Total Tayangan Halaman

Jumat, 22 Mei 2026

Wanita Wanita Uighur

 WANITA WANITA UIGHUR 

Pak Tyqnue Azbynt 



Selepas subuh di pelataran Masjidil Haram kami masih betah menunggu saat Dhuha tiba. Bermain hp sembari sembunyi-sembunyi ambil gambar view masjid nan megah menjadi keasyikan tersendiri di pagi itu. Nun di sana ada yang hilir mudik menuang zamzam ke botol kecil, ada yang memperhatikan merpati-merpati kelabu yang bergegas mencari remah makanan, atau membaca ayat-ayat Qur'an. Tak jauh dari tempatku ada sekelompok etnis Uighur yang asyik bercanda ringan. 



Belumlah muncul caya arunika di langit timur tapi manusia-manusia perindu baitullah tetap saja hilir mudik tiada henti. Titik pandangku berhenti di wanita-wanita bermata, kulit kuning pucat plus bibir mungil yang manis menambah eksotik wajah orientalnya campuran Asia Turki. Saking penasarannya terpaksalah aku menyuguhkan tanya dengan English yang dilalah diantara mereka ada yang bisa walaupun sama kikuknya denganku. Yang dibicarakan ya soal kehidupan kesehariannya plus tradisi-tradisi yang mereka punya, begitu pun tradisi kami di Indonesia. Asyik, senyum tulus mereka dengan antusias bercerita tentang mereka dan kehidupannya.


Saat mereka bercerita tentang Islam di Uighur dan di Yunnan menjadikan penasaran yang mendalam. Bukankah nenek moyangku dari dataran Yunnan, seperti yang diceritakan guru SDku dulu. Di titik inilah aku bercerita tentang tradisi di Indonesia yang lumayan mirip bahkan istilah bahasa yang hampir sama, baju Koko (laki-laki), penggunaan beduk di masjid, sampai permainan petasan di hari-hari besar dan perayaan adat. Tapi bukan hanya itu yang membuat aku kian terkesan di momen itu. Sebuah syal belogo "KBIH Muslimat NU" yang dia pinta sembari menukarkan dengan Beanie rajut dengan tulisan aksara Hanzie yang aku tak tahu bacanya. "This is my name xedhiche or Hadijah in Arabic", jawabnya sembari menyodorkan tangannya tuk menjabatku. Yassalam, begitu indah ukhuwah itu. Berkenalan dengan saudara jauh yang seiman. I can't forget it moments.

___

Tanah Haram, 22 Mei 2026

Kelakar Sufi Pak Haji Yon

 KELAKAR SUFI PAK HAJI YON

Pak Tyqnue Azbynt 

Beranda loteng lantai 7 Oriens Hotel menjadi penyinambung silaturahmi kami kloter 87 Embarkasi Surabaya.  Mulai bincang reliji sampai canda lepas yang mengundang tawa. Pak Yon calon haji asal Kampong Templek menjadi ikon canda hampir di tiap cekerama di beranda loteng itu. Tawa, saling nasehati, hingga curhat-curhat ringan kami semua.



Pak Yon menjadi lebih viral pasal kesehatan karena tensinya mendadak naik di atas 200 yang membuat Dr. Ferry memberi advice khusus padanya. Jaga pola makan, banyak minum, istirahat cukup dan jangan berpikir berat-berat. Anjuran seperti biasanya pada orang lain. No more.


"Jaga makan, hati-hati bapak mengalami high blood pressure", kata dr. Ferry. Yes, It's true, tapi persepsi Pak. Yon justru menelaah dalam perspektif lain. "Kenapa kita suruh jaga pola makan? Bukan masalah MBG Arab yang menunya full daging. Bukan, bukan itu. Makanlah yang halal agar ekstrak makanan yang mengalir di darah kita bukan darah haram. Dia ditolak oleh tubuh hingga berubah menjadi penyakit. Kadang kejededok tembok, lukalah kepala karena darahnya di tolak. Harta yang tak dizakati akan protes jika ke organ-organ dalam, lalu berserupa penyakit yang menguji kesabaran kita. Tapi tak semua penyakit adalah karena harta tak halal. Bisa saja penyakit itu meminta tubuh tuk rehat sejenak berburu harta. Thats my opinion" dawuh Pak Yon.

__

Tanah Haram, 22 Mei 2026

Elevator in Love

 ELEVATOR IN LOVE

Pak Tyqnue Azbynt 



Momen-momen indah saat ibadah di tanah suci begitu banyaknya. Saat-saat haru bertemu rindu dengan yang lama diidamkan. Airmata luruh seketika sedang dada remuk takluk dalam penghambaan. Bertemu dengan jutaan manusia dengan frekuensi yang sama, rindu Baitullah. Mereka datang dari penjuru dunia dengan caranya masing-masing, ada yang berkendara, berjalan, sendiri, berpasangan, ataupun dengan komunitas dan kelompok yang beragam. Mas Rafi dan istri menjadi salah satu hamba pemenuh panggilan Allah di Baitullah. 


Keseharian dua sejoli ini penuh sinergitas saling berbagi, saling menguatkan temali rasa yang penuh karsa reliji. Mas Rafi yang tampil bersahaja, menjadi sosok yang menarik pinta perhatian bagiku. Pagi sudah disuguhi kopi kental, dibuatkan mie goreng dan sebagainya membuat iri kami akan keharmonisan mereka. Saat-saat indah ritual haji memang harus banyak menahan emosi, marah, nafsu termasuk larangan tuk saling bercumbu. 


Cinta memang tak bisa sembunyikan, begitu juga dengan jalinan asmara mereka. Mungkin saking rindunya bermesra, sesekali Yu Rafi sang bidadari seringkali memberi sinyal-sinyal asmara di momen-momen tertentu. Saat 8 orang masuk di elevator menuju lantai 7 basecamp kami, sang istri malah menyuguhkan kata seloroh cinta yang membuat kami senyum-senyum iri. "Keknya pernah kenal deh dengan kamu, kamu siapa ya?" , godanya sembari mengeringkan mata genitnya. "Woy ada dengan pamer cinta neh", candaku. Sontak saja seisi elevator senyum-senyum iri melihat keharmonisan cinta mereka. Memang cinta itu tak mengenal waktu, hati-hati kawan, tahan dulu sebelum mas Rafi bercukur gundul saat tuntas memungkaskan rankaian ibadah suci. Selepas itu barulah bercinta kembali. Kami pun akan memberi waktu dan ruang untuk kalian. Alright?

____

Tanah haram, 22 Mei 2026

Senin, 18 Mei 2026

BERCUMBU

 BERCUMBU 

Pak Tyqnue Azbynt 



Panas terik, gersang di gugusan gunung cadas yang ditumbuhi gedung-gedung megah menjadi panorama kota modern di mataku. Kami yang datang disambut terik yang menyiksa sementara hati dalam kerapuhan yang mendalam. Tunduk runtuh bersimpuh di pelataran Baitullah. Walau sejauh ribuan  kilometer kami mendatanginya dengan antusiasme begitu dalam tuk menumpahkan pinta mengakui tumpukan dosa. Sungguh ini sulit kami gambarkan. Sisi lain kami tak mau terlalu mengumbar kekata akhirnya ratusan merpati yang kami sapa dengan bahasa tanpa bicara.


Mas Raf, Dinda Gio, Dinda Payouk yang telah menyengaja membawa puluhan kilo jagung gelatik, jagung besar bahkan milet burung dengan bungkusan plastik rapi yang terbang melintasi beberapa negara dengan menumpang Saudia airways dari tanah Jawa ke kampung kelahiran kanjeng nabi. Menebar bebiji jagung di pelataran masjid menjadi bahasa lain tuk bercumbu tanpa nafsu. Kepak merpati yang mengelebat sembari riuh berebut butiran pakan. Di hati kami hanya ada kata indah, damai. 


Aku sendiri yang tak membawa bebiji apa pun hanya menonton dan sesekali merogoh di kantong plastik itu tuk ikutan bercumbu dengan bahasa tanpa kata. Yassalam, dari tanah air kami datang tuk bersimpuh disambut riuh canda mesra merpati kelabu. Tatap matanya berkilau ditimpa sinar matahari senja yang menembaga di sisi barat kakbah. Kami hanya saling tatap sembari umbar senyum bahagia tanpa narasi apa apa.

____

Tanah Haram, 18 Mei 2026



Selasa, 10 Maret 2026

IFTARA RAMADANY

 IFTARA RAMADANY

Pak Tyqnue Azbynt



          12 tahun lalu bayi masih merah itu ditemukan seorang guru honorer di sebuah peron stasiun kecil Bondowoso. Bu Hasnah sang guru begitu bingung saat menemukannya. Ini bukan tertinggal sebab di kain gedong yang di-cover selimut biru muda itu ada selembar memo bertuliskan maafkan bunda malaikat kecilku, semoga kamu berada di tangan yang tepat. Bagi Bu Hasna yang hanya sebagai seorang guru honorer merawat bayi itu sedikit merepotkannya. Mau dibawa ke panti asuhan tidak tega, mau dilaporkan ke pihak berwajib takut dengan nasib ibunya kalau dilacak. Ibu bayi ini bukan orang jelek orang jahat karena dia masih menyebutnya malaikat kecil pada bayinya, begitu benak Bu Hasna.

         Bu Hasna bersama rombongan menuju jalan dekat stasiun mengantar murid-muridnya tuk berbagi takjil bagi pelintas depan  Musium  Kereta Api Bondowoso. Baginya anak-anak didik dianggapya bagai anak sendiri, seperti Doni anak semata wayangnya yang telah ditinggal ayah berpulang ke hadapan Sang Kuasa. Gaji sebagai guru honorer di Yayasan sebuah pesantren cukuplah untuk hidup sederhana di kota kecil itu. Saat bagi-bagi takjil dia masih memilih beberapa spot untuk memfoto kegiatannya. Ia merangsek menuju loket dengan view beberapa pajangan tiket atau karcis dari masa ke masa. Beberapa foto terpajang di dinding utara dengan wajah tempo dulu saat kereta menjadi transportasi murah meriah kala itu. Sampai semua muridnya pulang bersama para guru termasuk Doni anaknya, ia masih betah meihat-lihat railway mengenang saat pertama kali dulu bersama mas Dodi almarhum ayah Doni. Ya hitung hitung bernostalgia walau hanya seorang diri.Para pegawai musium itu sudah pulang, namun orang masih bisa mengunjunginya di bagian pelataran stasiun karena areanya semi terbuka. 

          Tangis suara anak bayi merengek minta perhatian terdengar dari deretan kursi peron di pelataran timur. Benar saja seorang bayi yang sengaja ditinggal seseorang. Susu formula di dekatya masih belumlah dingin, rupanya sang bunda belumlah lama meninggalkannya. Tanpa berpikir tuk mencari ibundanya, Bu Hasna dengan naluri keibuannya langsung mendekap memberikan dekapan hangat tubuhnya pada si kecil. Beduk maghrib tiba ia masih berkutat dengan bayi itu tampa memedulikan dirinya tuk sekedar meneguk air pembatal puasanya. Ia segera menyodorkan dot susu ke mulut mungilnya. Dia mulai tenang dan tak merengek lagi seakan merasa aman di dekapannya.

          Beberapa kali calling dari guru di sekolahnya, ia tak sempat menjawabnya karena sibuk menenangkan si mungil. Setelah tenang barulah ia telpon balik yang ternyata hanya diajak berbuka bersama di sekolahnya. Aku langsung pulang bu, lagian Doni kan masih di pondok situ, jawabya di HP-nya. Ia menyempatkan makan roti sisa bagi-bagi takjil yang ada di box kardus tanggung. Kota mulai sedikit lengang barulah ia bersiap-siap pulang, namun ia kesulitan tuk membawa bayi kecil itu karena tak ada gendongan. Terpaksalah diletakkan dalam kardus yang kemudian diletakkan di footboard motor metiknya. Sambil melajukan motor ia menerawang jauh, harus bagaimana dengan bayi itu. 

------- 

          Seorang guru BK dan wali kelas Iftara datang ke rumah Bu Hasna seraya melakukan pengaduan perihal kelakuan anaknya yang telah memukul seorang temannya hingga dibawa ke ruang health section untuk dilakukan tindakan pertolongan awal pada kepalanya bercucuran darah akibat dihempas ompreng MBG Iftara. Sesak terasa di dada saat mendengar anaknya yang sehari-harinya selalu baik ternyata di sekolah sok jagoan. Mana mungkin ia akan begitu dia anak baik kok benaknya. 

          “Maaf bu, yang dipukul Tara kebetulan anak ketua yayasan, jadi kami juga panik, kata wali kelasnya. Di otak Bu Hasna tergambar wajah Pak Latif ketua yayasan yang telah memecatnya dulu, padahal ketua yayasan sebelumnya selalu negosiatif kalau ada masalah pada anak buahnya. Warga sekolah justru lebih suka pada Pak Budi mantan ketua yayasan sebelumnya. Karena alasan tugas negaralah ia harus meninggalkan kota kecil itu. Dan Pak Latif sebagai penggantinya berhaloan ekstrim, super tegas dan kaku. Bu Hasna dipecat gegara harus menjaga Iftara yang dalam perawatan kala itu. 

          Seharusnya aku tak menyekolahkan Tara ke sekolah itu Pak, Bu, karena aku telah dipecat di sana. Kalau tak karena kebaikan Pak Budi yang menanggung semua keperluan sekolah Tara, mana mungkin aku menyekolahkannya di sana, keluh Bu Hasna. Usia yang sudah menua sedang Doni anaknya hanya kerja serabutan di luar kota dan lama tak kunjung memberi berita. Kalau dulu masih banyak orang yang menyuruhnya tuk mencuci baju, namun kini sudah ada mesin cuci yang menyingkirkan tenaganya. And finally dia tak ada penghasilan. Berat benar bebannya, makan seadanya dan sering berpuasa, ditambah kasus Tara. 

 Untuk sementara Tara kami skorsing dulu selama sepekan bu, tapi Tara bersikukuh akan tetap masuk dan mengancam akan lebih nekat katanya. Karenanya saya melakukan kunjungan rumah ini bu untuk menemukan solusi yang tepat, Kata Pak Jakob sang guru BK. Bu Hasnah hanya diam meneteskan air mata. 

Kalau boleh tahu bagaimana keseharian Tara di rumah bu, kami tak menduga dia senekat itu se-brigas itu. Sebelumnya dia pendiam, selalu rapi dan maaf kami tak menduga kalau..., maaf sekali maaf bu kehidupannya ibu teramat sederhana imbuh Bu. Wali kelasnya. 

Maaf Pak, Bu, kalau soal perlengkapan sekolah dan baju-baju Tara selalu disuplay Pak Budi, karena saya pernah ngajar di sekolah itu, jawabnya. 

Tampak kedua guru itu kebingungan. Ya maklumlah mereka guru baru, dan hampir semua guru di sekolah itu guru yang diangkat oleh ketua yayasan yang baru ini.

Tara sebenarnya anak adopsi kami dan sampai saat ini dia tak tahu siapa orang tuanya, dan dia menganggap aku asli ibunya karena aku tak menceritakan ikhwanya. Nama Iftara Ramadany sengaja aku sematkan padanya karena saat aku menemukannya ketika aku mau iftar menyegerakan berbuka puasa saat aku menemukannya dulu. Mohon bapak ibu tak menceritakan ini pada Tara. Jejak yang bisa aku lacakkan nanti hanyalah kain popok, gedong dan tulisan yag sampai saat ini ak simpang rapi”, tuturnya.. 

Setelah panjang lebar meneritakan kehidupan Tara dari kecil, akhirnya kedua guru itu banyak memahami jati diri Tara. Dan mereka pun pamit pulang karena harus kembali ke sekolah tuk melanjutkan tugasnya dan melakukan interogasi mendalam pada Tara yang masih berada di ruang BK. 

______ 

Tara..., kamu tahu apa kosekwensi atas tindakanmu ini? Dinar itu anak ketua yayasan di sekolah ini. Walau pun ini di bawah yayasan pesantren tapi pola dan tata kelolanya beda, and so kamu dah tahu jawabannya. Kalau tak karena jejak kelakuanmu semala ini yang baik, mungkin hari ini juga akuu sudah keluarkan kamu dari sekolah ini, daulat Pak Jakob. 

Tara.. coba kamu ceritakan apa maksud dari tindakanmu itu! Tara ayo bicara jangan diam saja agar aku bisa membatu cari solusinya, desak Pak Jakob, sementara Wali kelasnya membujuknya dengan halus.

“Bapak, Ibu tahu kan, aku tak pernah mengkonsumsi makanan MBG di sini. Aku selalu bawa kotak nasi ini tuk kubawa pulang, mungkin aku hanya makan buahnya saja, atau minum susunya kalau kebulan menunya pas ada susunya, jawa Tara emosi.

Trus?

Aku harus bawa pulang tuk dimakan berdua sama ibu, makanya kalau libur aku sedih pak, gak bisa ambil menu MBG tuk kami makan berdua

Lalu, apa hubungannya dengan pemukulan itu?

Dinar itu sok-sok-an Pak, ompreng MBG saya dituangi tinta spidol papan tulis dan nasi saya hitam peuh tinta, padahal harus saya bawa pulang

Dinar pun dihadirkan ke Ruang BK dengan kepala masih dibebat perban karena luka serius. 

Dinar, ayo kamu cerita biar kami tahu juntrugnya!

Gini Pak, Tara kan memang tak pernah maka nasi MBG aku kira dia sok gaya memilih makanan serba nikmat di rumahnya. Lah wong katanya nasi MBG mau diberikan ke tetangganya. Kan mending bagikan pada kami-kami di kelas. Aku minta dia malah nyolot. Ya aku emosi dong, diminta baik-baik malah membentak, jelas Dinar.

Lalu, soal tinta?

Ya aku tuangin saja, habis aku emosi sih pak

Setelah dijelaskan perihal perutukan MBG di rumah Tara, barulah Dinar sadar kalau makanan itu utuk ibunya. Tapi dasar sudah merasa orang penting di sekolah itu, dia hanya menjawab   oo 

hayo saling bermaafan!, pinta Bu wali kelas. Tapi keduanya masih saling dogkol. Iftara masih masih marah karena tak bisa membawakan makanan buat ibunya sementara Dinar bersikeras untuk melaporkan pada ayahnya agar Tara di D O, Namun guru BK dan wali kelas juga mau keluar jika Tara dikeluarkan dari sekolah itu.

______   

Bodowoso, 10 Maret 2026

Jumat, 30 Januari 2026

SAMBAL ANGGUR MERAH

 SAMBAL ANGGUR MERAH

Pak Tyqnue Azbynt 



Hem MBG, MBG. Makanan bergizi gratis itu masih tersisa beberapa ompreng di pojok kantor dekat pustaka guru. Ada sekitar 20 yang masih menunggu sentuhan guru-guru yang ogah-ogahan gegara waktunya kurang pas. Mau di bilang santap siang masih pukul sepuluh mau dikata sarapan sudah semenjana waktu. Akhirnya mereka mereka seperti merana diacuhkan para guru.


Walaupun sedikit acuh kucoba membuka tutup omprengnya, hemm setangkup nasi, sekepal naget, sayur bening plus empat butir anggur merah. Akhirnya kupaksa tuk memindahkannya ke dalam beberapa box plastik yang terpisah. Kalau tak dipindahkan pasti para petugas kurir MBG itu meminta untuk dikonsumsi. But, teman-teman guru seperti hilang selera, bukan hanya karena sudah kenyang tapi juga soal masakannya yang hambar. Biasanya sih, ada saja teman yang menyiasatinya dengan membawa sambal dari rumahnya, tapi kali ini tak ada satu pun yang membawanya. Mau beli di kantin madrasah, kami para guru tak punya e_maal kartu belanja. 


Terpaksa aku blusak-blusuk ke rak cangkir di ruang sebelah. Alhamdulillah-nya aku menemukan sedikit garam dapur dan cabai yang sudah hampir mengering. Tanpa ba-bi-bu langsung saja kueksekusi, tapi rasanya hancur tak semeriah permen nano nano. Atas saran untaz Rian agar diberi anggur MBG agar sedikit ada airnya. Dilalah selepas diramu dengan anggur merah rasa sambal itu menjadi beda dan menggugah selera. Setelah selesai diulek oleh ustaz Ahmadi yang bersebelahan dengan ustaz Rian. Kami pun melahap nasi MBG dengan sambal anggur merah. Disela-sela makan Ustaz Rahman berseloroh, "hah ini perlu dilaporkan ke Pak Presiden Prabowo, bahwa sambalnya adalah sambal saingannya masakan Eskimo". "Pasti beliau acung jempol atas kejeniusan guru-guru yang sudah disuplai menu MBG tiap hari, karena otaknya makin smart", timpal ustaz Rahman sembari mengunyah santapannya.

___

Bondowoso, 30 Januari 2026

Senin, 19 Januari 2026

PIA PAK SYAM

 PIA PAK SYAM 

Pak Tyqnue Azbynt 



Jelang subuh bis kami tiba di pelataran parkir yang tak sebegitu jauh dari area komplek Asta Embah Sunan Ampel Surabaya. Sekedar melepas penat sembari antre toilet tuk mandi atau wudhu tuk salat subuh. Kupilih bantaran kecil di depan toilet duduk berselonjor sembari melihat teman-teman lain yang memang membawa pasangannya. Misi kami adalah mengikuti pelatihan manasik di asrama haji Sukolilo Surabaya, sedangkan ziarah kubur menjadi bagian lain yang mesti kami ikuti sesuai jadwal yang sudah diskenariokan. Tapi bukan itu pointnya yang hendak kuceritakan, ini tentang perang di dalam dadaku yang berkecamuk melawan diriku sendiri. Berapa tidak, hasil kerjaku bersama istri bidadari titipan mertua itu hanya dipakai untuk biaya ibadahku sendirian tanpa mengajaknya ke tanah suci. Walaupun alasanya adalah tuk bea studi anakku di luar negeri, tapi mengesampingkan istri sungguh terlalu ego.  Tangis kutahan agar aku terlihat begitu tegar, padahal sejatinya aku runtuh. 


