Total Tayangan Halaman

Selasa, 30 Juli 2024

ZARA ENG TAKDIR CINTA YANG TERGADAI

 ZARA ENG TAKDIR CINTA YANG TERGADAI

Pak Tyqnue Azbynt 



Angin tenggara menggoda perjalanan kami saat riding berdua di bulan Juli. Tak seberapa kencang memang laju motor kami demi merasakan asyik masyuk suasana namun angin sesekali mengingatkan agar jaga keseimbangan saat bermotor di jalan itu. Betapa pun lengangnya jalan itu namun sesekali ada saja motor yang melaju begitu kencangnya. 


Perjalanan bersama Zara Eng menjadi begitu indah bagiku karena itu ada kesempatan emas bersamanya. Dia memang bukan siapa-siapa bagiku. Wanita cantik milik lelaki seorang arsitek yang kerjanya kadang ke luar kota menjadikannya kesepian. Dia sebenarnya tahu bahwa aku begitu mencintainya karena sejak dulu pernah kusampaikan rasa padanya, namun pilihan orang tuanya pada seorang arsitek telah mematikan langkahku. Pekerjaanku yang hanya seorang guru les bahasa Inggris menjadi kurang menarik bagi keluarganya, apalagi sekarang orang banyak belajar Online dengan berbagai platform di media yang cukup murah. Finally aku kian tak berarti apa-apa bagi bapak ibunya. Entah takdir atau hanya kebetulan saja aku saat itu bisa bersamanya. Bertemu di sebuah kafe selepas shopping, kudekati, berbincang ke sana kemari yang kemudian berakhir dia turut bersamaku. Kutatap mata sayu dan bibirnya yang membasah, jantungku berdegup kencang. "Zara,  aku begitu lama harus memenjarakan rindu padamu karena engkau telah digaet orang lain. Tahukah kamu bahwa aku begitu mencintaimu?" Dia hanya tersenyum manis sembari menggamit tanganku. "Mas, aku tahu itu, tapi aku harus menjaga perasaan orang tuaku karena mereka tak pernah merestui cintamu," kekatanya menghancurkan hatiku seketika itu. "Kenapa kang mas murung begitu? Aku takkan menyalahkanmu kalau memang cinta padaku, agar kau bisa bersamaku hari ini bawalah aku ridding keliling tuk wisata kota. Hari ini aku milikmu," katanya pasrah.


Walau hanya bermesra di atas laju motor aku bisa menikmati rasaku. Hari itu dia menjadi milikku seutuhnya. Memang bersamanya hanya sehari saja, dan itu pun berkendara healing wisata keliling kota saja. "Mas jaga hatimu untukku, suatu saat kau akan jadi milikku, walau sekarang cintaku masih tergadai, suatu saat kau harus menebusnya. Hatiku akan tetap bersamamu hingga saatnya tiba," begitu celotehnya saat dia kuantar ke rumahnya. Kucium keningnya selepas  turun dari motorku, "Kan kutunggu bukti dari kekatamu sayang." Dia hanya mengangguk pelan sembari menempelkan bibirnya di dadaku, ditekannya keras-keras Agara ada bekar lipstiknya. Sampai saat ini baju itu tak kucuci, kusemprot dengan blingken cat clear agar tak terlunturkan. " Zara, I can't stop loving you." "I know," katanya sembari menggenitkan kerlingan matanya padaku.

___

Bondowoso, 30 Juli 2024

Jumat, 19 Juli 2024

Pecah Jambangan

 PECAH JAMBANGAN 

Pak Tyqnue Azbynt 



Harum semerbak menyela hingga ke ulu hati. Rekah senyum seelok mawar merah awal senyum di pagi hari. Ada sisa embun bekas cumbu semalam. Begitulah senyum itu dideskripsikan di otak kiriku. Batang berduri tegak tanpa penyanggah bergoyang di goda angin, begitulah nakalku padanya.


Aku biarkan ia berakar memenuhi jambanganku.  Siraman kasih sayang saat kutatap mesra wajah eloknya. Aku bahagia pada senyumnya yang penuh ragu. Dia memang elok walau deduri harus melukai hatiku  ”Dinda berkali kuacuhkan luka asal aku bisa menyentuh kelopakmu, menghirup aroma harummu,” begitulah selorohku padanya. Kubalut tangkainya dengan kain hitam agar tak tampak durinya, kusematkan pita merah maroon agar ia tak lupa.kenangan itu. Dia adalah mawar merahku. 


Malang tak dapat ditolah mujur tak mampu kuraih, begitulah diri ini. Sang mawar merah memanjangkan batangnya, memilih merambat kemana-mana hingga jambanganku pecah, dan durinya melukai hatiku. Perih menyiksa mengundang sejuta lara. Jambanganku pecah saat dia berontak ingin bebas mencari hara yang lebih memanjakan diri.

___

Bondowoso, 19 Juli 2024

Kamis, 18 Juli 2024

Maafkan Dinda Aku Harus Pergi

 MAAFKAN DINDA AKU HARUS PERGI 

Pak Tyqnue Azbynt 



Berat rasa di kepala saat beban pikiran menumpuk sedemikian banyaknya. Masalah ekonomi, tugas sebagai abdi negara, ditambah lagi studi anak-anakku yang berantakan. Kalau saja kepalaku seperti memori hp pastilah kureset semua data agar aku bisa memulai dari nol kembali.


Baru beberapa jam yang lalu kita bicarakan semua kesemrawutan ini, dan kau memilih diam, kalaupun ada ya hanyalah beberapa kata yang menurutku itu basa basi belaka. Ingin kuuraikan satu persatu kesemrawutan itu agar perlahan bisa sedikit pulih walau butuh finansial yang tak sedikit dan juga perlu memanage waktu dengan tepat. Asal kau senyum saja dadaku sedikit lega, apalagi kau gamit tanganku, lalu duduk bersemuka atau kau rebahkan diri ke bahu kiriku. Kudengar halus suara napasmu, kubelai gerai rambutmu atau apalah yang membuat hatiku asyik Masyuk meramu cinta. Berbagai dalih kau lontarkan padaku, halus tapi justru kian merenggangkan temali cintaku.


Keputusanmu tuk memilih sendiri, dan tak mau dibersamaiku justru memantapkan keputusanku. Perlu apa bertahan terlalu lama jika  hatiku kian kau panggang di terik mentari. Kau anggap aku memanfaatkanmu, adalah sebuah kesalahan. Kau bersikukuh untuk tetap ingin sendiri. Sebagai lelaki yang sudah tak dihargai aku pun harus menyadari untuk pergi, dari pada aku menjadi bangkai di istanamu. Selamat tinggal sayang, biarlah anak anak kita aku yang menyuplai finasialnya dan engkau menjadi hadlonahnya, karena begitulah tatanan fiqihnya, kecuali anak-anak itu mau bersamaku.

___

Bondowoso,18 Juli 2024

Rabu, 17 Juli 2024

Refreshing

 REFRESHING 

Pak Tyqnue Azbynt 



"Kang aku perlu refreshing, aku perlu healing," tuturnya penuh harap tuk mengenyahkan gundah di dada yang menghimpitnya. Aku tahu beban moral, dan kesulitan finansial sedang menderanya. Otaknya seakan full memory itu tampak dari senyumnya yang tak lagi mengembang indah. Matanya kuyu, semangat menurun yang ujung-ujungnya bad mood. 


Walaupun sebagai seorang dosen dia tak mampu mengkamuflasekan kecewa pada dirinya. Dari tuturnya via WhatsApp ia mencoba menggelayutkan perasaanya di benakku. Aku dan dia yang beda kampus, memang hanya bisa sharing via medsos di antara kesibukan masing-masing. Dan entah kenapa malam itu kusempatkan membawanya ke taman kota tuk sekedar saling berbahasa hati dengan saling pandang, tanpa kata. Kutangkap maknanya, dia ingin bermanja.


Selepas nyantai di kursi taman kami bergerak menyusuri jalanan kota dengan ber-Vespa ria. Dingin malam tak mampu membekukan gejolak di dada kami. Saat dia merapat dan menggelayut mesra, ada gemuruh di dadaku. Menepi di sebuah outlet dia fixing sebuah leather Jacket buatan Korea, diperlihatkan padaku sembari bergaya manja. "It's fix to you," timpalku. "I see,"jawabnya."We must buy it." Selepas membayarnya kami kembali susuri jalanan kota tuk mencari road food tuk makan malam kami. Kulingkarkan tanganku di pinggangnya sembari kukecup keningnya. "Beib I can't stop loving you." Pandangan pasrahnya melumat keangkuhan hatiku.

___

Bondowoso, 17 Juli 2024

Sabtu, 06 Juli 2024

DECEMBER 28th

 DECEMBER 28th

Pak Tyqnue Azbynt 



Mengenalnya kembali sejak hilang dari dunia ABG adalah anugerah sukma yang begitu indah. Usia 14 yang dia lepas dan merajut temali kasih pilihan ayah bundanya. Sebagai gadis bau kencur dan manut pada titah orang tua keniscayaan itu dijalani jua walau tak tahu harus bagaimana.


Masa bermain hilang begitu saja dan memulai dunia yang beda, melakoni segala pranata rumah tangga. Walau kaku dan terpaksa, dunia itu dijalani juga. Beberapa tahun kemudian ia telah dianugerahi seorang bocah imut dengan kulit sedikit gelap yang begitu imutnya. Tak banyak yang dituntut pada sesiapa, dia hanya mengikuti jalan takdirnya.


Sang waktu berjalan tak pernah henti, luka lara dan suka cita menumpuk menjadi jalinan memori yang teramat lengkap. Toh akhirnya kebahagiaan itu lebih banyak tenimbang dukanya. Sang anak gadisnya telah meremaja , menuntaskan  kesarjanaannya di sebuah pesantren. Di sana pulalah anaknya dipertemukan dengan Arjuna pilihannya, sama-sama menyandang Sarjana Hukum. 


Terasa begitu singkat perjalanan kisahnya, sepasang sejoli anaknya pun menikah dan setahun kemudian lahirlah cucu mungil dengan wajah imutnya. Lengkaplah sudah kebahagiaan itu, namun di tengah kebahagiaan Sang Suami belum sempat menimang cucundanya, telah meninggalkannya dn menghadap Sang Kuasa.


Seakan dunia ini tak adil, ingin rasanya aku membalutkan luka hatinya dan menyeka air mata dukanya. Menatap tanpa senyum eloknya bagai mendung penyerta hujan. Curhatannya telah meruntuhkan hatiku, tapi apa daya dia berada di pagar istana, sedang aku hanyalah jelata dan bukan siapa-siapa. Saat 28 Desember saat Yaumil miladnya kuhanya bisa berkata, "Jaga diri, lakoni dengan penuh kesabaran karena Tuhan tak pernah aniaya terhadap ummatnya, pasti ada anugerah terindah yang dipersiapkan Nya."

___

Bondowoso, 6 Juli 2024

Sabtu, 11 Mei 2024

Ketulusan Cinta Bunda Coreena

 KETULUSAN CINTA BUNDA COREENA

Pak Tyqnue Azbynt




Benciku pada dosen bahasa ini sudah melewati ubun-ubun saja. Tiap kali tugas makalah selalu bermasalah, yang kurang ini kurang itu. Intinya ketatabahasaanku acakadut. Kalau bukan karena dosenku pasti kulempar sandal. Bayangkan! Raga sudah lelah cari biaya ditambah otak diperas pula.


Malang tak dapat ditolak,  mujur tak bisa diraih. Manusia yang kubenci itu justru kini menjadi dosen pembimbing skripsi, bayangkan!, remuk kan otakku. Demi menyandang gelar sarjana, kubetahkan tuk menjalani tugas itu. Sore itu selepas hujan aku mengikuti ujian skripsi dengan modal nekat kuhadapi semua tampang garang dosenku. Dilalah justru ujianku lancar bahkan banyak penguji yang memuji karyaku. "Wah ini baru the best," kata Pak Prof. Windarto salah seorang pengujiku.


Hampir 5 tahun aku menuntaskan bangku kuliyah. Dengan berbagai luka kupaksa melangkah di belantara cendekia itu.  Hampir runtuh rasa jiwa dan ragaku. Prosesi wisuda pun digelar sudah. Semua keluarga wisudawan wisudawati tumpah ruah beserta keluarga demi merayakan kesuksesan anaknya. Aku yang hanya seorang yatim piatu tak punya sesiapa, tak bisa menyertakan keluarga. Namun, yang membuat hatiku haru biru, hampir ambruk aku di depan rektor saat yang menjadi waliku adalah Bunda Coreena. Tanpa sepengetahuanku beliau justru tak mengenakan toga dosen, justru mengenakan baju sebagai wali wisudawan. Yaa Allah, terima kasih Bunda Coree, kasihmu begitu tulus pada anakmu yang begitu lama mengacuhkan dan membencimu.

___

Bondowoso, 11 Mei 2024

Kamis, 09 Mei 2024

DIAN ANGGI

 DIAN ANGGI

Pak Tyqnue Azbynt



         Sudah dua semester aku menjadi guru SMK Lentera Cendekia di sebuah kota kecil Bondowoso. Sejauh itu aku belum bisa berhabituasi, mungkin karena latar belakang keilmuanku masih belum matang. Tiap hari hanya menuntaskan tugas saja tanpa berangkat dari kedalaman hati, lagian aku kan masih berada di bangku kuliyah. Mengajar bagiku hanya sebagai ajang tuk belajar mengadapi murid dan warga sekolah saja.

          Sekolah yang sebagaian besar muridnya permapuan ini menjadi hutannya bidadari remaja.  Bagi seorang bujang semacam aku mestinya betah dan senang di zona itu. Apakah karena aku disibukkan dengan tugas akhir perkuliahan yang menjajah otakku hingga mengacuhkan bocah-bocah bening itu. Hampir tiap hari ada saja murid-murid yang menggodaku, baik dengan sindiran atau pun secara tegas. Otak berkata kalau banyak muridku yang bening namun belum bisa menyentuh hatiku.

         Tiap rehat belajar, aku terbiasa di ruang rehat sebelah pos scurity. Yang menjadikan aku betah di zona itu, karena di situ selalu ada kopi yang menjadi penyanding hisapan rokok. Anehnya di tempat itu selalu ada rokok Jie Sam Soe kesukaanku. Menurut Garda Wiyata (Satpam Sekolah) kalau itu diperuntukkan untukku agar tidak merokok di kantin yang kemungkinan dilihat murid-murid di sekolah itu. 

Bak ini rokok siapa? 

Ah untuk jenengan Pak Guru, jawab Sang Satpam.

Lho kok pas dengan kesukaan saya ne?

Ya, kebetulan saja kali,” kata cewek scurity yang kutahu belakangan bernama Anggi.

Btw karena sering ke tempat itu, akhirnya menjadi habitual kami, kadang Si Anggi ikutan merokok di ruang itu, padahal tak seharusnya seorang cewek tidak merokok yang agak berat semacam Jie Sam Soe.

          Tepat 21 April 2024 aku sengaja membawakan buket bunga untuk Sang Garda Wiyata. Walaupun sebagai satpam, dia layak mendapat perhatian di hari yang istimewa bagi wanita Indonesia. Niatannya sih iseng dan ngasal saja, karena banyak murid yang sudah membuat paket khusus tuk para guru perempuan di sekolah itu. Senyum sumringah Anggi mengembang begitu manisnya, anehnya di dadaku menjadi dagdigdug derr. Apakah ada yang salah di hatiku? Atau aku sedang kesambet panahnya Dewa Amor? I dont know. Yang jelas hatiku merasa damai atas situasinya. Dia tersenyum, terasa teduh di kegersangan hati yang lama terjajah oleh kesibukan kuliyah plus biaya-biayanya yang memusingkan. 

Tumben Pak Guru, kasih surprise ke aku

Lah, gantian dong, kan biasanya Bak Anngi yang menyediakan rokok dan kopi buatku, he he.

Aaah, itu kan untuk berdua, btw Pak Dhimas kan ketua OSIS dulu saat di  MAN? tanyanya.

Loh kok tahu?

Ya iya lah, saya kan alumni sana, dan saya termasuk pengurus harian di OSIS cewek.

Hah, yang bener aja. Kenapa sekarang tak pakai jilbab?

Paaaanjaaaaang ceritanya, timpalnya sembari mengisap rokoknya dalam dalam.

Dari penuturannya baru aku tahu kalau dia pernah menjadi murid yang dipromosikan sebagai duta bahasa karena kemahirannya bahasa Arab dan English-nya, namun dia gagal karena kecelakaan yang mengakibatkan dia lumpuh dan lulus terpaksa dengan nilai yang pas-pasan. Setahun berikutnya sang ayah meninggal dan hidupnya berubah drastis.Ibunya memilih bersama lelaki lain dan meninggalkan putrinya bersama sang nenek. Berkat seorang traditional terapist yang konon masih kerabat dari neneknya dia kembali pulih seperti semula. Demi menutupi identitasnya, dia mengubah tampilan dan gaya hidupnya. Dulu yang pernah dielu-elukan warga sekolah, lalu tercampak, telah menjadikan pukulan berat baginya. kini neneknya sudah kian manula dan dia menjadi penyandang ekonomi dengan gaji sebagai scurity sekolah. 

          Sejak sering curhatnya itu aku menjadi banyak tahu tentangnya, satu hal yang paling menjadi keseriusanku adalah bahwa dia masih tetap menghafal Al qur an. 30 Juz tertuntaskan sudah sejak awal kelumpuhannya. Justru saat-saat itulah dia lebih cepat daya hafalnya. Walau kini tampilannya tanpa hijab dan tampak sedikit tomboy namun justru di situlah yang membuaku suka. Ciye ciye kok suka ya? he he entahlah. 

          Buket bunga yang berangkat dari keisengan ternyata mejadi sesuatu yang sangat berarti baginya. dulu lelaki yang dianggap mulya hanya sosok bapaknya dan tak ada sosok lain yang menggantikan sebagai pelindungnya. Saat lumpuh hanya dia yang membopong ke mana pun hasratnya hendak pergi. Meninggalnya telah menjadi pukulan terberat baginya. Sosok nenek yang menggantikan justru tak banyak memberikan arti selain doa dan ketulusannya pada sang cucu. Sejak saat itu dia lebih kuat dan tak mau keterganngan pada siapa pun. Memberi salam istimewa lewat buket bunga ternyata menjadikan sesuatu yang teramat indah baginya. 

Mas guru, kenapa ya aku kok tambah betah di sekolah ini sejak tanggal 21 April lalu.

Owh pas hari Kartini?

Yaa pas jenengan kasih buket itu loh!

Emangnya kenapa, pancingku.

Sini deh mendekat aku ingin jabat tangannya mas guru!

Digamit tanganku sembari diciumnya lalu diempelkan ke pipi kirinya sembari berucap,Aku damai bersama mas guru, maukah jadi pelindungku? Wah ini gaya Satpam, tegas dan tanpa basa-basi, pikirku.

Ah masa sih, seorang Garda Wiyata sekolah tak bisa melindungi dirinya? godaku.

Yaaah aku serius neh!

Siap ndan, aku harus bilang apa?

Lho mala tambah candaan lagi.

Sini merapat padaku, hayo kita duduk di bangku itu, kita bicara!”

Dia duduk di sebelahku kutarik agar merapat dan bersandar di dada kananku. Kubelai rambut halusnya sembari kukatakan bahwa aku sebenarnya ada rasa padanya. Dari matanya kulihat butiran bening berjatuhan, bibir gemetarnya membahasakan keharuan.

Ciyeee, Pak guru seni budaya lagi kesambet cinta ne, ledek Pak Antok guru Olahraga di pojok lapangan basket. Yang menjadikan aku bingung jusru banyak murid yang ikut meledekku dengan kompak menyanyikan lagu Sedalam Cintamu Indra Lesmana dan Nania. Wah kacau ne pikirku, namun getaran cinta lebih menegasikan semua itu. Dunia hanya milik kami berdua, yang lain hanya ngampung kost saja, begitu benakku.  ***** (Bws, 9 Mei 2024)

Selasa, 07 Mei 2024

BEGAL GAHARU

 BEGAL GAHARU

Pak Tyqnue Azbynt



          Tanah perdikan itu selalu saja menghadirkan banyak masalah. Cekcok dan sengketa batas wilayah acapkali menjadi riak perseteruan yang bak bara sekam saja. Saling ghibah di luaran sudah menjadi habitual yang tak elok tuk dilanjtukan, namun selalu saja ada pemicu yang menyinambungkannya. Konon tanah yang bagai tak bertuan itu sejatinya masih ada ahli waris yang diabaikan dan justru di-claim sepihak oleh salah satu klannya.

          Menelisihi kenyataan yang sudah kasat mata saja dianggap tak bakalan menjadi perhatian publik. Nun di batas seberangnya ada lahan persawahan yang kini mengering gegara kanalnya selalu ditimbuni tanah dengan perlahan. Warga pemilik sawah pun memilih mengalah tinimbang mempuk permasalahan yang tak berkesudahan.

          kali ini sudah menjadi kian nyata keserakahannya para penguni tanah perdikan itu. Pokok baharu yang berada di balok batas itu tumbang sudah, padahal sebagian besar berada di lahan sebelahnya Tiga lelaki anaknya yang sejatinya pernah nyantri itu la kalam wala salam telah secara sepihak menggunakan chaisaw merobohkannya. Deru mesin potong itu memekakkan teliga tetangga sekiarnya. Kabar menjadi viral setelah diketahui warga sekitar ternyata yang memotongnya bukan pemilik sahnya. Kasak-kusuk mulai merebak, namun sang pemilik lebih memilih diam dan hanya dibincangkan dengan kluarganya tinimbang berkeluh kesah ke orang lain yang hanya memperkeruh suasana.

Bu, pohon gaharu yang harga jutaan itu telah tumbang, kata Mang Ilyas.

Lho, kenapa pak? Apakah kena angin kencang? tanya istrinya.

Gak.

Ya Allah pak, tiga lelaki itukah yang memotongnya? tanyanya.

Ya begitulah, jawab suaminya singkat.

Gimana neh, kita mesti ngapain, sambung istrinya.

Serahkan saja pada Gusti Allah bu, mau gimana lagi.

          Banyaknya tetangga yang diam-diam menanyakan telah menggoyahkan pedirian keluarga Mang Ilyas. Berbagai bujuk yang masuk ke telinganya telah merusak kejernihan nalarnya. Mau dilabrak taklah mungkin karena tak elok selalu berebut urusan dunia. Yang satu bilang ini soal harga diri dan soal hak, di pihak lain lain ada menyuruh pasrah saja. Bujukan-bujukan itu benar-benar mereduksi otakya.

          Selepas subuh didatanginya puing pokok gaharu itu. Dalam hatinya berkata “ternyata takdirmu bukan menjadi milikku. Munculnya orang yang kebetulan lewat di tempat itu memanaskan suasana. Dia bilang agar tak membiarkan kebiasaanya yang serakah itu. Bukankah lahan persawahan itu mengering gegara kuarga yang sok kuasa atas tanah perdikan itu? Saat pulang ke rumahnya, Mang Ilyas hendak membujuk istrinya agar melabrak tetangganya, namun telepon dari anaknya yang di rantauan agar mengirimkan uang tuk biaya pendidikannya. Dan, permasalahan pun pudar seketika. Mereka lebih berkonsentrasi pada kebutuhan anaknya.

          Mungkin karena usianyalah yang menjadikan Mang Ilyas memilih diam, demi memberi tauladan untuk anak cucunya. Dia hanya berkata pada keluarganya Kasihan dengan status kesantriannya, yang harus mereka taggalkan seperti tumbangya pohon gaharu itu. Kita diam bukan berarti kita ikhlas tapi karena keterpaksaan atas nama umur yang sudah kian menua dan hanya menunggu purna usianya saja. Semoga anak cuccu kita tidak aa yang serakah dan menegasikan kepemikan orang lain, jelasnya sembari menyesap bibir gelas saat mencumbu kopi hitam buatan biddarinya.

_______ 

Rumah seni Latansa, 7 Mei 2024

Selasa, 30 April 2024

Griya Cinta Putih Abu abu

 GRIYA CINTA PUTIH ABU ABU

Pak Tyqnue Abynt



          Cinta abg semasa di SMPN 1 Tenggarang Bondowoso itu berlanjut di dua sekolah yang beda. Roffy Dian dan Anjasmara bak Romeo dan Juliet saja. Selepas dari SMP mereka tetap mengikat temali cintanya walau di dua kutub yang beda. Roffy MAN Bondowoso jurusan keagamaan sedangkan Anjasmara memilih SMAN 1 Bondowoso jurusan IPA. Tak ada alasan tuk saling berganti pinjam buku, apalagi Raffy stay di pondok pesantren yang bersebelahan dengan madrasahnya, sedangkan Anjas melilih kost di bilangan Gang Palm dekat RSUD yang berjarak kekitar 200-an meter dari pondoknya.  Cinta mereka kini terpenjara entah sampai kapan kan terlepas dari sekapannya.

          Janji tuk saling berbagi kisah justru kini sama sekali tak dapat dilakukan. Madrasah Roffy yang ekstra ketat apalagi dia memilih ekskul Tahfiz Qur an yang limitasi waktuya sangat presisi. Di tempat yang berbeda Anjas lebih menemukan kebebasan, apalagi saat ekskul Sepak Bola. Stadion Magenda yang tepat di depan gedung MAN menjadi tempat indah tuk menyemai harapan, barangkali bisa walau barang sekejap melihat wajah kekasihnya kongkow di beranda madrasahnya. Harapan itu sia-sialah belaka. Indah romansa cinta hanya di sinetron saja.

          Setahun sudah masa penyiksaan perasaan itu mereka lewati, berbagai cara tuk bisa bersewajah dengan idamannya tak pernah tertunaikan jua. Anjas berkali sudah mencari cara yang ekstrim agar bisa menemui sang kekasih. Dia tak mengacuhkan betapa bahayanya jika tercium oleh guru BK di sekolah maupun madrasahnya, bukankah antar guru BK MA dan SMA di kota itu ada MoU tuk saling berbagi cara tuk membimbing anak-anak sekolah masing-masing.

          Entah ide dari mana, Anjas justru nekat mengirimkan paket untuk bidadarinya di MAN. Mungkin melalui kurir dia bisa berkirim salam via paket cintanya. Dilalah bencana justru kini bermula gegara dia kirimkan paket bertepatan dengan hari Valentine yang justru mengundang atensi Pak Prik sang guru BK. Sebuah set seragam sekolahnya putih abu-abu dengan stempel OSIS di ada kirinya. Entah apa maksudya harus dibubuhi stempel itu. Dalam saku bajunya diselipka kertas surat biru muda bertuliskan kekata ucapan salam rindu. Cerita cinta mereka bak era 80an saja, yang belum ada media sosial seperti sekarang ini. memang di MAN selama mereka sekolah tak boleh memegang HP terlebih lagi yang hidup di asrama pesantren. Walau di sekolah Anjas HP diperkenankan, tapi apalah guna jika tak bisa berkoneksi dengan Roffy.

           Petaka bagi sang bidadari, Roffy mendapat peringatan dari marasahnya, bahkan selama sepekan dia diskorsing tak boleh megikuti pembelajaran di marasahnya. Perasaannya mulai berontak, bukankah dia tak melakukan apa-apa? Toh rayuan dan cerita cinta yang disampaikan Anjas adalah kisah abg-nya dulu di SMPN 1 Tenggarang. Roffy mulai protes dalam banyak tindakan yang tak wajar. Salah satunya adalah saat dia kegiatan Olahraga justru memakai jersy SMPnya. Kaos olahraga warna putih dengan striping abu-abu dan merah yang justru menyolok di antara jersi teman-temannya. Yang paling ekstrim justru di dada kanannya ada bekas telapak tangan kotor lumpur plus tanda tangan di bawahnya. Konon ia dapatkan saat kejadian tanpa sengaja saat ekskul basket saat SMP dulu. 

          Gelagat tak baik itu kini telah menjadi perhaian publik MAN, peringatan ke-2  dan ke-3 telah dilakukan. Pernyataan untuk tidak mengulangi diabaikannya, dan finalnya Roffy memilih drop out dari madrasahnya. Di sisi lain sebagai rasa tenggang rasanya, Anjas pun memilih jalan yang sama, namun orang tua mereka masing-masing tak merestuinya cara mereka. Dan gita cinta mereka terbengkalai dengan keidakpastian.

         Roffy diganjar ayahnya  agar nyantri di sebuah pesantren kecil  sebuah desa yang sama sekali tak ada pendidikan formalnya, sedang Anjas di usia yang teramat belia itu harus pergi ke Jepang menjadi petani bersama beberapa remaja yang sudah beberapa tahun pernah bekerja di sana. Tautan cinta itu nyaris tak ada kini selain lamur terkikis oleh perjalanan waktu. 

           6x12 purnama terlewati sudah,  teman-teman mereka sudah berada di perguruan tinggi dengan asa yang begitu indahnya. Roffy dan Anjas hanya menjadi korban halusinasi cinta masa abg. Harapan orang tuanya terabaikan sudah. Namun tekat kedua anak manusia itu tetap tersemat di hatinya. Hanya dedoa yang bisa mereka langitkan, pada Sang Ilah semua harapan ditambatkan.

           Setiap gajian dari Jepang Anjas transfring pada Pak De-nya, agar di belikan sebidang tanah dan dibuatkan rumah sederhana. Selama 6 tahun itu tak ada pihak keluarga lain yang mengetahuinya, hal ini sebagai protes pada kedua orang tuanya. Proses pembuatan rumahnya purna sudah. Detail penggarapan besteknya dibuat sendiri oleh Anjas. Dengan plot gambar itu, dibuat semirip mungkin dengan kemauan si empunya. Beranda depan warna putih dan abu abu, plus bercak bercak kuning podang dan pink di beberapa bagian. Konon katanya sebagai lambang kisah SMA-nya dulu, sedang kuning dan pink tuk mngingatkan ice cream kesukaan Roffy.

           Kepulangan Anjas dari Jepang disambut suka cita oleh keluarganya walaupun tak banyak membawa Yen dari Jepang karena telah terwujud pada griya mugil nan indah. Karena rindu orang tua pada si anak rantau itu telah mengubur kemarahannya yang dulu. Namun bias-bias kemarahannya mulai tumbuh kembali saat dia nekat hendak melamar bidadarinya yang dulu.

Aladalah, masihkah kamu mau bertahan dengan pacarmu yang telah menjadikan kamu kuli di Jepang ini? dan apa yang hendak kamu persembahkan? Kerjamu hanya lama saja, hasilnya tak seberapa, sergah bapaknya.

Pokoknya dengan sepenuh hati saya mohon kali ini tolong direstui, pintanya.

Kalau tak karena bujuk ibumu, aku takkan pernah meridhaimu, asal kau biaya sendiri, bapak akan turuti permintanmu, timpal bapaknya.

Gampag kang, biar aku saja yang tanggung, sergah Pak De-nya.

Oke, aku turuti, cari waktu dan hari yang tepat.

          Pertunanngan terjadi sudah, 4 bulan berlalu, dan prosesi pernikahan kini berlangsung. Diaundang teman-teman SMP, teman kelas MAN, SMAnya. Pesta meriah dipadati oleh teman sekolah, bak reuni saja. Yang paling ekstrim justru saat akad nikah mereka mengundang kedua guru BK- nya masing masing sebagai saksi. Tak cukup hanya itu, baju yang pernah dikirim ke Roffy dipakai sebagai kemeja penganten begitu pun Sang Permaisuri yang mngenakan almamater madrasahnya. Hanya beberapa sentuhan estetik yang disematkan oleh penata riasnya. Di tengah asyik masyuknya band SMA 1 yang didapuk sebagai musical accompaniment, seorang guru seneor SMA memberikan kekata yang membuat audien haru biru.Ketulusan cinta mereka telah melahirkan banyak cerita, konon rumah warna putih abu-abu ini merupakan persmbahan cinta Anjas pada bidadarinya. Dan ini juga surprise kepada kita semua, saya dapat bocoran dari Pak De-nya agar disampaikan kepada orang tua serta teman-temannya. Rumahnya adalah istana cinta mereka berdua. Hadirin pun terbelalak menyaksikan alur cinta mereka yang bak cerita asmara Romawi itu.

________ 

Bondowoso, 30 April 2024 


Minggu, 28 April 2024

ZEHRA LIEM

 ZEHRA LIEM 

Pak Tyqnue Azbynt



           Enam bulan terakhir ini aku hampir tiap hari stay di ruang pustaka kampus. Memelototi buku cetak lebih terasa daripada dengan buku digital yang meradiasi mata. Lembar demi lembar kujelajah referensi yang hendak kusematkan di jurnal yang akan kupublikasi di SINTA. Seorang gadis dengan wajah orientalnya selalu tampak di tiap pandangku saat duduk memesrai buku di beranda baca. Anehnya gadis itu seringkali menawarkan buku-buku asing tuk tiap pengunjung pustaka termasuk aku yang tetap menyintas di sana. Demi menambah pengetahuan bahasa aku beli beberapa buku sastra Jerman, alasannya sederhana karena Zehra Liem bisa menjadi mentorku walau hanya melalui media sosial, agar bisa mengikuti waku senggangnya.

           Gadis yang sudah mmpunyai Geothe Zertifikat B1  telah menjadi penambah hazanah kesusasteraan asingku. Semula aku hendak belajar sastra China padanya lantaran dia manusia cantik keturunan Tionghoa yang sedang menempuh S2nya di Universitas Negeri Surabaya. Keintensifannya menawarkan buku bahasa asing telah menjadikannya terkenal dengan julukan agen bahasa dunia. Semula aku tak tertarik untuk mengulik tentang habitualnya itu, namun saat dia menyampaikan permasalahan pribadi barulah aku memahami fenomena hidupnya.

          Semenjak konversi agama, dan memilih menjadi muallaf telah mengubah banyak hal tentang jati dirinya. Hampir-hampir dia kembali ke agama asalnya karena, di tahun-tahun pertamanya begitu tersiksa. Dihapus dari daftar anggota keluarga, memilih hidup mandiri, dan dikucilkan dari lingkungan masyarakatnya benar-benar menjadi ujian berat baginya. Walaupun studi S2nya mendapat beasiswa dari kedutaan Jerman, namun biaya hidup di kota Surabaya sangatlah mahal.

          Saling share secara intens menjadikan kami saling mengenal kian jauh. Semula yang hanya berkutat sekitar akademis namaun akhirnya beruba pada hal-hal yang teramat privasi. Tak segan-sgan dia mengirimiku tulisan panjang demi meminta atensi mendalam dariku.

                                                                                       Kagem Koko Ano 

                                                                                           di Ruang baca

assalamu alaikum ww

salam satu jiwa, 

Untuk yang ke sekian kalinya kusampaikan uneg-uneg yang belum tertumpahkan pada siapa pun. Ko Ano sobat setiaku,  ketika aku muallaf, aset pribadi yang pernah aku miliki semuanya disita oleh keluarga, bahkan mau numpang tidur pun aku tak diperkenankan oleh semua anggota keluarga. Beberapa malam aku harus menginap di mess Kantor Wilayah NU setelah mendapat restu dari pengurus harian di sana. Bermodal buku-buku yang kudapat dari kedutaan Jerman yang free, sedikit demi sedikit bisa kujadikan modal tuk kost di sekitaran kampus ini. Ketika buku kian menipis aku berkoresponensi dengan para mahasiswa RI yang ada di luar negeri, dan Alhamdulillah sampai sekarang usaha ini menjadi penopang kehidupanku. 

Dulu, aku pernah punya boutiqeu yang income perbulannya lumayan besar, tapi kini aku harus menjadi pengedar buku berbahasa asing dengan penghasilan yang fluktuatif. Finally aku sekarang ingin bersewajah secara langsung dengan Ko Ano agar bisa lebih pas. Oh ya, Ko Ano kan dulu pernah di pesantren, so, boleh dong aku belajar Islamologi pada koko.

Ya, gitu dulu. Sambung lain waktu.

                                                                             Bye, wassalam

                                                              Melanie Tjandra Liem ( Zehra Liem)

          Pertemuan kian intens semenjak keseriusan Zehra Liem pada ke-Islaman. Kami memilih tempat di sebuah beranda Kantor wilayah NU Jawa Timur dengan harapan juga dapat bantuan pemahaman dari tokoh-tokoh di kantor itu. Sejauh ini progresifnya sangalah terasa. Sesekali dia mengikuti rutinan dan kajian kitab kuning walaupun hanya ingin merasakan hal-hal kenahdiyahan.

          Hatiku mulai kacau, keiklasan membimbingnya berubah tendensi asmara. Sebagai seorang mahasiswa pasca aku harus menjaga marwah kilmiyahan Islamologi, jangan rusak dengan sikap atau perkataan yang terlalu konyol. Entahlah, apakah karena aku angkuh atau takut mencari peluang tuk memberikan sedikit saja sinyal cinta? Atau apakah memeng benar kekata orang-orang tua, orang yang terlalu tinggi pendidikannya akan sulit menyampaikan perasaan cintanya? Logikaku menjadi kacau, senyumnya selalu menyintas di benakku. What the matter with you? celetuk Zehra. Nothing,” pungkasku.

        Suatu hari Bang Oemar seorang dosen di UIN Maliki Malang yang sering kali melakukan kajian kitab di kantor PWNU, menyempatkan diri bersewajah dengan kami dan berbincang banyak hal. Rupanya beliau lebih peka pada gundah hatiku. Sindiran-sindiran kecil kuacuhkan saja demi menjaga agar koneksitasku tak rusak karenanya. Bukankah aku belum tahu menahu tentang telaga asmara Zehra padaku? Jangan-jangan tandus dan menerik selamanya dan kering memanggagng hati ini. Ah, perasaanku tak tenang, tersesat di belantara asmara.

Ko, jaketmu ketinggalan di kantor PW, aku bawa pulang, paparnya saat VC denganku.

Bawa aja saat ngampus besok Senin.

“Oke, siap 86, candanya sembari pamer senyum manisnya.

          Senin saat matahari masih sepenggalah, dan baru beberapa lembar buku kubaca, aku dikejutkan oleh bekapan telapak tangan di mataku. sesorang telah melingkarkan tangannya dari belakang. Tak tahu siapakah gerangan, hanya harum aroma Fifth Aveneu yang menjajah ruang ciumku. Apakah si Zehra? Tak mungkinlah, aroma parfumnya kan biasanya silver, lagian tak pernah pula dia bersentuhan denganku. Aroma parfum itu kunikmati hingga ke ujung hati, begitu pun sentuhan lembut tangannya.

Wahai mahluk asing siapakah ini?

“Tralalaaaa.., Ini aku ko, jawabnya.

Yassalam, cantik kali kau, 

Yeee baru tahu, kan sedari dulu emang imut, apalagi pakai jaket yang ada bedge logo ini!

“Wah

“Cocok gaaak? Tanyanya sembari berputar putar di depanku. Tak pernah aku melihatnya seceria itu. 

Sumpah demi ayam geprek cocok, pake banget lagi.”

Naah kalau cocok, boleh dong aku miliki.

Yap oke oke, sure, jawabku walau sejatinya jaket itu merupakan kebanggaan yang aku dapat saat mengikuti bimbingan penelitian di BRIN. Yah demi si imut apa pun akan kuberikan, bahkan mobil milik tetangga akan kuberikan padanya, he he.

          Sentuhan itu hingga kuguratkan dalam tulisan ini masih terasa jua. Saat itu kusempat mengusilinya dengan mencolek dagunya. Dia tersenyum manja bak anak abg saja. Sinyal itu kumanfaatkan tuk menggamit tangannya dan kukecup mesra penuh kesyahduan di hatiku. Tanpa kata, hanya senyum yang tak bisa kugambarkan rasanya di tulisan ini. Gegara tak melepas sedikit kekata cinta itulah yang justru membuatku kian tersiksa tanpa kepastian. Hatiku rajadan khauf (cemas penuh harap) pada sebuah kata cinta. Memang cinta sulit dilogikakan.

          Setelah beberapa pekan berlalu, sedang aku belum berani melepas sauh cinta di dasar hatinya. Dilalah saat kembali ke kantor PW, Bang Oemar dan Gus Aab, yang semula hendak mengusiliku berubah mejadi keseriusan.

Gus gimana sejoli ini kalau kita khitbahkan? seru Bang Oemar

Oke, aku bisa kan jadi wali muhakkamnya? timpal Gus Aab

Emang bo..leh? celetuknya

Boleh kok, jawab Bang Oemar dan Gus Aab bersamaan.

Waah kode keras ne, jawab Bang Oemar sembari mengerlingkan matanya.

And finally,  28 April 2024 aku resmi bertungan dengan dicomblangi oleh orang-orang di PW itu. Anehnya tanggal itu justru pas hari ulang tahunnya. Sebagai hadiah khitbah saat itu Gus Aab memberi rida yang katanya sudah berkali-kali dipakai untuk umroh, beliau berikan padaku. Kain rida itu kulilitkan dilehernya sembari kuberucap, Bidadariku, kini dan selamanya kau akan menjadi milikku, hingga ke surga Nya kelak.

Ya Allah, terima kasih Ko, jawabnya, bibir gemetar dan buliran air matanya berlomba melintasi pipi mulusnya.

___ 

Bondowoso, 28 April 2024

        


HIDUP DI DUA ALAM

 HIDUP DI DUA ALAM Pak Tyqnue Azbynt Motor kubejek abis hingga bajuku kiwir-kiwir digoda angin. Bayangin aja Upacara Hari Santri Nasional di...