BERCUMBU
Pak Tyqnue Azbynt
Panas terik, gersang di gugusan gunung cadas yang ditumbuhi gedung-gedung megah menjadi panorama kota modern di mataku. Kami yang datang disambut terik yang menyiksa sementara hati dalam kerapuhan yang mendalam. Tunduk runtuh bersimpuh di pelataran Baitullah. Walau sejauh ribuan kilometer kami mendatanginya dengan antusiasme begitu dalam tuk menumpahkan pinta mengakui tumpukan dosa. Sungguh ini sulit kami gambarkan. Sisi lain kami tak mau terlalu mengumbar kekata akhirnya ratusan merpati yang kami sapa dengan bahasa tanpa bicara.
Mas Raf, Dinda Gio, Dinda Payouk yang telah menyengaja membawa puluhan kilo jagung gelatik, jagung besar bahkan milet burung dengan bungkusan plastik rapi yang terbang melintasi beberapa negara dengan menumpang Saudia airways dari tanah Jawa ke kampung kelahiran kanjeng nabi. Menebar bebiji jagung di pelataran masjid menjadi bahasa lain tuk bercumbu tanpa nafsu. Kepak merpati yang mengelebat sembari riuh berebut butiran pakan. Di hati kami hanya ada kata indah, damai.
Aku sendiri yang tak membawa bebiji apa pun hanya menonton dan sesekali merogoh di kantong plastik itu tuk ikutan bercumbu dengan bahasa tanpa kata. Yassalam, dari tanah air kami datang tuk bersimpuh disambut riuh canda mesra merpati kelabu. Tatap matanya berkilau ditimpa sinar matahari senja yang menembaga di sisi barat kakbah. Kami hanya saling tatap sembari umbar senyum bahagia tanpa narasi apa apa.
____
Tanah Haram, 18 Mei 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar