Total Tayangan Halaman

Minggu, 11 Agustus 2024

RITUAL CINTA

RITUAL CINTA 

Pak Tyqnue Azbynt 

Kepulanganku dari Pulau Dewata memang tak dinyana oleh dhiajeng manis di rumah tercinta. Sengaja aku tak mengabarkannya agar bisa memberi surprise pada si bibir manis. And begitulah ceritanya.

 Angin Agustus yang menghardik-hardik isi perut saat di atas kapal Ferry kuabaikan semata, karena rindu sudah meniadakan segala siksa. Ransel kulempar saat melihat dia kaget kehadiranku, kugamit tangan hangatnya, sembari kucium pipi lembuhnya. Oh rinduku tertumpah sudah kala itu. 


Malam tiba, kepenatan masih terasa, tapi masih saja ikut acara tahlilan meninggalnya tetangga kami. Inginnya rebahan sembari membersamainya, sayangnya masih terjeda. Sepulang tahlilan  kudapati dhiajeng sudah berbusana kasual dan berharum diri. Kucubit pipinya dan kucolek pinggulnya, dia tersenyum dan mengerlingkan mata. And kupetik Bintang-bintang di langitnya, kumainkan awan yang menyintas sembari menyenandungkan lagu asmara. "Dhiajeng ritual cintamu meluruhkan segala lara, senyummu meniadakan segala siksa". Saat bertutur seperti itu, rasanya dunia hanyalah milik kami, sedang kalian yang baca cerita ini hanya numpang saja.

___

Bondowoso, 11 Agustus 2024


Rabu, 07 Agustus 2024

Pergi karena Ilmu Pulang Gegara Rindu

 PERGI KARENA ILMU 

PULANG GEGARA RINDU 

Pak Tyqnue Azbynt 



Sore selepas Stadium General kusempatkan menuju ruang pustaka tuk sekedar selancar literasi. Duduk bersama para mahasiswa pasca menjadi ajang semuka para penggila ilmu. Bincang sekitar program studi, dan rencana pengembangan research tak bisa dikatakan mengasyikkan. Otakku kian penuh dan memusingkan. Entahlah justru aku ingin pulang kampung tuk sekedar menyantap sajian dari emak di desa

Angin kencang Agustus kadang masih saja menyiksa dedaunan di halaman kampus Universitas Lampung tempatku menuntaskan S2-ku. Sesekali aku melihat adik-adik mahasiswa yang sibuk menghadap academic advisor yang ruangnnya tepat di depan tempatku duduk rehat nyantai. Seorang mahasiswi dengan busana biru muda disela warna pink mengingatkanku pada seorang guru TK di rumahku. Entahlah, kenapa justru aku ingin pulang. Rinduku justru tak pada makanan emak lagi, kini beralih pada sang Bu guru di kampungku. Semalam dia sempat post di medsos kalau sedang lembur menuntaskan laporan. Biasanya aku membantu, tapi jarak yang begitu jauh menjadikan kami hanya LDRan saja. 

Saat lamunanku masih melambung tetiba saja, mahasiswi di depanku menegurku,"Eeeh masnya ngelamun apa lagi kesurupan ne?"  "Ah aku malah memikirkanmu," kualihkan pojokkn dia. Setelah beberapa saat kami justru kian akrab tuk menghilangkan kejenuhan. Dilalah pas asyik berbincang tetiba saja hp kami sama-sama ada calling. Rupanya di sedang di-calling pacarnya, sedangkan aku  di-calling emakku. "Le, Si Zara tanya kamu mulu katanya kangen," ungkap emakku  "Bilang saja Mak, kalau aku juga kangen, dan akan pulang kalau dia mau bercengkrama denganku". "Lah ini dia dikekat emak, kamu bilang saja sendiri!" Dan aku pun nekat sampaikan rasa kangen juga dan bercerita saat masih ABG yang ngaji bareng di Musala embah kiyai. "Yaaah kakang dulu nekat mencium aku kan?" celetuknya. "Lah kamu diam dan pipimu tampak.merah, dan bibirmu gemetar". "Yee kakang nakal," manjanya.  "Tapi kamu suka kan?" Godaku. "Iya sih, itu pertama kali aku dicium orang laki-laki, tahu gak aku pulang, nangis tapi pengen lagi". "Lah ...boleh diulang dong, demi itu aku besok akan pulang senyampang libur Agustus." Zara Eng aku rindu. 

___

Wonosari, 7 Agustus 2024

Minggu, 04 Agustus 2024

Lorong Kelas

 LORONG KELAS 

Pak Tyqnue Azbynt 



Rumus-rumus kimia itu telah mengusik ketenangan otak kami. Genk Ceriwis kelas Sebelas IPA dua. Aku, Eeng, Aang, Essa, dan Tien memilih sembunyi di tempat santuy, lorong kelas dekat Laboratorium Bahasa. Saat yang sudah menghabitual kala pelajaran kimia yang diampu Bpk Yudiskoso sang Doktor kimia itu. 


Sudah beberapa kali kami selalu aman,di tempat itu. Kami menjulukinya 'The Lord Class' sebagai falsify dari lorong kelas, sehingga tak banyak yang tahu. Tapi yang tak habis pikir kenapa justru hari itu kok ada sidak oleh guru pendidikan olahraga yang menjadi idaman  kami-kami geng ceriwis. Sontak saja kami yang biasa biayaan menjadi lumpuh mati langkah di hadapannya.


Gegara si Eeng yang mencoba-coba tuk mengerlingkan matanya pada guru cakep itu, dan anehnya Pak Ega guru itu malah seperti kaget. Sontak saja kami mulai berani menggodanya. Kami persilahkan dia duduk di teras dan membersamai kami. "Pak kami-kami sebenarnya menunggu moment ini tuk bisa bertemu bapak, karena kami fans bapak," celetuk  Essa dengan beraninya. Yang lebih ekstrim saat Tien dan Eeng malah bersandar ke bahu kiri kanannya. Kini pak guru itu justru yang tak bisa menahan emosinya, dia sudah kebawa baper apalagi saat cewek-cewek itu malah minta dijajanin. Dan finalnya ternyata kami-kami malam harinya dapat chat darinya walaupun hanya tanya-tanya kabar. Esok harinya kami bawa buket mawar merah dengan beberapa prank yang sudah kami rencanakan. Praktek basketball yang sudah biasa kami lakukan di tiap hari Sabtu  menjadi entri pointnya. Namun justru Pak Guru Ega hari itu malah praktek sprint. Namun rencana tetap kami lakukan. Essa harus pura-pura pingsan. Benar saja, acting Essa berjalan lancar, dan Pak Ega menjadi gupuh. Kami bopong Essa ke Health Section, atau UKS, dengan diiringi Pak Ega. Sesampai di ruang itu, kami meminta pak guru tuk bertanggung jawab. Dan Essa kian menjadi-jadi, dia pura-pura kejang, sedang yang lain berlagak panik. Terpaksa Pak guru menyelonjorkan kakinya, saat itulah kami ngerjain pak guru. "Eeeh pak guru kok tegang yaa, pegang kakiku," selorohnya. "Tenang pak aku dan teman-teman ini sudah jinak," katanya. Pak Ega tambah heran kala kami semua memberikan buket mawar merah sebagai tanda hormat kami padanya. "Aduh kena prank aku ne"

___

Bondowoso, 4 8 2024

Sabtu, 03 Agustus 2024

HEALING Melepas Hati Gundah bersamamu

 HEALING Melepas Hati Gundah bersamamu

Pak Tyqnue Azbynt 



Tugas yang banyak menumpuk telah mereduksi otakku. Merbersamai anak-anak bangsa yang menjadi tugas ditambah kesuntukan di rumah yang tak menemukan suasana santai telah memasung rasa bahagia ini.  Malam tersiksa siang terpenjara oleh banyak hal memusingkan dan menjadikan stressorku menumpuk. Intinya otakku, hatiku terlalu banyak polusi yang harus dibersihkan.


Sore itu seorang sahabat menyapa, basa basi and menebah raut muka gundahku. "Bisakah aku membuka senyum bibirmu yang terkunci itu?" Selorohnya. "Tolong jangan ganggu aku, aku perlu menenangkan pikiran, otakku perlu rehat dari beban yang membuatku serasa gila ini," Sejenak dia diam dan tak melanjutkan kekatanya. Temu hari itu tak menyolusikan apa-apa, dan stressku malah kian terasa. 


