Total Tayangan Halaman

Kamis, 30 Juli 2026

SEVARA

 SEVARA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Seorang pelajar dari Tashkent Presidential School sedang asyik membaca buku di sebuah homestay Ubud Gianyar Bali. Otakku langsung kejang-kejang saat melihat wajah orang Asia tengah yang penduduknya mayoritas muslim datang ke Pulau Dewata. Jilbab, atlas, abaya panjang sutra plus kacamatanya menjadikannya begitu tampil memesona di hadapanku. Dari tas punggungnya yang tergeletak di atas kursi aku tahu kalau dia orang Uzbekh. Tulisannya jelas menuturkan jati diri bangsanya, entah salah atau benar dugaanku begitu.



Aku yang hanya sebagai driver ojol tak berani menyapanya, karena dia tak tampil seperti turis-turis kebanyakan yang memakai jasaku. Cantik, menawan, dan sopan dalam etika. Silau rasanya saat aku melirik bidadari dari langit ke 8 ini. Entah dari hal apa dia memanggilku dengan sopan saat aku menghayal tentangnya sembari menunggu panggilan aplikasi. "Assalamualaikum, "Would you like to try some Samsa? It's a warm baked pastry filled with meat,we make it in Uzbekistan!"   or do you want to try manti? They're steamed dumplings with meat inside. You eat them with sour cream", bukanya. "Wa alaikum salam, I prefer samsa because I don't like sour cream", jawabku sambil melongo tanpa sadar. Dia menjawab bersemuka di meja kayu bercat coklat kemerahan itu. Aroma kayu manis, dupa dan fifth eveneu parfumnya beradu tunjukkan pesona aroma. Semula yang kuduga dia hendak jalan-jalan dengan aplikasi ojolku ternyata hanya menanyakan hal-hal budaya yang berbeda jauh dengan tanah kelahirannya. Kenapa adat di Bali bertahan walaupun kontraksi dengan para turis barat yang bebas bahkan vulgar. Tak banyak yang kuberikan cerita padanya karena aku sendiri orang Jawa yang kerja di Bali. Justru dia malah tanya-tanya tentang Jawa juga. Ya sebisaku kuberi info via YouTube yang berbahasa Inggris tuk memudahkan baginya, karena jujur aku sendiri banyak tidak kenal secara detail tentang budaya, ya maklum aku kan hanya pencari cuan di Bali bukan duta budaya, he he.



Saat dia mengajak jalan-jalan tanpa motor, di pematang sawah Ubud menjadikan kami seperti kenal begitu lama. Antara nafsu menikmati pandang padanya dan misi menjelaskan  budaya lokal sebisanya, malah aku jadi kagum pada keramahannya, tuturnya yang lembut, terbuka dan penasarannya yang tinggi membuatku hati-hati bertingkah. Setelah agak lama barulah aku sadar kalau dia memang sedang ada misi tukar kenal budaya. Walaupun semula dianggapnya berat karena harus ke masyarakat yang mayoritas Hindu ternyata Bali lebih sekedar tempat wisata, tapi ia menunjukkan toleransinya yang tinggi. "It's our country,  not Bali only but more our islands too", jawabku. Saat azan Ashar di HP-ku berkumandang dia malah mengajakku segera pulang tuk tunaikan salat Ashar di homestay-nya. Segera saja aku mengikuti pintanya, dan ternyata ada 5 cewek lain yang ternyata temannya dengan misi yang sama. Dan aku yang terbiasa salat lalai, saat itu aku harus menjadi imam 6 bidadari Uzbekh ini. Hati bergetar ternyata Tuhan menegurku lewat Sevara dan kawan-kawannya. Saat aku nangis tersedu selepas salat, mereka, bertanya ada apa gerangan. Tuturanku padanyalah yang mereka memaklumi dengan kerjaku yang biasa bawa cewek-cewek bule dengan motorku. Sevara memberiku sebuah scarf yang biasa dipakainya. Kucium kain itu sembari meneteskan air mata, hatiku terasa runtuh oleh momen ini 

____

30, Juli 2026

Senin, 27 Juli 2026

ORIENS HOTEL

 ORIENS HOTEL 

Pak Tyqnue Azbynt 



Pertengahan Mei 2026  menjadi notulensi terindah dalam perjalanan hidup kami jamaah haji kloter 87. Dari beberapa KBIHU kami ramu jadi satu baik dari Bondowoso dan sebagian dari kota sebelah, Situbondo. Mungkin semua jiwa yang sedang bersamaku merasakan momen terindah itu. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah suci, Kota kelahiran Nabi Saw. Sumpah demi apa pun cuaca panas yang memuncak hingga47° kami abaikan belaka karena kami datang dengan perasaan penuh cinta, haru biru dalam kesukaan yang sulit kami gambarkan. 



