Total Tayangan Halaman

Rabu, 26 Agustus 2026

DUA WANITA

 DUA WANITA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Seperti biasa pagi itu aku menyirami anggrek-anggrek di sekitaran gazebo belakang yang lumayan luas dan asri.  Paranet hitam menutupi area sepanjang 20x7 meter yang membujur ke arah Utara berbatasan dengan tembok pagar setinggi   4 meter. Berbagai jenis anggrek mahal menjadi koleksi juraganku. Anggrek bulan, dendrobium, Vanda, catalea, dan cimbidium ditempatkan di area berbeda. Kerjaan rutinku ini seperti mudah, tapi ternyata butuh keseriusan tersendiri plus pengetahuan yang memadai karena beda jenis beda penanganannya. Karena itulah sudah 3 tahun lebih aku dipercaya juraganku tuk merawatnya dengan serius. 


Tumben Bu Alena pagi itu mengamati anggrek-anggreknya dengan serius, padahal sudah berbulan-bulan beliau tak begitu memedulikannya. Rupanya pesona anggrek Vanda mokara yang lagi bermekaran menjadi perhatian seriusnya, begitu pun catalea hibrida Taiwan tak luput dari perhatian. 

"Anto, kok sudah sebanyak ini anggrek ini? And banyak yang sudah kenop juga ya"

"Iya Bu, kalau yang jenis Vanda, dendro, dan catalea saya split sendiri, sementara yang bulan saya pakai keiki tuk buat anakan"

"Ah begitukah?, dari mana kamu tahu caranya?"

"YouTube Bu", jelasku. Sementara Bu Alena asyik mengamati catalea hijau lidah putih tampil sangat anggun. 

"Oh ya besok selepas upacara Agustus aku perlu berbicara banyak denganmu, sekalian mau healing-healing di sini sembari bincang-bincang tentang anggrek.


Taman anggrek belakang katakanlah begitu memang tak boleh banyak orang berkunjung termasuk bibi Sum sang pembantu. Alasannya sederhana sih, biar steril katanya, padahal menurutku tidaklah harus begitu. Tapi karena titah juragan, ya hanya aku dan Bu Alena saja yang boleh berkunjung. Berbulan-bulan bahkan bisa dikata hampir setahun beliau tak memperhatikan taman itu, kenapa hari ini begitu peduli. Ya begitulah moodnya orang kaya. Wanita 40 tahunan ini masih betah melajang kembali padahal sebagai seorang direktur bank plat merah sejatinya sudah dibersamai seorang lelaki sukses. Mungkin kegagalan membina bahtera rumah tangga pertamanya yang membuatnya mati rasa.Mengejar karier menjadi alasannya. Menurutku sih tak seharusnya begitu. Rumah megah, luas masa hanya beliau, bapak Anton ayahnya yang sudah manula dan harus dilayani intens oleh Bibi Sum. Osteoporosis dan sesak napas membuatnya sangat rentan. Tetiba saja Bi Sum memanggil Bu Alena karena bapak megap-megap sesaknya kambuh. Aku sepontan saja ikut ke beranda samping tempat bapak sedang duduk santai. Entah apa maksudnya, dalam keadaan megap-megap beliau memanggilku, "Jaga Alena". Aku hanya mengangguk spontan.  Tapi panggilan kedua yang juga memanggil Bu juraganku, justru menghadirkan teka-teki besar karena beliau berkata, "aku ridha kalian...", begitu katanya sambil memegang tangan kami dengan gemetar.

Bapak Bu Boss kondisi kesehatannya fluktuatif, kadang tampak segar kadang tampak layu yang tak bisa diprediksi datangnya. Sejak kejadian beberapa saat lalu, selalu menjadi misteri di perasaanku. Ah masa sih Bu Alena mau dijodohkan denganku?, ah dia kan sudah berumur dan kaya pula tak mungkinlah menjadi jodohku. Tapi apa maksud sang bapak?. Ya aku simpulkan sendiri bahwa bapak hanya menyuruh agar aku menjaganya, no more. Lagian aku masih sibuk penuntasan skripsi yang terlalu lama delay. 


Pesan dari dosen pembimbing agar segera menuntaskan skripsiku, bahkan beliau memberikan tenggat waktu. Di sisi lain aku sedang intens menjaga bapak Bu Boss. Tapi karier harus aku prioritaskan. 


Senin pagi jelang siang selepas upacara Agustus aku disuruh menghadap Bu Dosen yang tegas, no senyum-senyum dan kaku. "Dasar janda", begitu gumamku. "Anto, sengaja hari ini aku pilih waktu yang panjang dan tak ada mahasiswa lain yang boleh menghadap, agar hari ini kamu bisa tuntaskan skripsimu", katanya sembari meletakkan kacamata dekat vas terakota yang berisi Anggrek Bulan hibrida putih lidah ungu.


Celoteh Bu Dosenku sumpah bikin mumet kepalaku, coz perasaanku tertuju pada Bu Alena yang hendak healing di kebun anggrek bersamaku. "Bu untuk sementara otak saya masih blank, mohon beri waktu luang lain untukku". "No more", jawabnya. Tetiba saja ranting mangga yang rupanya sudah rapuh itu patah dan menimpa motorku. Dan Bu Aisyah dosenku kaget seraya meloncat hingga hampir jatuh terlentang. Reflekku telah sekonyong-konyong menyelamatkannya. Cilakanya Bu dosen malah tak sadarkan diri. Terpaksa ku bawa ke balai-balai tuk membaringkannya. Aku bingung tak bisa apa-apa. Bisaku hanya memijat lengannya tanpa maksud yang jelas. Belum 5 menit beliau siuman rada bingung karena melihat aku berkeringat

. "Kamu tak aneh-aneh kan Tok?"

 "Tidak Bu, tapi maaf terpaksa membopong ibu ke sini sendirian", pungkasku. 

"Yee pasti kamu nakal-nakal, ada cctv lho di sana tuh", imbuhnya. 

"Tidak Bu, oh yaa, paling hanya membetulkan posisi gaun ibu yang kebuka, soalnya maaf paha ibu terbuka tadi", jawabku ngasal.

 "Ah nakal juga kamu", sergahnya. "Dah bimbingan kali ini cukup, kamu boleh pulang. 


Batok motorku ringsek terkena dahan mangga, untungnya masih bisa dibawa pulang ke tempat kerjaku. 

"Lah lah Antooo, kenapa lelet, aku dah tadi lho nungguin kamu", hutbah Bu Alena sedikit kesal. 

" Maaf Bu ada sedikit masalah, motor saya tertimpa ranting pohon patah, ini buktinya", jawabku. Untung ada bukti padahal Bu Aisyah tadi yang menyandra otakku. 


Ternyata Bu Alena asyik ngajak ngobrol anggrek-anggreknya. Gaun silky merah cabai yang dikenakan tampak kontras dengan kulit putihnya. Walau usia 40 tahunan ternyata masih elok di mata.

 "Hey Anto, kenapa bengong, aku tanya anggrek malah kamu lihat-lihat aku. Awas kesambet lho, bisa tak lelap bobo nanti malam kau", celetuknya. 

"He he iyaa, ibu cantik". 

"Nah kaan", sambarnya. 

"Soalnya ibu beda sekarang, lebih gimana gitu", timpalku. 

"Nah nah, nakal juga kamu ya?", sergahnya sambil menarik telingaku. Dilalah beliau malah terpeleset bungkus pupuk growmore dan aku tangkap deh dari pada jatuh terlentang. 

"Yaaa Nemu moment kamu To, keluar aslinya. But, tapi kok gemetar Tanganmu, kenapa?" Tanyanya. 

"Sebab ketimpa orang cantik Bu". 

"Ah kamu, manfaatin kesempatan saja".

"He he Alhamdulillah".

"Yah kamu, jangan-jangan suka ma aku ya?"

"Yaah enggak lah Bu, masa sih ibu bilang gitu, kan bukan kelasnya, pamali lho, tapi kalau tak pamali yaa aku suka juga sih".

"Yaaah kamu, beda kelas lah denganku".

"Ya itu Bu, maaf"

Kamu kelas TK aku dah doktor, kan beda usia".

"Mang kalau beda usia masalah ya Bu?"

"Gak tahu juga, masa sih mahasiswa suka ma janda kepala 4?"

"Sukanya sih suka sih Bu, tapi beda derajat "

"Anto, sini mendekat, coba dengar detak jantungku", katanya sembari menaruh kepalaku di dadanya. 

"Duh kamu gemetar lagi"

"Soalnya aku gak kuat Bu"

"Ingat pesan papa?"

"Memangnya kenapa Bu"

"Kamu kan direstui tuk jaga aku, masa ga peka sih", lanjutnya. 

"Oh, siap Bu"

"Siap apa?"

"Siap bingung".

Belum tuntas berbincang, tiba-tiba bapak menelpon agar kami menghadap. 

"Alena, kamu harus segera menikah, karena usiaku tak akan lama, lagian aku perlu cucu dari kamu anakku satu-satunya. Segera cari pasangan", pintanya.

"Anto aja pa, tapi nikah Sirri aja yang penting punya momongan dulu, aku malu kalau suamiku brondong nanti dibully teman-teman kantor", jelasnya yang tak jelas itu.

"No, no, harus resmi"

"Oke pap, yang penting Anto mau", katanya sembari lempar senyum manisnya. 

"Nggih pah, saya mau". 

Selepas itu malamku menjadi tersiksa. Tak bisa berkata-kata, usianya jauh denganku, tapi cantik. Jangan-jangan aku dijadikan budak, dan sebagainya. Perasaan itu bergejolak di dadaku. Pas lagi putar otak tengah malam, tiba-tiba ada pesan WhatsApp masuk di gawayku, "Mas Anto harus tanggung jawab lho", Aisyah.

"Maksudnya Bu?" Balasku pada Bu Dosen.

"Lah kamu kan lihat pahaku tadi, kamu dah lihat auratku, maka haram hukumnya" balasnya.

"Terus biar tak haram gimana Bu, kan tadi darurat Bu?"

"Ya halalin aja", gampang kan.

Aduuuuuh otakku mendidih seketika, bagaimana tidak dua janda yang sama-sama mapan kok malah milih aku yang masih usia mahasiswa sih. 40, 40 vs 23. Pilih Bu boss skripsi tak jadi, pilih Bu Dosen, menyia-nyiakan sang bankir yang masih cantik itu. 

____

Bondowoso, 26 Agustus 2026

Kamis, 30 Juli 2026

SEVARA

 SEVARA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Seorang pelajar dari Tashkent Presidential School sedang asyik membaca buku di sebuah homestay Ubud Gianyar Bali. Otakku langsung kejang-kejang saat melihat wajah orang Asia tengah yang penduduknya mayoritas muslim datang ke Pulau Dewata. Jilbab, atlas, abaya panjang sutra plus kacamatanya menjadikannya begitu tampil memesona di hadapanku. Dari tas punggungnya yang tergeletak di atas kursi aku tahu kalau dia orang Uzbekh. Tulisannya jelas menuturkan jati diri bangsanya, entah salah atau benar dugaanku begitu.



Aku yang hanya sebagai driver ojol tak berani menyapanya, karena dia tak tampil seperti turis-turis kebanyakan yang memakai jasaku. Cantik, menawan, dan sopan dalam etika. Silau rasanya saat aku melirik bidadari dari langit ke 8 ini. Entah dari hal apa dia memanggilku dengan sopan saat aku menghayal tentangnya sembari menunggu panggilan aplikasi. "Assalamualaikum, "Would you like to try some Samsa? It's a warm baked pastry filled with meat,we make it in Uzbekistan!"   or do you want to try manti? They're steamed dumplings with meat inside. You eat them with sour cream", bukanya. "Wa alaikum salam, I prefer samsa because I don't like sour cream", jawabku sambil melongo tanpa sadar. Dia menjawab bersemuka di meja kayu bercat coklat kemerahan itu. Aroma kayu manis, dupa dan fifth eveneu parfumnya beradu tunjukkan pesona aroma. Semula yang kuduga dia hendak jalan-jalan dengan aplikasi ojolku ternyata hanya menanyakan hal-hal budaya yang berbeda jauh dengan tanah kelahirannya. Kenapa adat di Bali bertahan walaupun kontraksi dengan para turis barat yang bebas bahkan vulgar. Tak banyak yang kuberikan cerita padanya karena aku sendiri orang Jawa yang kerja di Bali. Justru dia malah tanya-tanya tentang Jawa juga. Ya sebisaku kuberi info via YouTube yang berbahasa Inggris tuk memudahkan baginya, karena jujur aku sendiri banyak tidak kenal secara detail tentang budaya, ya maklum aku kan hanya pencari cuan di Bali bukan duta budaya, he he.



Saat dia mengajak jalan-jalan tanpa motor, di pematang sawah Ubud menjadikan kami seperti kenal begitu lama. Antara nafsu menikmati pandang padanya dan misi menjelaskan  budaya lokal sebisanya, malah aku jadi kagum pada keramahannya, tuturnya yang lembut, terbuka dan penasarannya yang tinggi membuatku hati-hati bertingkah. Setelah agak lama barulah aku sadar kalau dia memang sedang ada misi tukar kenal budaya. Walaupun semula dianggapnya berat karena harus ke masyarakat yang mayoritas Hindu ternyata Bali lebih sekedar tempat wisata, tapi ia menunjukkan toleransinya yang tinggi. "It's our country,  not Bali only but more our islands too", jawabku. Saat azan Ashar di HP-ku berkumandang dia malah mengajakku segera pulang tuk tunaikan salat Ashar di homestay-nya. Segera saja aku mengikuti pintanya, dan ternyata ada 5 cewek lain yang ternyata temannya dengan misi yang sama. Dan aku yang terbiasa salat lalai, saat itu aku harus menjadi imam 6 bidadari Uzbekh ini. Hati bergetar ternyata Tuhan menegurku lewat Sevara dan kawan-kawannya. Saat aku nangis tersedu selepas salat, mereka, bertanya ada apa gerangan. Tuturanku padanyalah yang mereka memaklumi dengan kerjaku yang biasa bawa cewek-cewek bule dengan motorku. Sevara memberiku sebuah scarf yang biasa dipakainya. Kucium kain itu sembari meneteskan air mata, hatiku terasa runtuh oleh momen ini 

____

30, Juli 2026

Senin, 27 Juli 2026

ORIENS HOTEL

 ORIENS HOTEL 

Pak Tyqnue Azbynt 



Pertengahan Mei 2026  menjadi notulensi terindah dalam perjalanan hidup kami jamaah haji kloter 87. Dari beberapa KBIHU kami ramu jadi satu baik dari Bondowoso dan sebagian dari kota sebelah, Situbondo. Mungkin semua jiwa yang sedang bersamaku merasakan momen terindah itu. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah suci, Kota kelahiran Nabi Saw. Sumpah demi apa pun cuaca panas yang memuncak hingga47° kami abaikan belaka karena kami datang dengan perasaan penuh cinta, haru biru dalam kesukaan yang sulit kami gambarkan. 



Di Bandara internasional King Abdulaziz Jeddah (JED) 19 km dari Mekkah. Dengan terminal modernnya kami menuju hotel Oriens dengan menumpangi bus SAPTCO yang didriveri oleh mamang Pakistan yang tampan tapi agak pelit senyum itu. It's no problem yang penting kami bisa rehat di hotel setelah sekitar 12 jam-an kami di dalam Saudia flight. Kaki pegal, bokong stress dan sebagainya, apalagi masih mengenakan kain ihram yang harus menjauhi pantangan pantangan tertentu.  




Oriens Hotel menguakkan main entrance-nya dengan disambut para petugas sembari menunjukkan kamar kami masing-masing. Dengan segera para jamaah menuju kamar masing-masing dengan alasan-alasan yang privasi. Hasrat pipis, ingin rebahan dan sebagainnya. 


Sujud syukur di kamar hotel atas keselamatan kami, tak terasa menetes air mata haru dan bahagia. Demi tahu banyak hal, tak seberapa lama di sore itu aku turun ke lantai receptionis tuk sekedar tanya-tanya walaupun English-ku tak seberapa bagus. Mbak-mbak Arab dengan abaya merah moroonnya melayaniku sekenanya saja. Saya masih memaksa bertanya walaupun dia sedikit enggan menanggapiku, ya maklum bukan mahram, he he. Beruntunglah ada cewek Algeria yang sempat singgah di beranda sisi sebelah reception room. Dia lebih care dan justru saling berbagi informasi tentang budaya dan negara kami masing-masing. Rupa-rupa dia sedang menemui seorang staff yang bertugas sebagai pemberi arahan transportasi di hotel itu. Tepatnya petugas haji bagian info transportasi yang kebetulan seorang mahasiswa di Universitas Aleppo (Jamiah Hallaba) yang sedang ambil studi S2 syariah. Orang Jawa Tengah ini menyempatkan diri sebagai petugas haji demi cuan tuk bayar kebutuhan kuliah yang perbulannya di atas 5 juta rupiah. Ayesha yang kebetulan sedang berbicara denganku menjadi teman dekat sang mahasiswa. "He is my best friend only no more", katanya hendak meyakinkanku. "As best friend as boy friend no problem..", sambungku. Tetapi dia bersikukuh bahwa hanya sebagai teman baiknya dalam penyelesaian disertasinya yang kebetulan meneliti tentang Islam Nusantara. Entahlah, kebetulan atau apalah,  saat kutunjukkan tulisan-tulisanku di blogg yang banyak menyasar dan mengupas tentang Islam dan budaya di Indonesia, dia begitu tertariknya. Momen inilah yang menjadikan kami saling berbagi cerita via Instagram di sela kesibukan kami masing-masing. Momen ini indah tapi sekaligus menjadi godaan terberat bagiku dalam menjalankan ibadah, karena kami sering bersemuka Maya via Instagram. Bagaimana tidak hatiku tergoda, dengan cewek cantik tinggi semampai yang open minded, akrab dan selalu ramah denganku. Hingga kini sampai aku pulang haji masih sering sua Maya dengannya via Ome Tv internasional ataupun dengan Instagram. " Jaga diri, jaga kecantikanmu, agar aku tetap bisa memandangmu walaupun lewat Maya" begitu yang kuucapkan saat menutup pembicaraan. Rupanya dia cari google translate dan berkata, "ah kamu ada aja, nakalmu menggoda", katanya dengan logat yang kaku.

____

Bondowoso, 27 Juli 2026


AUGUST 17th

 AUGUST 17th

Pak Tyqnue Azbynt 



Senin pagi menjelang HUT RI ke 81 hilir mudik kendaraan mulai ramai yang seperti biasanya. Di jalanan pernak pernik Agustusan menyemangati warga tuk mengikuti ritual khidmat kenegaraan, begitu pun kami warga kampus. Bagiku ini sudah menjadi ritual negara tiap tahun namun kali ini menjadi beda karena salah seorang wali mahasiswa beberapa pekan sebelumnya telah menghubungiku tuk berikan kejutan ulang tahun untuk anaknya. Entahlah. Aku hanya mengikuti alurnya saja, dan kukira semacam kejutan receh, lebay ala Mak emak plus 62. 



Semula aku sedikit mengabaikannya karena kami harus merapat ke halaman kampus bersama para warga kampus lainnya, namun pesan pagi yang masuk via WhatsApp menjadikan sedikit atensi otakku. Ya bagaimana tidak, seorang ibu yang hendak memberikan kejutan pada putrinya yang lagi ulang tahun bersamaan dengan ulang tahun negara tercinta ini. Aku tahu bagaimana cintanya sang bunda pada anak yang hidup di asrama dan harus bersusah payah membiayai pendidikannya. Bagiku sih itu wajar-wajar saja, seperti ibu-ibu lainnya. Namun kepercayaannya padaku tuk ikutan menskenario kejutan buat anaknya sedikit aneh. Ya aku memaklumi karena begitulah ala Mak emak plus 62. 







Pagi Senin itu masih berkabut karena kemarau masih berlangsung. Cuaca memang terasa sangat dingin di kota tape yang berada di 78-2.300 MDPL ini terasa sekali dinginnya. Tetiba saja darahku terasa mengalirkan energi yang menghangatkan kala seorang ibu yang masih belia menelpon tepat di belakangku. "Oh ibunya Vicka?", begitu sambutku sembari menoleh kearahnya karena antara suara di hp dan suara langsung di belakangku juga terdengar. Alamak balutan gamis birunya plus senyum manis itu mengagetkan sukmaku. Wih cantik pula , benakku. Kujabat saja tangannya tanpa ragu.  Dari tuturannya aku tahu kalau dia single parent makanya sangat protektif pada anaknya. Aku terhanyut dari keluhan-keluhannya dan tanpa sengaja kutepuk tepuk bahunya tuk menguatkan mentalnya. Dilalah tanganku diraih sembari diusapkan pada air mata yang meluncur jatuh di pipinya. Saya yakin dia hanya terbawa oleh keresahan hatinya, tapi bagiku ini justru kejutan pada perasaanku. Betapa tidak, seorang wanita cantik yang kenalnya hanya melalui hp yang diberikan anaknya justru menjadikan kami seperti begitu akrab saat itu. Dan entahlah, aku tanpa sadar menariknya sembari merangkul memberikan kehangatan kasih sayang yang menyemangati ibu anakku. Beruntunglah itu tidak di keramaian kampus, kami memang sengaja memilih tempat sepi karena memang hendak memberi kejutan, tak tahunya aku yang terkejut dengan momen haru  baginya tapi momen manis bagiku. "Pak maaf aku terbawa suasana perasaan terhadap anakku". "Oh It's okay, gapapa Bu, lagian dia anak kita", jawabku. "Owh, anak kita ya?", sambungnya. "Yach", jawabku singkat sembari menyekakan air mata di pipi halusnya dengan punggung tanganku.

____

Bondowoso, 27 Juli 2026


Jumat, 03 Juli 2026

3 HARI MENJELANG PULANG

 3 HARI MENJELANG PULANG 

Pak Tyqnue Azbynt 



Kerinduan tanah air bersitegang dengan keasyik-masyukan tanah suci. Di satu sisi kenikmatan beribadah masih menyandra jiwa di sisi lain waktu kepulangan akan menjelang. Predikat "haji" menjadi penanda strata sosial yang baru bagi para jamaah haji. 


Bagi lelaki sepulang dari tanah suci akan mengganti ikon-ikon busana habitualnya dengan tampilan baru yang "ala ala". And so seperti kebanyakan haji haji sebelumnya, tampilannya harus pula menyinambungkan tradisi itu. Pakai imamah, pakai, gamis, pakai surbanya dan piranti-piranti lain yang menyematinya. Khusus untuk surban ternyata tata cara pakainya tak semudah yang dibayangkan. Tak sekedar melingkar di kepala, bisa-bisa hanya seperti pemain sinetron yang gagal tampil. Mereka saling menunjukkan tutorial via YouTube. Satu persatu saling menunjukkan tampilannya, dan hasilnya bisa dibilang kek busana acakadut. Barulah setelah berkali-kali kami bisa menemukan triknya dengan tepat. Mau tampilan ala Yamani, ala Arabian, ala Afgan, ala India, tapi yang jelas tak ala dukun yang gaya paranormal nyaris otak korslet.

____


Bondowoso, 3 Juli 2026


___'

Minggu, 28 Juni 2026

DUA JAM MENAHAN PIPIS DI ATAS LANGIT

 DUA JAM MENAHAN PIPIS DI ATAS LANGIT 

Pak Tyqnue Azbynt 



"Bapak ibu, silahkan pakai sabuk  pengaman, cuaca sedang tidak bersahabat dan untuk sementara toilet di-lock tidak bisa digunakan", begitu pengumuman dari pramugari. Semula aku anggap ini biasa dan normal. Tapi saat pengumuman berlanjut, agar semua tirai ditutup, lampu dimatikan, dan lampu exit di lantai kapal sudah menyala, perasaanku sudah mulai was-was. Ditambah lagi komunikasi antara pilot, awak kabin dan pramugari dalam English bahwa pesawat mengalami turbulensi yang lama. Walaupun tidak sampai mengacak-acak koper kabin barang bawaan di rak pesawat, tapi perasaanku mengatakan bahwa ini sedang long trouble.


Sisi kanan kiri kuberitahu bahwa kapal sedang turbulensi, kusarankan agar banyak berdoa. Jawaban mereka malah santai bahwa mereka sedang diundang oleh Allah SWT tak mungkin akan ditelantarkan.Aku kesal dengan tanggapan mereka, akhirnya kupilih berdoa sendiri sembari ngebayangin kemungkinan terburuk yang akan menimpa dan harus berbuat apa.

 Setelah lewat dari dua jam barulah lampu mulai menyala dan toilet mulai unlock. Nah, saat pramugari memberitahu bahwa seat belt boleh dibuka dan toilet sudah bisa digunakan. Bayangkan!, sudah berjam-jam kebelet pipis akhirnya berebut antre masuk. Cilakanya prilaku orang +62 kadang susah diberitahu, bahwa jangan banyak menggunakan air, tetap saja basah-basahan. "Oh my God, It's wet lavatory", kata pramugari pada dirinya saat melihat lantainya basah. Berkali-kali dilap pakai kanibo dan tisu, tapi lagi-lagi basah. Akhirnya dia mengumumkan ," three lavatory are inoperative,  mohon maaf bapak ibu, 3 toilet tak bisa digunakan". Wajar saja  dan kebayang capeknya dia, berkali-kali ngelap dan berkali pula basah, padahal di bodi pesawat banyak serat fiber yang rawan korsleting listrik. Setelah kubilang ke teman-teman penumpang mereka hanya jawab sekenanya, "lah itu tugasnya kan, lagian kita sudah berjam-jam kebelet pipis di atas langit". Yang menimpali santai," ah ribet amat, kapan lagi kita bisa pipis di atas langit".

____

Sub-Med, Juni 2026

Kamis, 25 Juni 2026

 DI ATAS LANGIT MUSQAT OMAN

Pak Tyqnue Azbynt 



Alhamdulillah tsummalhamdulillah, tahaddusan bin ni'mah. Kebahagiaan menyeruak di sukma saat lantunan surah An-Nas menutup rihlah ayat ayat Qur an di atas langit Yaman.


Ahad Sore dari Oriens Hotel Mekkah kami kloter 87 bersiap menuju kota Nabi. Demi menyinambungkan petualangan tempat-tempat bersejarah aku sengaja memulai qs Alfatihah di pelataran.Masjidil Haram selepas Maghrib menunggu isya, lanjut ke Al-Baqarah. Esok harinya kami tawaf pamit tuk melanjutkan Arbain di kota Nabi. Dan benar saja esok hari kami semua sudah beranjak menuju Madinah di sore hari. sepanjang perjalanan hanya gedung gedung megah dan gundukan gunung-gunung batu yang tak kalah gagahnya. Pantat sudah mulai protes karena sejauh 450 km perjalanan no canda no musik, kami semua duduk dalam kepenatan yang sama.  Di rest area pertengahan antara Mekkah dan Madinah kami hanya berhenti tuk salat Maghrib isya dalam jamak qashar. Perjalan berlanjut dalam kepenatan yang bertambah. Pukul 10 malam kami baru sampai di OSDT Madinah Hotel beberapa ratus meter di Utara masjid Nabawi. 

Demi melepas penasaranku pada masjid itu, aku langsung menuju Sahn masjid di mana payung-payung raksasanya sedang mengatup  Salat pamit datang lanjut salat malam kulanjut baca Qur'an menyinambungkan bacaan di Mekkah. Tiap hari berwisata hati di masjid ini dengan menyela qiraah Qur an diantara waktu waktu salat kami. Beberapa hari berikutnya kami menuju Masjid Quba sekitar 3 km dari Nabawi. Di masjid yang pertama dibangun kanjeng nabi ini kulanjutkan surah surah Al-Qur'an. Lanjut masjid Ghamamah, Masjid Sayyidina Abu Bakar, masjid Sayyidina Ali semua kusempatkan baca lanjutan qiraahku. And  so on, dan kusisakan di jus terakhir karena obsesiku bisa hatam di atas langit jazirah Arab. Tanpa sarapan pagi kami sudah beranjak dari hotel tuk menuju bandara di Madinah. Karena tak terlalu jauh dalam beberapa saat kami sudah sampai di bandara itu. Setelah beberapa jam kami baru mulai meninggalkan tanah Madinah. Bacaan kulanjut sebentar dan berakhir saat tengah malam langit MUSQAT negara Oman. Tuntas sudah obsesiku menuntaskan hatamanku di atas langit tanah Jazirah Arab.

____

MUSQAT, 23 Juni 2026

Rabu, 24 Juni 2026

Onta, Jamal, and Camel

 ONTA, JAMAL and CAMEL

Pak Tyqnue Azbynt 



Semenjana Siang di tempat wisata kereta gantung di kawasan...tampak beberapa pelancong sedang memperhatikan tawaran ojek onta. Binatang itu rupanya sedang disorot oleh wisman termasuk juga Wak Kaji Thorik yang mencoba menyela pembibcangan antara orang Arab dan Scotland sebut saja Mc.Scott vs Mad Arab.

Mc. Scott: what's this? (Sambil menunjuk binatang dari dekat)

Mad Arab: aiwa hadza JAMAL.

Mc.Scott: I see, yeah CAMEL ( sambil manggut-manggut)

Dari dekat tanpa permisi langsung menyela datang si Wak Kaji Thorik.

Wak Kaji Thorik: apah yek apah yek ?

Mad Arab: hey man ANTA? ( siapa kamu)

Wak Kaji Thorik: oh yeh lah kok taoh, ajiyeh ONTAH, jhek perak atanyah Mak pak man celak .

____

Saudia Flight, 23 Juni 2026

Minggu, 21 Juni 2026

HALAL BAE' HARAM RIBA

 HALAL BAE' HARAM RIBA

Pak Tyqnue Azbynt 



Melewati gerbang 328 di Masjid Nabawi menjadi keseharian kami tuk menuntaskan Arbain. Di gate itu kami sesekali mampir ke gerai berbagai kebutuhan jamaah tuk sekedar lihat-lihat atau bahkan memang sengaja membeli, minimal dapat seprotan parfum di baju. 


20 Juni 2026 selepas zuhur aku bersegera saja jalan karena cuaca sangat gerah 43°C. Dilalah shop keeper menarikku sembari menawarkan gamis premium yang harganya 500-an ribu rupiah. Karena kuanggap terlalu mahal, kutawarlah 200 ribu rupiah, bahkan aku tunjukkan hanya itu uang saya. Diambillah uang itu sembari dia menawarkan gamis lain. And not deal. Dia tetap ngeyel harus beli, aku pun bilang tidak cocok, kecuali yang kutunjuk sebelumnya. Tawar punya tawar akhirnya sepakat 200 barang yang kumaksud. "It's for you, not more, halal". Aku pun senang sembari menjabat tangannya say thank you. 


Sampai di entrance hotel sudah dipenuhi orang-orang India dan Malaysia, akhirnya aku lewat pintu samping tuk masuk elevator yang harus harus naik area santai Lounge. Lumayan tak sebegitu padat hanya beberapa bibi India yang naik elevator.  Penat, panas, segera saja aku buka hasil dealing belanja. Yassalam, aku kena tipung mamang Arab di dekat  Masjid Nabawi. It's no matter, tapi sebagai orang muslim aku harus mengingatkan bahwa caranya salah. Selepas salat ashar di keesokan harinya, aku datangi dia tanpa kata, hanya mengacungkan jari tunjuk sembari kugoyang kiri kanan sebagai isyarat tidak boleh curang. Anehnya dia bilang jangan marah Pak Tua. Sayapun bilang,"Bae' halal riba haram, wa ahhalalluhul Bai ah wa  haramur riba". Saya tunjuk jari ke langit bahwa cara itu tak dikehendaki Tuhan.

____

ODST Madinah Hotel, 21 Juni 2026

Jumat, 19 Juni 2026

DI LANGIT MADINAH DI SAHN NABAWI

DI LANGIT MADINAH DI SAHN NABAWI 

Pak Tyqnue Azbynt 



Terasa kali ribuan percikan air springkler menyegarkan saat embusannya mendarat lembut di wajahku. Payung payung raksasa sudah mengembang hingga tak tampaklah langit Madinah tanpa bercak putih setitikpun. Tercatat 43° Celsius di berita hp-ku. Menunggu ashar tiba di sahn tak sesejuk di dalam masjid. Sengaja aku pilih sahn agar bisa sedikit berkenalan dengan orang-orang manca negara demi mengusir kantuk siangku.


Duduk di sahn lebih rileks dan bisa bertaarruf dengan saudara-saudara seiman dari berbagai belahan dunia ini. Dari busananya sudah bisa kita duga-duga sebenarnya meraka itu bangsa mana. Orang Afgan dengan surbanya yang disebut Lungee (surban Afganistan) yang panjangnya bis 5-6 meter melilit di kepala, atu patke/pagri warna hitam yang ujungnya dibiarkan menjuntai ke belakang seperti orang Taliban. Sementara orang Arab kita kenali dengan Ghutrah kain kotak-kotak putih atau merahnya. Orang Asia tenggara kebanyakan pakai sarung yang model dan bentuknya hampir sama, hanya saja Indonesia lebih spesifik dengan sarung batiknya. Wajar kalau batik Indonesia diakui UNESCO, lah wong ke tanah suci aja gak ketinggalan berbatik dengan Songkok Nasionalnya, ada dari bangsa lain menyebut Songkok Muhammad Suharto, ada yang bilang Songkok Sukarno, entahlah. 


Duduk di Sahn sembari saling mengenal simbol-simbol pakaian menjadi keakraban tersendiri, apalagi sambil bercanda-canda ringan. Namun ada yang sangat ektrim kadang dari pakaian surbannya saja ada dengan penghormatan khusus yang tidak boleh disentuh sembarang orang, karena dianggap mengganggu kehormatannya. Sedangkan songkok nasional kita kadang dijadikan pemukul santri oleh guru ngaji saat masih ngaji di surau. Dari penjelasannya mereka yang diselingi dengan isyarat karena bahasa yang digunakan beragam kadang Inggris kadang Arab. Diantara saudara-saudara seagama itu ada yang bawa anak kecil sembari menunjukkan gambar di HP nya, "Uncle, uncle what's this?", sembari menunjukkan gambar orang Nusantara. Duh sayangnya aku tak bnyak tahu, yang kukenal hanya blangkon dan Udeng Madura. Ah betapa tak menghargainya aku akan hazanah busana nasional ini. Wajarlah kalau Ashraf yang nanya sedikit kecewa, tapi untunglah aku berikan dia Udeng Madura yang selalu saya bawa dalam tas tentang. Walaupun sedikit kedodoran tapi dia senang kok.

__

Madinah, 19 Juni 2026

DUA WANITA

 DUA WANITA  Pak Tyqnue Azbynt  Seperti biasa pagi itu aku menyirami anggrek-anggrek di sekitaran gazebo belakang yang lumayan luas dan asri...