Total Tayangan Halaman

Selasa, 10 Maret 2026

IFTARA RAMADANY

 IFTARA RAMADANY

Pak Tyqnue Azbynt



          12 tahun lalu bayi masih merah itu ditemukan seorang guru honorer di sebuah peron stasiun kecil Bondowoso. Bu Hasnah sang guru begitu bingung saat menemukannya. Ini bukan tertinggal sebab di kain gedong yang di-cover selimut biru muda itu ada selembar memo bertuliskan maafkan bunda malaikat kecilku, semoga kamu berada di tangan yang tepat. Bagi Bu Hasna yang hanya sebagai seorang guru honorer merawat bayi itu sedikit merepotkannya. Mau dibawa ke panti asuhan tidak tega, mau dilaporkan ke pihak berwajib takut dengan nasib ibunya kalau dilacak. Ibu bayi ini bukan orang jelek orang jahat karena dia masih menyebutnya malaikat kecil pada bayinya, begitu benak Bu Hasna.

         Bu Hasna bersama rombongan menuju jalan dekat stasiun mengantar murid-muridnya tuk berbagi takjil bagi pelintas depan  Musium  Kereta Api Bondowoso. Baginya anak-anak didik dianggapya bagai anak sendiri, seperti Doni anak semata wayangnya yang telah ditinggal ayah berpulang ke hadapan Sang Kuasa. Gaji sebagai guru honorer di Yayasan sebuah pesantren cukuplah untuk hidup sederhana di kota kecil itu. Saat bagi-bagi takjil dia masih memilih beberapa spot untuk memfoto kegiatannya. Ia merangsek menuju loket dengan view beberapa pajangan tiket atau karcis dari masa ke masa. Beberapa foto terpajang di dinding utara dengan wajah tempo dulu saat kereta menjadi transportasi murah meriah kala itu. Sampai semua muridnya pulang bersama para guru termasuk Doni anaknya, ia masih betah meihat-lihat railway mengenang saat pertama kali dulu bersama mas Dodi almarhum ayah Doni. Ya hitung hitung bernostalgia walau hanya seorang diri.Para pegawai musium itu sudah pulang, namun orang masih bisa mengunjunginya di bagian pelataran stasiun karena areanya semi terbuka. 

          Tangis suara anak bayi merengek minta perhatian terdengar dari deretan kursi peron di pelataran timur. Benar saja seorang bayi yang sengaja ditinggal seseorang. Susu formula di dekatya masih belumlah dingin, rupanya sang bunda belumlah lama meninggalkannya. Tanpa berpikir tuk mencari ibundanya, Bu Hasna dengan naluri keibuannya langsung mendekap memberikan dekapan hangat tubuhnya pada si kecil. Beduk maghrib tiba ia masih berkutat dengan bayi itu tampa memedulikan dirinya tuk sekedar meneguk air pembatal puasanya. Ia segera menyodorkan dot susu ke mulut mungilnya. Dia mulai tenang dan tak merengek lagi seakan merasa aman di dekapannya.

          Beberapa kali calling dari guru di sekolahnya, ia tak sempat menjawabnya karena sibuk menenangkan si mungil. Setelah tenang barulah ia telpon balik yang ternyata hanya diajak berbuka bersama di sekolahnya. Aku langsung pulang bu, lagian Doni kan masih di pondok situ, jawabya di HP-nya. Ia menyempatkan makan roti sisa bagi-bagi takjil yang ada di box kardus tanggung. Kota mulai sedikit lengang barulah ia bersiap-siap pulang, namun ia kesulitan tuk membawa bayi kecil itu karena tak ada gendongan. Terpaksalah diletakkan dalam kardus yang kemudian diletakkan di footboard motor metiknya. Sambil melajukan motor ia menerawang jauh, harus bagaimana dengan bayi itu. 

------- 

          Seorang guru BK dan wali kelas Iftara datang ke rumah Bu Hasna seraya melakukan pengaduan perihal kelakuan anaknya yang telah memukul seorang temannya hingga dibawa ke ruang health section untuk dilakukan tindakan pertolongan awal pada kepalanya bercucuran darah akibat dihempas ompreng MBG Iftara. Sesak terasa di dada saat mendengar anaknya yang sehari-harinya selalu baik ternyata di sekolah sok jagoan. Mana mungkin ia akan begitu dia anak baik kok benaknya. 

          “Maaf bu, yang dipukul Tara kebetulan anak ketua yayasan, jadi kami juga panik, kata wali kelasnya. Di otak Bu Hasna tergambar wajah Pak Latif ketua yayasan yang telah memecatnya dulu, padahal ketua yayasan sebelumnya selalu negosiatif kalau ada masalah pada anak buahnya. Warga sekolah justru lebih suka pada Pak Budi mantan ketua yayasan sebelumnya. Karena alasan tugas negaralah ia harus meninggalkan kota kecil itu. Dan Pak Latif sebagai penggantinya berhaloan ekstrim, super tegas dan kaku. Bu Hasna dipecat gegara harus menjaga Iftara yang dalam perawatan kala itu. 

          Seharusnya aku tak menyekolahkan Tara ke sekolah itu Pak, Bu, karena aku telah dipecat di sana. Kalau tak karena kebaikan Pak Budi yang menanggung semua keperluan sekolah Tara, mana mungkin aku menyekolahkannya di sana, keluh Bu Hasna. Usia yang sudah menua sedang Doni anaknya hanya kerja serabutan di luar kota dan lama tak kunjung memberi berita. Kalau dulu masih banyak orang yang menyuruhnya tuk mencuci baju, namun kini sudah ada mesin cuci yang menyingkirkan tenaganya. And finally dia tak ada penghasilan. Berat benar bebannya, makan seadanya dan sering berpuasa, ditambah kasus Tara. 

 Untuk sementara Tara kami skorsing dulu selama sepekan bu, tapi Tara bersikukuh akan tetap masuk dan mengancam akan lebih nekat katanya. Karenanya saya melakukan kunjungan rumah ini bu untuk menemukan solusi yang tepat, Kata Pak Jakob sang guru BK. Bu Hasnah hanya diam meneteskan air mata. 

Kalau boleh tahu bagaimana keseharian Tara di rumah bu, kami tak menduga dia senekat itu se-brigas itu. Sebelumnya dia pendiam, selalu rapi dan maaf kami tak menduga kalau..., maaf sekali maaf bu kehidupannya ibu teramat sederhana imbuh Bu. Wali kelasnya. 

Maaf Pak, Bu, kalau soal perlengkapan sekolah dan baju-baju Tara selalu disuplay Pak Budi, karena saya pernah ngajar di sekolah itu, jawabnya. 

Tampak kedua guru itu kebingungan. Ya maklumlah mereka guru baru, dan hampir semua guru di sekolah itu guru yang diangkat oleh ketua yayasan yang baru ini.

Tara sebenarnya anak adopsi kami dan sampai saat ini dia tak tahu siapa orang tuanya, dan dia menganggap aku asli ibunya karena aku tak menceritakan ikhwanya. Nama Iftara Ramadany sengaja aku sematkan padanya karena saat aku menemukannya ketika aku mau iftar menyegerakan berbuka puasa saat aku menemukannya dulu. Mohon bapak ibu tak menceritakan ini pada Tara. Jejak yang bisa aku lacakkan nanti hanyalah kain popok, gedong dan tulisan yag sampai saat ini ak simpang rapi”, tuturnya.. 

Setelah panjang lebar meneritakan kehidupan Tara dari kecil, akhirnya kedua guru itu banyak memahami jati diri Tara. Dan mereka pun pamit pulang karena harus kembali ke sekolah tuk melanjutkan tugasnya dan melakukan interogasi mendalam pada Tara yang masih berada di ruang BK. 

______ 

Tara..., kamu tahu apa kosekwensi atas tindakanmu ini? Dinar itu anak ketua yayasan di sekolah ini. Walau pun ini di bawah yayasan pesantren tapi pola dan tata kelolanya beda, and so kamu dah tahu jawabannya. Kalau tak karena jejak kelakuanmu semala ini yang baik, mungkin hari ini juga akuu sudah keluarkan kamu dari sekolah ini, daulat Pak Jakob. 

Tara.. coba kamu ceritakan apa maksud dari tindakanmu itu! Tara ayo bicara jangan diam saja agar aku bisa membatu cari solusinya, desak Pak Jakob, sementara Wali kelasnya membujuknya dengan halus.

“Bapak, Ibu tahu kan, aku tak pernah mengkonsumsi makanan MBG di sini. Aku selalu bawa kotak nasi ini tuk kubawa pulang, mungkin aku hanya makan buahnya saja, atau minum susunya kalau kebulan menunya pas ada susunya, jawa Tara emosi.

Trus?

Aku harus bawa pulang tuk dimakan berdua sama ibu, makanya kalau libur aku sedih pak, gak bisa ambil menu MBG tuk kami makan berdua

Lalu, apa hubungannya dengan pemukulan itu?

Dinar itu sok-sok-an Pak, ompreng MBG saya dituangi tinta spidol papan tulis dan nasi saya hitam peuh tinta, padahal harus saya bawa pulang

Dinar pun dihadirkan ke Ruang BK dengan kepala masih dibebat perban karena luka serius. 

Dinar, ayo kamu cerita biar kami tahu juntrugnya!

Gini Pak, Tara kan memang tak pernah maka nasi MBG aku kira dia sok gaya memilih makanan serba nikmat di rumahnya. Lah wong katanya nasi MBG mau diberikan ke tetangganya. Kan mending bagikan pada kami-kami di kelas. Aku minta dia malah nyolot. Ya aku emosi dong, diminta baik-baik malah membentak, jelas Dinar.

Lalu, soal tinta?

Ya aku tuangin saja, habis aku emosi sih pak

Setelah dijelaskan perihal perutukan MBG di rumah Tara, barulah Dinar sadar kalau makanan itu utuk ibunya. Tapi dasar sudah merasa orang penting di sekolah itu, dia hanya menjawab   oo 

hayo saling bermaafan!, pinta Bu wali kelas. Tapi keduanya masih saling dogkol. Iftara masih masih marah karena tak bisa membawakan makanan buat ibunya sementara Dinar bersikeras untuk melaporkan pada ayahnya agar Tara di D O, Namun guru BK dan wali kelas juga mau keluar jika Tara dikeluarkan dari sekolah itu.

______   

Bodowoso, 10 Maret 2026

Jumat, 30 Januari 2026

SAMBAL ANGGUR MERAH

 SAMBAL ANGGUR MERAH

Pak Tyqnue Azbynt 



Hem MBG, MBG. Makanan bergizi gratis itu masih tersisa beberapa ompreng di pojok kantor dekat pustaka guru. Ada sekitar 20 yang masih menunggu sentuhan guru-guru yang ogah-ogahan gegara waktunya kurang pas. Mau di bilang santap siang masih pukul sepuluh mau dikata sarapan sudah semenjana waktu. Akhirnya mereka mereka seperti merana diacuhkan para guru.


Walaupun sedikit acuh kucoba membuka tutup omprengnya, hemm setangkup nasi, sekepal naget, sayur bening plus empat butir anggur merah. Akhirnya kupaksa tuk memindahkannya ke dalam beberapa box plastik yang terpisah. Kalau tak dipindahkan pasti para petugas kurir MBG itu meminta untuk dikonsumsi. But, teman-teman guru seperti hilang selera, bukan hanya karena sudah kenyang tapi juga soal masakannya yang hambar. Biasanya sih, ada saja teman yang menyiasatinya dengan membawa sambal dari rumahnya, tapi kali ini tak ada satu pun yang membawanya. Mau beli di kantin madrasah, kami para guru tak punya e_maal kartu belanja. 


Terpaksa aku blusak-blusuk ke rak cangkir di ruang sebelah. Alhamdulillah-nya aku menemukan sedikit garam dapur dan cabai yang sudah hampir mengering. Tanpa ba-bi-bu langsung saja kueksekusi, tapi rasanya hancur tak semeriah permen nano nano. Atas saran untaz Rian agar diberi anggur MBG agar sedikit ada airnya. Dilalah selepas diramu dengan anggur merah rasa sambal itu menjadi beda dan menggugah selera. Setelah selesai diulek oleh ustaz Ahmadi yang bersebelahan dengan ustaz Rian. Kami pun melahap nasi MBG dengan sambal anggur merah. Disela-sela makan Ustaz Rahman berseloroh, "hah ini perlu dilaporkan ke Pak Presiden Prabowo, bahwa sambalnya adalah sambal saingannya masakan Eskimo". "Pasti beliau acung jempol atas kejeniusan guru-guru yang sudah disuplai menu MBG tiap hari, karena otaknya makin smart", timpal ustaz Rahman sembari mengunyah santapannya.

___

Bondowoso, 30 Januari 2026

Senin, 19 Januari 2026

PIA PAK SYAM

 PIA PAK SYAM 

Pak Tyqnue Azbynt 



Jelang subuh bis kami tiba di pelataran parkir yang tak sebegitu jauh dari area komplek Asta Embah Sunan Ampel Surabaya. Sekedar melepas penat sembari antre toilet tuk mandi atau wudhu tuk salat subuh. Kupilih bantaran kecil di depan toilet duduk berselonjor sembari melihat teman-teman lain yang memang membawa pasangannya. Misi kami adalah mengikuti pelatihan manasik di asrama haji Sukolilo Surabaya, sedangkan ziarah kubur menjadi bagian lain yang mesti kami ikuti sesuai jadwal yang sudah diskenariokan. Tapi bukan itu pointnya yang hendak kuceritakan, ini tentang perang di dalam dadaku yang berkecamuk melawan diriku sendiri. Berapa tidak, hasil kerjaku bersama istri bidadari titipan mertua itu hanya dipakai untuk biaya ibadahku sendirian tanpa mengajaknya ke tanah suci. Walaupun alasanya adalah tuk bea studi anakku di luar negeri, tapi mengesampingkan istri sungguh terlalu ego.  Tangis kutahan agar aku terlihat begitu tegar, padahal sejatinya aku runtuh. 


Pak Syam yang hilir mudik meramahi kami, Bu Nasir yang sesekali melepas banyolan-banyolan kecil yang justru menjadi twist tersendiri. Bak Riskin Yang mengayomi kami-kami yang sudah manula, selalu saja dilakukannya dengan sabar. Cak Dul Sang Sensei yang menyemangatiku menjadi atensi terdiri bagiku. Tapi ketika otak dan perasaanku kembali menerawang jauh ke rumah, dadaku serasa berguncang keras, belum lagi harus pontang panting persiapan biaya, and finally aku terasa begitu rapuh. Selepas salat subuh kami bergegas ganti baju batik pemberian dari KBIHU muslimat NU sebagai baju komunitas.  Ziarah sebentar, sarapan pagi dan langsung bergegas menuju asrama haji.  Sampai di lokasi, aku ujug-ujug langsung memakai kain ihram dan merapat ke teman-teman yang hendak dibimbing Kiyai Maksum. tr sang motivator. Saat beliau bertanya perihal wudhu, hampir semua kami belum punya wudhu, padahal hendak salat Dhuha. Finally kami segera wudhu dan lanjut salat Dhuha.


Simulasi pelaksanaan manasik benar-benar memberi banyak gambaran bagi kami walaupun situasi sebenarnya di lapangan sangat mungkin berbeda  jauh terutama crawded-nya lautan manusia di sana. Satu hal yang mesti jadi perhatian adalah masalah kesehatan harus benar-benar prima karena ibadah ini banyak kegiatan fisik yang memerlukan effort tersendiri. 


Prosesi latihan selesai, ada temanku yang mandi lagi, ada yang duduk santai sembari menunggu pukul 10.30 tuk makan siang di RM Bromo Asri yang sudah di-booking oleh penanggung jawab event. Di acara santap siang itu, kembali hatiku diaduk-aduk manakala mereka santap siang bersama pasangannya sendiri-sendiri. Sebenarnya ada sih yang  berlagak "jomblo" seperti diriku dan tak mengajak pasangannya tuk tunaikan haji bersama. Alasan finansial dan hal lain yang bisa diceritakan. Tapi soal istriku kan sudah daftar tapi pada tahun tertentu sudah ditutup dan pada saat yang sama uang yang sudah di bank harus diambil demi kebutuhan anak yang praktek lapangan di BRIN (Badan Riset Nasional) selama 6 bulan plus pengayaan kajian ke Malaya University serta universitas lain di Malaysia. Intinya butuh biaya sampai ratusan juta. But soal istri kan belahan jiwa, bidadari titipan mertua. Inilah yang tetap menjadi alasan aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. 


Usai santap siang kami harus bergegas pulang karena sudah capai dan ingin menyapa orang-orang di rumah. Audio di bus melantunkan lagu-lagu kenangan masa mudaku  benar-benar mengajak perasaan ke masa belia, belum lagi ibu-ibu di belakangku yang ramai ngerumpi cerita kelincahannya di masa perawan dulu. Di sisi kiriku duduk seorang bapak yang konon lahir di jaman Jepang tapi kesehatannya masih prima. Hal unik yang membuatku angkat topi adalah habitualnya yang acap kali bergumam mengikuti lantunan lagu yang tayang di audio track bus itu. Hampir sepertiga perjalanan Pak Syam kembali berbagi jajanan pada kami begitu pun Pak Nasir dn Bu Nasir yang berbagi peduli. Saat Pak Nasir masih ke toilet tetiba kue pia yang diberikan. Pak Syam pada kami sudah tinggal 3 biji. Dan, "Eits saya minta lagi pak,  buat yayang suami mantan pacar", kata Bu Nasir kembali melepas banyolannya. End game nya kue Pia Pak Syam ini  menjadi cerita cinta Pak dan Bu Nasir yang diendorse-kan pada kami. Hemm jadi meri sama kemesraan mereka.

Selasa, 30 Desember 2025

Midnight Rain last December

 MIDNIGHT RAIN LAST DECEMBER 

Pak Tyqnue Azbynt 





Gagal didapuk sebagai ASN P3K Paruh waktu membuatku terguncang. Walau gaji tak seberapa tapi pengakuan sebagai budak negara menjadi kebanggaan namun sayangnya aku gagal gegara kinerjaku dianggap berjeda selama setahun tak perpanjang kontrak kerja. Aku kaget bukan main karena setahuku aku sudah 7tahun lebih mengabdi di sebuah sekolah dasar itu. Demi mencari tahu aku pun menanyakan ikhwalnya ke BKPSDM ternyata benar adanya, dan berarti kepala sekolahku tak menandatangani berkas yang secara reguler selalu diajukan tiap tahun, justru di dua tahun terakhir ini nihil.  Walhasil aku kecewa dan malu ditanyakan semua teman-teman seperjuangan. 


Malam penuntasan tahun kuhibur diri dengan bakar-bakar tofu srimp, tofu meatball, balado sausage, dan banyak makanan beku yang aku bawa ke pojokan alun alun. Eits kalau ada teman datang bisa berbagi tapi kalau orang umum ya aku jual deh. Dan ...benar saja teman-teman sejawatku justru merayakan tahun Baru sembari tasyakuran atas lolosnya P3K PW-nya. And finally kujadikan malam itu sebagai me time walaupun sambil jualan ya biar ngehibur diri dengan cuan. Dilalah lumayan juga untuk sekedar beli HP premium. 


Jelang titik 00 ternyata hujan datang tiba-tiba, dan banyaklah orang mencari teduhan secepatnya, termasuk di lapakku yang hanya diteduhi mini camp. Seorang bapak-bapak dengan putrinya sekitar usia SMP _nunut ngiup_di tendaku. Dari situlah aku tahu kalau bapak tersebut kepala bagian di Dinas Pendidikan yang rupanya sering melihatku kalau mendampingi kepala sekolah saat entri laporan digital. Tentu saja beliau menanyakan hal P3K PW padaku. Aku sampaikan apa adanya dan memilih resign dari tempat tugas. Beliau hanya heran dan menyayangkan kejadian itu. "Bukannya adik dulu yang menyiapkan segala sesuatu yang berkait dengan meta visual mantan kepala sekolah lama, tuk workshop ke Australia?", tanyanya meyakinkan dugaannya. 

"Nggeh betul bapak, saya memang lulusan administrasi bukan lulusan guru tapi berkaitan dengan digital ya saya sudah punya sertifikat Nasional, sertifikat videografi dari UI,dan beberapa lagi yang lainnya"

"Punya studio?"

"Enggih sudah ada Siup-nya resmi"

Dari perbincangan itu beliau turut prihatin padaku. Dilalah sang anak yang sejak tadi _nguping_ justru meminta peringatan ulangtahunnya agar dibuatkan epic videografi. Walhasil kami sepakat untuk membuatkan video perayaan ultahnya besok sorenya di wana wisata lokal "Teduh Glamping" di dataran tinggi Bondowoso. Saya hanya meminta biaya 2 juta karena kami harus bawa 3 orang kru ke tempat itu, namun si Bapak justru transfer ke rekeningku 10 juta, katanya sih sebagai tebusan kesalahan kepala sekolah yang telah memperlakukanku kurang adil. Walaupun saya menolah TF nya namun beliau justru memaksa dan akan memerintahkan sekolah -sekolah SMK agar magang ditempatku. Dan Hujan tengah malam di akhir Desember memberikan cerita lain menuju profesiku non ASN dan tak akan lagi menjadi budak negara.

____

Bondowoso 

30 Desember 2025

Senin, 29 Desember 2025

LAELA ASSY

 LAELA ASSY

Pak Tyqnue Azbynt 


Tak seperti biasanya Laela yang selalu senyum sumringah, kini berkali-kali mencucurkan air matanya. Beberapa kali kulihat punggung tangan kanannya yang putih mulus dengan bulu -bulu halusnya itu menyeka air matanya. Kucoba bertanya dia tetap tak mau menjawabnya. Justru dengan kebungkamannya aku menyimpan tanda tanya besar dan mencoba untuk menelisik mendalam. But finally selalu gagal.


Bertemu kembali di perpustakaan Universitas Nasional Yang Ming Chiao Tung (NYCU) dalam tak sadarkan diri. Dibantu beberapa mahasiswa aku membawanya ke health section room. Dia yang banyak membantuku melakukan penelitian di laboratorium kini tergeletak tak berdaya. Apakah terkena reduksi kimia kimia atau radiasi sinar x atau  apalah yang jelas aku tak bisa mengetahui secara pasti.


"Anyone please help me”, gumamnya diambang sadarnya. Tapi saat kuajak bicara dia sama sekali tak merespon. Barulah setelah pemeriksaan medis oleh salah seorang dokter kampus aku tahu kalau dia mengalami depresi yang sangat berat dan perlu penanganan medis yang serius. Keadaan itu memaksa aku tuk membuat kesepakatan yang harus ditandatangani dengan pihak medis kampus. But I don't know,  aku tak tahu pasti tentang jati dirinya. Dalam kegupuhanku kuambil bag pack yang sejak tadi tergeletak di dekatnya. Cut Laela - Aceh Indonesia, begitulah sedikit info dari ID card-nya. Padahal dia selalu bilang dari Uzbekistan padaku, rupanya dia membohongiku. Otakku berbutar kemana-mana. Adakah ini ada kaitannya dengan banjir Aceh beberapa hari ini?

Bukannya terimakasih padaku selepas dibantu malah dia memarahiku karena mengacak-ngacak isi tasnya dan membongkar jatidirinya via ID card itu. Bahkan yang lebih parah penulisan jurnal kami berdua dengan sepihak dia melarangnya. Jurnal ilmiah yang menggunakan 3 bahasa itu sejatinya begitu prestisius bagi kami. Padahal sudah tinggal simpulan saja. Dia memboikot karya itu dan memblokir semua koneksi sosialku dengannya. 

 "Don't you know that his blood flows into your body during the blood transfusion because you were severely anemic yesterday?" , salah seorang temannya menegurnya. 

"Actually?"

"Sure"

Akhirnya dia menangis sesenggukan meminta maaf sambil melabuhkan wajahnya di ribaanku. " Maaf otakku lagi kacau", katanya sambil menarik tanganku ke pipi kanannya. 


____

Bondowoso, 29 Desember


2025

Senin, 01 Desember 2025

PAGAR SEBELAH

 PAGAR SEBELAH 

Pak Tyqnue Azbynt 



Sejenak kupandangi jalanan yang kulewati tampak seperti biasanya. Ada beberapa lubang menganga seakan hendak menelan semua air hujan yang tumpah menjelang siang. Oktober kadang hujan menyerta angin dan menumbangkan pohon-pohon. Dalam diam saat kupandangi jalan di kota kecil itu kudikejutkan seorang wanita setengah baya. Sapanya mengagetkanku seraya menyomasi agar ditraktir ngedai sejenak. Ajakannya kutolak dengan halus karena aku harus segera pulang tuk menetik beberapa tugas yang belum kelar. "Pokoknya aku minta traktir, kalau tidak berikan aja aku parcel, masa sih pas ultahku tak diberi hadiah", katanya ketus-ketus manja. Aku hanya menjempolkan jari sebagai tanda setuju. 


Selepas salat asar kuberanjak ke teras rumah tuk mengerjakan tugas yang belum terselesaikan. Di teras lebih terasa santai, disapa semilir angin dan juga kicauan Si Qiu Qiu podangku. Beru bebapa paragraf kutulis tugas literasi dari penerbit tahu-tahu ada pesan masuk dari si dia agar dibelikan blue Jeans dengan nomer 28. Kubuka saja pesan itu tanpa aku balas, lagian aku sedang serius kejar tayang pekerjaan. 


Beberapa hari berikutnya aku diajak teman-teman tuk shoping di boutique milik cafe yang kebetulan menjadi tempat kami mengadakan event "Memperingati Bulan Bahasa", sontak saja aku teringat wanita yang sempat memanja itu. Tanpa ba-bi-bu ya aku pilihkan saja blue Jeans yang dia pesan. Finally sebelum aku pulang sudah kukirimi pesan si dianya bahwa request-nya sudah kuindahkan. Selepas Maghrib kusampaikan agar menemuiku di dekat rumahnya lagian aku hendak beli gorengan di petang itu. Semua kuanggap akan biasa saja tapi ternyata dia lompat pagar hingga roknya tersangkut pagar. Dan lututnya memar dengan rembesan luka sebesar uang koin seribuan. Dalam remang masih saja tampak wajahnya meringis kesakitan. "Gimana ne biar tak mewek gitu aku bisa bantu apa?" Tawarku. "Bopong dong ke kursi teras itu" Sontak saja kulakukan pintanya, namun yang membuatku sedikit kaget saat dia menggigit bahuku sembari berkata "aku gemes". Kutarik hidungnya sambil kuisengi "awas kucium kau". "Emang aku takut? " Timpalnya. Dan malah menyodorkan pipi embemnya.

___

Bondowoso, 1 12 25

Sabtu, 30 Agustus 2025

Love and Rain

 LOVE AND RAIN

Pak Tyqnue Azbynt



          Hujan turun begitu lebatnya, jarak pandang pun mengganggu pandang dan laju motorku. Sudah kian petang dan banjir di aspalt harus kulewati. Pikiran menjadi kian cemas, sudah tak bermantel, pakai motor matic pula. Boardes motor yang tak begitu tinggi membuat kakiku protes kedinginan lantaran bermain air yang masuk di sela sela boardes motor itu. Dan... benar saja cemasku menjadi kenyataan , tetiba motor macet tak mau jalan gegara si knalpot sudah kumur-kumur air hujan.

          Sesosok wanita berpayung biru melintas dan melihatku, lalu sekonyong-konyong menebak namaku. Tawarannya tuk singgah di rumahnya kuiyakan saja tanpa basa basi. Ya hitung-hitung bisa rehatlah barang sejenak menjedakan penat yang mendera. Setelah beberapa menit berlalu aku sampai di griyanya yang melewati gang sekitar 50 meteran dari jalan raya.

          Pak...saya Elmayda, mahasiswi bapak, dan juga sahabat Instagram yang pakai cadar itu celotehnya singkat. Setelah berbincang lama barulah aku tahu, dia sahabat maya, dan mahasiswiku itu ternyata seorang janda dengan satu anak. Hanya hidup bertiga dengan anak cowok dan ibunya yang sudah sepuh itu. Pikiranku perlahan mulai kacau, sebab sahabat mayaku tersebut sudah berulang kali kuusili dengan rayuan yang kelewat vulgar dan tak wajar. Untunglah sang ibu bertutur bahwa Elmayda sering bercerita banyak tentangku dan sangat mengagumiku. Bagai hangat bara yang mengusir dinginku saat mendengar cerita itu. Kaus oblong bertulis Lacoste warna biru yang disodorkan kepadaku dan celana sarung batik Madura, plus hotpant warna crem bertulis Sorex yang rupanya masih baru ( masih berlabel Utama Raya Boutyque ), semua itu tuk aku kenakan. Saat aku pakai hangat melebihi hangat tungku bara di dapurnya. Hatiku bagai terbakar pasrah. Wow, kan milik cewek yang kebetulan pas ada di depanku. Saat hujan reda, aku pun mohon diri dengan mengenakan pakaiannya, sementara semua pakaianku kutumpuk di kamar mandinya. Di pintu depan Elmayda menjabat tanganku dengan gemetar, pak aku bahagia hari ini, tuturnya. Kupegang erat tangannya sembari kucium keningnya. Dia menangis di sela senyum bahagianya. 

         Kusorotkan pandang pada tubuh sintalnya dari ubun-ubun hingga ujung kakinya. Dia hanya terdiam kaku menatapku penuh tanya.

“Embok yao ngomong jangan terdiam begitu seperti saat berceloteh via medsos itu lho, pintaku.

“Aku bingung pak, sejatinya malu tapi kenapa kok merasa bahagia ya?

Perlahan perbincangan kami mulai cair dan dia pun mulai berani memanjakan diri. Saat kutarik tangannya, kusandarkan di dadaku dia malah menangis. Tuturannya tentang candaan di medsos menjadi pelipur laranya. Namun saat bertemu langsung ternyata dia tidak bercadar. 

          Ketika dia mulai berani bercanda aku melayaninya dengan renyah. Saat dia senyum malu, kutanya kenapa? Ternyata celana batiknya yang membuatnya senyum, katanya lucu. Aku harus menguasai diri dan pura-pura tak terlalu terbawa nafsu. Aku pun pamit pulang dengan memakai pakaiannya. Pamitanku dengan kecup kedua ujung dari lalu kutempelkan ke bibir mungilnya.

*****

          Sebulan telah berlalu, aku belum mengembalikan pakaian dia karena belum ada moment yang tepat walaupun sebenarnya hati sudah meronta tuk segera kembali menemuinya. Entah apa yang sedang menggelayuti hatiku ketika hujan kembali menguyur tubuh ini. Aku begitu menikmati cumbuan air langit sore ini, tak ada rasa gigil dingin. Aku merasa nyaman dan memesrainya, teringat kembali kala dibersamai Elmayda sebulan lalu.

            Motorku masih saja melaju menerabas derasnya hujan. Namun motor terpaksa harus berhenti gegara distop oleh satuan pengamanan demo mahasiswa yang lagi marak. Sebenarnya mahasiswa sudah pada neduh dari derasnya hujan. Terpaksalah aku meneduh di sebuah halte yang sudah ada beberapa mahasiswa yang juga sedang berteduh. Tanpa aku curiga terhadap seseorang perempuan yang sedang memegang gulungan spanduk orasi, dengan masker abu-abu dan coreng moreng odol di sekitar matanya. Aku memastikan saja kalau polesan odol untuk mengusir perihnya mata kala terkena gas air mata. Aku duduk bersandar ke tiang halte sementara wanita itu menatapku sangat tajam. wih sadis benar ini mahasiswa begitu benakku.

          Hujan reda aku pun beranjak dengan alasan mau putar arah, karenanya polisi menyilakanku tuk pulang. Anehnya si wanita itu justru menarik tanganku. “Ikut dong”, katanya tak begitu jelas karena mulutnya tertutup masker. Aku mengiyakan saja karena aku menganggap dia sengaja mau ikut aku karena menghindar dari pam pengamanan. Dia memberi navigasi ke arah yang hendak dia tuju. Semakin jauh aku semakin tanda tanya tentang arah yang hendak di tuju. 

          Tanpa aku sadari karena asyik handling berkendara akhirnya tak terasa sudah sampai di sebuah mulut gang. Dan eng ing eeeng ternyata menuju arah rumahnya Elmayda. Dia pun menajakku tuk singgah dulu. 

Hayo paaak, gak mau mampir dulu, bujuknya.

Lah kamu Elmayda yaa?

Emangnya bapak tak sadar sedari tadi?

But, kenapa ikutan demo?

“Bukan ikutan pak tapi ditarik oleh mereka saat aku jalan, diberi jaket almamater agar ikut. Beruntunglah hujan turun, and semua menepi jelasnya panjang lebar. 

Yah bapak kurang peka sih, di perjalanan aku kan merapat ke tubuh bapak”

“ Oh, aku tak menyadarinya yaa?”

          Dari perbincangan demi perbincangan barulah aku memahami juntrungnya. Dia dengan keberaniannya menyatakan perasaannya. Mendengar celotehannya aku merasa senang. Usia yang masih belia ditambah sosoknya yang manis menawan. Akhirnya terjadilah cinta gegara hujan antara mahasiswa dan dosennya. Dengan keberaniannya dia menyandarkan tubuhnya sembari mempermainkan ujung bajuku yang masih basah. 

By the way, kenapa neh aku tak suruh ganti bajumu lagi?

Emannya gak risih?

Ya nggak lah

Dia mengambilkan aku training navy dan kaus oblong warna putih agar aku pakai. Perbincanganpun sampai jauh penuh rayu canda yang mengasyikkan. Ketika aku hendak pulang dia pun mengecupkan gambar lipstiknya ke dada kiriku agar kaus itu tergambar bibirnya. Manjanya telah menjeratku.

_________ 

Bondowoso Ultimo Agustus 2025

Rabu, 09 Juli 2025

PERJALANAN DI HUTAN PINUS

 PERJALANAN DI HUTAN PINUS 

Pak Tyqnue Azbynt 



Erkantina wanita yang kuidamkan sejak aku  SMA itu kini benar-benar bersamaku. Momen saat dia numpang di motor saat pulang dari belanja alat alat lukis, eh dilalah bertemu si Erkan. Sepulang shoping dia berpapasan denganku  di depan toko perabotan. Aku sih iseng saja, menawarkan jasa tuk mengantarnya. Yassalam bak gayung bersambut dia pun mau tanpa basa-basi, padahal aku bercanda. Semula kupikir dia bawa motor, ternyata tidak. 


Bak dapat durian runtuh, dada berdegup kencang menahan kebahagiaan yang melimpah. Demi bisa bersamanya selama mungkin, di perjalanan pulang kubawa belanja barang sebenarnya tak kubutuhkan. Kami bersama bergegas menuju sebuah stationary di bilangan selatan kota. Dengan basa basi kutanya apakan dia juga butuh altuka, namun dia tak butuh itu, atau butuh apa saja akan aku turuti karena aku lagi tajir. Dia menjawab tidak untuk kali ini. 

Tiba saatnya pulang kubawa dia melintasi hutan pinus yang rindang. Desau angin yang mencumbui daun-daun pinus terdengar seperti siulan menyindir kami. Jalanan aspal berlubang justru menjadi keindahan tersendiri. Betapa tidak, gronjal-gronjal motorku yang menghempas jalan membuat tubuh Erkan merapat ke tubuhku. Tiada kata terucap, tiada canda kulepas namun di benakku banyak kata yang tak bisa tersampaikan..saat melewati lubang besar tubuhnya benar-benar rapat ke punggungku.

"Owh maaf", katanya ragu

"Alhamdulillah", jawabku nakal. 

Ternyata jawabanku mejadikan dia tanpa ragu merangkulku dengan akrab. 

"Pengen gini?"

"Yap", jawabku sembari memegang tangannya tanda terima kasihku.

"Awas, steernya"

"Kan kalau jatuh berdua jadi viral", jawabku ngasal

"Iiih gak ah", jawabnya ketus, tapi mendiamkan tanganku saat memegang lengannya menjadi isyarat akan kepasrahannya padaku saat itu. Hutan pinus aku rindu suasana itu.

___

Bondowoso, 9Juli 2025

Minggu, 15 Juni 2025

GAUN KOYAK

GAUN KOYAK

Pak Tyqnue Azbynt

          Vanya Janneta begitulah nama yang tersemat pada sosok gadis berkulit coklat cerah, walau tak sebening gadis kebanyakan, namun tubuh sintalnya menjadi nilai tersendiri. Dia yang kini sibuk di berbagai organisasi pemuda, ekstra kampus bahkan organisasi pemuda yang berbasis organisasi agama terbesar di dunia ‘NU’, dia aktif di IPPNU-nya. Namanya banyak dikenal oleh para aktifis dan masyarakat sekitar. Giat di berbagai kegiatan ini rupanya terular oleh habitual Sang Ibu yang juga aktif di berbagai kegiatan sosial.

          Sosok yang dibesarkan oleh ibu tanpa didampingi sosok ayah yang telah sekian lama memilih jalan cerai lantaran beda pandangan dengan ibu. Bangku SMP dan SMA dilewati dengan cara nyantri di sebuah pesantren ternama di kota Tape. Kemandirian sudah mulai tertanam sejak di sana, bergaul dengan berbagai karakter pun menjadi hal yang mudah baginya. Di dunia pesanren Vanya benar-benar terbarikade dari pergaulan dengan sosok lelaki. Sejak menjadi mahasiswilah matanya mulai terbuka pada sosok lelaki. Di kegiatan para aktifis dia kenal dengan seorang pemuda tampan yang benar-benar menjadi dunianya penuh bintang. Andhika Samoedra resmi memacarinya dan telah mengenyampingkan tradisi santri Vanya. 

          Entah karena apa, para tetangga tak menyalahkan kedekatan Vanya dengan Andhika walaupun habitual sebagai santri pernah dijalaninya. Sejoli itu asyik masyuk dalam dunia cinta. Pantas saja kalau mereka digunjingkan bakal menjadi pasangan yang serius ke jenjang pernikahan. Demi menjaga kehormatan sang gadis, bunda Vanya mengintrogasi Andika perihal hubungan mereka. Benar saja dia menyanggupi dengan serius bakal meminang putinya dan finalnya ke pernikahan. Janji pemuda itu merebak ke telinga tetangga bahkan warga se kampung tahu akan hal itu. Dunia menjadi milik mereka berdua, dan kita-kita hanya numpang padanya. Viralnya berita Andhika akan meminang sang gadis semakin santer saja di telinga warga.

         Suatu sore di Orilla Cafe mereka sedang have fun sepulang ngampus. Di temapat itu Vanya berjumpa dengan sepupunya Farah. Dengan bangganya ia memperkenalkan Arjunanya pada saudari sepupunya itu. Maklumlah Vanya dan Farah yang dulu pernah sehalaman rumah plus sebagai saudari mereka begitu akrabnya walau kini Vanya telah tinggal bersama ibunya di tempat yang relatif jauh sejak perceraian dengan ayahnya. Walhasil pertemuan di cafe itu menjadi perajut kembali temali keluarga yang telah rusak.

          Kesibukan menyusun skripsi telah merehatkan jalinan asmara Vanya - Andhika. Hingga lepas bulan Desember karya ilmiyahnya itu belum juga tertuntaskan. Mungkin harus pulang kampung tuk bersimpuh di kaki sang bunda agar segera urusannya terentaskan, begitu pikir Vanya. Namun sesampai di rumah, tiap kali hendak berbiccara pasal Andhika semua orang mengalihkan pembicaraan. Aneh, namun di otaknya belum tergambar apa-apa. Di dekat main road kecamatan dia bertemu Andrea saudara sambung dari pernikahan ayah dengan ibu sambunya. Tuturannya kalau calonnya telah berpaling dan justru meminang Farah sepupunya. Walau semula dia tak percaya tapi keseriusan penuturan saudara sambung itulah yang mulai membuatnya percaya ditambah lagi dengan pengalihan perbincangan keluarganya di rumah.

          Anne Barge bridal gown yang sengaja dia beli dengan harga yang terbilang mahal untuk kantongnya terpaksa dia geletakkan sahaja sebagai bukti kekecewaannya. Di antara tumpukan buku kerja gaun itu ia abaikan dan tak ada sedikit pun ekspektasi dengannya. Semula yang hendak digunakan saat pertunangan ternyata kini hanya memuakkan mata dan menyesakkan dada. Entah harus pada siapa ia melabuhkan curhatnya karena tak ada teman sejati yang bisa ia tumpahkan semua beban yang menyampah di hatinya. Ketika desas-desus kabar pernikahan Farah dan Andhika masuk ke telinganya, gaun itu mmenjadi tumpahan amarahnya. Cutter di rak bukunya menjadi eksekutor tuk merobek-robek gaun mahal itu. Anehnya, justru ia bungkus dengan kertas kado yang begitu estetiknya.

          14 Juni 2025 sebuah surat undangan lux warna jingga ia terima dari saudara sepupunya. Walau bara perseteruan cinta masih membara tapi sebagai saudara harus ia terima. Bagi Vanya ini benar-benar menjadi puncak kemarahannya namun dia sebagai aktifis harus menunjukkan ketegaran hatinya. Namun hati taklah seteguh karang, hantaman ombak amarah yang bertubi-tubi merapuhkan jua. Antara iya dan tidak untuk hadir di hari bahagia sang mantan bergejolak di hatinya. 

          Teman-teman pemuda kreatif di komunitas yang menjadi kelompok para pemuda penggerak di kampungnya menyarankan agar Vanya tak mengahdirinya. Memang pertimbangan dari komunitasnya sangat reasonable demi tidak terjadi hal yang diluar kemampuan dan ketegarannya. Tak seperti anjuran teman komunitas dia justru bersikukuh tuk menyaksikan hari penyiksaan hatinya itu walau jiwanya masih sangat terguncang.

        


  Alex Abdillah seorang asisten dosen di kampusnya, menanyakan ihwal acara penikahan yang akan di gelar Farah dan Andhika yang dulu pernah se kampus dengannya. Lelaki tampan itu bertanya pada Vanya karena dia tahu kalau dia satu kampung dengan Farah. Entah karena apa justru dia menemukan tempat curhat yang dianggapnya tepat. Alex menyeriusinya tuturan adik tingkatnya itu dan memberikan banyak saran padanya. Dia tak sekedar sebagai kating tapi lebih dari itu dia mengajak Vanya tuk membersamainya. Bak satu koin uang yang dilempar di ajar perlombaan, mereka berdua hanya dijadikan mainan.Ternyata Alex pernah jadi pacar Farah namun ditinggalkannya tanpa alasan yang berarti. Semula dia sudah merencanakan pertunangan pasca doktoralnya selesai, namun Farah justru berpaling ke lain lelaki.

          Kado indah telah meraka bawa, gaun koyak perlambang penghianatan. Alex Vanya mengenakan baju senada. Alex dengan Jaz biru serasi dengan Gaun Vanya biru muda berulas putih yang dibelikan teman penyampingnya itu. Mereka beriring berdua menapaki pelataran panggung kedua mempelai sembari memberikan salam restu. Tak hanya itu Alex Vanya justru bergerak ke Wedding Band dengan membawakan lagu Tak Ingin Usai – Keisya Levronka. Sontak saja banyak undangan yang mengapresiasinya. Satu persatu bergerak memberikan standing applause sembari merapat menyalami mereka berdua, seakan merekalah pengantinnya. Mungkin karena kabar telah santer tentang romantika asmara mereka hingga secara tidak langsung hadirin justru memberikan dukungan pada Alex Vanya. Benarlah kata orang, yang berani berjanji akan terkalahkan sama yang berani meminang, berani meminang akan kalah sama yang berani ijab kabul nikah. Namun siapayang menyemai maka meraka yang akan menuai, benih yang baik akan berbuah yang baik pula.

_________ 

Bondowoso, 15 Juni 2025


         

 







Jumat, 13 Juni 2025

KEYRANE SIBONDETA

 KEYRANE SIBONDETA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Melabuhkan tubuh penat  di Tomoro Kafe menjadi kebiasaanku. Duduk menyendiri di pojokan sembari melihat-lihat file tulisan di laptop menjadi keasyikan tersendiri.  Sekedar membaca ulang, menyelia tulisan-tulisan yang typo atau mereset ulang alur cerita menjadi kebiasaanku kala sendiri. Walau tubuh penat tapi soal menulis tak pernah aku lupakan. 

Seorang Barista girl datang mengusiliku sembari senyum tipis di bibirnya. 

"Mas penulis, mbok yao aku jadikan tokohnya dong" yang ber-name text KEYRANE SIBONDETA, padahal Nama dirinya Gerin Shashikirana sudah apik.  Mungkin alasan marketlah ia harus mem-falsify namanya. Tanpa babibu langsung kuambil gambar elok wajahnya sebagai cover buku yang bakal aku cetak. Akhirnya penyeliaan tulisan aku hentikan dan menjadi bincang ria dengannya. Mungkin karena aku sudah biasa hadir di tempat itu, sang Barista diperkenankan bercengkrama denganku. Dan yang menggantikan barista di pantri seorang cowok yang terbiasa bergantian dengan Keyrane. 

"Pinjam satu boss bidadariny satu, ada sedikit yang perlu dibincangkn".Boss pemilik kafe hanya tersenyum sembari mengacungkan jempolnya. 

Saya tak tahu harus memulai dari mana alur ceritanya akan bermula. Otakku blank, tak menemukan idea cerita. Aku katakan saja kalau otak lagi buntu padanya. 

"Gimana mas kalau ceritanya aku berpacaran sama mas penulis ?"

"Trus"

"Ya kita pacaran, dalam ceritanya"

"Ah halu, ga mau ah"

Dia cemberut sembari memonyongkan mulutnya. Dia langsung menyesap kopiku, sembari merapatkan tubuhnya. Hangat, lembut, dengan aroma fifth avenue menjadikan aku terpana tanpa kata. Sampai beberapa saat aku diam tanpa kata tak tahu harus berbuat apa. Sampai dia menegur dan mengejutkan aku dari lamunan. 

"Woi kok malah sawan"

"Oh, aku kena sihir Dewa Amor"

"Hemmm, lelaki gayanya memang begitu" Kekatany menyindir. Tapi sumpah deh, aku justru dibuat tak berdaya olehnya. Walau hatiku telah takluk, aku berusaha setenang mungkin agar tak dibully si cantik ini. Tapi lagi lagi aku mati langkah berada di dekatnya, idea tak ada, mau bicara apa, kelu. Barulah aku tersadar kalau didompet ada souvenir logam mulia Antam walau hanya 2 gram kujadikan media tuk melepaskan belenggu kekaluan tingkahku.

"key, aku ada sesuatu untukmu, walau tak seberapa tapi ini logam mulia bersertifikat, ada barcodenya sebagai tanda jadi pacaran kita"

"Yee, asyik kita jadian neh", timpalnya sembari menempelkan telinganya di dadaku.

"Yaaah ternyata dredegnya kencang mas,  berarti langsung ke hati ne?"

Sebelum kepalanya beranjak kubelai rambutnya sembari mencium keningnya tipis.

"Iih, masnya nakal", sambungnya, tapi dia justru menempelkan pipi mbemnya ke hidungku.

" Neh sekalian, yang satunya lagi biar gak meri". 

Sejak saat itu kami jadian namun novel yang   dia minta sebagai tokoh masih belum terampungkan jua.

___

Bondowoso, 13 Juni 2025





IFTARA RAMADANY

 IFTARA RAMADANY Pak Tyqnue Azbynt           12 tahun lalu bayi masih merah itu ditemukan seorang guru honorer di sebuah peron stasiun kecil...