Di Bandara internasional King Abdulaziz Jeddah (JED) 19 km dari Mekkah. Dengan terminal modernnya kami menuju hotel Oriens dengan menumpangi bus SAPTCO yang didriveri oleh mamang Pakistan yang tampan tapi agak pelit senyum itu. It's no problem yang penting kami bisa rehat di hotel setelah sekitar 12 jam-an kami di dalam Saudia flight. Kaki pegal, bokong stress dan sebagainya, apalagi masih mengenakan kain ihram yang harus menjauhi pantangan pantangan tertentu.  




Oriens Hotel menguakkan main entrance-nya dengan disambut para petugas sembari menunjukkan kamar kami masing-masing. Dengan segera para jamaah menuju kamar masing-masing dengan alasan-alasan yang privasi. Hasrat pipis, ingin rebahan dan sebagainnya. 


Sujud syukur di kamar hotel atas keselamatan kami, tak terasa menetes air mata haru dan bahagia. Demi tahu banyak hal, tak seberapa lama di sore itu aku turun ke lantai receptionis tuk sekedar tanya-tanya walaupun English-ku tak seberapa bagus. Mbak-mbak Arab dengan abaya merah moroonnya melayaniku sekenanya saja. Saya masih memaksa bertanya walaupun dia sedikit enggan menanggapiku, ya maklum bukan mahram, he he. Beruntunglah ada cewek Algeria yang sempat singgah di beranda sisi sebelah reception room. Dia lebih care dan justru saling berbagi informasi tentang budaya dan negara kami masing-masing. Rupa-rupa dia sedang menemui seorang staff yang bertugas sebagai pemberi arahan transportasi di hotel itu. Tepatnya petugas haji bagian info transportasi yang kebetulan seorang mahasiswa di Universitas Aleppo (Jamiah Hallaba) yang sedang ambil studi S2 syariah. Orang Jawa Tengah ini menyempatkan diri sebagai petugas haji demi cuan tuk bayar kebutuhan kuliah yang perbulannya di atas 5 juta rupiah. Ayesha yang kebetulan sedang berbicara denganku menjadi teman dekat sang mahasiswa. "He is my best friend only no more", katanya hendak meyakinkanku. "As best friend as boy friend no problem..", sambungku. Tetapi dia bersikukuh bahwa hanya sebagai teman baiknya dalam penyelesaian disertasinya yang kebetulan meneliti tentang Islam Nusantara. Entahlah, kebetulan atau apalah,  saat kutunjukkan tulisan-tulisanku di blogg yang banyak menyasar dan mengupas tentang Islam dan budaya di Indonesia, dia begitu tertariknya. Momen inilah yang menjadikan kami saling berbagi cerita via Instagram di sela kesibukan kami masing-masing. Momen ini indah tapi sekaligus menjadi godaan terberat bagiku dalam menjalankan ibadah, karena kami sering bersemuka Maya via Instagram. Bagaimana tidak hatiku tergoda, dengan cewek cantik tinggi semampai yang open minded, akrab dan selalu ramah denganku. Hingga kini sampai aku pulang haji masih sering sua Maya dengannya via Ome Tv internasional ataupun dengan Instagram. " Jaga diri, jaga kecantikanmu, agar aku tetap bisa memandangmu walaupun lewat Maya" begitu yang kuucapkan saat menutup pembicaraan. Rupanya dia cari google translate dan berkata, "ah kamu ada aja, nakalmu menggoda", katanya dengan logat yang kaku.

____

Bondowoso, 27 Juli 2026


AUGUST 17th

 AUGUST 17th

Pak Tyqnue Azbynt 



Senin pagi menjelang HUT RI ke 81 hilir mudik kendaraan mulai ramai yang seperti biasanya. Di jalanan pernak pernik Agustusan menyemangati warga tuk mengikuti ritual khidmat kenegaraan, begitu pun kami warga kampus. Bagiku ini sudah menjadi ritual negara tiap tahun namun kali ini menjadi beda karena salah seorang wali mahasiswa beberapa pekan sebelumnya telah menghubungiku tuk berikan kejutan ulang tahun untuk anaknya. Entahlah. Aku hanya mengikuti alurnya saja, dan kukira semacam kejutan receh, lebay ala Mak emak plus 62. 



