Total Tayangan Halaman

Sabtu, 23 Mei 2026

Rindu Nidak Subuh

 RINDU NIDAK SUBUH

Pak Tyqnue Azbynt 



Tidur lelap, bed empuk, dan fasilitas lengkap, menjadikan aku terlena dalam buaian malam. Kami harus sering-sering buka hp walaupun tuk sekedar lihat jam demi subuh. Tak seperti di Tanah Air yang riuh rendah menguak pagi dengan lantunan kiraah Qur an dan salawat nidak subuh, apalagi zikir ala kampung-kampung di Indonesia. Tetiba saja azan subuh lalu senyap beberapa saat kemudian ikamah, salat and tanpa wiridan. Di perasaanku terasa kering, untunglah ini tanah haram, yaa para calon haji larut dengan wiridannya sendiri-sendiri.


Di belakang hotel ada masjid yang selalu padat, telat dikit yaa harus buat jamaah kedua selepas yang pertama bubaran. Akhirnya aku memilih masjid lain di depan yang hanya melintas saja. King Fahd Hospital Mouse, lumayan longgar, tapi sama saja no zikiran no wiridan. Selama aku salat di sana hanya satu kali mendengar bacaan basmalah dijaherkan saat bacaan Fatihah.


Selepas salat kami dipanggil seorang Syaikh tuk dites bacaan Alquran. "Ajib, good", katanya. Sebagai apresiasi saya menjabat tangan dn bermaksud menciumnya tapi beliau langsung menarik cepat-cepat seraya berkata"no no no, we are not Budhis". Katanya serius yang dikuatkan oleh calon Haji dari negri lain. "I'm sorry It's no a Budhism but east tradition as your clothes as Arab tradition not as moslem. Menghindari debat saya mengiyakan saja kekatanya. Saya khawatir dengan larangan haji, "Laa jidala..." Saya tunjukkan suasana jelang subuh di Indonesia, ramai speaker bersautan, nidak subuh yang berpadu Kokok ayam. "Is it Budhism? " Beliau hanya mengangkat kedua tangannya sembari senyum, tanpa jawaban. Saya tunjukkan sarung batik, "it is my traditional clothes, and that is your Arab tradition not a moslem. Beliau hanya tersenyum sembari meminta putar ulang suara nidak subuh di YouTube hp ku.

__

Tanah Haram 22 Mei 2026

LAKI LAKI ANDANUSY

LAKI LAKI ANDANUSY

Pak Tyqnue Azbynt 



Lelaki Indonesia itu ya rokok, ngopi, burung, mancing, motoran. Jika tidak di salah satunya berarti termasuk lelaki langka, and so kemana pun mereka pergi ya mesti ada salah satunya itu termasuk saat berhaji. Koper-koper mereka bukan berisi baju ganti tapi rokok berslof-slof, bubuk kopi, serta mie instan.



Akomodasi hotel yang disediakan pemerintah Arab Saudi menjadi area bermain baru bagi mereka yang harus beradaptasi. Walhasil banyak kejadian-kejadian konyol yang terjadi. Ada yang bolak-balik naik-turun dalam elevator, ada yang lepas sandal di luar elevator, ada naik tangga darurat,  ada yang kepanasan air shower bahkan sulit entry kamar karena temannya sudah tidur duluan sedang akses masuk harus pakai kartu entry yang dilalah dipegang teman di dalam dalam keadaan bobo manis. 


Hari-hari pertama bapak bapak Indo masih berani merokok di luar gedung yang suhunya di atas 40 derajat, rentangnya sekitar 42-47 derajat. Tapi demi mengepulkan rokok Gudang Garam di langit Arab mereka rela berpanas-panasan. Kalau malam tiba mereka berbaur dengan lelaki Turki dalam menikmati asap surganya. Bedanya kalau orang Turki sambil menyantap kudapan kebab yang tersaji di meja mereka. Laki-laki Indonesia cukuplah duduk di bantaran-bantaran pot bunga tapi tak kalah gaya dalam menikmati rokoknya. 


Perokok berat sebelum tidur saja mesti rokok dulu, bangun tidur juga begitu. Akhirnya mereka menemukan zona nyaman di tangga darurat yang tak ada smoke detektornya, tapi kendalanya ruang itu less AC, yaa lumayan gerahlah. Dari celetukan mereka muncul ide absurbnya, agar pintu tangga diganjal botol air mineral. Dan embusan angin dingin menyela kelompok ahlul hisap itu. "Aman kang, gak usah khawatir, kita jauh dari mata-mata asap sembari menunjuk water springkler di langit-langit hotel. Mereka menyangka prayer kebakaran itu sebagai pendeteksi asap. Dan..., alarm bahaya pun meraung-raung di ruangan itu plus embusan angin kencang memblowing area tangga darurat. Lumayan kagetlah orang-orang sekitar karena mendadak pintu sulit ditutup gegara embusan angin kencang itu. Jerakah mereka? Tidak!!! Mereka menyiasatinya di dalam kamar, dengan mematikan AC dan menjauhi water springkler, padahal di tiap ruangan selalu ada smoke detektornya. Bisa ditebak, ya kalau tidak siang ya malam alarm bahaya selalu meraung-raung. "Oy siapa yang udud kui", celetuknya sambil senyam-senyum. 

___

Oriens Hotel, 23 Mei 2026

21 Mei di Rusaifah

 21 MEI DI RUSAIFAH 

Pak Tyqnue Azbynt 



HPku berontak berdering meminta perhatian, setelah beberapa kali kuabaikan akhirnya kuhirau juga. Masyaallah ternyata calling dari Gus Malik yang memintaku bersiap menuju Pondok Rusaifah tempat beliau studi. Dengan panduan map agar aku naik taksi menuju tempat beliau. Dengan memohon petunjuk staff KBIH bagian tranportasi di lobby hotel aku diarahkan dengan taxi hijau yang butuh cost sekitaran 45 SAR, dan benar saja pas taxi datang ongkosnya 45 SAR. 


Abang driver Pakistan membawaku menyelusuri jalanan panas di Makkah. Sesekali kami berbincang dengan gaya English-nya yang dialek seperti India, unik, ya lumayan seru. Karena hp yang digunakan nge-map adalah HPku yang tentu saja pakai Bahasa Indonesia, and so harus aku jelaskan. "What is belok kanan,  what is belok kiri, putar balik and so on", ocehnya. Ya mesti aku jelasin sambil bercanda. 


Tiba di gedung dengan beberapa lantai bercat krem pucat, aku calling Gus Malik. Subhanallah beliau menyambutku dengan hangat, dibawa ke kamar belajarnya. Dilalah di ruang itu telah lebih dulu Bang Baihaqi jamaah haji temanku dari lain hotel yang tiba.  Kami berdua diajaknya ke sebuah ruang kajian Assayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi al-Maliki. Di ruang itu telah banyak hadir jamaah asal Indonesia yang konon tahun ini tidak menerima tamu kajian dari negara lain, It's Indonesian only. Wah kami dihormati tuk ikut kajian, sebagai penyinambung sanad keilmuan. Of course kami bangga punya guru cucu cicitnya kanjeng Nabi. Diberi ijazah doa plus makan nikmat, disangui kurma jumbo lagi. Selepas kajian kami dipanggil satu persatu untuk foto bareng dengan beliau. Masyaallah, ini pengalaman yang teramat susah tuk berulang kembali kecuali dengan hendakNya.

___

Rusaifah, 21 Mei 2026

MBAH NARMO DAN KISAHNYA

 MBAH NARMO DAN KISAHNYA

Pak Tyqnue Azbynt 



Ngotot, nekat bahkan sangat PDnya melakukan sesuatu yang dia yakininya. Begitulah sosok Mbah Narmo calon haji Bondowoso ini. Tubuhnya yang kecil di umur yang sudah lansia ini masih punya ghirah yang sangat tinggi bahkan cenderung nekat ekstrim. Kepasrahan kepada Allah yang membuatnya begitu PDnya, dan kenekatannya membuat kami yang masih muda sibuk membentenginya.  Ketua regu sangat protektif padanya bahkan membuat orang lain iri. 


