Total Tayangan Halaman

Minggu, 07 Juni 2026

Thaif Darah Sejarah

 THAIF DARAH SEJARAH

Pak Tyqnue Azbynt 



Hari ini kami jamaah haji dari KBIHU muslimat NU menapak-tilasi jejak perjuangan kanjeng Nabi di Kota Thaif yang tak sepanas Mekkah. Indah diantara gunung-gunung Cadas yang angkuh menatap langit. Bebungaan mekar menantang panas Arabia. Bougainvile merona merah menyembul diantara kuning tua bangsanya, melati, dan mawar, serta lantana pun tebar pesona. Semula yang hendak susur sejarah hati tergoda pesona kota Thaif ditambah lagi saat berkunjung ke penyulingan aneka bunga yang dijadikan aneka parfum. Semua lupa tujuan semula yang hendak rihlah sejarah, apalagi deskripsi tour leader tak gamblang dicerna. Lalu hilanglah cerita  yang 100 km dari Makkah Kanjeng Nabi dan Zaid bin Haritsah hendak berjumpa Abdu Yalil, Mas ud, dan Habib yang ketiganya anak Amr bin Umair demi meminta dukungan da'wah di kota besar kedua setelah Makkah. Namun ketiga orang Bani Tsaqif itu menolak dan melempari kanjeng Nabi hingga kaki beliau terluka pun demikian Zaid bin Haritsah hingga terluka kepala karena melindungi nabi.

Saat darah bercucur, berteduh di kebun Kurma Utbah dan Syaibah bin Rabiah Nabi mengeluh dalam doa "Yaa Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku". Syaibah tak tega melihat yang mulia dan memberi anggur melalui Addas budaknya. Saat beliau memulai membaca asma Allah (basmalah) Addas terkejut karena tak mungkin orang sembarangan mengucapkan kalimat itu dari masyarakat Arab saat itu. De es be.


Selepas dari pabrik penyulingan bunga kami beranjak menuju Masjid Abdullah bin Abbas sepupu beliau. Di sini pun kami hanya singgah salat qashar,  sedikit swafoto dan sebagian belanja oleh-oleh. Lagi lagi cerita sejarahnya hilang. Bagaimana anak pamannya itu berjuang membela nabi, atau bahkan sayyidina Abbas  pamannya yang harus meregang nyawa saat pertempuran di Uhud yang dadanya dikoyak Hindun lalu dadanya di koyak, hatinya dicakar-cakar dikunyah dan dimuntahkan. Cerita itu tak ada. 

 

Di bagian ketiga ketika melewati Jabal Nur sang guide masih semangat menjelaskan tentang Gua hira' dan Wahyu pertama, tapi sayangnya para penumpang bus hampir semuanya terlelap dalam tidurnya, dan bisa dipastikan sang guide kena prank. Dia semangat sedang kami mendengkur lelap bersama deru bunyi Mercedez Benz bus yang kami tumpangi. 

_____

Thaif-Mekkah, 7 Juni 2026

MENGGANTUNG HASRAT DI KERETA GANTUNG

 MENGGANTUNG HASRAT DI KERETA GANTUNG 

Pak Tyqnue Azbynt 



Thaif 7Juni 2026 di waktu zawal kami turun dari armada bis yang konon miliknya seorang Sayyid. "These are date for you from Sayyed the bus' owner", kata sopir sambil membaginya ke tiap penumpang. 


Kami semua kepo untuk nunggang unta sebagian ingin naik kereta gantung. Tapi karena cost-nya mahal akhirnya hanya lihat-lihat doang. Bagi yang beruang memang langsung antre tiket. Tiket didapat langsung dipegang guide tour, begitu passenger dah turun dari kereta, ticket masih di guide. Akhirnya lah ticket ini belum digunakan, ini bisa dipakai untuk 12 orang. Aku dan 11 orang lain pun bergegas mau menggunakan ticket itu. Pas ketemu dengan salah satu pendamping jamaah, kita suruh bayar separuh harga demi membantu yang sudah naik duluan. Karena sedari awal tak mau naik kereta itu ya secara refleks langsung balik kanan. Biarkan hasrat kugantung saja di kereta gantung.


____

Thaif, 7 Juni 2026

Mukimin dan Obat Ajaibnya

 MUKIMIN DAN OBAT AJAIBNYA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Pukul 22 Arab Saudi di beranda lantai 7 b lagi ramai Bapak-bapak kaji Indonesia. Penasaranlah membuat kaki melangkah walaupun sedikit ngantuk dan lelah. Usut punya usut ada seorang mukimin yang menawarkan dua jenis parfum plus obat ajaib buat bapak-bapak. Dari gelagatnya sudah bisa ditebak kemana gerangan arahnya. 


Memakai seragam ala petugas haji dia bisa keluar masuk hotel tanpa ditanya oleh scurity hotel. Teman-teman sudah menduga karena dia tak pakai atribut lengkap seperti nama, dan bajunyapun kelihatan kusam. Tapi begitulah cara orang mencari nafkah. Asalkan jual beli biasa no problem. Pertama keluarlah parfum, lalu muncullah rokok Indonesia, terakhir muncul minyak ajaib itu. Ada sebagian yang bilang ada yang pesan, ada sebagian yang bilang tetangganya punya masalah tidak harmonis rumah tangga. Gak ada satupun yang bilang untuk saya pribadi. Saya yang pura-pura asyik dengan hp, headset dipasang padahal tanpa suara, pura-pura bergumam nyanyi-nyanyi. Mereka merasa tak diperhatikan saya. Setelah deal satu persatu masuk kamar hotel tuk ambil uang, dan tinggal aku sendirian, si Abang colek dan kasih kode-kode, saya hanya jawab Alhamdulillah saya sehat. Tsumma Alhamdulillah. Sampai transaksi selesai, abang penjual pun pamit undur. Tinggallah bapak-bapak itu di beranda. Aku gojlokin mereka," Hati-hati jangan sampai jebol kandang ayam, gak bisa nelur dia". "Wah ellu nguping yaa?". "Bahkan aku video in yang tadi, mau tak kirim ke grup ?". "Ih jangan ah, kamu tak beri satu botol asal jangan post ke grup". "Gak ah, aku sehat silahkan anda nikmati sendiri agar jadi pasangan mabrur mabrurah"

___

Makkah, 6 Juni 2026

Sabtu, 06 Juni 2026

SAYUR BENING REMPAH KUNCI

 SAYUR BENING REMPAH KUNCI

Pak Tyqnue Azbynt 



Pagi selepas subuh, pintu kamar diketok 3x. Ah sial betul pagi-pagi dah mau namu, tahu masih mau bobo lagi pa, begitu pikirku. Kubuka dengan ogah-ogahan ternyata kang mas Haji Asy Ari, membawa sayur bening dan rempah pecel. "Biar tak kangen rasa Indonesia Mulu", katanya. Lepas itu beliau pamit dan aku bobo lagi. Belum lelap diketok lagi Haji Bustomi yang kamarnya  sendiri terkunci. Wah alamat gak khusyuk bobo pagi ne. Dan benar saja kami se kamar bangun semua.


Akhirnya aku dan salah seorang teman langsung menjamah sajian pagi tuk sarapan.  "Kok enak nya, apa resepnya?", katanya sambil menyeruput kuwah. Aku mengacuhkan saja karena kuanggap hanya basa basi belaka. "Mas, apa resepnya?", lanjutnya. "Itu kuncinya ada di kunci", celetuk teman yang lain. "Apaaa? Kok aneh sayur kok pakai kunci tak sekalian aja pakai obeng", jawabnya ketus.   "Ah itu karena ada kuncinya", sambut yang lain. "Busyet deh kalian" . Menghindari saling berbantah-bantahan dan marah kami semua diam, akhirnya kucari resep cara memasak sayur bening rempah kunci di media sosial. Aku kencangkan volume hp, barulah dia tahu kalau ada jenis ompon-ompon yang namanya kunci. 

____

Bilik hotel, 6 Juni 2026

Mr. Kazehaya Ren

 Mr.KAZEHAYA REN

Pak Tyqnue Azbynt 



Dari kejauhan tampak 3 orang sedang berjalang tergesa-gesa. Semuanya menggendong tas punggung bergambar bendera Jepang. Dari tasnya sudah yakin kalau dia muslim Nippon. Seorang lelaki dan dua wanita tampaknya ingin bersegera merapatkan barisan shaff salat, tapi sayangnya harus terpisah oleh barrier kelompok laki perempuan. 



Lelaki Jepang itu merapat ke shafku sementara yang perempuan ada di sisi kanan sekitar jarak 10 meter. Dia sangat dengan kedua wanita yang bersamanya. Tampak sesekali ia melongok ke arah deretan perempuan. Selesai salat kusapa dia, sekenanya, ,"Sorry, are you Japanese?" Dia menjawab sambil menunduk " Hai sou desu". Kemudian dia menepuk bahu saya agar membantu mencari kedua wanitanya."Tsuma to kodomo o sagasu no tetsudatte kudasai" setelah saya baca terjemahan di hp (tolong bantu saya mencari istri dan anak saya). Aku pun berlanjut  mencari keduanya. Yang menjadi kendala adalah mereka lupa bawa hp yang tertinggal di hotelnya. Akhirnya aku pinjam tas gendong yang ada gambar berdera Jepang, kuangkat dan kuacung-acungkan ke atas. Dan yes, Meraka berdua lari mendekati kami.

Sebelum berpisah dengan ketiga orang Jepang itu, kami sempat berbincang dengan bahasa translater walaupun agak lama ya nyambung juga. Dari ceritanya bahwa ia masuk Islam gegara sering bertemu dengan pekerja migran Indonesia di Jepang. Karena kehidupannya tampak tenang maka dia mencari tahu rahasianya. Ternyata salat, ya salat yang dilakukannya setiap hari. Mereka pun sekeluarga masuk Islam, saking ingin tahunya kiblat yang dia hadap saat salat, ia pun tunaikan haji. Dia bercerita sampai banjir air mata karena harunya. Mereka berjanji akan menghajikan 2 pekerja migran yang telah mengenalkannya pada agama Islam. 

____

Bet Al Haram, 6 Juni 2026

Jumat, 05 Juni 2026

Lelaki Uzbekh

 LELAKI UZBEKH 

Pak Tyqnue Azbynt 



Pengap senja masih saja menyisakan cerita siang yang menyiksa. Cuaca yang 40° up memaksa kami orang Asia tenggara harus sering-sering menyemprot wajah dengn zamzam, begitu pun dengan aku. Entah kenapa senja itu perasaanku ingin saja berbelanja pernak pernik keperluan wanita. Intinya aku tak tahan untuk shopping padahal uang Riyal yang kupunya sudah menipis, saran temanku tuk berhemat kutampik saja. Dan aku berangkat sendiri karena tokonya hanya di sebelah Hotel dan di sekitar itu banyak crew petugas PPIH, jadi aku anggap aman. Souq Aziziyah menjadi tempat memanjakan selera belanjaku, namun sayang ketidak pahamanku cara menawar menjadi kendala yang serius. Kupikir di situ bisa dengan bahasa Indonesia seperti tempat lain di pasar tradisional Arab. Aaah, moodku menjadi sedikit rusak. Wajah imutku menjadi tak elok lagi bila dipandang, ne terbukti saat aku swafoto wajahku kek cewek judes lagi kepedesan sambal. 


Dengan isyarat ada seorang lelaki mendekatiku seraya berbahasa Inggris sedikit sedikit. "Any help?, cay I help you?". "Oh yaa yaa", jawabku gelagapan. Kutunjuk saja abaya hitam yang mewah banget. Dia bantu menawarkan tapi harganya bikin dompetku jebol. 420 SAR ya 2 juta lebih. " No, no" hanya itu yang kubisa. "Do you like it?" Tanyanya. "Yes but I no money", jawabku sebisanya. Dia coba membujukku untuk membeli karena katanya cocok, dan aku katanya lebih cantik dengan isyarat dan English yang sama-sama kacau bahasanya denganku. Kemudian ia membawaku ke sudut lain dengan tawaran yang beda tapi sekali lagi mahal kali. "My name Zavar, I am Usbekh, and these are halal to you", katanya seraya menyerahkan dua abaya itu. "Oh ", jawabku kaget. "Yap halal to you, we are moslem ukhuwah Islamiah", lanjutnya yang membuatku yakin.  " But It's so expensive " kataku ragu, tapi dia maksa dan bayar ke kasir. Terpaksa deh aku julurkan tangan sembari mengenalkan nama, "Thanks, my name Annisa Hapsari, I am Indonesian", jawabku kegirangan. "Uzbekh love  Indonesia,  Zafar like Annisa", katanya seraya memberikan kartu nama dengan tulisan  Usbekh. Ga masalah tinggal pakai google cam kan langsung bisa diterjemahkan. Sekonyong konyong aku ambil parfum fifth eveneu kesukaanku di dompet aku semprotkan ke bajunya dan bajuku sebagai tanda kesamaan. Ga peduli ku dibilang genit, abisnya dia tampan juga sih, sopan, dan royal. "Don't remember Zavar ...", katanya. "Of course" jawabku sambil kulambaikan tangan saat keluar toko dan berpisah. Dia memandangiku sampai keseberang jalan. This is mine, gumamku.

___

Oriens hotel, 5 Juni 2026

Kamis, 04 Juni 2026

Sambal Belacan Lalap Mentimun

 SAMBAL BELACAN LALAP MENTIMUN 

Pak Tyqnue Azbynt 



Pagi 4 Juni 2026 pukul 6 WAS kamar kami masih acakadut bak kapal pecah. Ada yang leyeh leyeh dijajah ngantuk ada yang meneduh kopi sementara aku bersiap untuk salat Dhuha.  Di sisi lain sarapan pagi sudah siap santap. 


Hendak menggelar sajadah masih ada teman yang sudah membuka ompreng tuk sarapan. Kuacuhkan saja karena tekatku adalah salat Dhuha n lanjut murajaah bentar. Eh dari luar muncul istri mas Gio sang ketua membawa sambal belacan plus lalap mentimun. Lah tergodalah rasaku terpaksa ikut duduk leseh sembari membuka ompreng nasi. Alhamdulillah kangen masakan rumah terobati juga namun sayangnya ..., sambal rasa Geliga pedasnya sejahat omongan tetangga yng nagih hutang. Oh lumayanlah pedasnya bisa ditawarin dikit oleh kerupuk upil yang renyah dan rasa Nusantara itu. 


Sarapan sudah, ngopi sudah, kok belum salat Dhuha? Yaa mana mungkin bersegera besty, lha wong tuntutan tuk merenung di WC sudah tiba. Perut brontak tak tahan rongrongan cabai Jawa.  And Finally no Dhuha no ngaji, demi melepas makanan malam yang sudah diserbu sarapan pagi dengan sambal belacan nan nikmat-nimat nakal dan garang.

___

Oriens 406,  4 Juni 2026

WANITA BERNIQAB DEPAN HOTEL

 WANITA BERNIQAB DEPAN HOTEL 

Pak Tyqnue Azbynt 



Selepas subuh para perokok sudah berderet di bantaran pot bunga demi melambungkan asap kenikmatannya, sementara ibu-ibu Indonesia sibuk membeli gorengan ala Indonesia atau sekedar bakso tuk menghangatkan suasana pagi. Aku yang tidak merokok justru penasaran pada jualan jajanan Indonesia itu. "Bak tahu berontak 3 saja". "Oh ya, ini tak kasih lombok biar tambah Joss", begitu jawabnya. 


Mbak atau ibu penjual itu fasih sekali berbahasa Indonesia. Dugaanku dia adalah BMI yang kerja di sini tapi nyambi jualan selepas subuh. "Bu apa mbak ne aku sebutnya, sudah lama di sini?". "4 tahun. 2 bulan 10 hari", jawabnya lengkap. "Wih lengkap kali ". " Lha iya lah mas, kan selalu aku hitung yang melatar belakangi aku di sini". Dari penjelasannya aku baru sadar kalau dia bukan orang Indonesia. Dia orang Thailand yang gagal mendapat PhD nya di NYCU Taiwan gara-gara cowok Indonesia yang memacarinya. Demi tak mengecewakan orang tuanya di Narathiwat sana ia harus pindah kuliah di sini tepatnya Partial Scholarship di Umm Al Qura University dengn menuntaskan diploma bahasa Arab dulu selama 2 tahun. Karena bukan beasiswa penuh tak ada uang asrama, karena itu saya harus jualan gini, jelasnya fasih sekali. "Yassalam orang Thay rasa Indonesia neh". "Gimana gak fasih mas lah wong aku dulu sempat mau jadi orang Indo, tapi sekarang aku lihat orang Indonesia dah gak ngeh blas", imbuhnya dengan nada kecewa. "Ah jangan gitu lah bak apa Bu nee aku sebut, Jangan-jangan aku bisa dijadikan tumbal tuk cinta pertama yang gagal. Aku mau kok", candaku karena dia sudah tak appresiatif terhadap cowok Indonesia. "Halah gombalnya orang indo ya gini ini". "Siapa tahu aku yang Jawa ini dapat Melayu Thailand, kan lumayan selepas haji aku lamar ke Narathiwat dan nikah di Indonesia, he he". "Gak ah, masnya gila kali, masa belum kenal banget dah gombal". "He he, kalau gitu kenalan aja boleh tak". "Oke boleh tapi bukan pacaran, namaku Wan Aisyah Siriporn binti Abdul Kadir ". " Gimana kalau Siripornnya diganti menjadi Wan Aisyah Sutikno, kan asyik ada Jawa ada Melayu Thailand karena anak anak kita biar tak membedan suku itu", sambungku nekat. "Huh, sebal, orang Indonesia suka ngeyel", katanya. Ya aku nekat karena ia tak mungkin dipacari aku, dan aku pun dalam misi ibadah haji, masa mau pacaran. "Kita bangsa Melayu Thailand tak boleh yang namanya pacaran, haram hukumnya". "Ya nikah nantinya , aku khitbah dulu selapas ne. By the way boleh gak buka noqabnya dulu biar lebih gimana gitu".Akhirnya setelah kubujuk dan ngeyel akhirnya dibuka juga. Ternyata wajah orientalnya manis kali. Pas dibuka langsung dah dig dug hatiku. "Ya Allah kenapa secantik ini kok disia-siakan ya", gumamku. Akhirnya aku nekat kartu nusuk kuberikan padanya agar memindai barcode dan mengenal jadi diriku. Demi dia aku berikan kartu nusuk karena haji sudah selesai dan tinggal Arbain di Madinah. Toh record barcode nya sudah ada di hp, kalau ditanya Polisi tinggal kasih recordnya dengan alasan hilang saat tawaf di Baitullah. Aman kan?. Justru karena kartu nusuk yang aku kasihkan dia malah percaya rayuanku. "Iya deh aku percaya tapi kartu ini jadi milik saya, kita jajaki dulu pertemanan ini sampai aku dapat gelar magister di sini. Lepas tu kita nikah, karena warga kampungku masih percaya kalau aku bertunangan dengan orang Indo yang mengkhianati aku dulu".  Ah kok justru semudah ini ya, apakah ini ujian beribadah atau gimana sih. Ujian ya ujian tapi kalau menikahi kan justru ibadah juga. Tahu ah bingung, tapi sumpah demi ayam geprek deh cewek Thay ini girly banget, yaa gak ngecewain kalau di bawa ke area publik. "Tapi niqab mesti buka dong, biar aku tunjukin cewekku imut, gitu dong". "Ah ya di sini gabole kan" . "Ya ya tapi  untuk foto bersama boleh dong biar aku tunjukin ke orang rumah bahwa aku Nemu bidadari dari Narathiwat, di tanah haram, he he". Dia pun mau menunjukkan keseriusannya.

__

Oriens Hotel Macca, 4 Juni 2026

Emak Emak Indonesia vs Bunda Nabi Ismail

 EMMAK EMMAK INDONESIA vs BUNDA NABI ISMAIL 

Pak Tyqnue Azbynt 



Panas terik menyiksa saat Hajar harus melindungi anaknya, mencari air minum dari satu bukit ke bukit lainnya, di hamparan tanpa flora. Panas benar benar menyiksa sementara rengek si kecil kin menjadi. 7 kali beranjak demi si mungil anakanda tercinta. Panas menerka-nerka goda fatamorgana di atas dua bukit. Hanya dia dan anaknya. 


Lari lari kecilnya sang bunda menoreh nokta syariah dalam ibadah haji. Kini tak lagi berlarian di tengah terik, malam pun jadilah. Panas, gerah? Tidak karena sisi kanan kiri diblowing dengan angin dingin dari beberapa blower yang diaediakan.  Orang hanya berdoa memohon ampunan dan perlindungan. Bagi Mak emak Indonesia justru membuka hp lalu bertiktok ria sambil sapa-sapa koleganya. Bukan mengenang tapi Mecari senang begitulah Mak emak Indonesia.

__

Tanah Haram, 4 Juni 2026

Rabu, 03 Juni 2026

Perjalanan Panjang Semalam

 PERJALANAN PANJANG SEMALAM

Pak Tyqnue Azbynt 



Selepas salat ashar kami menghubungi bagian petugas transportasi untuk mencarikan armada yang bisa memuat 16 orang. Tak seberapa lama mobil Van pun datang yang dikemudikan driver Pakistan. Tawar menawar harga sudah lalu berangkatlah ke Masjid Sayyidah Aisyah di Tan im untuk melakukan miqad karena kami hendak berumroh, disamping misi lain yaitu membersamai Mbah Sunarmo yang belum menuntaskan hajinya tawaf Ifadah. Dua pemuda Ijat dan Payouk  yang akan menjadi pendorong kursi roda embah Narmo, sementara yang lain akan menjadi pemeran pengganti jika mereka berdua kecapaian.

Ijat dan Payouk diarahkan ke mantiqah khusus disable sementara kami dilarang oleh polisi. Benar saja kami terpisah jauh bahkan hanya naik turuneskalator yang tak pasti tujuannya. Sampai Maghrib tiba kami belum melakukan tawaf, bahkan lagi lagi kami diarahkan ke gate 79 yang artinya ke lantai 2 menurut kami, tapi menurut polisi lantai 1. Yap, memang kami minta lantai 1 yang aku anggap di lantai Ka'bah. Ternyata di situ disebut ground. Ya kami salah minta akses jalan, itu pun berputar-putar karena banyak barrier yang belum dibuka selapas salat Maghrib. Mau gimana lagi, kami harus memulai tawaf di lantai atas yang putarannya lumayan jauh plus ramai pula, yang semestinya memang lebih longgar. Baru satu setengah putaran salah satu entrance sebelah barat dibuka ke lantai dasar karena hendak pelaksanaan salat isya. Dilalah saya bisa mendekati Ka'bah bahkan berada di sekitar setengah meter di Multazam. Salat isya kami terasa berbeda. Syahdu haru biru. Kupohonkan agar semua keluargaku ditakdirkan ke tanah suci itu. Isya usai rotasi tawaf bergerak kembali dan kelompok kami pecah karena gelombang orang kulit hitam datang. Via phone kami saling tanya posisi tapi sama sama tak tahu area. Akhirnya kami bergerak secara personal melanjutkan misi. Saling mencari saling bingung, akhirnya kami kembali ke hotel pukul sebelas malam. Dan kakiku mengeluh sakit kepala katanya wk wk.

___

Makkah, 3 Juni 2026

Thaif Darah Sejarah

 THAIF DARAH SEJARAH Pak Tyqnue Azbynt  Hari ini kami jamaah haji dari KBIHU muslimat NU menapak-tilasi jejak perjuangan kanjeng Nabi di Kot...