirkan ke Ruang BK dengan kepala masih dibebat perban karena luka serius.
Dinar, ayo kamu cerita biar kami tahu juntrugnya!
Gini Pak, Tara kan memang tak pernah maka nasi MBG aku kira dia sok gaya memilih makanan serba nikmat di rumahnya. Lah wong katanya nasi MBG mau diberikan ke tetangganya. Kan mending bagikan pada kami-kami di kelas. Aku minta dia malah nyolot. Ya aku emosi dong, diminta baik-baik malah membentak, jelas Dinar.
Lalu, soal tinta?
Ya aku tuangin saja, habis aku emosi sih pak
Setelah dijelaskan perihal perutukan MBG di rumah Tara, barulah Dinar sadar kalau makanan itu utuk ibunya. Tapi dasar sudah merasa orang penting di sekolah itu, dia hanya menjawab oo
hayo saling bermaafan!, pinta Bu wali kelas. Tapi keduanya masih saling dogkol. Iftara masih masih marah karena tak bisa membawakan makanan buat ibunya sementara Dinar bersikeras untuk melaporkan pada ayahnya agar Tara di D O, Namun guru BK dan wali kelas juga mau keluar jika Tara dikeluarkan dari sekolah itu.
______
Bodowoso, 10 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar