WANITA DI PUSARAN BADAI
Pak Tyqnue Azbynt
Kartika putri seorang Mudin Desa Argapura sejatinya dia seorang santri yang sudah menamatkan gelar sarjananya di tempatnya mondok. Ia begitu kental dengan tradisi kepesantrenan sementara Pak Wiro ayahnya lebih kental dengan tradisi Jawa yang kadang irasional. Pandangan Kartika dan Pak Wiro sering berhadapan frontal. Sang anak lebih mengedepankan hal-hal yang sifatnya naqliyah aqliyah, sementara Sang Ayah lebih patuh pada pitutur para sepuh yang sudah tampak kolot dan "ketinggalan jaman".
Demi tak banyak perlawanan dengan Pak Wiro, Kartika lebih membetahkan diri bertahan di pondok pesantren, ya hitung-hitung mengabdi sambil memperoleh pengalaman bersosial. Kenyataan ini justru semakin memicu pertentangan batin bagi Pak Wiro. Baginya usia remaja seorang perempuan harus segera menutup masa lajangnya agar tak tergoda setan belang. Ditambah lagi sang anak justru lebih memedulikan keluarga pesantren tinimbang keluarganya di rumah. Satu-satunya alasan dia dimondokkan karena nazar Bu Wiro ketika anaknya itu sering sakit-sakitan dan acapkali step di usia SD dulu, cilakanya nazarnya sampai menutup masa lajangnya bolehlah dia boyong ke rumah kembali ke pangkuan keluarganya. Beda pandangan antara ayah dan ibu ini sering memicu pertentangan di rumah. Ayah yang hanya belajar ngaji di kiyai kampung lebih mengedepankan tradisi desanya, sedangkan ibunya lebih mengarah pada tradisi kepesantrenan karena dia memang pernah nyantri walaupun tak seberapa lama.
Usia 25 bagi perempuan desa sudah dianggap begitu matang, karena itulah Pak Wiro ingin segera memulangkan Kartika. Tujuannya sih simpel, biar bergaul dengan tetangganya dan kenal sama jejaka-jejaka di desanya. Sang ibu lebih bertahan karena ingat nazarnya. Sang ayah akhirnya juga luluh pada bujukan ibunya karena sejatinya ia tak ingin anaknya sakit-sakitan seperti dahulu.
Bu Wiro tak bosan-bosannya selalu mendoakan anak semata wayangnya, salat malam bahkan sering menghantam Al-Qur'an demi mendoakan anaknya. Beda lagi dengan Pak Wiro yang lebih melakukan selametan tiap hari lahir anaknya. Tradisi tetuanya yang masih dipertahankannya.
Kabar burung tiba dari dari pesantren bahwa Kartika akan dipinang oleh seorang Gus kemenakan kiyainya di pesantren. Kabar ini membuat tak nyaman sang ayah karena menganggapnya akan mengekang kehidupan putrinya dan akan sulit menghubunginya kelak. Alasan lain karena Purnomo seorang Sekretaris Kelurahan juga sempat menuturkan hasratnya pada putrinya. Kedua kabar ini ditampiknya belaka sebelum benar-benar ada ikatan pertunangan secara resmi. Friksi antara Pak dan Bu Wiro seringkali pecah, ibunya lebih ACC pada sang Gus, sementara Pak Wiro lebih setuju pada Purnomo karena sudah sering berbincang dengannya di kelurahan. Bagi Kartika ini menjadi simalakama, ikut salah satunya menyakiti yang lainnya. Ikut ibu lebih reasonable karena akan mudah mengondisikan sikap dan perilakunya dalam berkeluarga, tapi alasan menyanggupi pilihan ayah juga masuk akal karena mas Purnomo seorang PNS yang kehidupannya lebih nyantai dan bisa mencukupi kehidupannya walaupun sederhana.
Ancaman bapaknya bahwa ia tidak mau tanggung jawab kalau sewaktu-waktu dipoligami oleh suaminya sedangkan ibu lebih pasrah pada pendapatnya pada sang Gus yang masih keluarga gurunya itu.
Friksi semakin memuncak ketika Pak Wiro dengan serta-merta menjemput anaknya di pesantren dengan alasan untuk membantu ibunya di rumah, toh pendidikannya sudah sarjana yang bagi orang desa sudah dianggap tinggi. Pihak pesantren bersikukuh agar ditunda dulu karena harus mencari penggantinya di kepengurusan pesantren. Sang ibu justru minggat pulang ke rumah kakek neneknya Kartika karena menganggap sang suami semena-mena. Bagi Kartika ini pukulan berat, ia berusaha meyakinkan pihak pesantren agar bisa segera boyong dalam waktu yang tak begitu lama.
