ORIENS HOTEL
Pak Tyqnue Azbynt
Pertengahan Mei 2026 menjadi notulensi terindah dalam perjalanan hidup kami jamaah haji kloter 87. Dari beberapa KBIHU kami ramu jadi satu baik dari Bondowoso dan sebagian dari kota sebelah, Situbondo. Mungkin semua jiwa yang sedang bersamaku merasakan momen terindah itu. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah suci, Kota kelahiran Nabi Saw. Sumpah demi apa pun cuaca panas yang memuncak hingga47° kami abaikan belaka karena kami datang dengan perasaan penuh cinta, haru biru dalam kesukaan yang sulit kami gambarkan.
Di Bandara internasional King Abdulaziz Jeddah (JED) 19 km dari Mekkah. Dengan terminal modernnya kami menuju hotel Oriens dengan menumpangi bus SAPTCO yang didriveri oleh mamang Pakistan yang tampan tapi agak pelit senyum itu. It's no problem yang penting kami bisa rehat di hotel setelah sekitar 12 jam-an kami di dalam Saudia flight. Kaki pegal, bokong stress dan sebagainya, apalagi masih mengenakan kain ihram yang harus menjauhi pantangan pantangan tertentu.
Oriens Hotel menguakkan main entrance-nya dengan disambut para petugas sembari menunjukkan kamar kami masing-masing. Dengan segera para jamaah menuju kamar masing-masing dengan alasan-alasan yang privasi. Hasrat pipis, ingin rebahan dan sebagainnya.
Sujud syukur di kamar hotel atas keselamatan kami, tak terasa menetes air mata haru dan bahagia. Demi tahu banyak hal, tak seberapa lama di sore itu aku turun ke lantai receptionis tuk sekedar tanya-tanya walaupun English-ku tak seberapa bagus. Mbak-mbak Arab dengan abaya merah moroonnya melayaniku sekenanya saja. Saya masih memaksa bertanya walaupun dia sedikit enggan menanggapiku, ya maklum bukan mahram, he he. Beruntunglah ada cewek Algeria yang sempat singgah di beranda sisi sebelah reception room. Dia lebih care dan justru saling berbagi informasi tentang budaya dan negara kami masing-masing. Rupa-rupa dia sedang menemui seorang staff yang bertugas sebagai pemberi arahan transportasi di hotel itu. Tepatnya petugas haji bagian info transportasi yang kebetulan seorang mahasiswa di Universitas Aleppo (Jamiah Hallaba) yang sedang ambil studi S2 syariah. Orang Jawa Tengah ini menyempatkan diri sebagai petugas haji demi cuan tuk bayar kebutuhan kuliah yang perbulannya di atas 5 juta rupiah. Ayesha yang kebetulan sedang berbicara denganku menjadi teman dekat sang mahasiswa. "He is my best friend only no more", katanya hendak meyakinkanku. "As best friend as boy friend no problem..", sambungku. Tetapi dia bersikukuh bahwa hanya sebagai teman baiknya dalam penyelesaian disertasinya yang kebetulan meneliti tentang Islam Nusantara. Entahlah, kebetulan atau apalah, saat kutunjukkan tulisan-tulisanku di blogg yang banyak menyasar dan mengupas tentang Islam dan budaya di Indonesia, dia begitu tertariknya. Momen inilah yang menjadikan kami saling berbagi cerita via Instagram di sela kesibukan kami masing-masing. Momen ini indah tapi sekaligus menjadi godaan terberat bagiku dalam menjalankan ibadah, karena kami sering bersemuka Maya via Instagram. Bagaimana tidak hatiku tergoda, dengan cewek cantik tinggi semampai yang open minded, akrab dan selalu ramah denganku. Hingga kini sampai aku pulang haji masih sering sua Maya dengannya via Ome Tv internasional ataupun dengan Instagram. " Jaga diri, jaga kecantikanmu, agar aku tetap bisa memandangmu walaupun lewat Maya" begitu yang kuucapkan saat menutup pembicaraan. Rupanya dia cari google translate dan berkata, "ah kamu ada aja, nakalmu menggoda", katanya dengan logat yang kaku.
____
Bondowoso, 27 Juli 2026



Tidak ada komentar:
Posting Komentar