Selepas salat duha ada pesan masuk via WhatsApp, "Bebs, Are you free today?" Belum lagi kujawab dia telah mendaulatku tuk bersiap diri. Entah kenapa justru aku tak berpikir panjang, and finally aku ikut saja alurnya, pasrah pada rencananya. Mengendari motor old Vespa aku diboncengnya, diajak ke sebuah Mall dan disuruh shopping sepuasnya. Dan begitulah akhirnya aku sedikit terasa tenang, tapi yang membuatku kian terasa tenang saat di sebuah kafe dia menyanyikan lagu 'Unchained Melody' untukku, aku justru lebih tenang, apalagi saat dia memegang dagu seraya berkata,"Jangan kau paksa aku memilih jalan terjal tuk mencintaimu, kemarilah bersandar di dada kiriku," entah mengapa justru saat kudengar detak jantungnya tak sadar kuulurkan tanganku, dia mengecupnya. "Aku hari ini bahagia, terima kasih kau telah mengalirkan kembali darah ke seluruh tubuh ini, menghidupkan syaraf-syaraf matiku. Ciumlah keningku, agar kubisa terbang ke langit biru bersamamu." ucapku sepontan.

___

Bondowoso, 3 Agustus 2024

Kamis, 01 Agustus 2024

JANGAN SENYUM

 JANGAN SENYUM 

Pak Tyqnue Azbynt 




Senja itu kau datang ke bilikku hanya tuk mengantar senyum, lalu aku lupa engkau siapa. Yang kutahu hanyalah saat aku gila, khilaf dalam cinta, menaruh elok senyummu dalam lubuk kalbu. Kugamit tangan lembut itu kembali seraya cium keningmu. Kau diam pasrah bersandar ke dada kiriku.


Semula kuanggap saat itu terbasuhlah luka, sembuhkan lara. Nyatanya senyum itu hanya mereduksi asa, aku kian terpuruk manakala kau mengacuhkanku belaka. Namun saat khilafku itu takkan terlupakan bahwa kau pernah pasrah melepas senyum walaupun harus menyemat luka. Jika kau lupakan saat itu tak mengapalah karena aku pernah menyemaikan parsahmu di hati ini.


Kini bahtera cintaku tak tahu harus berlabuh kemana? Demi merehatkan jiwa dan raga biarlah kulempar sauh, agar biduk tak kian jauh berlayar. Sembari kembarakan jiwa menikmati belai angin yang mempermainkan ombak hingga ke ujung segara. Suatu saat kan kugamit tanganmu kembali dan memelukmu erat dalam kulum senyum tanpa paksa.

____

Bondowoso, 1 Agustus 2024

Selasa, 30 Juli 2024

ZARA ENG TAKDIR CINTA YANG TERGADAI

 ZARA ENG TAKDIR CINTA YANG TERGADAI

Pak Tyqnue Azbynt 



Angin tenggara menggoda perjalanan kami saat riding berdua di bulan Juli. Tak seberapa kencang memang laju motor kami demi merasakan asyik masyuk suasana namun angin sesekali mengingatkan agar jaga keseimbangan saat bermotor di jalan itu. Betapa pun lengangnya jalan itu namun sesekali ada saja motor yang melaju begitu kencangnya. 


Perjalanan bersama Zara Eng menjadi begitu indah bagiku karena itu ada kesempatan emas bersamanya. Dia memang bukan siapa-siapa bagiku. Wanita cantik milik lelaki seorang arsitek yang kerjanya kadang ke luar kota menjadikannya kesepian. Dia sebenarnya tahu bahwa aku begitu mencintainya karena sejak dulu pernah kusampaikan rasa padanya, namun pilihan orang tuanya pada seorang arsitek telah mematikan langkahku. Pekerjaanku yang hanya seorang guru les bahasa Inggris menjadi kurang menarik bagi keluarganya, apalagi sekarang orang banyak belajar Online dengan berbagai platform di media yang cukup murah. Finally aku kian tak berarti apa-apa bagi bapak ibunya. Entah takdir atau hanya kebetulan saja aku saat itu bisa bersamanya. Bertemu di sebuah kafe selepas shopping, kudekati, berbincang ke sana kemari yang kemudian berakhir dia turut bersamaku. Kutatap mata sayu dan bibirnya yang membasah, jantungku berdegup kencang. "Zara,  aku begitu lama harus memenjarakan rindu padamu karena engkau telah digaet orang lain. Tahukah kamu bahwa aku begitu mencintaimu?" Dia hanya tersenyum manis sembari menggamit tanganku. "Mas, aku tahu itu, tapi aku harus menjaga perasaan orang tuaku karena mereka tak pernah merestui cintamu," kekatanya menghancurkan hatiku seketika itu. "Kenapa kang mas murung begitu? Aku takkan menyalahkanmu kalau memang cinta padaku, agar kau bisa bersamaku hari ini bawalah aku ridding keliling tuk wisata kota. Hari ini aku milikmu," katanya pasrah.


Walau hanya bermesra di atas laju motor aku bisa menikmati rasaku. Hari itu dia menjadi milikku seutuhnya. Memang bersamanya hanya sehari saja, dan itu pun berkendara healing wisata keliling kota saja. "Mas jaga hatimu untukku, suatu saat kau akan jadi milikku, walau sekarang cintaku masih tergadai, suatu saat kau harus menebusnya. Hatiku akan tetap bersamamu hingga saatnya tiba," begitu celotehnya saat dia kuantar ke rumahnya. Kucium keningnya selepas  turun dari motorku, "Kan kutunggu bukti dari kekatamu sayang." Dia hanya mengangguk pelan sembari menempelkan bibirnya di dadaku, ditekannya keras-keras Agara ada bekar lipstiknya. Sampai saat ini baju itu tak kucuci, kusemprot dengan blingken cat clear agar tak terlunturkan. " Zara, I can't stop loving you." "I know," katanya sembari menggenitkan kerlingan matanya padaku.

___

Bondowoso, 30 Juli 2024

Jumat, 19 Juli 2024

Pecah Jambangan

 PECAH JAMBANGAN 

Pak Tyqnue Azbynt 



Harum semerbak menyela hingga ke ulu hati. Rekah senyum seelok mawar merah awal senyum di pagi hari. Ada sisa embun bekas cumbu semalam. Begitulah senyum itu dideskripsikan di otak kiriku. Batang berduri tegak tanpa penyanggah bergoyang di goda angin, begitulah nakalku padanya.


Aku biarkan ia berakar memenuhi jambanganku.  Siraman kasih sayang saat kutatap mesra wajah eloknya. Aku bahagia pada senyumnya yang penuh ragu. Dia memang elok walau deduri harus melukai hatiku  ”Dinda berkali kuacuhkan luka asal aku bisa menyentuh kelopakmu, menghirup aroma harummu,” begitulah selorohku padanya. Kubalut tangkainya dengan kain hitam agar tak tampak durinya, kusematkan pita merah maroon agar ia tak lupa.kenangan itu. Dia adalah mawar merahku. 


Malang tak dapat ditolah mujur tak mampu kuraih, begitulah diri ini. Sang mawar merah memanjangkan batangnya, memilih merambat kemana-mana hingga jambanganku pecah, dan durinya melukai hatiku. Perih menyiksa mengundang sejuta lara. Jambanganku pecah saat dia berontak ingin bebas mencari hara yang lebih memanjakan diri.

___

Bondowoso, 19 Juli 2024

Kamis, 18 Juli 2024

Maafkan Dinda Aku Harus Pergi

 MAAFKAN DINDA AKU HARUS PERGI 

Pak Tyqnue Azbynt 



Berat rasa di kepala saat beban pikiran menumpuk sedemikian banyaknya. Masalah ekonomi, tugas sebagai abdi negara, ditambah lagi studi anak-anakku yang berantakan. Kalau saja kepalaku seperti memori hp pastilah kureset semua data agar aku bisa memulai dari nol kembali.


Baru beberapa jam yang lalu kita bicarakan semua kesemrawutan ini, dan kau memilih diam, kalaupun ada ya hanyalah beberapa kata yang menurutku itu basa basi belaka. Ingin kuuraikan satu persatu kesemrawutan itu agar perlahan bisa sedikit pulih walau butuh finansial yang tak sedikit dan juga perlu memanage waktu dengan tepat. Asal kau senyum saja dadaku sedikit lega, apalagi kau gamit tanganku, lalu duduk bersemuka atau kau rebahkan diri ke bahu kiriku. Kudengar halus suara napasmu, kubelai gerai rambutmu atau apalah yang membuat hatiku asyik Masyuk meramu cinta. Berbagai dalih kau lontarkan padaku, halus tapi justru kian merenggangkan temali cintaku.


Keputusanmu tuk memilih sendiri, dan tak mau dibersamaiku justru memantapkan keputusanku. Perlu apa bertahan terlalu lama jika  hatiku kian kau panggang di terik mentari. Kau anggap aku memanfaatkanmu, adalah sebuah kesalahan. Kau bersikukuh untuk tetap ingin sendiri. Sebagai lelaki yang sudah tak dihargai aku pun harus menyadari untuk pergi, dari pada aku menjadi bangkai di istanamu. Selamat tinggal sayang, biarlah anak anak kita aku yang menyuplai finasialnya dan engkau menjadi hadlonahnya, karena begitulah tatanan fiqihnya, kecuali anak-anak itu mau bersamaku.

