Total Tayangan Halaman

Minggu, 23 Oktober 2022

GULALI

 


GULALI 

Pak Tyqnue Azbynt


Sontak saja aku melangkah ke teras tempat anak-anak mahasiswa sedang ramai bengcengkerama malam itu. Memang biasa tiap malam selalu saja mereka ramai dengan berbagai kegiatannya. Sebagai orang tua aku mencoba untuk menelisik jauh tentang kegiatan mereka.  Kekhawatiranku kian menjadi karena mereka hanya diterangi oleh nyala lilin, dan kudengar celoteh mereka sedang menikmati sesuatu, apakah mereka sedang nyabu, atau lagi minum?.


Berbekal sebugkus rokok  Gudang Garam coklat kudekati mereka demi menjawab sebuah tanya di benakku. Telisik punya telisik mereka ternyata sedang bercanda selepas ngerjakan tugas-tugas kampus mereka. Ya Tuhan... ternyata mereka sedang membuat gulali ala anak kost. Bermodal sekilo gula pasir dengan alat sendok kuah yang dipanggang di atas nyala lilin. Dan jadilah lelehan karamel yang kemudian didinginkan dengan tampilan serupa mangkuk sendok kuah tadi. 


" Hampir tiap malam kami membuat gulali ini pak, demi menghemat biaya hidup di perantauan ini", celetuk Iqbal salah satu dari mereka. Dari tuturan mereka baru aku tahu bahwa mereka rata-rata anak buruh tani, bahkan ada yang hanya anak PRT. Kecurigaanku gugur seketika ketika kulihat di meja emper mereka ada 3 jilid Al-Qur'an. Pastilah mereka bukan anak nakalan seperti dugaanku. Yaa manis yang mereka buat dengan cara mereka, berarti mereka menikmati manisnya hidup kebersamaan di kosannya yang cukup bersahaja. 

" Kami tak pernah beritahu cara ini pada keluarga kami di rumah, kami sampaikan bahwa kami lebih dari cukup atas bekal rupiah yang mereka berikan", pungkas salah seorang dari mereka.

____

Bondowoso, 23 1022

Selasa, 11 Oktober 2022

DEDOA SELEPAS KERJA

 


DEDOA SELEPAS KERJA

Pak Tyqnue Azbynt


Bersama kuaknya mentari kudapati dia roomboy tengah serius menikmati kerjanya. Membersihkan semua Meubeler serta mengepel lantai bilik anggrek tempat istriku dirawat inap di RSUD Kota Tape Bondowoso. Kuodorkan 20 ribuan tuk sekedar uang tip di pagi itu. Ucapan terima kasihnya yang begitu mendalam adalah bukti atas kesyukuran pada Nya sang penguasa jagad. Kemudian ia beranjak di bilik sebelah yang didiami pasien kecil dengan seorang ibu muda yang membersamainya.  Tanpa tip tanpa ucapan terima kasih dari penghuni ruang itu, tapi sang roomboy tetap saja enjoy dengan kerjanya. 


Kulihat jam di HP-ku menunjuk ke titik 6.25 saat dia menuntaskan kerja di deretan bilik anggrek itu. Dari jauh kutelisik pandang padanya. Rupanya dia sedang komat kamit sedang  berdoa sembari tengadahkan tangan di pojok teras yang sedikit terhalang oleh dedaunan tanaman hias itu. Di bilik sebelahku kucermati ibu muda yang sedang membersamai anaknya itu sedang membiarkan air matanya banjir di pipi beningnya. Dugaku dia sedang bersedih karena anaknya yang masih balita itu sedang sakit. Iba rasanya aku melihat kenyataan itu. Dengan sangat berhati-hati kutanyakan pada ibu muda yang imut itu. Rupanya dia hatinya sedang luruh saat melihat mas roomboy itu sedang munajat dalam dedoa. 

Keesokan hari saat istriku hendak pulang karena sudah sembuh, kembali kutelisik pandang pada sang roomboy itu. Lagi dan lagi dia sedang berdoa selepas kerja. Entah apa yang ada di benakku, saat kupanggil agar kami    didoakan berikut juga di bilik sebelah. Dan kembali ibu muda itu menangis. Dari tuturnya kutahu dia butuh sentuhan rohani. Dari semua yang dia pakai serba branded menandakan dia orang tak biasa. Saat dia menyatakan butuh penyamangat ruhaniyah kutawarkan saja pada sang roomboy. Dia mengelak karena beda level, namun si ibu muda itu memaksa-maksa agar bisa membawanya dalam dedoa. " Mas nya kalau boleh dan berkenan sudilah kiranya datang ke rumahku di bilangan Kota Kulon Bondowoso..", pintanya.

" Maaf bak saya takut disangka macem-macem sama suami baknya", jelasnya.

" Owh, suamiku sudah meninggalkanku gegara tergoda anak mahasiswi yang kost di sebelah rumahku, dan kami resmi  cerai kok.  Oh yaa masnya kalau Sudi menjadi ayah dari anakku ini, masnya ga usah kerja di sini karena aku hanya butuh suami yang membimbingku dalam doa", pintanya. Dengan pertimbangan yang begitu mendalam, akhirnya mereka pada titik kesepakatan penuh keharuan. Tangisnya kembali pecah saat menyatukan harapan dalam balutan dedoa.

____

Bondowoso, 11 10 22

Sabtu, 01 Oktober 2022

CINTAKU KANDAS DI PLANTUNGAN

 


CINTAKU KANDAS DI PLANTUNGAN

Pak Tyqnue Azbynt


Memasuki pekan terakhir  September kami para rider SUGOI (Suzuki GSX owner Indonesia ) ditakdirkan riding ke perbatasan kabupaten Batang dan Kendal Jawa Tengah. Sengaja kami mengagendakan di sebuah desa yang bernama Plantungan kab. Kendal, tepatnya di Bumi Perkemahan Jodipati Plantungan. Masuk di pasar Tambang  sudah terasa kepenatanku. Sejenak kami tanya-tanya route yang harus kami lewati saat menyantap sedikit kudapan siang di pasar itu. Selepas shalat lohor di masjid dekat pasar itu kami pun back to the road. Akhirnya sampailah di jalan yang tak begitu lebar tapi masih layak tuk riding dengan motor sport  gede kami. 


Di kontur relief tanah yang terjal landai dan lapang itu menjadikan santapan nikmat mataku apalagi tetumbuhan hijau  yang menjadi ciri khas tumbuhan di lereng dan pematang tegalan. Tampak rumah-rumah kuno peninggalan masa lalu, kamp Belanda yang sempat di jadikan tempat pengasingan kusta, tapol khususnya GERWANI yang menjadi noktah hitam di negeri ini. 


3 tenda berhasil kami pancang dan saatnya tuk healing menyusuri area sekitar. Dari kali lampir kami menyaksikan sisa jembatan yang dibuat masa kompeni. Karena banjir bandanglah jembatan itu sedikit miring. Jelajah kami lanjut ke pemandian air panas Tirta As Syifa yang konon bisa buat terapi kesehatan karena kandungan sulphur dan kehangatannya itu. Di petirtaan itulah kami bertemu dengan gadis desa yang sedang memandu wisata. Walaupun dengan gaya sederhana tapi justru hatiku tertambat padanya. Aku pun berani perkenalkan diri demi mempersunting sang bidadari desa itu. Anastasia Sunu begitu dia menyebut namanya pada balutan senyum nan manis di bibirnya kala menyebut namanya. Hampir tiap hari aku datangi rumahnya selama sepekan di Plantungan demi kudapan khas pedesaan tapi tendensi utamanya adalah bisa menjabat tangannya sembari bercanda riang. Rasanya tak ingin aku pulang ke rumahku, begitu betah di tempat itu. Wajarlah kalau teman-temanku menyebutnya aku kesambet senyuman sang gadis. Sayangnya ternyata Anastasia telah dijodohkan dengan seorang Sekretaris Kecamatan yang tajir dan tampan itu. Hatiku remuk redam rasanya. Bertemu dengan pelancong asal  Dukuh Pandean Sumberjosari Karangrayung Grobogan Jateng hatiku mulai tenang. Mohammad Iskandar namanya, dengan sabar aku diajak ke pemandian air panas Tirta As Syifa. Aku disuruh berendam dan diawali dengan membaca surat Fatihah, dan selama berendam suruh baca shalawat atas nabi. Saat kami kembali pulang, aku pun mulai tenang walau separuh hatiku tertinggal di sana.

___

Bondowoso, 1 10 22

Kamis, 29 September 2022

LOVE MOMENT AT MAJORELLE GARDEN


Gambar milik mas Google

 LOVE MOMENT AT MAJORELLE GARDEN

Pak Tyqnue Azbynt


Subhanallah begitulah mulut ini tak hentinya bertasbih saat Travelling ke negeri mentari tenggelam Maroko. Semula aku menduga yang namanya Afrika adalah tandus dan tak ada kesan yang menarik, tapi demi menjelajah tahu kaum Barber aku terpaksa melakukan rihlah ilmiyah tuk mengentas tugas laporan jurnal Islamic Cultural History. Tugas tuk laporan pra tesis dari kampus ini kuanggap sebagai takdir  saja.

Perjalanan kami yang ikut paket tour diarahkan ke Etbenadu kampung suku Barber dengan pesona banguanan tanah liatnya. Kasbah ( benteng  dan pemukiman ) Etbenadu yang sudah menjadi World Heritage  UNESCO itu benar-benar memanjakan mata kami. Terbayar sudah lelah dan panas yang menyandera kami sepanjang hari. Sore itu lautan pasir Gurun Sahara benar-benar memamerkan keelokannnya, dari putih perak perlahan kuning keemasan, jingga tembaga hingga ungu kekelabuan mempermainkan warna saat mengantarkan si raja siang ke peraduannya. Di Camp besar Suku Barber atau suku Amazik kami dijamu ala hotel dengan sajian makan tradisional.  Cuaca malam yang perlahan mulai ekstrim kami enyahkan dengan bermain api unggun sembari melihat lepas langit Sahara yang bertabur gemintang. Sungguh malam yang indah, hingga terlupakan semua beban hutang, beban tugas yang kian menumpuk, he he. 


Selepas shalat subuh di atas serakan pasir Gurun Sahara aku bersama beberapa wisman bergegas menuju Masjid Hasan II masjid megah dengan menara tertingginya 210 m yamg berlampu laser yang tiap malam menyorotkan cahayanya ke kota Mekkah Al Mukaromah. Subhanallah luar biasa. Berkali ketakjuban itu membuatku menangis atas anugerahNya bisa berkunjung ke masjid yang berbatas dengan laut Altantik itu. Aku benar-benar terpukau oleh semuanya hingga aku tak sadar kehilangan back ranselku. Entah ketinggalan di mana hingga aku bak budak yang di pasung di tengah keramaian. Tak bisa apa-apa karena hilang semua bekal-bekalku. Beruntungnya di negeri itu bebas visa untuk warga Indonesia pasca terselenggaranya KTT Asia Afrika di Bandung, bahkan di situ ada nama Jl. Soekarno sebagaimana di Jakarta ada nama jalan Casablanca. Penghargaan atas jasa presiden kita dan Raja Maroko saat itu yang bisa kita nikmati hingga kini. Akhirnya aku ngasal saja ikuti rombongan ( entah rombongan dari grup mana ) menuju Majorelle Garden. Nervous,  cemas tak bisa aku hindari hingga aku collapse dan tak sadarkan diri. Aku tak ingat apa-apa. Entah hingga berapa lama aku hilang kesadaran, yang aku tahu tetiba saja ada embusan kipas yang menjamah-jamah tubuhku.

 " Are you Indonesian? ", Tanya seorang wanita berwajah oriental.

 " Yap I'm Indonesia ", jawabku dalam ambang kesadaran. 

" Owalah mas... Orang Indonesia toh... kenapa, kecapaian yaah?, kok Sampai collapse ?, " Tanyanya.

Aku sampaikan kejadian yang telah menimpaku saat di Masjid Hasan II sebelumnya. 

" Owh ... jangan-jangan ransel yang ada di bagasi mobil itu? ada tulisan Malang University-kah?".

" Yaah...betul, warna biru?", Tanyaku. 

Di Taman Majorelle itu aku kembali menemukan asa menemukan jalan pulang. Ternyata wanita itu bernama Dewy Rose dan teman-temannya sedang melakukan ' Travel Writing' sembari merayakan ulang tahunnya di 28 September 2022 ini, bersama komunitas penulis Nusantara. Moment itu takkan pernah kulupakan karena dari situlah justru merajutkan temali cinta kami. Indahnya taman dengan aneka kaktus dan beraneka tanaman eksotik lainnya menjadi saksi pertautan kasih kami di negeri mentari tenggelam itu, negerinya sang penjelajah Ibnu Batutah yang namanya menjadi noktah History di sejarah Islam di Indonesia. Semua rekaman dan catatan perjalanan kami akan menjadi sumber laporan jurnal untuk melengkapi tugas ilmiyahku. Yang tak pernah hilang di benakku, Etbenadu camp, suku Barber, rumah tanah liat Kasbah Etbenadu, Marrakech, Hassan Mosquera, Majorelle Garden, Sahara, and....Dewy Rose love. I always remember her love. I can't stop loving her.

___

Marakech, September 28 2022

Minggu, 25 September 2022

CAYA HILALI

 


CAYA HILALI 

Pak Tyqnue Azbynt

          Sebuah pesan permintaan dari seorang tentara yang dulu pernah sekampung denganku telah menyalakan nyaliku yang terlalu lama redup. Bang Tarmizi begitu aku memanggilnya, seorang tentara AD asal Nagroe Aceh Darussalam yang bertugas di kesatuan RAIDER 514 Bondowoso. Lama aku tak mendengar beritanya tahu-tahu mengirimkan pesan via WhatsApp agar aku datang ke sebuah tempat yang bernama Puring Kencana Kapuas Hulu daerah yang mendekati perbataan distrik Sri Aman Kuching Malaysia.  Negara membutuhkanmu kawan, kami butuh relawan pendidikan yang punya kecakapan khusus terutama pembuatan media pembelajaran..., jangan cemas urusan gaji, separuh gajiku aku berikan padamu sebelum negara ini merespon usaha kita, katanya. Aku meng-iyakan saja tapi niat membelotku ada, aku hendak kerja di Malaysia dengan cara illegal.            

          Bersama beberapa tentara yang baru ditugaskan di kecamatan dengan luas 440 km2 itu menjadi tantangan yang di luar dugaanku. Jarak ratusan km harus kami tempuh dari kabupaten Putusibau Kapuas Hulu melalui jalanan darat yang sama sekali tak bersahabat dengan kami. Beruntung kami dibersamai bapak tentara dan dengan mobil 4x4 mereka bisa melibas trek yang menyiutkan nyali saja. Beruntunglah kami bisa tiba dengan selamat walaupun badan serasa remuk gegara guncangan di perjalan sepanjang 250 km itu. 

          Satu bulan pertamaku hanya dihabiskan di barak militer bersama para penjaga negeri di titik terluar itu. Aku memilih adaptasi terlabih dahulu sesuai anjuran bapak-bapak tentara yang berusaha meyakinkanku. Pasca gajian bang Tarmizi mengajakku ikut menjelajah ke area tempat anak-anak belajar tepatnya di SDN 01 Sungai Antu. Naluri mendidikku masih ada rupaya saat melihat generasi bangsa berlarian di halaman sekolah mereka. Ingin rasanya aku mengajak mereka bernyanyi, melukis, atau mendongeng yang sudah menjadi passionku. Saat kami memasuki gerbang sekolah itu, Pak Alexander mempersilahkan kami melihat-lihat kelas dan lingkungan sekolahnya. Dari situlah aku mengetahui bahwa mereka butuh guru yang kreatif untuk membuat berbagai peraga sekolah hand made. Sebagai matan guru yang seorang perupa macam aku hal itu bukanlah hal yang menyulitkan.

          Gagal menjadi guru PNS di sekolahku dulu telah menjadikan semacam fobia untuk menjadi pendidik,tapi demi tendensi tujuan lain aku menyanggupi permintaan pak kepala sekolah agar aku menjadi bagian dari pendidik di sana. Alasan lainlah yang menjadikanku menyanggupinya. Suatu saat aku akan keluar negeri secara ilegal, begitu batinku. Menjadi guru SD Negeri yang PNS, P3K atau sejenisnya sepertinya takkan bisa aku gapai, karena basic-ku guru PAI tak punya peluang di tempat itu yang sudah ada guru agamanya. Kali itu aku menyanggupinya tanpa pikir jadi ASN, alasanku satu yaitu batu loncatan tuk ke Malaysia secara ilegal.

          Di HUT RI yang ke 77, di  distrik itu seperti tempat lain yang mengadakan lomba Agustusan yang digagas oleh bapak-bapak tentara dan pemerintah kecamatan, menjadi moment khusus bagiku karena bisa lebih kenal dengan masyarakat lebih dekat. Niat untuk mencari petunjuk ke Malaysia melaui info masyarakatlah yang kucari. Pendekatan awal melalui kepala desa. Tanya ini itu dan sebagainya sebagai pemula pembuka akses informasi. 

           Pak guru..., dulu di desa ini ada seorang guru perempuan yang punya dedikasi yang cukup tinggi, dengan gaji sekedarnya tetap saja semangat, tapi karena ada keluarganya yang meninggal dia pulang ke Sukabumi Jawa Barat sana. Janjinya sih hanya sebentar tapi sudah hampir 7 bulanan belum juga kembali ke sini. Dia malah sering ikut warga berjualan di Pasar Sri Aman Malaysia , paparnya.

            Owh benarkah?, memangnya jualan apa kok sampai ke Malaysia?, Tanyaku.

            Hasil bumi pak, tapi berangkatnya pukul 12 malam melalui jalan tak resmi yang lebih dekat dan tak perlu pasport, Katanya.

         Sejak mendapat info dari Pak Kades aku mencari-cari cara agar bisa ikutan warga tuk membantu berjualan di negeri sebelah. Aku pun sudah dapat peluang dari tetangga Pak Kades untuk ke Malaysia, tapi harus membantu memanen hasil bumi dulu. Tak seperti biasanya di desa itu pemanenan dilakukan sore menjelang petang, demi mempertahankan kesegaran sayur atau palawija yang hendak mereka jual. Konon di Pasar distrik Sri Aman sayur dan buah dari Indonesia sangat diminati warga saja karena kualitasnya cukup bagus. 

          Pukul 12 malam kami berangkat melewati jalan setapak dengan jarak 11 Km yang hanya bermodalkan senter kecil plus jalan kaki pula. Pukul 3 kami telah tiba, di pasar itu yang punya selisih 1 jam lebih awal di negeri tetangga itu. Selepas menggelar lapak, kami pun dikerumuni para pembeli. Alhamdulillah kami bisa pulang pagi ke Indonesia dengan membawa 200 Ringgit Malaysia. Terbayar sudah lelah kami yang menembus pekat malam dengan kelelahan yang menjalar di tubuhku yang tak terbiasa jalan di tengah malam  sejauh itu. 

          Jalan untuk keluar negeri sudah tergambar jelas, tekatku makin kuat pula. Sekali lagi naluri mengajarku masih ada kala membersamai anak-anakku yang sudah begitu dekat denganku. Hal itulah yang membuatku tak pernah jadi untuk kabur ke kota Kuching Malaysia yang bersebelahan dengan tempatku berada. Tak tega rasanya meninggalkan generasi bangsa yang berada di titik terluar negaraku. Masa sih harus aku tinggalkan mereka setelah kepergian bu guru idola mereka?.

          Selama sepekan terakhir aku hanya bisa mengisi pelajaran jam-jam terakhir karena kecapaian tiap hari pergi ke pasar, apalagi di sekolah dilatih upacara oleh bapak-bapak tentara. Pikiranku telah teracuni halusinasi untuk kabur dan kerja di Malaysia. Perbedaan sekolah di Malaysia dengan di Indonesia cukup mencolok. Di Indonesia kekurangan biaya sementara di dekat perbatasan seperti di sekolah Simanggang Sri Aman yang menyediakan asrama dan fasilitas lengkap untuk siswa siswanya yang ternyata ada warga kita yang bersekolah di sana dengan modal punya Id card penduduk Malaysia. Gaji guru yang besar, walau pun pendatang juga boleh asal punya komitment yang kuat. Alasan itu semakin menggodaku.

           Hari itu Rabu 17 Agustus 2022 bertempat di lapangan kecamatan, kami bersama warga sekolah membaur dengan semua pegawai kecamatan, tentara serta aparatur yang lain tuk mengikuti upacara bendera HUT RI ke 77. Penyampain pidato Pak Camat menegaskan agar kami cinta NKRI ini dengan sepenuh hati, aku acuhkan dalam hatiku. Tapi kala menyanyikan lagu-lagu Nasional hatiku bergetar saat menghayati lirik lagu-lagu itu, apalagi penyanyinya cukup bagus membawakannya and plus cantik pula. Barulah aku tahu dialah yang diidolakan murid-murid kami yang ternyata sudah datang kembali dari Jawa. 

          Yaaap itulah beberapa lagu yang dibawakan oleh Bu Guru cantik Nur Hilaliyah,. Sila dilanjut bu guru...., kata protokol.

          Baik hadirin yang berbahagia, untuk lagu berikut saya akan bawakan sebuah judul  Berkibalah Benderaku karya almarhum Gombloh. Saya tantang untuk hadirin jika ada yang bisa dan suaranya 11-12 dengan saya jika cewek saya berikan gaji saya selama sebulan, tapi jika cowok akan saya jadikan pacar saya, kata si bu guru cantik itu. Tapi anehnya tak ada satu pun yang meng-iya-kannya. Kalua aku memang tak berkata apa-apa dengan harapan saya mau mendekati langsung sebagai kejutan saat lagu dimulai. Baru tut organ dibunyikan, aku langsung berlari ke panggung dengan tepukan riuh hadirin. Sebagai budak seni yang pernah menjadi manager Viper Band di kotaku, soal nyanyi-nyanyi bukan hal yang merepotkan bagiku.

          hadirin sekalian saya bertanya..., apakah saya bisa 11-12 dengan suara bu guru ini?, timpalku selepas menuntaskan lagu. Dan ternyata mereka menyatakan 12-12.

          Naaaah kalau begitu mohon disaksikan pula, sesuai dengan janji Bu Guru tadi, jika cowok jadi pacarnya kan.?.  tanpa kuminta sang bu Guru itu langsung menggamit tanganku dan di kecupnya di hadapan para pejabat dan peserta upacara. Untungnya aku bisa kendalikan diri di event itu, penginnya sih aku peluk erat dan kukecup keningnya sebagaimana kebiasaan nakalku, he he.

_________ 

Bondowoso, 25 September 2022


Kamis, 22 September 2022

MENGASINGKANKU

 

 photo by Google

MENGASINGKANKU

Pak Tyqnue Azbynt


Di bulan kelahirannya kucoba menelisik jauh tentang kabarnya. Adakah langit di atas rumahnya masih mendung bagai dulu?, atau bahkan terik kian menyiksa raganya. Kuberharap angin yang membawaku adalah penyejuk raga penyegar suasana, namun semua pintu telah ditutupnya rapat-rapat tak ada sedikit pun celah untukku.


Kuteringat saat-saat dia begitu pasrah, tumpahkan semua gundah, semua canda tanpa sekat tanpa jeda. Tak ada tabir yang menyekatnya karenanya dari desir napas hingga keluh kesahnya tumpah semua ke dadaku. Entah kaukus apa yang telah mengenyahkanku dari benaknya. Aku hanya bertanya pada alam mengapa semuanya begitu beda.


Semua memori tentangnya kutulis di blogku agar tiap rasa terjejak di tumpukan diksi-diksiku. Karena semua tulisan kubuat dengan sepenuh hati segenap rasa. Banyak viewer dan  apresiator dari para budak  literasi telah menakdirkan aku menjadi salah satu nominee penulis terbaik. Kuharap dia tahu tentang semua kisah ini, namun sayang berjuta sayang dia telah mengasingkanku. " Selamat yaa atas keberhasilan anda...", cuitnya. Ya terima kasih masih bisa berujar ' selamat' , tapi kekata "anda", berarti dia telah mengasingkanku ke antah berantah yang tak tahu bagaimana menemukan jalan pulang.

___

Bondowoso, 22 9 22

Sabtu, 17 September 2022

September Biru

 


SEPTEMBER BIRU

Pak Tyqnue Azbynt


Jika ada kado indah boleh kusematkan di jari manisnya, sebentuk cincin bertuliskan 'September 18th' 2022, lalu kulum senyum membuncah di bibir manis itu  Saat kugamit jemarinya darah mengalir di seluruh nadiku, kutersenyum, dan dia pasrah rebah di bahuku.


Hari itu Ahad selepas ashar di sebuah rumah makan etnik bertajuk Waroeng Joglo kulihat dia sedang dibersamai geng sekolah tempatnya mengajar sedang menyelenggarakan pesta kecil ulang tahunnya. Dari bocoran salah satu temannya aku pun pergi ke warung yang ada di kaki Argopuro itu. Walau aku tak diundang dan memaksakan diri tuk menyelinap di acaranya. Karena pemilik warung itu masih ada hubungan keluarga denganku, dan juga hubungan sesama pengabdi seni, segala sesuatunya bisa aku setting agar bisa menciptakan moment yang dramatis. 


Dari bilik tengah akulah yang membawakan tumpeng dengan sajian bebek ungkep plus lalapan kesukaannya kuantar di meja yang sudah di booking oleh gengnya. Dengan masker di mulutku yaa lumayan bisa tersamarkan. Mereka sudah nyanyi-nyanyi dan ber happy-happy. Salah seorang temannya menyanderaku agar aku menyanyikan lagu untuknya. " Boulevard " kulantunkan tuk memagnetkan perhatian padaku. Sembari bersimpuh kaki sebelah kupegang tangannya, dia tetap saja tak sadar siapa sebenarnya jati diriku. Lagu pun usai. Sesaat kemudian kukeluarkan sebentuk cincin platinum bertuliskan September 18th, yaa hanya itu, karena aku bukan sesiapanya. Tapi kulum senyumnya bisa kusimpan baik baik di bilik hatiku.

____

Kaki Argopuro, 17 9 22

Gasoline

 


GASOLINE

Pak Tyqnue Azbynt


Di sebuah mini POM dengan tulisan Indomobil  kudekatkan motorku yang sudah mulai ada tanda-tanda akan haus. Dengan sapa sopan sang  operator menanyakan hendak beli berapa?, Kujawab 20.000, saja karena untuk matic dengan kubikasi kecil tak butuh banyak BBM. But...wait, tapi kok malah hanya seiprit. What?. 

Sebagai seorang ASN aku sembunyikan saja kekesalanku di area publik. Tapi diam-diam aku Googling perihal harga dan kualitas Gasoline itu. Dan benar saja harga dan kualitasnya setara Pertamax. Yaa lumayan dongkol di hati, sembari menyodorkan selembar uang 20 ribuan itu. 

" Owh ini bapak yang sering posting karya tulisan nya di medsos ya?", tanyanya. 

" Yap benar”.

" Owh boleh saya beli beberapa karya bapak tapi saya minta ditandatangani langsung", pintanya. Segera saja aku berikan 4 buku dari dalam jog motorku dengan judul yang berbeda. Alhamdulillah keluar 20 ribu masuk 200 ribu di gerai Gasoline Indomobil.

___

 Bondowoso, 17 9 22

D I n g i n

 


DINGIN

Pak Tyqnue Azbynt


Malamku adalah jelajah ke dinding-dinding rumahnya. Walau hanya dalam angan kuingin menyelusup ke dalam kamarnya, lalu kudekap erat-erat sembari berucap," Aku cinta padamu", dan dia luluh dalam kepasrahan. Aah ini hanya tumpukan angan yang menjadi jadi saja. 

Belum sempat tertuntaskan membuat tulisan tetiba saja pesan WhatsApp menjelajah HP-ku. Belum sempat kubaca tapi dia menghapusnya. Malamku hanya berselimutkan angan karena dia yang lagi online, saat kukirim pesan tapi tak ada satu titik pun yang dia kirimkan. Hingga azan subuh tiba tetap tak beranjak menuliskan pesan, dan kuanggap aku  saja yang ' halu '. 

Ahad pagi kusempatkan ke alun-alun di gelaran car free day. Demi mengusir kejenuhan saja aku melangkah ke sana, tak ada kegiatan yang jelas dan terprogram. Saat kududuk berjongkok melihat deretan bunga anggrek tetiba aku tertubruk seorang wanita dengan anak kecil yang terpeleset bungkus makanan. Dilalah malah dia yang beberapa malam yang lalu kutunggu kabarnya. Ah saat tubuh lembutnya bertumpu ke punggungku, kurasakan ada kecemasan dan keraguan saat memohon maaf padaku. Dan aku pun hanya berkata, " yaa maafkan aku juga karena  aku sering menghayal tentang dirimu". Dan kulihat matanya nanar sementara bibirnya hanya bergetar tak mampu mengucapkan sesuatu pun.

__

Kaki Argopuro, 17 9 22

Jumat, 16 September 2022

MENUMPUK DI SATU TUMPUAN

 




MENUMPUK DI SATU TUMPUAN

Pak Tyqnue Azbynt


"Aku gagal menjadi seorang ibuyang baik karena harus berperan sebaai seorang ayah. 

Aku gagal menjadi seorang istri karena harus berperan sebagai seorang suami. 

Aku gagal menjadi menjadi tulang rusuk karena harus menjadi tulang punggung",  kekata itu kau semat pada goresan-goresan lepas di buku memorinya. Sejatinya itu benar adanya tapi perannya sebagai ibu takkan pernah tergantikan, tercipta sebagai tulang rusuk takkan dinihilkan. Di balik  kecadasan dan kegetiran perjuangan senyum seorang wanita tetap indah jua.


Di sebuah mini market kutampak dia sedang menggamit tangan mungil bocah perempuan yang imut. Bocah yang merengek minta dibelikan es krim itu tak direstuinya, semula kukira dia pelit atau memang tak ada uang. Ternyata dari bimbingnya pada bidadari kecil anaknya itu baru aku tahu betapa bijaksananya dia. 

" Nak...bukan mama tak mau membelikan kamu es krim, tapi aku khawatir batuk pilekmu kambuh lagi. Masa sih mama harus semalam suntuk begadang nemeni kamu sakit..., hayo beli yang lain selain es krim", begitu bimbingnya dengan lembut. 

Dari deretan kursi kafe di depan mini market itu kuperhatikan dia dengan seksama. Tak ada yang aneh padanya, bahkan kekatannya begitu lembut membimbing, santun. Tapi kenapa dia harus menjadi single parent?. Ah tak tahulah.


Suatu saat aku sedang menjadi juri sebuah event lomba lukis tingkat SD- MI di desa dekat kampungnya. Kembali aku melihatnya, tapi kali dia sedang membersamai murid-muridnya. Sebagai juri aku sengaja menjauh dan tak memberikan perhatian lebih. Di saat panitia sedang melakukan pengawasan lomba, aku mengadakan ramah tamah dengan para kepala sekolah. Dilalah kepala sekolahnya menuturkan bahwa Bu guru cantik itu menjanda gegara mempertahankan kesantunannya dalam beragama, mempertahankan aqidahnya, apalagi lelaki pilihan orang tuanya itu selingkuh dengan tetangga satu desanya. Karenanyalah dia memilih menjanda dengan seorang anak yang membersamainya. Owh kirain dianya yang manja, begitulah pikirku.

" Maaf pak lombanya udah kelar, pak kepala ditunggu guru-guru ", katanya saat dia menghadap kepala sekolahnya. 

" Yeee pak juri ini pak yang sering menelisik pandang padaku kalau aku sedang belanja. Ternyata bapaknya juri, awas ya kalau muridku gak ada yang menang!, akan tahu rasa kalau disenyumin janda imut, pasti migrain atau vertigo",  pungkasnya sembari senyum yang menyandra seluruh sukmaku.

____

Bondowoso, 16922

HIDUP DI DUA ALAM

 HIDUP DI DUA ALAM Pak Tyqnue Azbynt Motor kubejek abis hingga bajuku kiwir-kiwir digoda angin. Bayangin aja Upacara Hari Santri Nasional di...