DUA WANITA
Pak Tyqnue Azbynt
Seperti biasa pagi itu aku menyirami anggrek-anggrek di sekitaran gazebo belakang yang lumayan luas dan asri. Paranet hitam menutupi area sepanjang 20x7 meter yang membujur ke arah Utara berbatasan dengan tembok pagar setinggi 4 meter. Berbagai jenis anggrek mahal menjadi koleksi juraganku. Anggrek bulan, dendrobium, Vanda, catalea, dan cimbidium ditempatkan di area berbeda. Kerjaan rutinku ini seperti mudah, tapi ternyata butuh keseriusan tersendiri plus pengetahuan yang memadai karena beda jenis beda penanganannya. Karena itulah sudah 3 tahun lebih aku dipercaya juraganku tuk merawatnya dengan serius.
Tumben Bu Alena pagi itu mengamati anggrek-anggreknya dengan serius, padahal sudah berbulan-bulan beliau tak begitu memedulikannya. Rupanya pesona anggrek Vanda mokara yang lagi bermekaran menjadi perhatian seriusnya, begitu pun catalea hibrida Taiwan tak luput dari perhatian.
"Anto, kok sudah sebanyak ini anggrek ini? And banyak yang sudah kenop juga ya"
"Iya Bu, kalau yang jenis Vanda, dendro, dan catalea saya split sendiri, sementara yang bulan saya pakai keiki tuk buat anakan"
"Ah begitukah?, dari mana kamu tahu caranya?"
"YouTube Bu", jelasku. Sementara Bu Alena asyik mengamati catalea hijau lidah putih tampil sangat anggun.
"Oh ya besok selepas upacara Agustus aku perlu berbicara banyak denganmu, sekalian mau healing-healing di sini sembari bincang-bincang tentang anggrek.
Taman anggrek belakang katakanlah begitu memang tak boleh banyak orang berkunjung termasuk bibi Sum sang pembantu. Alasannya sederhana sih, biar steril katanya, padahal menurutku tidaklah harus begitu. Tapi karena titah juragan, ya hanya aku dan Bu Alena saja yang boleh berkunjung. Berbulan-bulan bahkan bisa dikata hampir setahun beliau tak memperhatikan taman itu, kenapa hari ini begitu peduli. Ya begitulah moodnya orang kaya. Wanita 40 tahunan ini masih betah melajang kembali padahal sebagai seorang direktur bank plat merah sejatinya sudah dibersamai seorang lelaki sukses. Mungkin kegagalan membina bahtera rumah tangga pertamanya yang membuatnya mati rasa.Mengejar karier menjadi alasannya. Menurutku sih tak seharusnya begitu. Rumah megah, luas masa hanya beliau, bapak Anton ayahnya yang sudah manula dan harus dilayani intens oleh Bibi Sum. Osteoporosis dan sesak napas membuatnya sangat rentan. Tetiba saja Bi Sum memanggil Bu Alena karena bapak megap-megap sesaknya kambuh. Aku sepontan saja ikut ke beranda samping tempat bapak sedang duduk santai. Entah apa maksudnya, dalam keadaan megap-megap beliau memanggilku, "Jaga Alena". Aku hanya mengangguk spontan. Tapi panggilan kedua yang juga memanggil Bu juraganku, justru menghadirkan teka-teki besar karena beliau berkata, "aku ridha kalian...", begitu katanya sambil memegang tangan kami dengan gemetar.
Bapak Bu Boss kondisi kesehatannya fluktuatif, kadang tampak segar kadang tampak layu yang tak bisa diprediksi datangnya. Sejak kejadian beberapa saat lalu, selalu menjadi misteri di perasaanku. Ah masa sih Bu Alena mau dijodohkan denganku?, ah dia kan sudah berumur dan kaya pula tak mungkinlah menjadi jodohku. Tapi apa maksud sang bapak?. Ya aku simpulkan sendiri bahwa bapak hanya menyuruh agar aku menjaganya, no more. Lagian aku masih sibuk penuntasan skripsi yang terlalu lama delay.
Pesan dari dosen pembimbing agar segera menuntaskan skripsiku, bahkan beliau memberikan tenggat waktu. Di sisi lain aku sedang intens menjaga bapak Bu Boss. Tapi karier harus aku prioritaskan.
Senin pagi jelang siang selepas upacara Agustus aku disuruh menghadap Bu Dosen yang tegas, no senyum-senyum dan kaku. "Dasar janda", begitu gumamku. "Anto, sengaja hari ini aku pilih waktu yang panjang dan tak ada mahasiswa lain yang boleh menghadap, agar hari ini kamu bisa tuntaskan skripsimu", katanya sembari meletakkan kacamata dekat vas terakota yang berisi Anggrek Bulan hibrida putih lidah ungu.
Celoteh Bu Dosenku sumpah bikin mumet kepalaku, coz perasaanku tertuju pada Bu Alena yang hendak healing di kebun anggrek bersamaku. "Bu untuk sementara otak saya masih blank, mohon beri waktu luang lain untukku". "No more", jawabnya. Tetiba saja ranting mangga yang rupanya sudah rapuh itu patah dan menimpa motorku. Dan Bu Aisyah dosenku kaget seraya meloncat hingga hampir jatuh terlentang. Reflekku telah sekonyong-konyong menyelamatkannya. Cilakanya Bu dosen malah tak sadarkan diri. Terpaksa ku bawa ke balai-balai tuk membaringkannya. Aku bingung tak bisa apa-apa. Bisaku hanya memijat lengannya tanpa maksud yang jelas. Belum 5 menit beliau siuman rada bingung karena melihat aku berkeringat
. "Kamu tak aneh-aneh kan Tok?"
"Tidak Bu, tapi maaf terpaksa membopong ibu ke sini sendirian", pungkasku.
"Yee pasti kamu nakal-nakal, ada cctv lho di sana tuh", imbuhnya.
"Tidak Bu, oh yaa, paling hanya membetulkan posisi gaun ibu yang kebuka, soalnya maaf paha ibu terbuka tadi", jawabku ngasal.
"Ah nakal juga kamu", sergahnya. "Dah bimbingan kali ini cukup, kamu boleh pulang.
Batok motorku ringsek terkena dahan mangga, untungnya masih bisa dibawa pulang ke tempat kerjaku.
"Lah lah Antooo, kenapa lelet, aku dah tadi lho nungguin kamu", hutbah Bu Alena sedikit kesal.
" Maaf Bu ada sedikit masalah, motor saya tertimpa ranting pohon patah, ini buktinya", jawabku. Untung ada bukti padahal Bu Aisyah tadi yang menyandra otakku.
Ternyata Bu Alena asyik ngajak ngobrol anggrek-anggreknya. Gaun silky merah cabai yang dikenakan tampak kontras dengan kulit putihnya. Walau usia 40 tahunan ternyata masih elok di mata.
"Hey Anto, kenapa bengong, aku tanya anggrek malah kamu lihat-lihat aku. Awas kesambet lho, bisa tak lelap bobo nanti malam kau", celetuknya.
"He he iyaa, ibu cantik".
"Nah kaan", sambarnya.
"Soalnya ibu beda sekarang, lebih gimana gitu", timpalku.
"Nah nah, nakal juga kamu ya?", sergahnya sambil menarik telingaku. Dilalah beliau malah terpeleset bungkus pupuk growmore dan aku tangkap deh dari pada jatuh terlentang.
"Yaaa Nemu moment kamu To, keluar aslinya. But, tapi kok gemetar Tanganmu, kenapa?" Tanyanya.
"Sebab ketimpa orang cantik Bu".
"Ah kamu, manfaatin kesempatan saja".
"He he Alhamdulillah".
"Yah kamu, jangan-jangan suka ma aku ya?"
"Yaah enggak lah Bu, masa sih ibu bilang gitu, kan bukan kelasnya, pamali lho, tapi kalau tak pamali yaa aku suka juga sih".
"Yaaah kamu, beda kelas lah denganku".
"Ya itu Bu, maaf"
Kamu kelas TK aku dah doktor, kan beda usia".
"Mang kalau beda usia masalah ya Bu?"
"Gak tahu juga, masa sih mahasiswa suka ma janda kepala 4?"
"Sukanya sih suka sih Bu, tapi beda derajat "
"Anto, sini mendekat, coba dengar detak jantungku", katanya sembari menaruh kepalaku di dadanya.
"Duh kamu gemetar lagi"
"Soalnya aku gak kuat Bu"
"Ingat pesan papa?"
"Memangnya kenapa Bu"
"Kamu kan direstui tuk jaga aku, masa ga peka sih", lanjutnya.
"Oh, siap Bu"
"Siap apa?"
"Siap bingung".
Belum tuntas berbincang, tiba-tiba bapak menelpon agar kami menghadap.
"Alena, kamu harus segera menikah, karena usiaku tak akan lama, lagian aku perlu cucu dari kamu anakku satu-satunya. Segera cari pasangan", pintanya.
"Anto aja pa, tapi nikah Sirri aja yang penting punya momongan dulu, aku malu kalau suamiku brondong nanti dibully teman-teman kantor", jelasnya yang tak jelas itu.
"No, no, harus resmi"
"Oke pap, yang penting Anto mau", katanya sembari lempar senyum manisnya.
"Nggih pah, saya mau".
Selepas itu malamku menjadi tersiksa. Tak bisa berkata-kata, usianya jauh denganku, tapi cantik. Jangan-jangan aku dijadikan budak, dan sebagainya. Perasaan itu bergejolak di dadaku. Pas lagi putar otak tengah malam, tiba-tiba ada pesan WhatsApp masuk di gawayku, "Mas Anto harus tanggung jawab lho", Aisyah.
"Maksudnya Bu?" Balasku pada Bu Dosen.
"Lah kamu kan lihat pahaku tadi, kamu dah lihat auratku, maka haram hukumnya" balasnya.
"Terus biar tak haram gimana Bu, kan tadi darurat Bu?"
"Ya halalin aja", gampang kan.
Aduuuuuh otakku mendidih seketika, bagaimana tidak dua janda yang sama-sama mapan kok malah milih aku yang masih usia mahasiswa sih. 40, 40 vs 23. Pilih Bu boss skripsi tak jadi, pilih Bu Dosen, menyia-nyiakan sang bankir yang masih cantik itu.
____
Bondowoso, 26 Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar