ANAK KEDAI CHINESE
Pak Tyqnue Azbynt
Tugas penelitian dari kampus menambah puyeng otakku. Biaya dan biaya kian bertambah demi mobilitas kegiatan yang kian padat. Perlahan Zara Eng aku tinggalkan sejenak demi kesuksesan kuliah di kota orang itu. Untungnya dia tak tahu pemilik pager yang aku berikan saat di pelataran kampus beberapa pakan lalu. Biarlah dia menunggu manusia misterius yang berkostum badut itu.
Sebisa mungkin aku melobi academic advisor untuk mencari tempat penelitian di kotaku saja, ya bisa zero kost, kan bisa pulang. Walaupun sedikit ngeyel dan memohon-mohon akhirnya terkabul juga. Tajuk penelitian tentang pola hidup masyarakat Madani.
Pilihanku jatuh pada sebuah keluarga etnis Tionghoa pemilik Chinese Food Resto di bilangan Pecinan kotaku. Pilihan ini kupertimbangkan karena kedisiplinan dan kemapanan gaya hidupnya, walaupun sederhana tapi tampak para penghuninya bahagia.
Baru 3 hari di tempat penelitian, aku dikejutkan oleh seorang wanita slim dengan kulit beningnya. Aha, dia Fathma Fung yang pernah memberi uang saat aku ngamen di kostannya.
"Ah ellu, penelitian juga?"
"Penelitian apa?"
"Makul Sosiologi antropologi"
"Haah enggak kok, aku pulkam kangen papa mama"
"Kok di sini?"
"Yaa iyaa lah ini kan rumahku"
Sejak saat itulah aku tahu kalau dia sekota denganku. Keramahannya dan tampil tak berlebihan, menjadikan kami lebih akrab. Entahlah kok terasa ada perasaan lain di hati ini. Tapi aku tak berani macam-macam lagian sudah punya Zara. Sejak kepulangan Fathma, aku selalu diberi sajian istimewa. Hal itulah justru membuat waktunya sedikit delay, dan cenderung berlama-lama. Toh soal pelaporannya mudah, dan bisa disiasati. Haruskah aku mendekati Chinese muslimah yang ramah ini ataukah tetap bertahan dengan Zara.
----
Bondowoso, 13 Ramadhan 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar