HIDUP DI DUA ALAM
Pak Tyqnue Azbynt
Motor kubejek abis hingga bajuku kiwir-kiwir digoda angin. Bayangin aja Upacara Hari Santri Nasional dimulai pukul 06.30 sementara itu aku masih harus SIPP absen di kantor Diknas. Jarak yang lebih dari 10 km rasanya harus kubikin shortcut dengan cara gaspol gaspol. Benar saja aku bisa sampai ke acara upacara di MTsN 1 dengan segera walaupun sudah sampai pada saat pembacaan naskah Pancasila.
Aku ambil posisi di dekat photo booth bagian belakang barisan, langsung posisi siap. Dilalah ada panitia yang menyilakan aku agar duduk di posisi tamu VIP. "Bapak silakan di depan saja, yang memang untuk tamu kehormatan". "Lah aku peserta biasa mas mas..." Jawabku. Dia menyeken tubuhku dari atas sampai bawah karena bajuku beda sendiri. Aku sadar aku salah kostum tapi aku cuek saja, walaupun banyak yang menggojlok, terutama para senior. "Emang sengaja pak, biar pada tahu bahwa aku bukan pegawai kemenag", timpalku ngeles. Aku memang pegawai di lingkungan Diknas yang kebetulan dipekerjakan di luar ngkungan madrasah swasta yang notabene di bawah kemenag. Di undangan tertulis seragam yang dikenakan adalah seragam yang dipakai hari itu. Aku pikir kalau kamis di Diknas kan pakai batik, kalau bawahannya pakai sarung kan kek orang mau kondangan, dan kusiasati pakai baju krem plus sarung batik, pin lencana korpri dan nametag. Kuberangkat dengan bangga, eeeh dilalah salah kostum. He he.
Penderitaanku tak sekedar salah kostum, dilalah pas cari kolom nama absensi tak ada pula namaku. Yaa dasar nasib hidup di dua alam kadang sering mis kabar. Tapi karena sudah usia gaek ya aku tak kehabisan akal. Aku bilang, "Aku memang ditugaskan dari langit ke 8 tuk memberkati Hari Santri ini, karena peserta upacaranya banyak yang belum sunat". Dan kontan mereka ketiwi-ketiwi. Akhir cerita pas aku foto-foto di depan photo booth malah HP error dengan pesan "tidak bisa memuat photo", saat dicek di rumah ada tulisan 'memory tersisa 7kb'. Hah apes.
__
Track-Ta kan, 22-10-2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar