SEVARA
Pak Tyqnue Azbynt
Seorang pelajar dari Tashkent Presidential School sedang asyik membaca buku di sebuah homestay Ubud Gianyar Bali. Otakku langsung kejang-kejang saat melihat wajah orang Asia tengah yang penduduknya mayoritas muslim datang ke Pulau Dewata. Jilbab, atlas, abaya panjang sutra plus kacamatanya menjadikannya begitu tampil memesona di hadapanku. Dari tas punggungnya yang tergeletak di atas kursi aku tahu kalau dia orang Uzbekh. Tulisannya jelas menuturkan jati diri bangsanya, entah salah atau benar dugaanku begitu.
Aku yang hanya sebagai driver ojol tak berani menyapanya, karena dia tak tampil seperti turis-turis kebanyakan yang memakai jasaku. Cantik, menawan, dan sopan dalam etika. Silau rasanya saat aku melirik bidadari dari langit ke 8 ini. Entah dari hal apa dia memanggilku dengan sopan saat aku menghayal tentangnya sembari menunggu panggilan aplikasi. "Assalamualaikum, "Would you like to try some Samsa? It's a warm baked pastry filled with meat,we make it in Uzbekistan!" or do you want to try manti? They're steamed dumplings with meat inside. You eat them with sour cream", bukanya. "Wa alaikum salam, I prefer samsa because I don't like sour cream", jawabku sambil melongo tanpa sadar. Dia menjawab bersemuka di meja kayu bercat coklat kemerahan itu. Aroma kayu manis, dupa dan fifth eveneu parfumnya beradu tunjukkan pesona aroma. Semula yang kuduga dia hendak jalan-jalan dengan aplikasi ojolku ternyata hanya menanyakan hal-hal budaya yang berbeda jauh dengan tanah kelahirannya. Kenapa adat di Bali bertahan walaupun kontraksi dengan para turis barat yang bebas bahkan vulgar. Tak banyak yang kuberikan cerita padanya karena aku sendiri orang Jawa yang kerja di Bali. Justru dia malah tanya-tanya tentang Jawa juga. Ya sebisaku kuberi info via YouTube yang berbahasa Inggris tuk memudahkan baginya, karena jujur aku sendiri banyak tidak kenal secara detail tentang budaya, ya maklum aku kan hanya pencari cuan di Bali bukan duta budaya, he he.
Saat dia mengajak jalan-jalan tanpa motor, di pematang sawah Ubud menjadikan kami seperti kenal begitu lama. Antara nafsu menikmati pandang padanya dan misi menjelaskan budaya lokal sebisanya, malah aku jadi kagum pada keramahannya, tuturnya yang lembut, terbuka dan penasarannya yang tinggi membuatku hati-hati bertingkah. Setelah agak lama barulah aku sadar kalau dia memang sedang ada misi tukar kenal budaya. Walaupun semula dianggapnya berat karena harus ke masyarakat yang mayoritas Hindu ternyata Bali lebih sekedar tempat wisata, tapi ia menunjukkan toleransinya yang tinggi. "It's our country, not Bali only but more our islands too", jawabku. Saat azan Ashar di HP-ku berkumandang dia malah mengajakku segera pulang tuk tunaikan salat Ashar di homestay-nya. Segera saja aku mengikuti pintanya, dan ternyata ada 5 cewek lain yang ternyata temannya dengan misi yang sama. Dan aku yang terbiasa salat lalai, saat itu aku harus menjadi imam 6 bidadari Uzbekh ini. Hati bergetar ternyata Tuhan menegurku lewat Sevara dan kawan-kawannya. Saat aku nangis tersedu selepas salat, mereka, bertanya ada apa gerangan. Tuturanku padanyalah yang mereka memaklumi dengan kerjaku yang biasa bawa cewek-cewek bule dengan motorku. Sevara memberiku sebuah scarf yang biasa dipakainya. Kucium kain itu sembari meneteskan air mata, hatiku terasa runtuh oleh momen ini
____
30, Juli 2026



Ust Tikno piyan punya selera tinggi 😁👍🙏
BalasHapus