Semula aku sedikit mengabaikannya karena kami harus merapat ke halaman kampus bersama para warga kampus lainnya, namun pesan pagi yang masuk via WhatsApp menjadikan sedikit atensi otakku. Ya bagaimana tidak, seorang ibu yang hendak memberikan kejutan pada putrinya yang lagi ulang tahun bersamaan dengan ulang tahun negara tercinta ini. Aku tahu bagaimana cintanya sang bunda pada anak yang hidup di asrama dan harus bersusah payah membiayai pendidikannya. Bagiku sih itu wajar-wajar saja, seperti ibu-ibu lainnya. Namun kepercayaannya padaku tuk ikutan menskenario kejutan buat anaknya sedikit aneh. Ya aku memaklumi karena begitulah ala Mak emak plus 62. 







Pagi Senin itu masih berkabut karena kemarau masih berlangsung. Cuaca memang terasa sangat dingin di kota tape yang berada di 78-2.300 MDPL ini terasa sekali dinginnya. Tetiba saja darahku terasa mengalirkan energi yang menghangatkan kala seorang ibu yang masih belia menelpon tepat di belakangku. "Oh ibunya Vicka?", begitu sambutku sembari menoleh kearahnya karena antara suara di hp dan suara langsung di belakangku juga terdengar. Alamak balutan gamis birunya plus senyum manis itu mengagetkan sukmaku. Wih cantik pula , benakku. Kujabat saja tangannya tanpa ragu.  Dari tuturannya aku tahu kalau dia single parent makanya sangat protektif pada anaknya. Aku terhanyut dari keluhan-keluhannya dan tanpa sengaja kutepuk tepuk bahunya tuk menguatkan mentalnya. Dilalah tanganku diraih sembari diusapkan pada air mata yang meluncur jatuh di pipinya. Saya yakin dia hanya terbawa oleh keresahan hatinya, tapi bagiku ini justru kejutan pada perasaanku. Betapa tidak, seorang wanita cantik yang kenalnya hanya melalui hp yang diberikan anaknya justru menjadikan kami seperti begitu akrab saat itu. Dan entahlah, aku tanpa sadar menariknya sembari merangkul memberikan kehangatan kasih sayang yang menyemangati ibu anakku. Beruntunglah itu tidak di keramaian kampus, kami memang sengaja memilih tempat sepi karena memang hendak memberi kejutan, tak tahunya aku yang terkejut dengan momen haru  baginya tapi momen manis bagiku. "Pak maaf aku terbawa suasana perasaan terhadap anakku". "Oh It's okay, gapapa Bu, lagian dia anak kita", jawabku. "Owh, anak kita ya?", sambungnya. "Yach", jawabku singkat sembari menyekakan air mata di pipi halusnya dengan punggung tanganku.

____

Bondowoso, 27 Juli 2026


Jumat, 03 Juli 2026

3 HARI MENJELANG PULANG

 3 HARI MENJELANG PULANG 

Pak Tyqnue Azbynt 



Kerinduan tanah air bersitegang dengan keasyik-masyukan tanah suci. Di satu sisi kenikmatan beribadah masih menyandra jiwa di sisi lain waktu kepulangan akan menjelang. Predikat "haji" menjadi penanda strata sosial yang baru bagi para jamaah haji. 


Bagi lelaki sepulang dari tanah suci akan mengganti ikon-ikon busana habitualnya dengan tampilan baru yang "ala ala". And so seperti kebanyakan haji haji sebelumnya, tampilannya harus pula menyinambungkan tradisi itu. Pakai imamah, pakai, gamis, pakai surbanya dan piranti-piranti lain yang menyematinya. Khusus untuk surban ternyata tata cara pakainya tak semudah yang dibayangkan. Tak sekedar melingkar di kepala, bisa-bisa hanya seperti pemain sinetron yang gagal tampil. Mereka saling menunjukkan tutorial via YouTube. Satu persatu saling menunjukkan tampilannya, dan hasilnya bisa dibilang kek busana acakadut. Barulah setelah berkali-kali kami bisa menemukan triknya dengan tepat. Mau tampilan ala Yamani, ala Arabian, ala Afgan, ala India, tapi yang jelas tak ala dukun yang gaya paranormal nyaris otak korslet.

____


Bondowoso, 3 Juli 2026


___'

SEVARA

 SEVARA  Pak Tyqnue Azbynt  Seorang pelajar dari Tashkent Presidential School sedang asyik membaca buku di sebuah homestay Ubud Gianyar Bali...