Ada seseorang yang mewawancarainya saat dia mengenakan batik Solo dan Sarung Lamirinya yang bagus. "Wih sarung bapak bagus banget", kata mas Fathor. "Ya sejuta lebih nak harganya kalau pakai uang rupiah" jawabnya. "Memangnya bapak pakai uang apa yang beli?" Lanjut temanku. Ya Ringgit Cong", timpanya. "Real pak bukan Ringgit" . " Yaah kamu jhek o mataoh. Aku ini kerja di Malaysia sudah tiga kali", jawabnya bahkan secara detail menjelaskan tempat-tempat di kawasan kerjanya. "Sukses dong pak?" Tany mas Fathor lebih jauh. Dengan rinci i menceritakan Lika liku kerjanya, dan pengalaman-pengalaman getir di negeri orang. " Yang ke dua dan ke tiga aku bisa sukses Cong, kalau yang pertama aku pulang bawa keresek doang, karena diusir dari Malaysia. Aku masih kembali untuk kali ke dua dan tiga, yang ini Alhamdulillah aku sukses bahkan hartaku kukembangkan hingga bisa tunaikan haji ini. Yassalam.


Beliau yang tak pernah pakai Android tapi maksa bawa HP bagus. Jngankan bermain WhatsApp, jawab panggilan saja tak bisa. Kenekatannya memang ektrim. Dia PD pegang HP, dan orang sekitarnya yang suruh mengoperasikannya. "Tolong aku dipotret tuk dikirim ke anakku di Malaysia, tolong telepon yang ada gambarnya aku mau bicara" begitulah dia menyuruh orang disekitarnya. 


Usia 80 lebih masih ngajak ditemani tuk mencium Hajar Aswad, what's? Ya beliau ngotot sembari bilang "yaa jiyeh gempang Cong", katanya. Dan benar saja, saat di lokasi beliau berani masuk di sela-sela orang Afrika yang besar-besar, bahkan hanya sepusar mereka. Kami terpental sementara dia menyelusup masuk."Aduh gimana bah Narmo ne" kata teman-teman. Di kekhawatiran yang tinggi itu ternyata beliau justru digendong orang hitam tinggi besar dan kepalanya di masukkan ke Hajar Aswad sepuasnya. Selepas itu beliau dibawa mundur dengan cepat. "Mareh kok lah Cong", katanya dengan bangganya. "Kok ghik entarah pole", selorohnya. "Jangan bah, kan mbah sudah puas", sergah temanku. "Been jhek o mataoh, walaupun aku sendirian tanpa kalian aku masih mau cium Hajar Aswad lagi". "Jangan bah, belum tentu ada kulit hitam yang mau bantu Mbah", kataku. " Been jhek o mataoh, yang bis bantu aku itu orang diperintah Allah, bukan maunya sendiri. Mun Allah tak kasokan Cong, mana mungkin ada yang bantu aku, pa pasra Bede Allah Cong", imbuhnya mengingatkanku.

____

Makkah, 23 Mei 2026

Jumat, 22 Mei 2026

Wanita Wanita Uighur

 WANITA WANITA UIGHUR 

Pak Tyqnue Azbynt 



Selepas subuh di pelataran Masjidil Haram kami masih betah menunggu saat Dhuha tiba. Bermain hp sembari sembunyi-sembunyi ambil gambar view masjid nan megah menjadi keasyikan tersendiri di pagi itu. Nun di sana ada yang hilir mudik menuang zamzam ke botol kecil, ada yang memperhatikan merpati-merpati kelabu yang bergegas mencari remah makanan, atau membaca ayat-ayat Qur'an. Tak jauh dari tempatku ada sekelompok etnis Uighur yang asyik bercanda ringan. 



Belumlah muncul caya arunika di langit timur tapi manusia-manusia perindu baitullah tetap saja hilir mudik tiada henti. Titik pandangku berhenti di wanita-wanita bermata, kulit kuning pucat plus bibir mungil yang manis menambah eksotik wajah orientalnya campuran Asia Turki. Saking penasarannya terpaksalah aku menyuguhkan tanya dengan English yang dilalah diantara mereka ada yang bisa walaupun sama kikuknya denganku. Yang dibicarakan ya soal kehidupan kesehariannya plus tradisi-tradisi yang mereka punya, begitu pun tradisi kami di Indonesia. Asyik, senyum tulus mereka dengan antusias bercerita tentang mereka dan kehidupannya.


Saat mereka bercerita tentang Islam di Uighur dan di Yunnan menjadikan penasaran yang mendalam. Bukankah nenek moyangku dari dataran Yunnan, seperti yang diceritakan guru SDku dulu. Di titik inilah aku bercerita tentang tradisi di Indonesia yang lumayan mirip bahkan istilah bahasa yang hampir sama, baju Koko (laki-laki), penggunaan beduk di masjid, sampai permainan petasan di hari-hari besar dan perayaan adat. Tapi bukan hanya itu yang membuat aku kian terkesan di momen itu. Sebuah syal belogo "KBIH Muslimat NU" yang dia pinta sembari menukarkan dengan Beanie rajut dengan tulisan aksara Hanzie yang aku tak tahu bacanya. "This is my name xedhiche or Hadijah in Arabic", jawabnya sembari menyodorkan tangannya tuk menjabatku. Yassalam, begitu indah ukhuwah itu. Berkenalan dengan saudara jauh yang seiman. I can't forget it moments.

___

Tanah Haram, 22 Mei 2026

Kelakar Sufi Pak Haji Yon

 KELAKAR SUFI PAK HAJI YON

Pak Tyqnue Azbynt 

Beranda loteng lantai 7 Oriens Hotel menjadi penyinambung silaturahmi kami kloter 87 Embarkasi Surabaya.  Mulai bincang reliji sampai canda lepas yang mengundang tawa. Pak Yon calon haji asal Kampong Templek menjadi ikon canda hampir di tiap cekerama di beranda loteng itu. Tawa, saling nasehati, hingga curhat-curhat ringan kami semua.



Pak Yon menjadi lebih viral pasal kesehatan karena tensinya mendadak naik di atas 200 yang membuat Dr. Ferry memberi advice khusus padanya. Jaga pola makan, banyak minum, istirahat cukup dan jangan berpikir berat-berat. Anjuran seperti biasanya pada orang lain. No more.


"Jaga makan, hati-hati bapak mengalami high blood pressure", kata dr. Ferry. Yes, It's true, tapi persepsi Pak. Yon justru menelaah dalam perspektif lain. "Kenapa kita suruh jaga pola makan? Bukan masalah MBG Arab yang menunya full daging. Bukan, bukan itu. Makanlah yang halal agar ekstrak makanan yang mengalir di darah kita bukan darah haram. Dia ditolak oleh tubuh hingga berubah menjadi penyakit. Kadang kejededok tembok, lukalah kepala karena darahnya di tolak. Harta yang tak dizakati akan protes jika ke organ-organ dalam, lalu berserupa penyakit yang menguji kesabaran kita. Tapi tak semua penyakit adalah karena harta tak halal. Bisa saja penyakit itu meminta tubuh tuk rehat sejenak berburu harta. Thats my opinion" dawuh Pak Yon.

__

Tanah Haram, 22 Mei 2026

Elevator in Love

 ELEVATOR IN LOVE

Pak Tyqnue Azbynt 



Momen-momen indah saat ibadah di tanah suci begitu banyaknya. Saat-saat haru bertemu rindu dengan yang lama diidamkan. Airmata luruh seketika sedang dada remuk takluk dalam penghambaan. Bertemu dengan jutaan manusia dengan frekuensi yang sama, rindu Baitullah. Mereka datang dari penjuru dunia dengan caranya masing-masing, ada yang berkendara, berjalan, sendiri, berpasangan, ataupun dengan komunitas dan kelompok yang beragam. Mas Rafi dan istri menjadi salah satu hamba pemenuh panggilan Allah di Baitullah. 


Keseharian dua sejoli ini penuh sinergitas saling berbagi, saling menguatkan temali rasa yang penuh karsa reliji. Mas Rafi yang tampil bersahaja, menjadi sosok yang menarik pinta perhatian bagiku. Pagi sudah disuguhi kopi kental, dibuatkan mie goreng dan sebagainya membuat iri kami akan keharmonisan mereka. Saat-saat indah ritual haji memang harus banyak menahan emosi, marah, nafsu termasuk larangan tuk saling bercumbu. 


Cinta memang tak bisa sembunyikan, begitu juga dengan jalinan asmara mereka. Mungkin saking rindunya bermesra, sesekali Yu Rafi sang bidadari seringkali memberi sinyal-sinyal asmara di momen-momen tertentu. Saat 8 orang masuk di elevator menuju lantai 7 basecamp kami, sang istri malah menyuguhkan kata seloroh cinta yang membuat kami senyum-senyum iri. "Keknya pernah kenal deh dengan kamu, kamu siapa ya?" , godanya sembari mengeringkan mata genitnya. "Woy ada dengan pamer cinta neh", candaku. Sontak saja seisi elevator senyum-senyum iri melihat keharmonisan cinta mereka. Memang cinta itu tak mengenal waktu, hati-hati kawan, tahan dulu sebelum mas Rafi bercukur gundul saat tuntas memungkaskan rankaian ibadah suci. Selepas itu barulah bercinta kembali. Kami pun akan memberi waktu dan ruang untuk kalian. Alright?

____

Tanah haram, 22 Mei 2026

Senin, 18 Mei 2026

BERCUMBU

 BERCUMBU 

Pak Tyqnue Azbynt 



Panas terik, gersang di gugusan gunung cadas yang ditumbuhi gedung-gedung megah menjadi panorama kota modern di mataku. Kami yang datang disambut terik yang menyiksa sementara hati dalam kerapuhan yang mendalam. Tunduk runtuh bersimpuh di pelataran Baitullah. Walau sejauh ribuan  kilometer kami mendatanginya dengan antusiasme begitu dalam tuk menumpahkan pinta mengakui tumpukan dosa. Sungguh ini sulit kami gambarkan. Sisi lain kami tak mau terlalu mengumbar kekata akhirnya ratusan merpati yang kami sapa dengan bahasa tanpa bicara.


Mas Raf, Dinda Gio, Dinda Payouk yang telah menyengaja membawa puluhan kilo jagung gelatik, jagung besar bahkan milet burung dengan bungkusan plastik rapi yang terbang melintasi beberapa negara dengan menumpang Saudia airways dari tanah Jawa ke kampung kelahiran kanjeng nabi. Menebar bebiji jagung di pelataran masjid menjadi bahasa lain tuk bercumbu tanpa nafsu. Kepak merpati yang mengelebat sembari riuh berebut butiran pakan. Di hati kami hanya ada kata indah, damai. 


Aku sendiri yang tak membawa bebiji apa pun hanya menonton dan sesekali merogoh di kantong plastik itu tuk ikutan bercumbu dengan bahasa tanpa kata. Yassalam, dari tanah air kami datang tuk bersimpuh disambut riuh canda mesra merpati kelabu. Tatap matanya berkilau ditimpa sinar matahari senja yang menembaga di sisi barat kakbah. Kami hanya saling tatap sembari umbar senyum bahagia tanpa narasi apa apa.

____

Tanah Haram, 18 Mei 2026



Selasa, 10 Maret 2026

IFTARA RAMADANY

 IFTARA RAMADANY

Pak Tyqnue Azbynt



          12 tahun lalu bayi masih merah itu ditemukan seorang guru honorer di sebuah peron stasiun kecil Bondowoso. Bu Hasnah sang guru begitu bingung saat menemukannya. Ini bukan tertinggal sebab di kain gedong yang di-cover selimut biru muda itu ada selembar memo bertuliskan maafkan bunda malaikat kecilku, semoga kamu berada di tangan yang tepat. Bagi Bu Hasna yang hanya sebagai seorang guru honorer merawat bayi itu sedikit merepotkannya. Mau dibawa ke panti asuhan tidak tega, mau dilaporkan ke pihak berwajib takut dengan nasib ibunya kalau dilacak. Ibu bayi ini bukan orang jelek orang jahat karena dia masih menyebutnya malaikat kecil pada bayinya, begitu benak Bu Hasna.

         Bu Hasna bersama rombongan menuju jalan dekat stasiun mengantar murid-muridnya tuk berbagi takjil bagi pelintas depan  Musium  Kereta Api Bondowoso. Baginya anak-anak didik dianggapya bagai anak sendiri, seperti Doni anak semata wayangnya yang telah ditinggal ayah berpulang ke hadapan Sang Kuasa. Gaji sebagai guru honorer di Yayasan sebuah pesantren cukuplah untuk hidup sederhana di kota kecil itu. Saat bagi-bagi takjil dia masih memilih beberapa spot untuk memfoto kegiatannya. Ia merangsek menuju loket dengan view beberapa pajangan tiket atau karcis dari masa ke masa. Beberapa foto terpajang di dinding utara dengan wajah tempo dulu saat kereta menjadi transportasi murah meriah kala itu. Sampai semua muridnya pulang bersama para guru termasuk Doni anaknya, ia masih betah meihat-lihat railway mengenang saat pertama kali dulu bersama mas Dodi almarhum ayah Doni. Ya hitung hitung bernostalgia walau hanya seorang diri.Para pegawai musium itu sudah pulang, namun orang masih bisa mengunjunginya di bagian pelataran stasiun karena areanya semi terbuka. 

          Tangis suara anak bayi merengek minta perhatian terdengar dari deretan kursi peron di pelataran timur. Benar saja seorang bayi yang sengaja ditinggal seseorang. Susu formula di dekatya masih belumlah dingin, rupanya sang bunda belumlah lama meninggalkannya. Tanpa berpikir tuk mencari ibundanya, Bu Hasna dengan naluri keibuannya langsung mendekap memberikan dekapan hangat tubuhnya pada si kecil. Beduk maghrib tiba ia masih berkutat dengan bayi itu tampa memedulikan dirinya tuk sekedar meneguk air pembatal puasanya. Ia segera menyodorkan dot susu ke mulut mungilnya. Dia mulai tenang dan tak merengek lagi seakan merasa aman di dekapannya.

          Beberapa kali calling dari guru di sekolahnya, ia tak sempat menjawabnya karena sibuk menenangkan si mungil. Setelah tenang barulah ia telpon balik yang ternyata hanya diajak berbuka bersama di sekolahnya. Aku langsung pulang bu, lagian Doni kan masih di pondok situ, jawabya di HP-nya. Ia menyempatkan makan roti sisa bagi-bagi takjil yang ada di box kardus tanggung. Kota mulai sedikit lengang barulah ia bersiap-siap pulang, namun ia kesulitan tuk membawa bayi kecil itu karena tak ada gendongan. Terpaksalah diletakkan dalam kardus yang kemudian diletakkan di footboard motor metiknya. Sambil melajukan motor ia menerawang jauh, harus bagaimana dengan bayi itu. 

------- 

          Seorang guru BK dan wali kelas Iftara datang ke rumah Bu Hasna seraya melakukan pengaduan perihal kelakuan anaknya yang telah memukul seorang temannya hingga dibawa ke ruang health section untuk dilakukan tindakan pertolongan awal pada kepalanya bercucuran darah akibat dihempas ompreng MBG Iftara. Sesak terasa di dada saat mendengar anaknya yang sehari-harinya selalu baik ternyata di sekolah sok jagoan. Mana mungkin ia akan begitu dia anak baik kok benaknya. 

          “Maaf bu, yang dipukul Tara kebetulan anak ketua yayasan, jadi kami juga panik, kata wali kelasnya. Di otak Bu Hasna tergambar wajah Pak Latif ketua yayasan yang telah memecatnya dulu, padahal ketua yayasan sebelumnya selalu negosiatif kalau ada masalah pada anak buahnya. Warga sekolah justru lebih suka pada Pak Budi mantan ketua yayasan sebelumnya. Karena alasan tugas negaralah ia harus meninggalkan kota kecil itu. Dan Pak Latif sebagai penggantinya berhaloan ekstrim, super tegas dan kaku. Bu Hasna dipecat gegara harus menjaga Iftara yang dalam perawatan kala itu. 

          Seharusnya aku tak menyekolahkan Tara ke sekolah itu Pak, Bu, karena aku telah dipecat di sana. Kalau tak karena kebaikan Pak Budi yang menanggung semua keperluan sekolah Tara, mana mungkin aku menyekolahkannya di sana, keluh Bu Hasna. Usia yang sudah menua sedang Doni anaknya hanya kerja serabutan di luar kota dan lama tak kunjung memberi berita. Kalau dulu masih banyak orang yang menyuruhnya tuk mencuci baju, namun kini sudah ada mesin cuci yang menyingkirkan tenaganya. And finally dia tak ada penghasilan. Berat benar bebannya, makan seadanya dan sering berpuasa, ditambah kasus Tara. 

 Untuk sementara Tara kami skorsing dulu selama sepekan bu, tapi Tara bersikukuh akan tetap masuk dan mengancam akan lebih nekat katanya. Karenanya saya melakukan kunjungan rumah ini bu untuk menemukan solusi yang tepat, Kata Pak Jakob sang guru BK. Bu Hasnah hanya diam meneteskan air mata. 

Kalau boleh tahu bagaimana keseharian Tara di rumah bu, kami tak menduga dia senekat itu se-brigas itu. Sebelumnya dia pendiam, selalu rapi dan maaf kami tak menduga kalau..., maaf sekali maaf bu kehidupannya ibu teramat sederhana imbuh Bu. Wali kelasnya. 

Maaf Pak, Bu, kalau soal perlengkapan sekolah dan baju-baju Tara selalu disuplay Pak Budi, karena saya pernah ngajar di sekolah itu, jawabnya. 

Tampak kedua guru itu kebingungan. Ya maklumlah mereka guru baru, dan hampir semua guru di sekolah itu guru yang diangkat oleh ketua yayasan yang baru ini.

Tara sebenarnya anak adopsi kami dan sampai saat ini dia tak tahu siapa orang tuanya, dan dia menganggap aku asli ibunya karena aku tak menceritakan ikhwanya. Nama Iftara Ramadany sengaja aku sematkan padanya karena saat aku menemukannya ketika aku mau iftar menyegerakan berbuka puasa saat aku menemukannya dulu. Mohon bapak ibu tak menceritakan ini pada Tara. Jejak yang bisa aku lacakkan nanti hanyalah kain popok, gedong dan tulisan yag sampai saat ini ak simpang rapi”, tuturnya.. 

Setelah panjang lebar meneritakan kehidupan Tara dari kecil, akhirnya kedua guru itu banyak memahami jati diri Tara. Dan mereka pun pamit pulang karena harus kembali ke sekolah tuk melanjutkan tugasnya dan melakukan interogasi mendalam pada Tara yang masih berada di ruang BK. 

______ 

Tara..., kamu tahu apa kosekwensi atas tindakanmu ini? Dinar itu anak ketua yayasan di sekolah ini. Walau pun ini di bawah yayasan pesantren tapi pola dan tata kelolanya beda, and so kamu dah tahu jawabannya. Kalau tak karena jejak kelakuanmu semala ini yang baik, mungkin hari ini juga akuu sudah keluarkan kamu dari sekolah ini, daulat Pak Jakob. 

Tara.. coba kamu ceritakan apa maksud dari tindakanmu itu! Tara ayo bicara jangan diam saja agar aku bisa membatu cari solusinya, desak Pak Jakob, sementara Wali kelasnya membujuknya dengan halus.

“Bapak, Ibu tahu kan, aku tak pernah mengkonsumsi makanan MBG di sini. Aku selalu bawa kotak nasi ini tuk kubawa pulang, mungkin aku hanya makan buahnya saja, atau minum susunya kalau kebulan menunya pas ada susunya, jawa Tara emosi.

Trus?

Aku harus bawa pulang tuk dimakan berdua sama ibu, makanya kalau libur aku sedih pak, gak bisa ambil menu MBG tuk kami makan berdua

Lalu, apa hubungannya dengan pemukulan itu?

Dinar itu sok-sok-an Pak, ompreng MBG saya dituangi tinta spidol papan tulis dan nasi saya hitam peuh tinta, padahal harus saya bawa pulang

Dinar pun dihadirkan ke Ruang BK dengan kepala masih dibebat perban karena luka serius. 

Dinar, ayo kamu cerita biar kami tahu juntrugnya!

Gini Pak, Tara kan memang tak pernah maka nasi MBG aku kira dia sok gaya memilih makanan serba nikmat di rumahnya. Lah wong katanya nasi MBG mau diberikan ke tetangganya. Kan mending bagikan pada kami-kami di kelas. Aku minta dia malah nyolot. Ya aku emosi dong, diminta baik-baik malah membentak, jelas Dinar.

Lalu, soal tinta?

Ya aku tuangin saja, habis aku emosi sih pak

Setelah dijelaskan perihal perutukan MBG di rumah Tara, barulah Dinar sadar kalau makanan itu utuk ibunya. Tapi dasar sudah merasa orang penting di sekolah itu, dia hanya menjawab   oo 

hayo saling bermaafan!, pinta Bu wali kelas. Tapi keduanya masih saling dogkol. Iftara masih masih marah karena tak bisa membawakan makanan buat ibunya sementara Dinar bersikeras untuk melaporkan pada ayahnya agar Tara di D O, Namun guru BK dan wali kelas juga mau keluar jika Tara dikeluarkan dari sekolah itu.

______   

Bodowoso, 10 Maret 2026

Jumat, 30 Januari 2026

SAMBAL ANGGUR MERAH

 SAMBAL ANGGUR MERAH

Pak Tyqnue Azbynt 



Hem MBG, MBG. Makanan bergizi gratis itu masih tersisa beberapa ompreng di pojok kantor dekat pustaka guru. Ada sekitar 20 yang masih menunggu sentuhan guru-guru yang ogah-ogahan gegara waktunya kurang pas. Mau di bilang santap siang masih pukul sepuluh mau dikata sarapan sudah semenjana waktu. Akhirnya mereka mereka seperti merana diacuhkan para guru.


Walaupun sedikit acuh kucoba membuka tutup omprengnya, hemm setangkup nasi, sekepal naget, sayur bening plus empat butir anggur merah. Akhirnya kupaksa tuk memindahkannya ke dalam beberapa box plastik yang terpisah. Kalau tak dipindahkan pasti para petugas kurir MBG itu meminta untuk dikonsumsi. But, teman-teman guru seperti hilang selera, bukan hanya karena sudah kenyang tapi juga soal masakannya yang hambar. Biasanya sih, ada saja teman yang menyiasatinya dengan membawa sambal dari rumahnya, tapi kali ini tak ada satu pun yang membawanya. Mau beli di kantin madrasah, kami para guru tak punya e_maal kartu belanja. 


Terpaksa aku blusak-blusuk ke rak cangkir di ruang sebelah. Alhamdulillah-nya aku menemukan sedikit garam dapur dan cabai yang sudah hampir mengering. Tanpa ba-bi-bu langsung saja kueksekusi, tapi rasanya hancur tak semeriah permen nano nano. Atas saran untaz Rian agar diberi anggur MBG agar sedikit ada airnya. Dilalah selepas diramu dengan anggur merah rasa sambal itu menjadi beda dan menggugah selera. Setelah selesai diulek oleh ustaz Ahmadi yang bersebelahan dengan ustaz Rian. Kami pun melahap nasi MBG dengan sambal anggur merah. Disela-sela makan Ustaz Rahman berseloroh, "hah ini perlu dilaporkan ke Pak Presiden Prabowo, bahwa sambalnya adalah sambal saingannya masakan Eskimo". "Pasti beliau acung jempol atas kejeniusan guru-guru yang sudah disuplai menu MBG tiap hari, karena otaknya makin smart", timpal ustaz Rahman sembari mengunyah santapannya.

___

Bondowoso, 30 Januari 2026

Rindu Nidak Subuh

 RINDU NIDAK SUBUH Pak Tyqnue Azbynt  Tidur lelap, bed empuk, dan fasilitas lengkap, menjadikan aku terlena dalam buaian malam. Kami harus s...