Total Tayangan Halaman

Senin, 19 Januari 2026

PIA PAK SYAM

 PIA PAK SYAM 

Pak Tyqnue Azbynt 



Jelang subuh bis kami tiba di pelataran parkir yang tak sebegitu jauh dari area komplek Asta Embah Sunan Ampel Surabaya. Sekedar melepas penat sembari antre toilet tuk mandi atau wudhu tuk salat subuh. Kupilih bantaran kecil di depan toilet duduk berselonjor sembari melihat teman-teman lain yang memang membawa pasangannya. Misi kami adalah mengikuti pelatihan manasik di asrama haji Sukolilo Surabaya, sedangkan ziarah kubur menjadi bagian lain yang mesti kami ikuti sesuai jadwal yang sudah diskenariokan. Tapi bukan itu pointnya yang hendak kuceritakan, ini tentang perang di dalam dadaku yang berkecamuk melawan diriku sendiri. Berapa tidak, hasil kerjaku bersama istri bidadari titipan mertua itu hanya dipakai untuk biaya ibadahku sendirian tanpa mengajaknya ke tanah suci. Walaupun alasanya adalah tuk bea studi anakku di luar negeri, tapi mengesampingkan istri sungguh terlalu ego.  Tangis kutahan agar aku terlihat begitu tegar, padahal sejatinya aku runtuh. 


Pak Syam yang hilir mudik meramahi kami, Bu Nasir yang sesekali melepas banyolan-banyolan kecil yang justru menjadi twist tersendiri. Bak Riskin Yang mengayomi kami-kami yang sudah manula, selalu saja dilakukannya dengan sabar. Cak Dul Sang Sensei yang menyemangatiku menjadi atensi terdiri bagiku. Tapi ketika otak dan perasaanku kembali menerawang jauh ke rumah, dadaku serasa berguncang keras, belum lagi harus pontang panting persiapan biaya, and finally aku terasa begitu rapuh. Selepas salat subuh kami bergegas ganti baju batik pemberian dari KBIHU muslimat NU sebagai baju komunitas.  Ziarah sebentar, sarapan pagi dan langsung bergegas menuju asrama haji.  Sampai di lokasi, aku ujug-ujug langsung memakai kain ihram dan merapat ke teman-teman yang hendak dibimbing Kiyai Maksum. tr sang motivator. Saat beliau bertanya perihal wudhu, hampir semua kami belum punya wudhu, padahal hendak salat Dhuha. Finally kami segera wudhu dan lanjut salat Dhuha.


Simulasi pelaksanaan manasik benar-benar memberi banyak gambaran bagi kami walaupun situasi sebenarnya di lapangan sangat mungkin berbeda  jauh terutama crawded-nya lautan manusia di sana. Satu hal yang mesti jadi perhatian adalah masalah kesehatan harus benar-benar prima karena ibadah ini banyak kegiatan fisik yang memerlukan effort tersendiri. 


Prosesi latihan selesai, ada temanku yang mandi lagi, ada yang duduk santai sembari menunggu pukul 10.30 tuk makan siang di RM Bromo Asri yang sudah di-booking oleh penanggung jawab event. Di acara santap siang itu, kembali hatiku diaduk-aduk manakala mereka santap siang bersama pasangannya sendiri-sendiri. Sebenarnya ada sih yang  berlagak "jomblo" seperti diriku dan tak mengajak pasangannya tuk tunaikan haji bersama. Alasan finansial dan hal lain yang bisa diceritakan. Tapi soal istriku kan sudah daftar tapi pada tahun tertentu sudah ditutup dan pada saat yang sama uang yang sudah di bank harus diambil demi kebutuhan anak yang praktek lapangan di BRIN (Badan Riset Nasional) selama 6 bulan plus pengayaan kajian ke Malaya University serta universitas lain di Malaysia. Intinya butuh biaya sampai ratusan juta. But soal istri kan belahan jiwa, bidadari titipan mertua. Inilah yang tetap menjadi alasan aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. 


Usai santap siang kami harus bergegas pulang karena sudah capai dan ingin menyapa orang-orang di rumah. Audio di bus melantunkan lagu-lagu kenangan masa mudaku  benar-benar mengajak perasaan ke masa belia, belum lagi ibu-ibu di belakangku yang ramai ngerumpi cerita kelincahannya di masa perawan dulu. Di sisi kiriku duduk seorang bapak yang konon lahir di jaman Jepang tapi kesehatannya masih prima. Hal unik yang membuatku angkat topi adalah habitualnya yang acap kali bergumam mengikuti lantunan lagu yang tayang di audio track bus itu. Hampir sepertiga perjalanan Pak Syam kembali berbagi jajanan pada kami begitu pun Pak Nasir dn Bu Nasir yang berbagi peduli. Saat Pak Nasir masih ke toilet tetiba kue pia yang diberikan. Pak Syam pada kami sudah tinggal 3 biji. Dan, "Eits saya minta lagi pak,  buat yayang suami mantan pacar", kata Bu Nasir kembali melepas banyolannya. End game nya kue Pia Pak Syam ini  menjadi cerita cinta Pak dan Bu Nasir yang diendorse-kan pada kami. Hemm jadi meri sama kemesraan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SAMBAL ANGGUR MERAH

 SAMBAL ANGGUR MERAH Pak Tyqnue Azbynt  Hem MBG, MBG. Makanan bergizi gratis itu masih tersisa beberapa ompreng di pojok kantor dekat pustak...