___

Bondowoso,18 Juli 2024

Rabu, 17 Juli 2024

Refreshing

 REFRESHING 

Pak Tyqnue Azbynt 



"Kang aku perlu refreshing, aku perlu healing," tuturnya penuh harap tuk mengenyahkan gundah di dada yang menghimpitnya. Aku tahu beban moral, dan kesulitan finansial sedang menderanya. Otaknya seakan full memory itu tampak dari senyumnya yang tak lagi mengembang indah. Matanya kuyu, semangat menurun yang ujung-ujungnya bad mood. 


Walaupun sebagai seorang dosen dia tak mampu mengkamuflasekan kecewa pada dirinya. Dari tuturnya via WhatsApp ia mencoba menggelayutkan perasaanya di benakku. Aku dan dia yang beda kampus, memang hanya bisa sharing via medsos di antara kesibukan masing-masing. Dan entah kenapa malam itu kusempatkan membawanya ke taman kota tuk sekedar saling berbahasa hati dengan saling pandang, tanpa kata. Kutangkap maknanya, dia ingin bermanja.


Selepas nyantai di kursi taman kami bergerak menyusuri jalanan kota dengan ber-Vespa ria. Dingin malam tak mampu membekukan gejolak di dada kami. Saat dia merapat dan menggelayut mesra, ada gemuruh di dadaku. Menepi di sebuah outlet dia fixing sebuah leather Jacket buatan Korea, diperlihatkan padaku sembari bergaya manja. "It's fix to you," timpalku. "I see,"jawabnya."We must buy it." Selepas membayarnya kami kembali susuri jalanan kota tuk mencari road food tuk makan malam kami. Kulingkarkan tanganku di pinggangnya sembari kukecup keningnya. "Beib I can't stop loving you." Pandangan pasrahnya melumat keangkuhan hatiku.

___

Bondowoso, 17 Juli 2024

Sabtu, 06 Juli 2024

DECEMBER 28th

 DECEMBER 28th

Pak Tyqnue Azbynt 



Mengenalnya kembali sejak hilang dari dunia ABG adalah anugerah sukma yang begitu indah. Usia 14 yang dia lepas dan merajut temali kasih pilihan ayah bundanya. Sebagai gadis bau kencur dan manut pada titah orang tua keniscayaan itu dijalani jua walau tak tahu harus bagaimana.


Masa bermain hilang begitu saja dan memulai dunia yang beda, melakoni segala pranata rumah tangga. Walau kaku dan terpaksa, dunia itu dijalani juga. Beberapa tahun kemudian ia telah dianugerahi seorang bocah imut dengan kulit sedikit gelap yang begitu imutnya. Tak banyak yang dituntut pada sesiapa, dia hanya mengikuti jalan takdirnya.


Sang waktu berjalan tak pernah henti, luka lara dan suka cita menumpuk menjadi jalinan memori yang teramat lengkap. Toh akhirnya kebahagiaan itu lebih banyak tenimbang dukanya. Sang anak gadisnya telah meremaja , menuntaskan  kesarjanaannya di sebuah pesantren. Di sana pulalah anaknya dipertemukan dengan Arjuna pilihannya, sama-sama menyandang Sarjana Hukum. 


Terasa begitu singkat perjalanan kisahnya, sepasang sejoli anaknya pun menikah dan setahun kemudian lahirlah cucu mungil dengan wajah imutnya. Lengkaplah sudah kebahagiaan itu, namun di tengah kebahagiaan Sang Suami belum sempat menimang cucundanya, telah meninggalkannya dn menghadap Sang Kuasa.


Seakan dunia ini tak adil, ingin rasanya aku membalutkan luka hatinya dan menyeka air mata dukanya. Menatap tanpa senyum eloknya bagai mendung penyerta hujan. Curhatannya telah meruntuhkan hatiku, tapi apa daya dia berada di pagar istana, sedang aku hanyalah jelata dan bukan siapa-siapa. Saat 28 Desember saat Yaumil miladnya kuhanya bisa berkata, "Jaga diri, lakoni dengan penuh kesabaran karena Tuhan tak pernah aniaya terhadap ummatnya, pasti ada anugerah terindah yang dipersiapkan Nya."

___

Bondowoso, 6 Juli 2024

HIDUP DI DUA ALAM

 HIDUP DI DUA ALAM Pak Tyqnue Azbynt Motor kubejek abis hingga bajuku kiwir-kiwir digoda angin. Bayangin aja Upacara Hari Santri Nasional di...