Total Tayangan Halaman

Minggu, 04 Agustus 2024

Lorong Kelas

 LORONG KELAS 

Pak Tyqnue Azbynt 



Rumus-rumus kimia itu telah mengusik ketenangan otak kami. Genk Ceriwis kelas Sebelas IPA dua. Aku, Eeng, Aang, Essa, dan Tien memilih sembunyi di tempat santuy, lorong kelas dekat Laboratorium Bahasa. Saat yang sudah menghabitual kala pelajaran kimia yang diampu Bpk Yudiskoso sang Doktor kimia itu. 


Sudah beberapa kali kami selalu aman,di tempat itu. Kami menjulukinya 'The Lord Class' sebagai falsify dari lorong kelas, sehingga tak banyak yang tahu. Tapi yang tak habis pikir kenapa justru hari itu kok ada sidak oleh guru pendidikan olahraga yang menjadi idaman  kami-kami geng ceriwis. Sontak saja kami yang biasa biayaan menjadi lumpuh mati langkah di hadapannya.


Gegara si Eeng yang mencoba-coba tuk mengerlingkan matanya pada guru cakep itu, dan anehnya Pak Ega guru itu malah seperti kaget. Sontak saja kami mulai berani menggodanya. Kami persilahkan dia duduk di teras dan membersamai kami. "Pak kami-kami sebenarnya menunggu moment ini tuk bisa bertemu bapak, karena kami fans bapak," celetuk  Essa dengan beraninya. Yang lebih ekstrim saat Tien dan Eeng malah bersandar ke bahu kiri kanannya. Kini pak guru itu justru yang tak bisa menahan emosinya, dia sudah kebawa baper apalagi saat cewek-cewek itu malah minta dijajanin. Dan finalnya ternyata kami-kami malam harinya dapat chat darinya walaupun hanya tanya-tanya kabar. Esok harinya kami bawa buket mawar merah dengan beberapa prank yang sudah kami rencanakan. Praktek basketball yang sudah biasa kami lakukan di tiap hari Sabtu  menjadi entri pointnya. Namun justru Pak Guru Ega hari itu malah praktek sprint. Namun rencana tetap kami lakukan. Essa harus pura-pura pingsan. Benar saja, acting Essa berjalan lancar, dan Pak Ega menjadi gupuh. Kami bopong Essa ke Health Section, atau UKS, dengan diiringi Pak Ega. Sesampai di ruang itu, kami meminta pak guru tuk bertanggung jawab. Dan Essa kian menjadi-jadi, dia pura-pura kejang, sedang yang lain berlagak panik. Terpaksa Pak guru menyelonjorkan kakinya, saat itulah kami ngerjain pak guru. "Eeeh pak guru kok tegang yaa, pegang kakiku," selorohnya. "Tenang pak aku dan teman-teman ini sudah jinak," katanya. Pak Ega tambah heran kala kami semua memberikan buket mawar merah sebagai tanda hormat kami padanya. "Aduh kena prank aku ne"

___

Bondowoso, 4 8 2024

Sabtu, 03 Agustus 2024

HEALING Melepas Hati Gundah bersamamu

 HEALING Melepas Hati Gundah bersamamu

Pak Tyqnue Azbynt 



Tugas yang banyak menumpuk telah mereduksi otakku. Merbersamai anak-anak bangsa yang menjadi tugas ditambah kesuntukan di rumah yang tak menemukan suasana santai telah memasung rasa bahagia ini.  Malam tersiksa siang terpenjara oleh banyak hal memusingkan dan menjadikan stressorku menumpuk. Intinya otakku, hatiku terlalu banyak polusi yang harus dibersihkan.


Sore itu seorang sahabat menyapa, basa basi and menebah raut muka gundahku. "Bisakah aku membuka senyum bibirmu yang terkunci itu?" Selorohnya. "Tolong jangan ganggu aku, aku perlu menenangkan pikiran, otakku perlu rehat dari beban yang membuatku serasa gila ini," Sejenak dia diam dan tak melanjutkan kekatanya. Temu hari itu tak menyolusikan apa-apa, dan stressku malah kian terasa. 


Selepas salat duha ada pesan masuk via WhatsApp, "Bebs, Are you free today?" Belum lagi kujawab dia telah mendaulatku tuk bersiap diri. Entah kenapa justru aku tak berpikir panjang, and finally aku ikut saja alurnya, pasrah pada rencananya. Mengendari motor old Vespa aku diboncengnya, diajak ke sebuah Mall dan disuruh shopping sepuasnya. Dan begitulah akhirnya aku sedikit terasa tenang, tapi yang membuatku kian terasa tenang saat di sebuah kafe dia menyanyikan lagu 'Unchained Melody' untukku, aku justru lebih tenang, apalagi saat dia memegang dagu seraya berkata,"Jangan kau paksa aku memilih jalan terjal tuk mencintaimu, kemarilah bersandar di dada kiriku," entah mengapa justru saat kudengar detak jantungnya tak sadar kuulurkan tanganku, dia mengecupnya. "Aku hari ini bahagia, terima kasih kau telah mengalirkan kembali darah ke seluruh tubuh ini, menghidupkan syaraf-syaraf matiku. Ciumlah keningku, agar kubisa terbang ke langit biru bersamamu." ucapku sepontan.

___

Bondowoso, 3 Agustus 2024

Kamis, 01 Agustus 2024

JANGAN SENYUM

 JANGAN SENYUM 

Pak Tyqnue Azbynt 




Senja itu kau datang ke bilikku hanya tuk mengantar senyum, lalu aku lupa engkau siapa. Yang kutahu hanyalah saat aku gila, khilaf dalam cinta, menaruh elok senyummu dalam lubuk kalbu. Kugamit tangan lembut itu kembali seraya cium keningmu. Kau diam pasrah bersandar ke dada kiriku.


Semula kuanggap saat itu terbasuhlah luka, sembuhkan lara. Nyatanya senyum itu hanya mereduksi asa, aku kian terpuruk manakala kau mengacuhkanku belaka. Namun saat khilafku itu takkan terlupakan bahwa kau pernah pasrah melepas senyum walaupun harus menyemat luka. Jika kau lupakan saat itu tak mengapalah karena aku pernah menyemaikan parsahmu di hati ini.


Kini bahtera cintaku tak tahu harus berlabuh kemana? Demi merehatkan jiwa dan raga biarlah kulempar sauh, agar biduk tak kian jauh berlayar. Sembari kembarakan jiwa menikmati belai angin yang mempermainkan ombak hingga ke ujung segara. Suatu saat kan kugamit tanganmu kembali dan memelukmu erat dalam kulum senyum tanpa paksa.

____

Bondowoso, 1 Agustus 2024

Selasa, 30 Juli 2024

ZARA ENG TAKDIR CINTA YANG TERGADAI

 ZARA ENG TAKDIR CINTA YANG TERGADAI

Pak Tyqnue Azbynt 



Angin tenggara menggoda perjalanan kami saat riding berdua di bulan Juli. Tak seberapa kencang memang laju motor kami demi merasakan asyik masyuk suasana namun angin sesekali mengingatkan agar jaga keseimbangan saat bermotor di jalan itu. Betapa pun lengangnya jalan itu namun sesekali ada saja motor yang melaju begitu kencangnya. 


Perjalanan bersama Zara Eng menjadi begitu indah bagiku karena itu ada kesempatan emas bersamanya. Dia memang bukan siapa-siapa bagiku. Wanita cantik milik lelaki seorang arsitek yang kerjanya kadang ke luar kota menjadikannya kesepian. Dia sebenarnya tahu bahwa aku begitu mencintainya karena sejak dulu pernah kusampaikan rasa padanya, namun pilihan orang tuanya pada seorang arsitek telah mematikan langkahku. Pekerjaanku yang hanya seorang guru les bahasa Inggris menjadi kurang menarik bagi keluarganya, apalagi sekarang orang banyak belajar Online dengan berbagai platform di media yang cukup murah. Finally aku kian tak berarti apa-apa bagi bapak ibunya. Entah takdir atau hanya kebetulan saja aku saat itu bisa bersamanya. Bertemu di sebuah kafe selepas shopping, kudekati, berbincang ke sana kemari yang kemudian berakhir dia turut bersamaku. Kutatap mata sayu dan bibirnya yang membasah, jantungku berdegup kencang. "Zara,  aku begitu lama harus memenjarakan rindu padamu karena engkau telah digaet orang lain. Tahukah kamu bahwa aku begitu mencintaimu?" Dia hanya tersenyum manis sembari menggamit tanganku. "Mas, aku tahu itu, tapi aku harus menjaga perasaan orang tuaku karena mereka tak pernah merestui cintamu," kekatanya menghancurkan hatiku seketika itu. "Kenapa kang mas murung begitu? Aku takkan menyalahkanmu kalau memang cinta padaku, agar kau bisa bersamaku hari ini bawalah aku ridding keliling tuk wisata kota. Hari ini aku milikmu," katanya pasrah.


Walau hanya bermesra di atas laju motor aku bisa menikmati rasaku. Hari itu dia menjadi milikku seutuhnya. Memang bersamanya hanya sehari saja, dan itu pun berkendara healing wisata keliling kota saja. "Mas jaga hatimu untukku, suatu saat kau akan jadi milikku, walau sekarang cintaku masih tergadai, suatu saat kau harus menebusnya. Hatiku akan tetap bersamamu hingga saatnya tiba," begitu celotehnya saat dia kuantar ke rumahnya. Kucium keningnya selepas  turun dari motorku, "Kan kutunggu bukti dari kekatamu sayang." Dia hanya mengangguk pelan sembari menempelkan bibirnya di dadaku, ditekannya keras-keras Agara ada bekar lipstiknya. Sampai saat ini baju itu tak kucuci, kusemprot dengan blingken cat clear agar tak terlunturkan. " Zara, I can't stop loving you." "I know," katanya sembari menggenitkan kerlingan matanya padaku.

___

Bondowoso, 30 Juli 2024

Jumat, 19 Juli 2024

Pecah Jambangan

 PECAH JAMBANGAN 

Pak Tyqnue Azbynt 



Harum semerbak menyela hingga ke ulu hati. Rekah senyum seelok mawar merah awal senyum di pagi hari. Ada sisa embun bekas cumbu semalam. Begitulah senyum itu dideskripsikan di otak kiriku. Batang berduri tegak tanpa penyanggah bergoyang di goda angin, begitulah nakalku padanya.


Aku biarkan ia berakar memenuhi jambanganku.  Siraman kasih sayang saat kutatap mesra wajah eloknya. Aku bahagia pada senyumnya yang penuh ragu. Dia memang elok walau deduri harus melukai hatiku  ”Dinda berkali kuacuhkan luka asal aku bisa menyentuh kelopakmu, menghirup aroma harummu,” begitulah selorohku padanya. Kubalut tangkainya dengan kain hitam agar tak tampak durinya, kusematkan pita merah maroon agar ia tak lupa.kenangan itu. Dia adalah mawar merahku. 


Malang tak dapat ditolah mujur tak mampu kuraih, begitulah diri ini. Sang mawar merah memanjangkan batangnya, memilih merambat kemana-mana hingga jambanganku pecah, dan durinya melukai hatiku. Perih menyiksa mengundang sejuta lara. Jambanganku pecah saat dia berontak ingin bebas mencari hara yang lebih memanjakan diri.

___

Bondowoso, 19 Juli 2024

Kamis, 18 Juli 2024

Maafkan Dinda Aku Harus Pergi

 MAAFKAN DINDA AKU HARUS PERGI 

Pak Tyqnue Azbynt 



Berat rasa di kepala saat beban pikiran menumpuk sedemikian banyaknya. Masalah ekonomi, tugas sebagai abdi negara, ditambah lagi studi anak-anakku yang berantakan. Kalau saja kepalaku seperti memori hp pastilah kureset semua data agar aku bisa memulai dari nol kembali.


Baru beberapa jam yang lalu kita bicarakan semua kesemrawutan ini, dan kau memilih diam, kalaupun ada ya hanyalah beberapa kata yang menurutku itu basa basi belaka. Ingin kuuraikan satu persatu kesemrawutan itu agar perlahan bisa sedikit pulih walau butuh finansial yang tak sedikit dan juga perlu memanage waktu dengan tepat. Asal kau senyum saja dadaku sedikit lega, apalagi kau gamit tanganku, lalu duduk bersemuka atau kau rebahkan diri ke bahu kiriku. Kudengar halus suara napasmu, kubelai gerai rambutmu atau apalah yang membuat hatiku asyik Masyuk meramu cinta. Berbagai dalih kau lontarkan padaku, halus tapi justru kian merenggangkan temali cintaku.


Keputusanmu tuk memilih sendiri, dan tak mau dibersamaiku justru memantapkan keputusanku. Perlu apa bertahan terlalu lama jika  hatiku kian kau panggang di terik mentari. Kau anggap aku memanfaatkanmu, adalah sebuah kesalahan. Kau bersikukuh untuk tetap ingin sendiri. Sebagai lelaki yang sudah tak dihargai aku pun harus menyadari untuk pergi, dari pada aku menjadi bangkai di istanamu. Selamat tinggal sayang, biarlah anak anak kita aku yang menyuplai finasialnya dan engkau menjadi hadlonahnya, karena begitulah tatanan fiqihnya, kecuali anak-anak itu mau bersamaku.

___

Bondowoso,18 Juli 2024

Rabu, 17 Juli 2024

Refreshing

 REFRESHING 

Pak Tyqnue Azbynt 



"Kang aku perlu refreshing, aku perlu healing," tuturnya penuh harap tuk mengenyahkan gundah di dada yang menghimpitnya. Aku tahu beban moral, dan kesulitan finansial sedang menderanya. Otaknya seakan full memory itu tampak dari senyumnya yang tak lagi mengembang indah. Matanya kuyu, semangat menurun yang ujung-ujungnya bad mood. 


Walaupun sebagai seorang dosen dia tak mampu mengkamuflasekan kecewa pada dirinya. Dari tuturnya via WhatsApp ia mencoba menggelayutkan perasaanya di benakku. Aku dan dia yang beda kampus, memang hanya bisa sharing via medsos di antara kesibukan masing-masing. Dan entah kenapa malam itu kusempatkan membawanya ke taman kota tuk sekedar saling berbahasa hati dengan saling pandang, tanpa kata. Kutangkap maknanya, dia ingin bermanja.


Selepas nyantai di kursi taman kami bergerak menyusuri jalanan kota dengan ber-Vespa ria. Dingin malam tak mampu membekukan gejolak di dada kami. Saat dia merapat dan menggelayut mesra, ada gemuruh di dadaku. Menepi di sebuah outlet dia fixing sebuah leather Jacket buatan Korea, diperlihatkan padaku sembari bergaya manja. "It's fix to you," timpalku. "I see,"jawabnya."We must buy it." Selepas membayarnya kami kembali susuri jalanan kota tuk mencari road food tuk makan malam kami. Kulingkarkan tanganku di pinggangnya sembari kukecup keningnya. "Beib I can't stop loving you." Pandangan pasrahnya melumat keangkuhan hatiku.

___

Bondowoso, 17 Juli 2024

Sabtu, 06 Juli 2024

DECEMBER 28th

 DECEMBER 28th

Pak Tyqnue Azbynt 



Mengenalnya kembali sejak hilang dari dunia ABG adalah anugerah sukma yang begitu indah. Usia 14 yang dia lepas dan merajut temali kasih pilihan ayah bundanya. Sebagai gadis bau kencur dan manut pada titah orang tua keniscayaan itu dijalani jua walau tak tahu harus bagaimana.


Masa bermain hilang begitu saja dan memulai dunia yang beda, melakoni segala pranata rumah tangga. Walau kaku dan terpaksa, dunia itu dijalani juga. Beberapa tahun kemudian ia telah dianugerahi seorang bocah imut dengan kulit sedikit gelap yang begitu imutnya. Tak banyak yang dituntut pada sesiapa, dia hanya mengikuti jalan takdirnya.


Sang waktu berjalan tak pernah henti, luka lara dan suka cita menumpuk menjadi jalinan memori yang teramat lengkap. Toh akhirnya kebahagiaan itu lebih banyak tenimbang dukanya. Sang anak gadisnya telah meremaja , menuntaskan  kesarjanaannya di sebuah pesantren. Di sana pulalah anaknya dipertemukan dengan Arjuna pilihannya, sama-sama menyandang Sarjana Hukum. 


Terasa begitu singkat perjalanan kisahnya, sepasang sejoli anaknya pun menikah dan setahun kemudian lahirlah cucu mungil dengan wajah imutnya. Lengkaplah sudah kebahagiaan itu, namun di tengah kebahagiaan Sang Suami belum sempat menimang cucundanya, telah meninggalkannya dn menghadap Sang Kuasa.


Seakan dunia ini tak adil, ingin rasanya aku membalutkan luka hatinya dan menyeka air mata dukanya. Menatap tanpa senyum eloknya bagai mendung penyerta hujan. Curhatannya telah meruntuhkan hatiku, tapi apa daya dia berada di pagar istana, sedang aku hanyalah jelata dan bukan siapa-siapa. Saat 28 Desember saat Yaumil miladnya kuhanya bisa berkata, "Jaga diri, lakoni dengan penuh kesabaran karena Tuhan tak pernah aniaya terhadap ummatnya, pasti ada anugerah terindah yang dipersiapkan Nya."

___

Bondowoso, 6 Juli 2024

Sabtu, 11 Mei 2024

Ketulusan Cinta Bunda Coreena

 KETULUSAN CINTA BUNDA COREENA

Pak Tyqnue Azbynt




Benciku pada dosen bahasa ini sudah melewati ubun-ubun saja. Tiap kali tugas makalah selalu bermasalah, yang kurang ini kurang itu. Intinya ketatabahasaanku acakadut. Kalau bukan karena dosenku pasti kulempar sandal. Bayangkan! Raga sudah lelah cari biaya ditambah otak diperas pula.


Malang tak dapat ditolak,  mujur tak bisa diraih. Manusia yang kubenci itu justru kini menjadi dosen pembimbing skripsi, bayangkan!, remuk kan otakku. Demi menyandang gelar sarjana, kubetahkan tuk menjalani tugas itu. Sore itu selepas hujan aku mengikuti ujian skripsi dengan modal nekat kuhadapi semua tampang garang dosenku. Dilalah justru ujianku lancar bahkan banyak penguji yang memuji karyaku. "Wah ini baru the best," kata Pak Prof. Windarto salah seorang pengujiku.


Hampir 5 tahun aku menuntaskan bangku kuliyah. Dengan berbagai luka kupaksa melangkah di belantara cendekia itu.  Hampir runtuh rasa jiwa dan ragaku. Prosesi wisuda pun digelar sudah. Semua keluarga wisudawan wisudawati tumpah ruah beserta keluarga demi merayakan kesuksesan anaknya. Aku yang hanya seorang yatim piatu tak punya sesiapa, tak bisa menyertakan keluarga. Namun, yang membuat hatiku haru biru, hampir ambruk aku di depan rektor saat yang menjadi waliku adalah Bunda Coreena. Tanpa sepengetahuanku beliau justru tak mengenakan toga dosen, justru mengenakan baju sebagai wali wisudawan. Yaa Allah, terima kasih Bunda Coree, kasihmu begitu tulus pada anakmu yang begitu lama mengacuhkan dan membencimu.

___

Bondowoso, 11 Mei 2024

Kamis, 09 Mei 2024

DIAN ANGGI

 DIAN ANGGI

Pak Tyqnue Azbynt



         Sudah dua semester aku menjadi guru SMK Lentera Cendekia di sebuah kota kecil Bondowoso. Sejauh itu aku belum bisa berhabituasi, mungkin karena latar belakang keilmuanku masih belum matang. Tiap hari hanya menuntaskan tugas saja tanpa berangkat dari kedalaman hati, lagian aku kan masih berada di bangku kuliyah. Mengajar bagiku hanya sebagai ajang tuk belajar mengadapi murid dan warga sekolah saja.

          Sekolah yang sebagaian besar muridnya permapuan ini menjadi hutannya bidadari remaja.  Bagi seorang bujang semacam aku mestinya betah dan senang di zona itu. Apakah karena aku disibukkan dengan tugas akhir perkuliahan yang menjajah otakku hingga mengacuhkan bocah-bocah bening itu. Hampir tiap hari ada saja murid-murid yang menggodaku, baik dengan sindiran atau pun secara tegas. Otak berkata kalau banyak muridku yang bening namun belum bisa menyentuh hatiku.

         Tiap rehat belajar, aku terbiasa di ruang rehat sebelah pos scurity. Yang menjadikan aku betah di zona itu, karena di situ selalu ada kopi yang menjadi penyanding hisapan rokok. Anehnya di tempat itu selalu ada rokok Jie Sam Soe kesukaanku. Menurut Garda Wiyata (Satpam Sekolah) kalau itu diperuntukkan untukku agar tidak merokok di kantin yang kemungkinan dilihat murid-murid di sekolah itu. 

Bak ini rokok siapa? 

Ah untuk jenengan Pak Guru, jawab Sang Satpam.

Lho kok pas dengan kesukaan saya ne?

Ya, kebetulan saja kali,” kata cewek scurity yang kutahu belakangan bernama Anggi.

Btw karena sering ke tempat itu, akhirnya menjadi habitual kami, kadang Si Anggi ikutan merokok di ruang itu, padahal tak seharusnya seorang cewek tidak merokok yang agak berat semacam Jie Sam Soe.

          Tepat 21 April 2024 aku sengaja membawakan buket bunga untuk Sang Garda Wiyata. Walaupun sebagai satpam, dia layak mendapat perhatian di hari yang istimewa bagi wanita Indonesia. Niatannya sih iseng dan ngasal saja, karena banyak murid yang sudah membuat paket khusus tuk para guru perempuan di sekolah itu. Senyum sumringah Anggi mengembang begitu manisnya, anehnya di dadaku menjadi dagdigdug derr. Apakah ada yang salah di hatiku? Atau aku sedang kesambet panahnya Dewa Amor? I dont know. Yang jelas hatiku merasa damai atas situasinya. Dia tersenyum, terasa teduh di kegersangan hati yang lama terjajah oleh kesibukan kuliyah plus biaya-biayanya yang memusingkan. 

Tumben Pak Guru, kasih surprise ke aku

Lah, gantian dong, kan biasanya Bak Anngi yang menyediakan rokok dan kopi buatku, he he.

Aaah, itu kan untuk berdua, btw Pak Dhimas kan ketua OSIS dulu saat di  MAN? tanyanya.

Loh kok tahu?

Ya iya lah, saya kan alumni sana, dan saya termasuk pengurus harian di OSIS cewek.

Hah, yang bener aja. Kenapa sekarang tak pakai jilbab?

Paaaanjaaaaang ceritanya, timpalnya sembari mengisap rokoknya dalam dalam.

Dari penuturannya baru aku tahu kalau dia pernah menjadi murid yang dipromosikan sebagai duta bahasa karena kemahirannya bahasa Arab dan English-nya, namun dia gagal karena kecelakaan yang mengakibatkan dia lumpuh dan lulus terpaksa dengan nilai yang pas-pasan. Setahun berikutnya sang ayah meninggal dan hidupnya berubah drastis.Ibunya memilih bersama lelaki lain dan meninggalkan putrinya bersama sang nenek. Berkat seorang traditional terapist yang konon masih kerabat dari neneknya dia kembali pulih seperti semula. Demi menutupi identitasnya, dia mengubah tampilan dan gaya hidupnya. Dulu yang pernah dielu-elukan warga sekolah, lalu tercampak, telah menjadikan pukulan berat baginya. kini neneknya sudah kian manula dan dia menjadi penyandang ekonomi dengan gaji sebagai scurity sekolah. 

          Sejak sering curhatnya itu aku menjadi banyak tahu tentangnya, satu hal yang paling menjadi keseriusanku adalah bahwa dia masih tetap menghafal Al qur an. 30 Juz tertuntaskan sudah sejak awal kelumpuhannya. Justru saat-saat itulah dia lebih cepat daya hafalnya. Walau kini tampilannya tanpa hijab dan tampak sedikit tomboy namun justru di situlah yang membuaku suka. Ciye ciye kok suka ya? he he entahlah. 

          Buket bunga yang berangkat dari keisengan ternyata mejadi sesuatu yang sangat berarti baginya. dulu lelaki yang dianggap mulya hanya sosok bapaknya dan tak ada sosok lain yang menggantikan sebagai pelindungnya. Saat lumpuh hanya dia yang membopong ke mana pun hasratnya hendak pergi. Meninggalnya telah menjadi pukulan terberat baginya. Sosok nenek yang menggantikan justru tak banyak memberikan arti selain doa dan ketulusannya pada sang cucu. Sejak saat itu dia lebih kuat dan tak mau keterganngan pada siapa pun. Memberi salam istimewa lewat buket bunga ternyata menjadikan sesuatu yang teramat indah baginya. 

Mas guru, kenapa ya aku kok tambah betah di sekolah ini sejak tanggal 21 April lalu.

Owh pas hari Kartini?

Yaa pas jenengan kasih buket itu loh!

Emangnya kenapa, pancingku.

Sini deh mendekat aku ingin jabat tangannya mas guru!

Digamit tanganku sembari diciumnya lalu diempelkan ke pipi kirinya sembari berucap,Aku damai bersama mas guru, maukah jadi pelindungku? Wah ini gaya Satpam, tegas dan tanpa basa-basi, pikirku.

Ah masa sih, seorang Garda Wiyata sekolah tak bisa melindungi dirinya? godaku.

Yaaah aku serius neh!

Siap ndan, aku harus bilang apa?

Lho mala tambah candaan lagi.

Sini merapat padaku, hayo kita duduk di bangku itu, kita bicara!”

Dia duduk di sebelahku kutarik agar merapat dan bersandar di dada kananku. Kubelai rambut halusnya sembari kukatakan bahwa aku sebenarnya ada rasa padanya. Dari matanya kulihat butiran bening berjatuhan, bibir gemetarnya membahasakan keharuan.

Ciyeee, Pak guru seni budaya lagi kesambet cinta ne, ledek Pak Antok guru Olahraga di pojok lapangan basket. Yang menjadikan aku bingung jusru banyak murid yang ikut meledekku dengan kompak menyanyikan lagu Sedalam Cintamu Indra Lesmana dan Nania. Wah kacau ne pikirku, namun getaran cinta lebih menegasikan semua itu. Dunia hanya milik kami berdua, yang lain hanya ngampung kost saja, begitu benakku.  ***** (Bws, 9 Mei 2024)

HIDUP DI DUA ALAM

 HIDUP DI DUA ALAM Pak Tyqnue Azbynt Motor kubejek abis hingga bajuku kiwir-kiwir digoda angin. Bayangin aja Upacara Hari Santri Nasional di...