AUGUST 17th
Pak Tyqnue Azbynt
Senin pagi menjelang HUT RI ke 81 hilir mudik kendaraan mulai ramai yang seperti biasanya. Di jalanan pernak pernik Agustusan menyemangati warga tuk mengikuti ritual khidmat kenegaraan, begitu pun kami warga kampus. Bagiku ini sudah menjadi ritual negara tiap tahun namun kali ini menjadi beda karena salah seorang wali mahasiswa beberapa pekan sebelumnya telah menghubungiku tuk berikan kejutan ulang tahun untuk anaknya. Entahlah. Aku hanya mengikuti alurnya saja, dan kukira semacam kejutan receh, lebay ala Mak emak plus 62.
Semula aku sedikit mengabaikannya karena kami harus merapat ke halaman kampus bersama para warga kampus lainnya, namun pesan pagi yang masuk via WhatsApp menjadikan sedikit atensi otakku. Ya bagaimana tidak, seorang ibu yang hendak memberikan kejutan pada putrinya yang lagi ulang tahun bersamaan dengan ulang tahun negara tercinta ini. Aku tahu bagaimana cintanya sang bunda pada anak yang hidup di asrama dan harus bersusah payah membiayai pendidikannya. Bagiku sih itu wajar-wajar saja, seperti ibu-ibu lainnya. Namun kepercayaannya padaku tuk ikutan menskenario kejutan buat anaknya sedikit aneh. Ya aku memaklumi karena begitulah ala Mak emak plus 62.
Pagi Senin itu masih berkabut karena kemarau masih berlangsung. Cuaca memang terasa sangat dingin di kota tape yang berada di 78-2.300 MDPL ini terasa sekali dinginnya. Tetiba saja darahku terasa mengalirkan energi yang menghangatkan kala seorang ibu yang masih belia menelpon tepat di belakangku. "Oh ibunya Vicka?", begitu sambutku sembari menoleh kearahnya karena antara suara di hp dan suara langsung di belakangku juga terdengar. Alamak balutan gamis birunya plus senyum manis itu mengagetkan sukmaku. Wih cantik pula , benakku. Kujabat saja tangannya tanpa ragu. Dari tuturannya aku tahu kalau dia single parent makanya sangat protektif pada anaknya. Aku terhanyut dari keluhan-keluhannya dan tanpa sengaja kutepuk tepuk bahunya tuk menguatkan mentalnya. Dilalah tanganku diraih sembari diusapkan pada air mata yang meluncur jatuh di pipinya. Saya yakin dia hanya terbawa oleh keresahan hatinya, tapi bagiku ini justru kejutan pada perasaanku. Betapa tidak, seorang wanita cantik yang kenalnya hanya melalui hp yang diberikan anaknya justru menjadikan kami seperti begitu akrab saat itu. Dan entahlah, aku tanpa sadar menariknya sembari merangkul memberikan kehangatan kasih sayang yang menyemangati ibu anakku. Beruntunglah itu tidak di keramaian kampus, kami memang sengaja memilih tempat sepi karena memang hendak memberi kejutan, tak tahunya aku yang terkejut dengan momen haru baginya tapi momen manis bagiku. "Pak maaf aku terbawa suasana perasaan terhadap anakku". "Oh It's okay, gapapa Bu, lagian dia anak kita", jawabku. "Owh, anak kita ya?", sambungnya. "Yach", jawabku singkat sembari menyekakan air mata di pipi halusnya dengan punggung tanganku.
____
Bondowoso, 27 Juli 2026




Tidak ada komentar:
Posting Komentar