Pak Syam yang hilir mudik meramahi kami, Bu Nasir yang sesekali melepas banyolan-banyolan kecil yang justru menjadi twist tersendiri. Bak Riskin Yang mengayomi kami-kami yang sudah manula, selalu saja dilakukannya dengan sabar. Cak Dul Sang Sensei yang menyemangatiku menjadi atensi terdiri bagiku. Tapi ketika otak dan perasaanku kembali menerawang jauh ke rumah, dadaku serasa berguncang keras, belum lagi harus pontang panting persiapan biaya, and finally aku terasa begitu rapuh. Selepas salat subuh kami bergegas ganti baju batik pemberian dari KBIHU muslimat NU sebagai baju komunitas.  Ziarah sebentar, sarapan pagi dan langsung bergegas menuju asrama haji.  Sampai di lokasi, aku ujug-ujug langsung memakai kain ihram dan merapat ke teman-teman yang hendak dibimbing Kiyai Maksum. tr sang motivator. Saat beliau bertanya perihal wudhu, hampir semua kami belum punya wudhu, padahal hendak salat Dhuha. Finally kami segera wudhu dan lanjut salat Dhuha.


Simulasi pelaksanaan manasik benar-benar memberi banyak gambaran bagi kami walaupun situasi sebenarnya di lapangan sangat mungkin berbeda  jauh terutama crawded-nya lautan manusia di sana. Satu hal yang mesti jadi perhatian adalah masalah kesehatan harus benar-benar prima karena ibadah ini banyak kegiatan fisik yang memerlukan effort tersendiri. 


Prosesi latihan selesai, ada temanku yang mandi lagi, ada yang duduk santai sembari menunggu pukul 10.30 tuk makan siang di RM Bromo Asri yang sudah di-booking oleh penanggung jawab event. Di acara santap siang itu, kembali hatiku diaduk-aduk manakala mereka santap siang bersama pasangannya sendiri-sendiri. Sebenarnya ada sih yang  berlagak "jomblo" seperti diriku dan tak mengajak pasangannya tuk tunaikan haji bersama. Alasan finansial dan hal lain yang bisa diceritakan. Tapi soal istriku kan sudah daftar tapi pada tahun tertentu sudah ditutup dan pada saat yang sama uang yang sudah di bank harus diambil demi kebutuhan anak yang praktek lapangan di BRIN (Badan Riset Nasional) selama 6 bulan plus pengayaan kajian ke Malaya University serta universitas lain di Malaysia. Intinya butuh biaya sampai ratusan juta. But soal istri kan belahan jiwa, bidadari titipan mertua. Inilah yang tetap menjadi alasan aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. 


Usai santap siang kami harus bergegas pulang karena sudah capai dan ingin menyapa orang-orang di rumah. Audio di bus melantunkan lagu-lagu kenangan masa mudaku  benar-benar mengajak perasaan ke masa belia, belum lagi ibu-ibu di belakangku yang ramai ngerumpi cerita kelincahannya di masa perawan dulu. Di sisi kiriku duduk seorang bapak yang konon lahir di jaman Jepang tapi kesehatannya masih prima. Hal unik yang membuatku angkat topi adalah habitualnya yang acap kali bergumam mengikuti lantunan lagu yang tayang di audio track bus itu. Hampir sepertiga perjalanan Pak Syam kembali berbagi jajanan pada kami begitu pun Pak Nasir dn Bu Nasir yang berbagi peduli. Saat Pak Nasir masih ke toilet tetiba kue pia yang diberikan. Pak Syam pada kami sudah tinggal 3 biji. Dan, "Eits saya minta lagi pak,  buat yayang suami mantan pacar", kata Bu Nasir kembali melepas banyolannya. End game nya kue Pia Pak Syam ini  menjadi cerita cinta Pak dan Bu Nasir yang diendorse-kan pada kami. Hemm jadi meri sama kemesraan mereka.

Selasa, 30 Desember 2025

Midnight Rain last December

 MIDNIGHT RAIN LAST DECEMBER 

Pak Tyqnue Azbynt 





Gagal didapuk sebagai ASN P3K Paruh waktu membuatku terguncang. Walau gaji tak seberapa tapi pengakuan sebagai budak negara menjadi kebanggaan namun sayangnya aku gagal gegara kinerjaku dianggap berjeda selama setahun tak perpanjang kontrak kerja. Aku kaget bukan main karena setahuku aku sudah 7tahun lebih mengabdi di sebuah sekolah dasar itu. Demi mencari tahu aku pun menanyakan ikhwalnya ke BKPSDM ternyata benar adanya, dan berarti kepala sekolahku tak menandatangani berkas yang secara reguler selalu diajukan tiap tahun, justru di dua tahun terakhir ini nihil.  Walhasil aku kecewa dan malu ditanyakan semua teman-teman seperjuangan. 


Malam penuntasan tahun kuhibur diri dengan bakar-bakar tofu srimp, tofu meatball, balado sausage, dan banyak makanan beku yang aku bawa ke pojokan alun alun. Eits kalau ada teman datang bisa berbagi tapi kalau orang umum ya aku jual deh. Dan ...benar saja teman-teman sejawatku justru merayakan tahun Baru sembari tasyakuran atas lolosnya P3K PW-nya. And finally kujadikan malam itu sebagai me time walaupun sambil jualan ya biar ngehibur diri dengan cuan. Dilalah lumayan juga untuk sekedar beli HP premium. 


Jelang titik 00 ternyata hujan datang tiba-tiba, dan banyaklah orang mencari teduhan secepatnya, termasuk di lapakku yang hanya diteduhi mini camp. Seorang bapak-bapak dengan putrinya sekitar usia SMP _nunut ngiup_di tendaku. Dari situlah aku tahu kalau bapak tersebut kepala bagian di Dinas Pendidikan yang rupanya sering melihatku kalau mendampingi kepala sekolah saat entri laporan digital. Tentu saja beliau menanyakan hal P3K PW padaku. Aku sampaikan apa adanya dan memilih resign dari tempat tugas. Beliau hanya heran dan menyayangkan kejadian itu. "Bukannya adik dulu yang menyiapkan segala sesuatu yang berkait dengan meta visual mantan kepala sekolah lama, tuk workshop ke Australia?", tanyanya meyakinkan dugaannya. 

"Nggeh betul bapak, saya memang lulusan administrasi bukan lulusan guru tapi berkaitan dengan digital ya saya sudah punya sertifikat Nasional, sertifikat videografi dari UI,dan beberapa lagi yang lainnya"

"Punya studio?"

"Enggih sudah ada Siup-nya resmi"

Dari perbincangan itu beliau turut prihatin padaku. Dilalah sang anak yang sejak tadi _nguping_ justru meminta peringatan ulangtahunnya agar dibuatkan epic videografi. Walhasil kami sepakat untuk membuatkan video perayaan ultahnya besok sorenya di wana wisata lokal "Teduh Glamping" di dataran tinggi Bondowoso. Saya hanya meminta biaya 2 juta karena kami harus bawa 3 orang kru ke tempat itu, namun si Bapak justru transfer ke rekeningku 10 juta, katanya sih sebagai tebusan kesalahan kepala sekolah yang telah memperlakukanku kurang adil. Walaupun saya menolah TF nya namun beliau justru memaksa dan akan memerintahkan sekolah -sekolah SMK agar magang ditempatku. Dan Hujan tengah malam di akhir Desember memberikan cerita lain menuju profesiku non ASN dan tak akan lagi menjadi budak negara.

____

Bondowoso 

30 Desember 2025

Senin, 29 Desember 2025

LAELA ASSY

 LAELA ASSY

Pak Tyqnue Azbynt 


Tak seperti biasanya Laela yang selalu senyum sumringah, kini berkali-kali mencucurkan air matanya. Beberapa kali kulihat punggung tangan kanannya yang putih mulus dengan bulu -bulu halusnya itu menyeka air matanya. Kucoba bertanya dia tetap tak mau menjawabnya. Justru dengan kebungkamannya aku menyimpan tanda tanya besar dan mencoba untuk menelisik mendalam. But finally selalu gagal.


Bertemu kembali di perpustakaan Universitas Nasional Yang Ming Chiao Tung (NYCU) dalam tak sadarkan diri. Dibantu beberapa mahasiswa aku membawanya ke health section room. Dia yang banyak membantuku melakukan penelitian di laboratorium kini tergeletak tak berdaya. Apakah terkena reduksi kimia kimia atau radiasi sinar x atau  apalah yang jelas aku tak bisa mengetahui secara pasti.


"Anyone please help me”, gumamnya diambang sadarnya. Tapi saat kuajak bicara dia sama sekali tak merespon. Barulah setelah pemeriksaan medis oleh salah seorang dokter kampus aku tahu kalau dia mengalami depresi yang sangat berat dan perlu penanganan medis yang serius. Keadaan itu memaksa aku tuk membuat kesepakatan yang harus ditandatangani dengan pihak medis kampus. But I don't know,  aku tak tahu pasti tentang jati dirinya. Dalam kegupuhanku kuambil bag pack yang sejak tadi tergeletak di dekatnya. Cut Laela - Aceh Indonesia, begitulah sedikit info dari ID card-nya. Padahal dia selalu bilang dari Uzbekistan padaku, rupanya dia membohongiku. Otakku berbutar kemana-mana. Adakah ini ada kaitannya dengan banjir Aceh beberapa hari ini?

Bukannya terimakasih padaku selepas dibantu malah dia memarahiku karena mengacak-ngacak isi tasnya dan membongkar jatidirinya via ID card itu. Bahkan yang lebih parah penulisan jurnal kami berdua dengan sepihak dia melarangnya. Jurnal ilmiah yang menggunakan 3 bahasa itu sejatinya begitu prestisius bagi kami. Padahal sudah tinggal simpulan saja. Dia memboikot karya itu dan memblokir semua koneksi sosialku dengannya. 

 "Don't you know that his blood flows into your body during the blood transfusion because you were severely anemic yesterday?" , salah seorang temannya menegurnya. 

"Actually?"

"Sure"

Akhirnya dia menangis sesenggukan meminta maaf sambil melabuhkan wajahnya di ribaanku. " Maaf otakku lagi kacau", katanya sambil menarik tanganku ke pipi kanannya. 


____

Bondowoso, 29 Desember


2025

Senin, 01 Desember 2025

PAGAR SEBELAH

 PAGAR SEBELAH 

Pak Tyqnue Azbynt 



Sejenak kupandangi jalanan yang kulewati tampak seperti biasanya. Ada beberapa lubang menganga seakan hendak menelan semua air hujan yang tumpah menjelang siang. Oktober kadang hujan menyerta angin dan menumbangkan pohon-pohon. Dalam diam saat kupandangi jalan di kota kecil itu kudikejutkan seorang wanita setengah baya. Sapanya mengagetkanku seraya menyomasi agar ditraktir ngedai sejenak. Ajakannya kutolak dengan halus karena aku harus segera pulang tuk menetik beberapa tugas yang belum kelar. "Pokoknya aku minta traktir, kalau tidak berikan aja aku parcel, masa sih pas ultahku tak diberi hadiah", katanya ketus-ketus manja. Aku hanya menjempolkan jari sebagai tanda setuju. 


Selepas salat asar kuberanjak ke teras rumah tuk mengerjakan tugas yang belum terselesaikan. Di teras lebih terasa santai, disapa semilir angin dan juga kicauan Si Qiu Qiu podangku. Beru bebapa paragraf kutulis tugas literasi dari penerbit tahu-tahu ada pesan masuk dari si dia agar dibelikan blue Jeans dengan nomer 28. Kubuka saja pesan itu tanpa aku balas, lagian aku sedang serius kejar tayang pekerjaan. 


Beberapa hari berikutnya aku diajak teman-teman tuk shoping di boutique milik cafe yang kebetulan menjadi tempat kami mengadakan event "Memperingati Bulan Bahasa", sontak saja aku teringat wanita yang sempat memanja itu. Tanpa ba-bi-bu ya aku pilihkan saja blue Jeans yang dia pesan. Finally sebelum aku pulang sudah kukirimi pesan si dianya bahwa request-nya sudah kuindahkan. Selepas Maghrib kusampaikan agar menemuiku di dekat rumahnya lagian aku hendak beli gorengan di petang itu. Semua kuanggap akan biasa saja tapi ternyata dia lompat pagar hingga roknya tersangkut pagar. Dan lututnya memar dengan rembesan luka sebesar uang koin seribuan. Dalam remang masih saja tampak wajahnya meringis kesakitan. "Gimana ne biar tak mewek gitu aku bisa bantu apa?" Tawarku. "Bopong dong ke kursi teras itu" Sontak saja kulakukan pintanya, namun yang membuatku sedikit kaget saat dia menggigit bahuku sembari berkata "aku gemes". Kutarik hidungnya sambil kuisengi "awas kucium kau". "Emang aku takut? " Timpalnya. Dan malah menyodorkan pipi embemnya.

___

Bondowoso, 1 12 25

Wanita Wanita Uighur

 WANITA WANITA UIGHUR  Pak Tyqnue Azbynt  Selepas subuh di pelataran Masjidil Haram kami masih betah menunggu saat Dhuha tiba. Bermain hp se...