MAAFKAN DINDA AKU HARUS PERGI
Pak Tyqnue Azbynt
Berat rasa di kepala saat beban pikiran menumpuk sedemikian banyaknya. Masalah ekonomi, tugas sebagai abdi negara, ditambah lagi studi anak-anakku yang berantakan. Kalau saja kepalaku seperti memori hp pastilah kureset semua data agar aku bisa memulai dari nol kembali.
Baru beberapa jam yang lalu kita bicarakan semua kesemrawutan ini, dan kau memilih diam, kalaupun ada ya hanyalah beberapa kata yang menurutku itu basa basi belaka. Ingin kuuraikan satu persatu kesemrawutan itu agar perlahan bisa sedikit pulih walau butuh finansial yang tak sedikit dan juga perlu memanage waktu dengan tepat. Asal kau senyum saja dadaku sedikit lega, apalagi kau gamit tanganku, lalu duduk bersemuka atau kau rebahkan diri ke bahu kiriku. Kudengar halus suara napasmu, kubelai gerai rambutmu atau apalah yang membuat hatiku asyik Masyuk meramu cinta. Berbagai dalih kau lontarkan padaku, halus tapi justru kian merenggangkan temali cintaku.
Keputusanmu tuk memilih sendiri, dan tak mau dibersamaiku justru memantapkan keputusanku. Perlu apa bertahan terlalu lama jika hatiku kian kau panggang di terik mentari. Kau anggap aku memanfaatkanmu, adalah sebuah kesalahan. Kau bersikukuh untuk tetap ingin sendiri. Sebagai lelaki yang sudah tak dihargai aku pun harus menyadari untuk pergi, dari pada aku menjadi bangkai di istanamu. Selamat tinggal sayang, biarlah anak anak kita aku yang menyuplai finasialnya dan engkau menjadi hadlonahnya, karena begitulah tatanan fiqihnya, kecuali anak-anak itu mau bersamaku.
___
Bondowoso,18 Juli 2024

Tidak ada komentar:
Posting Komentar