TERIMA TANPA SYARAT
Pak Tyqnue Azbynt
Ketika masuk dalam satu komunitas, semua mesti saling melengkapi dan saling memainkan peran masing-masing hingga menjadi satu sinergi. Yang bertugas sebagai pemberi, pelengkap, pengurang atau bahkan perusak jaringan hingga mumunculkan effort tuk menguatkan diri. Begitulah komunitas terbentuk, jika tak bisa bertahan maka seleksi alam akan mengeliminasi yang merusak sistem. Lalu bagaimana jika komunitas itu terbentuk karena situasi terpaksa?
Regu dalam komunitas haji, terbentuk karena sistem yang harus kita ikuti. Berbagai karakter dipertontonkan pada kita dan kita harus menerima apa adanya. No ngeluh, no protes, no manja, dan no marah. Dalam satu kamar di hotel kita akan menemui beda sifat beda gaya, termasuk sifat dan gaya kita belum tentu diterima di otak mereka.
Kita hanya menjaga agar kita, tidak ghasab milik teman apa pun itu, apalagi mencuri atau memakan haknya orang lain. Dan jika milik kita dighasab atau dicuri kita harus menyadari barangkali kita pernah begitu pada miliknya orang ketika di rumah, atau kita tak pernah menghargai hak milik orang. Dalam bertutur pun harus saling menyadari harus saling menerima. Jika salah, cukup di nasehati, selepas itu usai tugas kita.
Pernahkah kita lama menunggu kamar mandi, atau sendok makan kita hilang, sandal dan sebagainya. Gak usah salahkan orang, tapi tanyakan pada diri sendiri. Kita sudah menganalogi diri dengan pakaian ihram yang hanya dua helai kain. Sama, tak ada raja tak ada jelata, tak ada tentara tak ada hansip semuanya sama. And than, apakah kita masih menyalahkan orang lain? Padahal kita sudah tahu kita harus menyamakan diri, hanya sebagai hamba yang harus menerima takdir dari Nya.
___
Tanah Haram, 8 Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar