Total Tayangan Halaman

Selasa, 09 Juni 2026

Kutuliskan Namamu di Dinding Ka'bah

KUTULISKAN NAMAMU DI DINDING KA'BAH 

Pak Tyqnue Azbynt 



Selepas Dhuha di kamar, kami berkemas tuk menuju Tan im tuk miqad di Masjid Sayyidah Aisyah. Walaupun sedikit delay akhirnya kami sampai juga. Salat Sunnah ihram, nambah salat Dhuha sambil menunggu teman-teman siap berniat umroh. 


Di pintu keluar sudah banyak yang saling menunggu tapi sayangnya acara kembali delay. Ditahan-tahan emosi agar tak saling menyalahkan karena kami sedang berihram. Lanjut ke mobil Van yang membawa kami dengan drivernya yang sedikit gaya Fast and Furious membuat kami berpegangan erat pada handel di belakang tiap-tiap jok. Sampai tiba di gate Masjidil Haram, jantung masih menyisakan dag-dig-dug der.


Masuk ke ground pelataran masjid di bagian dalam aku bersegera menuju lampu hijau untuk memulai tawaf. Kusiasati merangsek kedalam mengalur seperti spiral obat nyamuk menuju pangkalnya. Baru dua putaran aku sudah bisa mendekat bahkan dekat dengan hajar Aswad, tapi demi menjaga penuntasan hingga 7 putaran aku hanya bergerak mengikuti arus saja. Sekitar 1 meter di depan Ka'bah. Tidak menyentuh demi absahnya tawafku. Ketika sudah finish di putaran ke 7 depan Multazam, kutanyakan ke rekan-rekan yang ada di belakangku, "ada misi mencium Hajar Aswad apa nggak?" Mereka menjawab kita coba saja, kalau tak bisa asal pegang dindingnya saja". Kupersempit alur gerak hingga mipet Maqom Ibrohim, setelah memutar ke sisi barat aku coba merangsek ke dalam tapi sayang rombongan dari saudara-saudara Afrika berjubel di situ. Barulah setelah melintas dari rukun Yamani aku bisa puas memegang dinding ka'bah di sisi selatan sembari menuliskan nama Istri dan anak-anakku, saudara, dan semua yang terlintas di benakku. Dengan butir tasbih kutuliskan nama-nama itu. Kutitipkan pada Mu ya Allah nama Meraka agar suatu saat bisa memenuhi panggilan Mu.

____

Tanah Nabi, 9 Juni 2026

Senin, 08 Juni 2026

TERIMA TANPA SYARAT

 TERIMA TANPA SYARAT 

Pak Tyqnue Azbynt 



Ketika masuk dalam satu komunitas, semua mesti saling melengkapi dan saling memainkan peran masing-masing hingga menjadi satu sinergi. Yang bertugas sebagai pemberi, pelengkap, pengurang atau bahkan perusak jaringan hingga mumunculkan effort tuk menguatkan diri. Begitulah komunitas terbentuk, jika tak bisa bertahan maka seleksi alam akan mengeliminasi yang merusak sistem. Lalu bagaimana jika komunitas itu terbentuk karena situasi terpaksa? 


Regu dalam komunitas haji, terbentuk karena sistem yang harus kita ikuti. Berbagai karakter dipertontonkan pada kita dan kita harus menerima apa adanya. No ngeluh, no protes, no manja, dan no marah. Dalam satu kamar di hotel kita akan menemui beda sifat beda gaya, termasuk sifat dan gaya kita belum tentu diterima di otak mereka. 


Kita hanya menjaga agar kita, tidak ghasab milik teman apa pun itu,  apalagi mencuri atau memakan haknya orang lain. Dan jika milik kita dighasab atau dicuri kita harus menyadari barangkali kita pernah begitu pada miliknya orang ketika di rumah, atau kita tak pernah menghargai hak milik orang. Dalam bertutur pun harus saling menyadari harus saling menerima. Jika salah, cukup di nasehati, selepas itu usai tugas kita. 


Pernahkah kita lama menunggu kamar mandi, atau sendok makan kita hilang, sandal dan sebagainya.  Gak usah salahkan orang, tapi tanyakan pada diri sendiri. Kita sudah menganalogi diri dengan pakaian ihram yang hanya dua helai kain. Sama, tak ada raja tak ada jelata, tak ada tentara tak ada hansip semuanya sama. And than, apakah kita masih menyalahkan orang lain? Padahal kita sudah tahu kita harus menyamakan diri, hanya sebagai hamba yang harus menerima takdir dari Nya.

___

Tanah Haram, 8 Juni 2026

Mr. Nasser and His Angel

 Mr. NASSER AND HIS ANGEL 

Pak Tyqnue Azbynt 





Langit Arafah menotulensi di angka 44° Celcius. Pengap dalam tenda benar-benar menguji nyali, bila blower sudah hidup seribu napas beradu sua. Virus-virus batuk, pilek dan segala rupa berebut mencari mangsa. Dan saat itulah sang bidadari ambruk menyerah tak bedaya. Nafsu makan hilang, perut mual dan kesehatannya drop seketika.


Mr. Nasser sang Arjuna dengan sigap memberikan pendampingan prima, not until one minute, he prepare all she need. Ini memang benar-benar harus total bed rest. Ya, infus dan harus benar-benar jaga kondisi. Perut mual, badan lemas, semangat drop, tatapan kuyu. Bagaimana harus menyiasatinya, ini adalah puncak haji, tapi sang Arjuna selalu siaga mendampingi dengan setia. Begitu pun ketika di Mina kondisinya masih bahkan sampai kembali ke hotel. Ini benar-benar  menguji kesabaran. 


Pagi itu selepas subuh kulihat Mr. Nasser sedang merebus kentang di dispenser beranda hotel. What's? Berkali-kali digantinya air panas hingga kentang itu matang. Ditusuk tusuk biar air panas mudah mengkonduksinya. And finally sebiji kentang itu diberikan pada sang bidadari. Setiap hari begitu, dan di situlah pemulihan sang bidadari berangsur terentaskan. Sampai suatu ketika dia berkata, "pemulihan ini karena Kang mas Arjuna begitu care padaku".  Kini ulas senyumnya kembali memanja pada Mr. Nasser

-----

Haram, 8 Juni 2026

Minggu, 07 Juni 2026

Thaif Darah Sejarah

 THAIF DARAH SEJARAH

Pak Tyqnue Azbynt 



Hari ini kami jamaah haji dari KBIHU muslimat NU menapak-tilasi jejak perjuangan kanjeng Nabi di Kota Thaif yang tak sepanas Mekkah. Indah diantara gunung-gunung Cadas yang angkuh menatap langit. Bebungaan mekar menantang panas Arabia. Bougainvile merona merah menyembul diantara kuning tua bangsanya, melati, dan mawar, serta lantana pun tebar pesona. Semula yang hendak susur sejarah hati tergoda pesona kota Thaif ditambah lagi saat berkunjung ke penyulingan aneka bunga yang dijadikan aneka parfum. Semua lupa tujuan semula yang hendak rihlah sejarah, apalagi deskripsi tour leader tak gamblang dicerna. Lalu hilanglah cerita  yang 100 km dari Makkah Kanjeng Nabi dan Zaid bin Haritsah hendak berjumpa Abdu Yalil, Mas ud, dan Habib yang ketiganya anak Amr bin Umair demi meminta dukungan da'wah di kota besar kedua setelah Makkah. Namun ketiga orang Bani Tsaqif itu menolak dan melempari kanjeng Nabi hingga kaki beliau terluka pun demikian Zaid bin Haritsah hingga terluka kepala karena melindungi nabi.

Saat darah bercucur, berteduh di kebun Kurma Utbah dan Syaibah bin Rabiah Nabi mengeluh dalam doa "Yaa Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku". Syaibah tak tega melihat yang mulia dan memberi anggur melalui Addas budaknya. Saat beliau memulai membaca asma Allah (basmalah) Addas terkejut karena tak mungkin orang sembarangan mengucapkan kalimat itu dari masyarakat Arab saat itu. De es be.


Selepas dari pabrik penyulingan bunga kami beranjak menuju Masjid Abdullah bin Abbas sepupu beliau. Di sini pun kami hanya singgah salat qashar,  sedikit swafoto dan sebagian belanja oleh-oleh. Lagi lagi cerita sejarahnya hilang. Bagaimana anak pamannya itu berjuang membela nabi, atau bahkan sayyidina Abbas  pamannya yang harus meregang nyawa saat pertempuran di Uhud yang dadanya dikoyak Hindun lalu dadanya di koyak, hatinya dicakar-cakar dikunyah dan dimuntahkan. Cerita itu tak ada. 

 

Di bagian ketiga ketika melewati Jabal Nur sang guide masih semangat menjelaskan tentang Gua hira' dan Wahyu pertama, tapi sayangnya para penumpang bus hampir semuanya terlelap dalam tidurnya, dan bisa dipastikan sang guide kena prank. Dia semangat sedang kami mendengkur lelap bersama deru bunyi Mercedez Benz bus yang kami tumpangi. 

_____

Thaif-Mekkah, 7 Juni 2026

MENGGANTUNG HASRAT DI KERETA GANTUNG

 MENGGANTUNG HASRAT DI KERETA GANTUNG 

Pak Tyqnue Azbynt 



Thaif 7Juni 2026 di waktu zawal kami turun dari armada bis yang konon miliknya seorang Sayyid. "These are date for you from Sayyed the bus' owner", kata sopir sambil membaginya ke tiap penumpang. 


Kami semua kepo untuk nunggang unta sebagian ingin naik kereta gantung. Tapi karena cost-nya mahal akhirnya hanya lihat-lihat doang. Bagi yang beruang memang langsung antre tiket. Tiket didapat langsung dipegang guide tour, begitu passenger dah turun dari kereta, ticket masih di guide. Akhirnya lah ticket ini belum digunakan, ini bisa dipakai untuk 12 orang. Aku dan 11 orang lain pun bergegas mau menggunakan ticket itu. Pas ketemu dengan salah satu pendamping jamaah, kita suruh bayar separuh harga demi membantu yang sudah naik duluan. Karena sedari awal tak mau naik kereta itu ya secara refleks langsung balik kanan. Biarkan hasrat kugantung saja di kereta gantung.


____

Thaif, 7 Juni 2026

Mukimin dan Obat Ajaibnya

 MUKIMIN DAN OBAT AJAIBNYA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Pukul 22 Arab Saudi di beranda lantai 7 b lagi ramai Bapak-bapak kaji Indonesia. Penasaranlah membuat kaki melangkah walaupun sedikit ngantuk dan lelah. Usut punya usut ada seorang mukimin yang menawarkan dua jenis parfum plus obat ajaib buat bapak-bapak. Dari gelagatnya sudah bisa ditebak kemana gerangan arahnya. 


Memakai seragam ala petugas haji dia bisa keluar masuk hotel tanpa ditanya oleh scurity hotel. Teman-teman sudah menduga karena dia tak pakai atribut lengkap seperti nama, dan bajunyapun kelihatan kusam. Tapi begitulah cara orang mencari nafkah. Asalkan jual beli biasa no problem. Pertama keluarlah parfum, lalu muncullah rokok Indonesia, terakhir muncul minyak ajaib itu. Ada sebagian yang bilang ada yang pesan, ada sebagian yang bilang tetangganya punya masalah tidak harmonis rumah tangga. Gak ada satupun yang bilang untuk saya pribadi. Saya yang pura-pura asyik dengan hp, headset dipasang padahal tanpa suara, pura-pura bergumam nyanyi-nyanyi. Mereka merasa tak diperhatikan saya. Setelah deal satu persatu masuk kamar hotel tuk ambil uang, dan tinggal aku sendirian, si Abang colek dan kasih kode-kode, saya hanya jawab Alhamdulillah saya sehat. Tsumma Alhamdulillah. Sampai transaksi selesai, abang penjual pun pamit undur. Tinggallah bapak-bapak itu di beranda. Aku gojlokin mereka," Hati-hati jangan sampai jebol kandang ayam, gak bisa nelur dia". "Wah ellu nguping yaa?". "Bahkan aku video in yang tadi, mau tak kirim ke grup ?". "Ih jangan ah, kamu tak beri satu botol asal jangan post ke grup". "Gak ah, aku sehat silahkan anda nikmati sendiri agar jadi pasangan mabrur mabrurah"

___

Makkah, 6 Juni 2026

Sabtu, 06 Juni 2026

SAYUR BENING REMPAH KUNCI

 SAYUR BENING REMPAH KUNCI

Pak Tyqnue Azbynt 



Pagi selepas subuh, pintu kamar diketok 3x. Ah sial betul pagi-pagi dah mau namu, tahu masih mau bobo lagi pa, begitu pikirku. Kubuka dengan ogah-ogahan ternyata kang mas Haji Asy Ari, membawa sayur bening dan rempah pecel. "Biar tak kangen rasa Indonesia Mulu", katanya. Lepas itu beliau pamit dan aku bobo lagi. Belum lelap diketok lagi Haji Bustomi yang kamarnya  sendiri terkunci. Wah alamat gak khusyuk bobo pagi ne. Dan benar saja kami se kamar bangun semua.


Akhirnya aku dan salah seorang teman langsung menjamah sajian pagi tuk sarapan.  "Kok enak nya, apa resepnya?", katanya sambil menyeruput kuwah. Aku mengacuhkan saja karena kuanggap hanya basa basi belaka. "Mas, apa resepnya?", lanjutnya. "Itu kuncinya ada di kunci", celetuk teman yang lain. "Apaaa? Kok aneh sayur kok pakai kunci tak sekalian aja pakai obeng", jawabnya ketus.   "Ah itu karena ada kuncinya", sambut yang lain. "Busyet deh kalian" . Menghindari saling berbantah-bantahan dan marah kami semua diam, akhirnya kucari resep cara memasak sayur bening rempah kunci di media sosial. Aku kencangkan volume hp, barulah dia tahu kalau ada jenis ompon-ompon yang namanya kunci. 

____

Bilik hotel, 6 Juni 2026

Mr. Kazehaya Ren

 Mr.KAZEHAYA REN

Pak Tyqnue Azbynt 



Dari kejauhan tampak 3 orang sedang berjalang tergesa-gesa. Semuanya menggendong tas punggung bergambar bendera Jepang. Dari tasnya sudah yakin kalau dia muslim Nippon. Seorang lelaki dan dua wanita tampaknya ingin bersegera merapatkan barisan shaff salat, tapi sayangnya harus terpisah oleh barrier kelompok laki perempuan. 



Lelaki Jepang itu merapat ke shafku sementara yang perempuan ada di sisi kanan sekitar jarak 10 meter. Dia sangat dengan kedua wanita yang bersamanya. Tampak sesekali ia melongok ke arah deretan perempuan. Selesai salat kusapa dia, sekenanya, ,"Sorry, are you Japanese?" Dia menjawab sambil menunduk " Hai sou desu". Kemudian dia menepuk bahu saya agar membantu mencari kedua wanitanya."Tsuma to kodomo o sagasu no tetsudatte kudasai" setelah saya baca terjemahan di hp (tolong bantu saya mencari istri dan anak saya). Aku pun berlanjut  mencari keduanya. Yang menjadi kendala adalah mereka lupa bawa hp yang tertinggal di hotelnya. Akhirnya aku pinjam tas gendong yang ada gambar berdera Jepang, kuangkat dan kuacung-acungkan ke atas. Dan yes, Meraka berdua lari mendekati kami.

Sebelum berpisah dengan ketiga orang Jepang itu, kami sempat berbincang dengan bahasa translater walaupun agak lama ya nyambung juga. Dari ceritanya bahwa ia masuk Islam gegara sering bertemu dengan pekerja migran Indonesia di Jepang. Karena kehidupannya tampak tenang maka dia mencari tahu rahasianya. Ternyata salat, ya salat yang dilakukannya setiap hari. Mereka pun sekeluarga masuk Islam, saking ingin tahunya kiblat yang dia hadap saat salat, ia pun tunaikan haji. Dia bercerita sampai banjir air mata karena harunya. Mereka berjanji akan menghajikan 2 pekerja migran yang telah mengenalkannya pada agama Islam. 

____

Bet Al Haram, 6 Juni 2026

Jumat, 05 Juni 2026

Lelaki Uzbekh

 LELAKI UZBEKH 

Pak Tyqnue Azbynt 



Pengap senja masih saja menyisakan cerita siang yang menyiksa. Cuaca yang 40° up memaksa kami orang Asia tenggara harus sering-sering menyemprot wajah dengn zamzam, begitu pun dengan aku. Entah kenapa senja itu perasaanku ingin saja berbelanja pernak pernik keperluan wanita. Intinya aku tak tahan untuk shopping padahal uang Riyal yang kupunya sudah menipis, saran temanku tuk berhemat kutampik saja. Dan aku berangkat sendiri karena tokonya hanya di sebelah Hotel dan di sekitar itu banyak crew petugas PPIH, jadi aku anggap aman. Souq Aziziyah menjadi tempat memanjakan selera belanjaku, namun sayang ketidak pahamanku cara menawar menjadi kendala yang serius. Kupikir di situ bisa dengan bahasa Indonesia seperti tempat lain di pasar tradisional Arab. Aaah, moodku menjadi sedikit rusak. Wajah imutku menjadi tak elok lagi bila dipandang, ne terbukti saat aku swafoto wajahku kek cewek judes lagi kepedesan sambal. 


Dengan isyarat ada seorang lelaki mendekatiku seraya berbahasa Inggris sedikit sedikit. "Any help?, cay I help you?". "Oh yaa yaa", jawabku gelagapan. Kutunjuk saja abaya hitam yang mewah banget. Dia bantu menawarkan tapi harganya bikin dompetku jebol. 420 SAR ya 2 juta lebih. " No, no" hanya itu yang kubisa. "Do you like it?" Tanyanya. "Yes but I no money", jawabku sebisanya. Dia coba membujukku untuk membeli karena katanya cocok, dan aku katanya lebih cantik dengan isyarat dan English yang sama-sama kacau bahasanya denganku. Kemudian ia membawaku ke sudut lain dengan tawaran yang beda tapi sekali lagi mahal kali. "My name Zavar, I am Usbekh, and these are halal to you", katanya seraya menyerahkan dua abaya itu. "Oh ", jawabku kaget. "Yap halal to you, we are moslem ukhuwah Islamiah", lanjutnya yang membuatku yakin.  " But It's so expensive " kataku ragu, tapi dia maksa dan bayar ke kasir. Terpaksa deh aku julurkan tangan sembari mengenalkan nama, "Thanks, my name Annisa Hapsari, I am Indonesian", jawabku kegirangan. "Uzbekh love  Indonesia,  Zafar like Annisa", katanya seraya memberikan kartu nama dengan tulisan  Usbekh. Ga masalah tinggal pakai google cam kan langsung bisa diterjemahkan. Sekonyong konyong aku ambil parfum fifth eveneu kesukaanku di dompet aku semprotkan ke bajunya dan bajuku sebagai tanda kesamaan. Ga peduli ku dibilang genit, abisnya dia tampan juga sih, sopan, dan royal. "Don't remember Zavar ...", katanya. "Of course" jawabku sambil kulambaikan tangan saat keluar toko dan berpisah. Dia memandangiku sampai keseberang jalan. This is mine, gumamku.

___

Oriens hotel, 5 Juni 2026

Kamis, 04 Juni 2026

Sambal Belacan Lalap Mentimun

 SAMBAL BELACAN LALAP MENTIMUN 

Pak Tyqnue Azbynt 



Pagi 4 Juni 2026 pukul 6 WAS kamar kami masih acakadut bak kapal pecah. Ada yang leyeh leyeh dijajah ngantuk ada yang meneduh kopi sementara aku bersiap untuk salat Dhuha.  Di sisi lain sarapan pagi sudah siap santap. 


Hendak menggelar sajadah masih ada teman yang sudah membuka ompreng tuk sarapan. Kuacuhkan saja karena tekatku adalah salat Dhuha n lanjut murajaah bentar. Eh dari luar muncul istri mas Gio sang ketua membawa sambal belacan plus lalap mentimun. Lah tergodalah rasaku terpaksa ikut duduk leseh sembari membuka ompreng nasi. Alhamdulillah kangen masakan rumah terobati juga namun sayangnya ..., sambal rasa Geliga pedasnya sejahat omongan tetangga yng nagih hutang. Oh lumayanlah pedasnya bisa ditawarin dikit oleh kerupuk upil yang renyah dan rasa Nusantara itu. 


Sarapan sudah, ngopi sudah, kok belum salat Dhuha? Yaa mana mungkin bersegera besty, lha wong tuntutan tuk merenung di WC sudah tiba. Perut brontak tak tahan rongrongan cabai Jawa.  And Finally no Dhuha no ngaji, demi melepas makanan malam yang sudah diserbu sarapan pagi dengan sambal belacan nan nikmat-nimat nakal dan garang.

___

Oriens 406,  4 Juni 2026

Kutuliskan Namamu di Dinding Ka'bah

KUTULISKAN NAMAMU DI DINDING KA'BAH  Pak Tyqnue Azbynt  Selepas Dhuha di kamar, kami berkemas tuk menuju Tan im tuk miqad di Masjid Sayy...