Dan benar saja, Kartika akhirnya boyong dari pesantren dengan menyisakan luka. Dia bersedia pulang asal ibunya kembali ke rumahnya. Permintaan itu dipenuhi ibunya tapi ancaman akan tiba kalau sang ayah benar-benar menerima pinangan sang seklur, itu artinya melukai hati sang ibu.
Benar saja pulang nyantri ternyata mas seklur sering datang berkunjung ke rumah dengan alasan tak jelas. Yang jelas justru sang ayah lebih menggathuk-gathukkan anak padanya. Tentu saja hati sang ibu kembali terluka.
Tanpa sepengatahuan ayah ibu Kartika mengirimkan lamaran kerja ke sebuah lembaga pendidikan swasta, tepatnya di TK Pertiwi Kecamatan Argapura. Di tempat aktifitas barunya Tika lebih enjoy dari sengkarut yang menimpa di rumahnya. Di sini ia bertemu dengan teman SD nya yang bekerja sebagai Scurity Puskesmas dekat kecamatan. Kalau dibanding dengan calon dari ibu dan bapaknya memang levelnya lebih di bawah, karena ia hanyalah kerja paruh waktu atau P3PW. Wajahnya tak bisa dikatakan tampan, tapi tak jelek pula. Sederhana tapi tampak gagah, tata kramahannya pun santun masih seperti ketika di SD nya dulu. Intinya sudah menjadi habitual dan tak dibuat-buat.
Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Dalam waktu yang hampir bersamaan, dalam sepekan, mas seklur dan Gus dari pesantren datang melamar. Keduanya dia tolak demi tidak menyakiti salah seorang dari ortunya. Ayah dan ibu justru silang sengkarut saling menyalahkan. Cilakanya lagi Kartika justru minggat ke rumah Mas Budi sang Scurity. Amankah? Tidak, justru ramai gosip kumpul kebo, dibawa lari orang dan sebagainya. Beruntung ayah dan ibu Mas. Budi lebih bijaksana menyikapinya. Kartika dititipkan ke rumah Mbah Surti yang tinggal sendirian di kampung sebelah. Beliau tak mau diajak pindah dan hidup bersama ayah ibu Budi karena masih mempunyai anak-anak santri mengaji walaupun hanya 9 orang. Kehadiran Kartika menjadi anugerah tersendiri baginya. Ia disuruh membantu menelateni anak-anak yang belajar ngaji di musala kecilnya.
Senin sore bapak dan ibu Kartika melabrak rumah Budi, dan meminta pertanggungjawaban dari keluarga itu. Beruntunglah bapak dan ibu Budi menanggapi dengan ramah. Mereka memberitahu Ikhwal keberadaan Kartika yang tinggal di desa sebelah demi menjaga kehormatan dan menghindari gosip yang tidak-tidak. Di sisi lain mereka juga punya rencana untuk meminangnya asal ada persetujuan dari keluarga calon besannya itu. Kartika atau yang biasa mereka panggil Tika itu justru tak bisa dihubungi sang ayah karena saat minggat tak membawa HP agar tak dihubunginya. And so selama bersama nenek Budi ia tak bisa dihubungi oleh siapapun termasuk Budi.
Bolak-balik panggilan di HP Budi agar segera ke kantor Puskesmas karena sip jaga sore hingga malam telah tiba, namun keluarga Tika mengajak untuk ke rumah neneknya. Demi menghargai calon mertuanya ia memohon ijin agar digantikan temannya untuk piket jaga. Sesampai di rumah nenek, Tika sedang mengajari anak-anak yang serius belajar ngaji. "Bu, saya mau jemput Tika, agar pulang bersama kami", pinta ayahnya. Tika menolaknya, dia mau pulang asal diperkenankan bertunangan dengan Budi." Iyo Duk, bapak Karo ibuk merestui kalian, tapi harus pulang dulu. Nanti biar Nak Budi melengkapi berkas-berkas administrasi perbulannya, toh bapak kan Modin di kelurahan, kalian harus segera menikah di bulan ini agar tak dianggap kumpul kebo sama tetangga", pungkas bapaknya.
"Injih pak, akan saya urusi segera, namun kami harus pergi melamar dulu, ke rumah jenengan".
"Iyo tak trima Saiki wis, sesok Kowe lamaren anakku"
Mata Kartika berkaca-kaca melihat situasi ini, terlebih lagi dulu Mas Budi sempat menyatakan cinta saat SD, ya cinta monyet gitu.
____
Bondowoso, 9 September 2026
















