Total Tayangan Halaman

Sabtu, 22 Maret 2025

Rindu yang MENELAGA

 Rindu yang MENELAGA

Pak Tyqnue Azbynt 

Kepergian Vinn Lee ke Taiwan National University Science and Technology beberapa tahun silam telah menumpuk jutaan rindu di hati Ayesha. Mereka yang terbiasa cekcok dan tengkar kakak adik justru setelah jauh rindu pertengkaran itu. 



Bila damai sedang tiba, si adek memanja sembari bercerita halu, sementara sang kakak menanggapinya dengan senyum tipis. Walau bisa sua Maya lewat androidnya, namun rindu temu nyata melanda jua. 


Tanpa memberi tahu kepulangannya dari Taiwan si Kaka pulang tuk beri kejutan pada keluarganya, khususnya pada Ayesha adek teman tengkarnya. Sere jelang ashar seorang lelaki memakai peci darkblue kaca mata hitam dan masker menutupi mulutnya.

"Misi, pakeeet, pakeeet"

"Buat siapa yaa?"

"Buat Ayesha, oh maaf boleh numpang WC dek?"

Tetiba saja dia malah menuju kamar adiknya, dan langsung rebahan"

"Maaaa...ada orang gila!"

Mamanya tergopoh-gopoh menghampiri jeritan itu. Songkok dibuka, kaca mata hitam begitu pun maskernya. Dan, sang mama memeluknya sementara Ayesha menggigit lengan kiri kakaknya sambil meneteskan air mata saking girang dan bahagianya. Dia bak menemukan telaga rindu yang bisa menuntaskan haus temunya.

-----

Bondowoso, 22 Ramadhan 1446


Jumat, 21 Maret 2025

AYAM GORENG

 AYAM GORENG 

Pak Tyqnue Azbynt 

Pulang dari bimbingan dosen terasa lega sekali. Berjam-jam dikuliahi menjadi penambah berat otakku apalagi saat-saat berpuasa begini. Kepala terasa pusing, mata berkunang-kunang dan terpaksalah aku rehat di halte dekat kampus. Rupanya aku terlalu pulas dalam lelapnya hingga tak terasa sudah nidak menjelang Maghrib terdengar dari corong masjid. 


Saat hendak bangkit, kepala bagian belakang terasa cenat-cenut. Duh vertigoku kambuh. Aku hanya berpegangan pada tiang halte berharap bisa segera baikan. Namun hingga Maghrib tiba aku belum bisa beranjak, bumi seperti berputar kencang terpaksa menutup mata walaupun tak berarti apa-apa. Anehnya orang-orang yang melintas tak pedulikan aku. Apa aku dianggap lagi nge-fly? Entahlah.

"Eh mas Dinokah ini?" Terdengar suara cewek menanyakanku. Kujawab saja sekenanya sembari menjelaskan bahwa aku sedang terserang vertigo. Akhirnya aku dipapah untuk naik ke motornya. Dan, aku diboncengnya, sementara mataku masih saja mengatup rapat. 

Tak seberapa lama motor itu berhenti, dan aku disuruh membuka mata. 

"Ayo mas ambil wudhu biar berkurang pusingnya, selepas itu mari berbuka di pantry samping ruang ini", jelasnya.

Aku tak sempat berpikir, dia siapa dan mengapa care padaku. Dilalah pas ambil wudhu pusingku sedikit berkurang. Apalagi saat iftar dengan minum teh hangat yang disiapkan olehnya saat aku masih ambil wudhu. Aneh, kok secepat itu ya berkurang nyeri di otak belakangku? Apa aku yang paranoid saat di hadapan dosen. Tahu ah gelap! Yassalam di meja sudah teronggok ayam goreng dan jus mangga. Gratis atau gimana ini? Belum sempat usai dialog otakku, dia pun berujar.

"Mas Dino kan kating saya, dan kita berasal dari kota yang sama. Di sini saya menempati rumah Bu De yang sedang Umrah, oh ya namaku Janet anak Fisika juga", jelasnya panjang. Aku masih jaga muruah, pura-pura saja aku tak terlalu merespon ayam goreng itu.

"Masih pusigkah?"

"He em"

Dia pun beringsut mendekatiku, sembari menyodorkan jus mangga dengan sedotan yang dibimbingkan ke mulutku. Aneh, rasa-rasanya pahala puasaku akan hilang ne, begitu benakku. Aku pegang tangannya yang masih memegang gelas itu, dianya diam. Desah helaan napasnya menandakan dia rupanya juga capek. 

"Masnya kalau masih pusing, bermalam di sini saja, biar ditemani adikku yang masih belum pulang dari basketnya".

"ngh gak usah, biar aku pulang aja, selepas buka puasa, aku yakin sembuh asal disuapin cewek cantik, he he", candaku.

"Oh, mari kita makan sepiring berdua, lagian aku tak pernah makan bareng cowo smart macam mas Dino. Siapa takut?" Timpalnya sembari mengibaskan jilbabnya yang luruh di ujung dagu. Duh hilang pahala puasa ne, benakku.

----

Bondowoso, 21 Ramadhan 2025

Kamis, 20 Maret 2025

MENJELAJAH TIGA DUNIA

 MENJELAJAH TIGA DUNIA 

Pak Tyqnue Azbynt 

Ciwi-ciwi di sekitarku rasanya kurang jauh jelajahnya. Mereka hanya berkutat di dunia buku, shopping, dandan tak lebih. Respek sosialnya yang datar, daya juangnya yang dangkal dan mudah menyalahkan keadaan. Semua itu menjadi kurang survive dalam hidup. 

Inar yang sibuk dengan buku, Zara yang pesolek, dan dua anak indo Kazakhstan yang terlalu manja itu. Untuk beberapa hari kuajak mereka ke dunia yang berbeda agar matanya terbuka lebar-lebar. Tak hanya melalui media tapi langsung ke spotnya. Kukenalkan mereka pada Anelka cewek ice skater, Julie pesepatu roda, Rose skater berjilbab,  Daneta Si Pentigrafis, dan Janna sang Gitaris. Berkenalan dengan mereka membuat ciwi-ciwi temanku terheran-heran akan kebolehan mereka walaupun menyandang label wanita muslimah..



Dua Cewek Indo-Kazakh itu lebih mudah beradaptasi, tapi Zara dan Inar justru menjadi asing di tengah-tengah mereka. Ayesha dan Iseh lebih melebur dan justru mencoba skateboard walaupun sambil duduk-duduk. Inar yang sejak semula ingin jadi penulis justru menemukan atmosfer yang tepat saat berkenalan dengan Daneta. Lalu, bagaimana dengan Zara? Dia tetap saja asyik dengan dirinya, manja, pesolek, dan pencemburu. Saat kuledek dia malah menggigit lengan kiriku hingga terluka, 

"Ih kamu, sakit cuy"

"Biar dah aku sebal dan marah pada masnya", jawabnya ketus.

---

Bondowoso, 20 Ramadhan 1446

BERDUA SAJA

 BERDUA SAJA 

Pak Tyqnue Azbynt 

"Ramadhan ini mari kita kelupasi diri dari segala angkuh, nafsu angkara, kesombongan dan sebagainya", begitu anjurku padanya. Sayangnya dia terlalu asyik dengan kemanjaannya, tak bisa menahan sengsara, padahal betapa bahagianya jika aku lihat dia bahagia bersama orang-orang tercinta di rumahnya. Aku hanya teman penyerta kebahagiaan itu, aku membantu sebisanya, karena kami punya jalan bahagia yang berbeda. Dia ya dia, dan aku ya aku. 


Dalam keterpurukannya ingin kukembali memanjakannya, tapi kutakut dia terlelap di pelukanku. Aku ingin melihatnya tersenyum manja seperti dulu, saat bercanda renyah di teras rumahnya. "Beb, jangan kau turuti nafsumu, jangan kau ikuti ambisimu, karena semua sudah ada takarannya masing-masing" begitu harapku padanya. 


Saat kita berdua, hayo kita ceritakan kembali perjalanan kita. Aku dan engkau punya jalan yang berbeda, tapi kita saling memaknai jalinan ini apa adanya. Tampa pengikat tanpa penyekat. Saat berdua, biarlah engkau sebagai kamu, dan saya sebagai aku. Rasaku padamu biarkan berjalan damai tanpa mengotori kesuciannya. Jaga diri, jaga hati, cinta itu untuk dihormati bukan dinafsui.

----

Bondowoso, 20 Ramadhan 1446

Rabu, 19 Maret 2025

TERBANG KE AUSY

 TERBANG KE AUSY 

Pak Tyqnue Azbynt 

Kecintaan terhadap timnas Indonesia menjarah semua lini, bapak-bapak, ibu-ibu, remaja termasuk kami para mahasiswa. Dari kampusku ada yang mengkoordinir tuk gabungan dengan Deltras Garuda.


Kami terbang dengan Batik Air, bersama para suporter lain. Sangat disayangkan Zara and the gang tak ikutan. Maklum mereka bukan penggila bola macam kami. Qantas airways yang membawa kami harus transit dulu di Singapura. Karenanya kami butuh waktu 10 jam 30 menit untuk tiba di Sydney. "Australia I am Coming", begitu teriak kawan-kawan saat turun dari tangga pesawat. 



Turun dari pesawat pas waktu sahur, kami disambut BMI yang sudah menunggu kami suporter Indonesia. Sesuai arahan mereka kami di ajak ke lapak-lapak yang sudah mereka dengan menu Indonesia. Dari kejauhan  sudah terdengar aroma sate Madura. Semakin meyakinkan saat aku melihat mereka berpakaian belang merah putih. Aku sedikit sombong sama BMI itu, akhirnya aku malu sendiri karenanya. Ternyata mereka bukan sekedar buruh migran, tapi mereka mahasiswa doktoral yang Nyambi kerja di situ. 

"Woy, kenapa kok bengong mas? Tak pernah lihat ciwi cantik yaa?" selorohnya.

"Hyaa, gak kok, ellunya Lom pernah digigit cowok gila macam aku kan?" Balasku 

"Hmmmm, kan ..kan ada orang gila dicium ciwi cantik", serobotnya pada pipiku. 

Huh, kaget bener aku dibuatnya, apalagi teman-teman malah membuliku.

"Woi ini bulan Ramadhan kok nafsuan sih, mestinya mencari Lailatul Qadar malah Lailatul kasus", timpalnya sambil menjorokkan kepalaku.

---

Bondowoso, 19 Ramadhan 1446

Selasa, 18 Maret 2025

MEMBURU MALAM QADAR

 MEMBURU MALAM QADAR 

Pak Tyqnue Azbynt 

Selepas tengah malam perlahan Musala dan masjid memilih senyap, tanpa pelantang suara. Malam yang kian dingin kian menyiksa raga. Sebelum waktu sahur tiba, aku coba merangsek menuju masjid di seberang jalan. Niat hati sih ingin mencari kudapan gratisan seperti Musala di gang kami. 

Masyaallah, masyaallah ternyata suasananya begitu beda. Tampak orang-orang yang sedang khusyuk berzikir, bertadarru', bertafakur menemui sang Ilah. Aku seperti asing dengan diriku sendiri, tak tahu arah tak tahu bentuk tentang semuanya. Terasa begitu tak berarti diriku, sedang mereka sudah asyik menemui Tuhannya. Aku jauh, teramat jauh. Bingung harus berbuat apa? 

HP menjadi tempat curhat tuk bertanya tentang keistimewaan malam Ramadhan dan amalan-amalan penyertanya. Tadarus, tarawih, dan i'tikaf melebuhkn diri pada Tuhannya. Jika malam Qadar itu setara seribu bulan, lalu apa yang sudah kuperbuat? Berapa kali Ramadhan aku telah menyia-nyiakannya? Berapa banyak aku berbuat hina di malam-malam itu. Dalam ketidak khusuanku kupaksa duduk bersila, hanya bertanya-tanya. Aku harus berbuat apa? Aku tak bisa khusyuk meminta, tak bisa menyatukan cipta, rasa, dan karsa. Diamku adalah ketidakmampuan  mengenal Tuhanku. Ritual-ritual hanya menjadi habitual yang kering makna. Tuhan, dalam ketidak khusuanku, ijinkan aku meminta, berilah cara agar aku lebih jauh mengenai-Mu.

-----

Bondowoso, 18 Ramadhan 1446

Senin, 17 Maret 2025

KOLAK PISANG

 KOLAK PISANG 

Pak Tyqnue Azbynt

Cerita anak kost di bulan Ramadhan ada saja yang aneh dan lucu. Kami menyemarakkan bulan itu dengan merapat ke simpul-simpul tempat ibadah. Sore selepas asar kami tadarus di musala dekat gang komplek kost, tujuannya sih debatable. Antara ibadah dan iftar gratis, ya lumayanlah bisa mengurangi budget bulanan. 

Selepas Isyak kami memenuhi musala tuk tunaikan salat jamaah tarawih bersama anak kost lain dan warga sekitar. Selepas tarawih berlanjut tadarus Alquran hingga pukul 24.00, lanjut persiapan sahur di kostan. Kami hanya biasa memasak mie atau belanja nasi goreng dll di gang kost. Tapi malam itu hujan lumayan deras dan listrik kebetulan padam. 


Aku dan teman satu kost, mulai sedikit panik, tak ada makanan sahur, mie pun mentah, sedangkan kami biasa memasak menggunakan pemasak dengan power dari listrik. And finally kami memutuskan untuk tidak sahur malam itu. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara membangunkan sahur dari menara masjid. Aku yang tadi berbukanya hanya sedikit mulai mengeluh kepada teman-teman. Di tengah kecemasan itu, Andre temanku punya usul, "Coba bro phone si Zara, kali-kali aja ada makanan lebih"

"Yah ngawur aja lu, dia tuh lain gang dan lumayan jauh dari kost kita". 

"Ya udah ga usah ribet, sekarang libur sahur", celetuk Abdullah. 

"Oh ya bro, tadi di beranda Musala masih banyak sisa kolak pisang mungkin masih bisa kita garap" imbuhnya. 

Aku pun bersegera menuju Musala tuk memantau siapa tahu masih bisa di gaspol gitu.

"Oh mas Dino ngapain mas?" Tanya Pak RT mendekatiku.

"Owh anu pak, HP saya ketinggalan tadi. Yaa Allah ini makanan kok dianggurin kan mubazir?" Sambungku.

"Bawa aja mas sapa tahu teman-temannya ada yang mau?"

Aku pun membawanya 6 cup plastik ke kostan. Dan sampai di kost kami tambahi air mineral agar bisa cukup dinikmati bersama .

----

Bondowoso, 17 Ramadhan 1446

Sabtu, 15 Maret 2025

KONSPIRASI

 KONSPIRASI 

Pak Tyqnue Azbynt 



Konsultasi laporan penelitianlah yang membuatku kembali ke kampus di Malang. Menemui academic advisor menjadi peretas otak buntuku. Berhari-hari di kota kelahiran justru banyak membuang waktu bersama ciwi ciwi yang samasekali memperlambat tugas kampus. 



Selepas salat Zuhur kutemui bak kantin tuk charge perut yang sudah low batt. Di kantin itu aku sudah terbiasa bercanda bar-bar, bercengkrama santai atau meregangkan otak yang sudah lama kejang-kejang oleh tugas. Bidadari-bidadari kampus yang sering mangkal di situ menjadi pencuci mata bagi mahasiswa mata keranjang macam aku.



Aneh bin ajaib ternyata geng bidadari itu semua cuek padaku. Zara, Iseh, Ayesha dan Inar macam tak kenal padaku. Mereka bersama seorang cowok keturunan Arab ngantin bareng. Sapaanku diacuhkan oleh mereka. Dan terpaksalah menemui Bak Mery seorang clerk kampus yang sedang beli air mineral. Kuajak dia bincang sekenanya agar hatiku yang getir sedikit terhambarkan. Cindy bak kantin ikutan nimbrung. Dari dialah aku tahu kalau semua ini direncanakan oleh Zara and the gang, katanya mereka sudah pada dongkol dengan sikapku yang plintat plintut macam tali kolor saja. Ternyata sakit juga kalau ada cemburu yang menimpa. 

___

Bondowoso, 15 Ramadhan 1446

Jumat, 14 Maret 2025

TERJEBAK DI RUANG NOTARIS

 TERJEBAK DI RUANG NOTARIS 

Pak Tyqnue Azbynt 



Nyantai sejenak karena hari Jumat ko Dibjo sang pemilik kedai menyilakanku tuk libur di  hari itu. And so aku hanya mengantar Fathma ke kantor Notaris - PPAT untuk meminta surat registrasi dokumen bank untuk keterangan scholarship di Taiwan. Ya namanya disuruh si Boss ya berangkat saja apalagi mengantarkan si bening Fathma. Yaa bisa healing mata dan perasaan deh. 


Beberapa kantor notaris yang kudatangi ternyata tidak siap memberikan surat rekomendasi tersebut gegara berbahasa Inggris, yaa alasannya macam-macam demi menutupi ketidaktahuannya. Terakhir ada yang Bonek memberikan tandatangan dan stempel tapi anehnya tanpa notulasi. Terpaksa aku sampaikan pada Fathma itu bisa illegal karena tanpa keterangan apa-apa.


"Mohon maaf sist, karena notulasi yang di-release pihak bank itu berbahasa Inggris ya di sini harus berbahasa Inggris pula". Setelah berkilah macam-macam demi menutupi ketidaktahuannya, akhirnya aku beri gambaran hal yang dimaksud. Berkali-kali salah baik vocabulary-nya maupun grammernya. 

"Mohon maaf, boleh saya masuk ke bilik itu?" 

"Oh boleh silakan saja"

Kutunjukkan kesalahan-kesalahannya dari notulasi itu. Finally saya diminta untuk menjadi penerjemah jika ada hal yang serupa. Ya, jawabku boleh saja asal ada staff ceweknya yang bisa jadi gacoanku. Yang di luar dugaanku justru Sang Notaris bilang, " kalau masnya mau ya aku saja, soalnya aku lebih tua dari jenengan". Jawaban yang di luar dugaan. Ya Tuhan mana yang harus aku oerioritaskan, Zara, Fathma, atau Widya Sang Notaris? Nikmat apa yang aku kufuri?

Tuhan, hatiku sedang kacau, di kuasa Mu hamba meminta pertolongan.

---

Bondowoso, 14 Ramadhan 1446

Kamis, 13 Maret 2025

ANAK KEDAI CHINESE

 ANAK KEDAI CHINESE 

Pak Tyqnue Azbynt 



Tugas penelitian dari kampus menambah puyeng otakku. Biaya dan biaya kian bertambah demi mobilitas kegiatan yang kian padat. Perlahan Zara Eng aku tinggalkan sejenak demi kesuksesan kuliah di kota orang itu. Untungnya dia tak tahu pemilik pager yang aku berikan saat di pelataran kampus beberapa pakan lalu. Biarlah dia menunggu manusia misterius yang berkostum badut itu.


Sebisa mungkin aku melobi academic advisor untuk mencari tempat penelitian di kotaku saja, ya bisa zero kost, kan bisa pulang. Walaupun sedikit ngeyel dan memohon-mohon akhirnya terkabul juga. Tajuk penelitian tentang pola hidup masyarakat Madani.


Pilihanku jatuh pada sebuah keluarga etnis Tionghoa pemilik Chinese Food Resto di bilangan Pecinan kotaku. Pilihan ini kupertimbangkan karena kedisiplinan dan kemapanan gaya hidupnya, walaupun sederhana tapi tampak para penghuninya bahagia.


Baru 3 hari di tempat penelitian, aku dikejutkan oleh seorang wanita slim dengan kulit beningnya. Aha, dia Fathma Fung yang pernah memberi uang saat aku ngamen di kostannya.

"Ah ellu, penelitian juga?"

"Penelitian apa?"

"Makul Sosiologi antropologi"

"Haah enggak kok, aku pulkam kangen papa mama"

"Kok di sini?"

"Yaa iyaa lah ini kan rumahku"

Sejak saat itulah aku tahu kalau dia sekota denganku. Keramahannya dan tampil tak berlebihan, menjadikan kami lebih akrab. Entahlah kok terasa ada perasaan lain di hati ini. Tapi aku tak berani macam-macam lagian sudah punya Zara. Sejak kepulangan Fathma, aku selalu diberi sajian istimewa. Hal itulah justru membuat waktunya sedikit delay, dan cenderung berlama-lama. Toh soal pelaporannya mudah, dan bisa disiasati. Haruskah aku mendekati Chinese muslimah yang ramah ini ataukah tetap bertahan dengan Zara.

----

Bondowoso, 13 Ramadhan 2025

HIDUP DI DUA ALAM

 HIDUP DI DUA ALAM Pak Tyqnue Azbynt Motor kubejek abis hingga bajuku kiwir-kiwir digoda angin. Bayangin aja Upacara Hari Santri Nasional di...