Total Tayangan Halaman

Senin, 12 Mei 2025

RAYYA ELDEEDA

 RAYYA ELDEEDA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Masuk di ruang lab kimia kampus National Yang Ming Chiao Tung University (NYCU) musim gugur tahun ini terasa tak nyaman di hati. Mungkin karena rindu tanah air dan orang-orang tercinta di rumah yang sudah setahun tak bersua muka. Kesibukan di Taiwan menjadikan hari-hari begitu padat tak seperti ketika kuliah S1 ku di Indonesia. Badan terasa capek dan kehilangan semangat tuk ngelab di sesi hari ini. 


Tak banyak pelajar dari asia tenggara yang mengambil program di kampus itu, mungkin karena kendala bahasa atau hal lain yang merepotkan. Bagiku soal bahasa bukanlah kendala toh mahasiswa banyak menggunakan bahasa Inggris dan bahkan di fasilitas fasilitas umum banyak bertuliskan Bahasa Indonesia. Mungkin karena banyak pekerja migran asal Indonesia atau karena hubungan bilateral kedua negara, entahlah. Aku memilih bermain game di laptop demi mengusir badmoodku. 

"Hi, are you Indonesia?", sapa seorang gadis di dekatku.

"Oh, yah, I'm Indonesian, I am Javanesse"

"Owww jowo Endi?" Lanjut cewek pirang itu penasaran. Usut punya usut dia asal Bondowoso Jawa Timur yang setahuku berbahasa Madura. Semula aku duga dia asli Taiwan karena kulitnya yang bening dan rambutnya yang dipirangkan itu menjadikannya tak tampak seperti orang Indonesia. 

"Aku biasa keluar masuk lab ini mas, tapi bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai room girl yang membersihkan dan menata alat-alat di sini. Kukira dia sebagai laboran ternyata hanya seorang room girl, yaa kurang sebanding dengan kemolekan wajahnya, apalagi tampilannya yang super rapi itu. Btw, dia semula hanya sebagai pekerja di rumah salah seorang dosen di kampus itu. Mungkin karena kerjanya yang bagus dia dipekerjakan di situ, entahlah. Bicaranya tertata bagus menunjukkan level pendidikannya. Dan benar saja justru dia lulusan fakultas tarbiyah di UIN Malang, hanya saja dia tak menggunakan jilbab seperti layaknya anak kampus muslim. Mungkin karena penyesuaian dengan lingkungan kerjanya.

Menapak kaki di negeri orang bagi seorang wanita apalagi berpendidikan tentunya sudah dibarengi dengan penataan asa yang kuat. Di tanah air yang sulit mendapatkan kerja, terlebih lagi ramainya disensi terhadap situasi ekonomi nasional yang kurang menguntungkan. Pilihan "kabur aja dulu" menjadi tekat Rayya. Bagiku di Taiwan ini bukan dalam kontek kabur tetapi memang melanjutkan straraku ke S2 yang jurusannya memang linear plus beasiswa yang dipromotori oleh Profesor di tanah air.


"Masnya kangen masakan Indonesia? Kalau mau aku buatkan nanti sore, kan homestay saya di ujung jalan itu, sekitar 100 meteran lah"

"Boleh, berarti aku harus kesana?"

"Ya bisa aku ke mess-nya mas, atau jenengan yang ke tempat saya ya munggo kerso"

Akhir kusanggupi tuk ke griya tinggalnya. 


Sore itu aku tiba di berandanya, tampak di sisi jalan pohon Cemara merah yang dedaunnya berguguran menjadikan jalanan penuh sampah musim gugur. Beruntunglah dia yang bernama RAYYA ELDEEDA itu diberi homestay oleh juragannya di sisi kiri rumahnya. Aku ketuk pintu, dia pun muncul dengan wajah segarnya yang rasa-rasanya baru usai mandi. 

"Wih, segarnya", celetukku.

"Yah biasa mas habis berbenah di rumah si boss, lagian sekarang lumayan gerah"

"He he untung deh aku datang pas musim gugur gini, jadi bisa menikmati suasana alam"

"Lah, justru banyak pohon meranggas"

"Gak kok"

Dia hanya mengernyitkan dahinya, tak memahami goda nakalku. Barulah setelah kupelototi kemolekan wajah dan tubuhnya, dia mulai mengerti dan sedikit malu.

"Oh, si mas, malu ah"

"Boleh kan aku memelototi apa yang ada di depanku ini? Boleh Doong, please ah", godaku sambil memegang kedua tangannya. 

"Husss ini mau makan lodeh, apa mau merayu?"

Dia pun mengambilkan aku lodeh dan semangkuk kecil nasi putih. Tanpa disilahkan langsung saja aku makan, tapi suapan pertama aku tujukan padanya. Dia pun mau walau sedikit ragu. Air matanya menetes teringat akan tunangannya yang pernah melakukan hal yang sama namun peristiwa itu harus dikubur dari ingatannya karena dia lebih memilih seorang guru SD yang lebih mapan. Semula kukira dia sedih karena ulahku. Reflek saja kutarik dia kucium keningnya kudekap dengan penuh kasih. Napasnya tersengal, entah dia suka atau marah padaku, aku tak peduli. 

"Mas, bolehkah aku mencium tanganmu?"

Tanpa kuiyakan lansung kujulurkan, sembari kubelai rambut pirangnya. 

"Oh yaa mas, bolehkah aku minta Jerseymu tuk aku pakai?"

"Trus aku pulang gak pakai baju, oh no, no"

"Pakai Jerseyku kita tukaran"

"Hemmm boleh, toh besok besok kamu yang akan mencuci bajuku saat menjadi ibu anak anak kita", candaku begitu jauh. Dia pun mencubit sekuatnya di perutku. Sontak saja aku kesakitan. 

"Boleh aku balas ne"

"He em"

Aku pun duduk bersimpuh menggigit pinggangnya dengan mesra. Dia tersenyum aku cengengesan bahagia.

____

Bondowoso, 12 Mei 2025

Minggu, 11 Mei 2025

TANORA LOVE STORY

 TANORA LOVE STORY 

Pak Tyqnue Azbynt 



Tampias hujan memercik di ubin beranda laboratorium komputer di siang hari. Murid-murid yang bersiap pulang sedari tadi harus mengurungkan niatnya. 11 Mei 2025 ternyata masih saja hujan memesra bumi di Tanjung Morawa. Aku yang baru beberapa bulan praktek mengajar di SMKN 1 Tanjung Morawa menjadi kurang nyaman dengan situasi itu. Bukan, bukan karena aku tak suka maunya alam, tapi ketertutupan akulah yang tak bisa berhabituasi di SMK itu. Apakah karena aku belum siap menjadi seorang guru, atau memang bukan passionku sebagai pendidik? Kurasa tidak juga, nyatanya aku sejak dulu ingin menjadi guru. No debat.


Kadang aku iri pada guru-guru yang begitu profesional dan nyaman di zona itu. Sebut saja Bu Novi Fransiska yang menjadi idola anak-anak yang jumlahnya mendekati seribu siswa itu. Sejak awal telah aku bidik si dia, maksud hati ingin mengetahui tips dan triknya supaya menjadi idola siswa. Berkali aku berusaha mencari momen yang tepat tuk membidik wajahnya tuk kujadikan model lukisan kanvasku.  Tak ada maksud lain, selain ingin mengetahui tips mengajarnya yang smart dan brilliance. Dan lukisan itu kumaksudkan tuk dijadikan persembahan ulang tahunnya. Namun sia-sia belaka usahaku. 


Hujan reda dan anak-anak pun bergegas dan berhamburan pulang termasuk Bu Novi. Dilalah buku Agenda dan Teacher's note nya ketinggalan. Dengan tanpa dosa kuambil dan kubaca semua isinya tanpa terkecuali. Jurnal mengajar dan catatan guru begitu lengkapnya bahkan catatan-catatan rujukan bahan ajarnya. Pokoknya lengkap dan rinci deh bahan ajarnya. Di otakku berkecamuk, ribet benar ya ternyata menjadi guru? Beda catatan guru beda agendanya, ternyata di buku agenda warna hijau tosca itu banyak catatan  romantis yang menghanyutkan rasa.  Diksi-diksi romantis, gaya bahasa yang beragam menjadikan aku nyaman membacanya. Hemmm ternyata dia juga punya catatan hati yang haru biru.

Fasilitas di sekolah itu bisa dikatakan cukup memadai dan representatif tuk menghadapi perkembangan jaman yang serba cepat ini. Satu hal yang tak banyak diminati oleh guru-guru di situ ialah tentang literasi, sepengetahuanku tak ada satu pun yang menjadi penulis, walaupun sebatas sagu sabu (satu guru satu buku). Semestinya Bu Novi bisa membuat buku itu karena tulisan-tulisan nya di agenda layak dijadikan novel atau setidaknya novelet, atau kumpulan cerpen romantis. Di catatan guru pun mestinya bisa dijadikan buku paket, bukankah sumber rujukan pengajarannya sudah lengkap? Ya tinggal utak-atik sedikit kebahasaannya saja. Sayangnya dia tak melakukan itu. 


Sejak membaca agendanya dan memelototi foto-fotonya justru menghadirkan perasaan lain di hati ini. Di sekolah memang sempat diumumkan tentang kehilangan buku Bu guru cantik itu, cctv ruang lab juga diperiksa karena praktikum terakhir sebelum buku itu hilang adalah di lab komputer. Untunglah buku dan agendanya dia tinggalkan di teras sekolah dekat daun pintu yang tak tersorot cctv. Finally buku itu hilang tanpa jejak.

Gaya tulisan ringan yang enak dibaca kuketik rapi dengan font Times New roman ukuran A4. Alur kisah yang ditulis episodik menjadikanku tak perlu out line lagi. Hanya sedikit merapikan ke bahasaannya. And 213 halaman rampung kubuat, kuedit he he, kan dia penulisnya. Kutajuk dengan TANORA LOVE STORY oleh Novi Fransiska. Naskah segera kukirim ke penerbit dengan harapan di Bulan Bahasa bisa release. 

____

Hari terlewati dan bulan pun berlalu. Awal Oktober buku sudah selesai cetak. Selama masa penantian cetak buku, aku selalu menghubungi Bu Novi dengan nomor baru via VPN agar aku tak bisa dilacaknya. Benar saja dia pun tak menaruh curiga padaku walau pun hampir tiap malam kugoda lewan candaan usil. "Bu guru mohon jangan protes dan jangan banyak komentar bila saat upacara Sumpah pemuda ada kejutan dariku, kalau macam-macam foto-fotonya akan aku sebarkan via medsos". Rupanya ancamanku membuatnya sedikit cemas, terbukti dari sikap kesehariannya yang tak seceria sebelumnya. Dan, aku tak mau peduli soal itu. Di sisi lain, Bu kepala sekolah aku kirimi email bahwa ada paket buku atas nama Bu Novi, dan aku mohon untuk dibuka paketnya saat upacara 28 Oktober sebagai kejutan dan penghargaan buat Bu guru itu. Yes, jawaban Bu kepala meng-acc nya. Penerbit mengirimkan paket tersebut atas nama Bu Safriantina Purba kepala sekolah, tertanggal 20 Oktober 2025. Oh ya, untuk Bu kepala dikirimi satu eksemplar edisi Lux sebagai penghargaan, agar beliau lebih dulu mencermati dan membaca buku karya Bu Novi tersebut.

Selasa 28 Oktober 2025 di pagi yang cerah tibalah hari yang mendebarkan bagiku, ingin kulihat ekspresi Bu Novi saat penganugerahan sebagai guru literat oleh kepala sekolah saat bulan bahasa. Panggilan demi panggilan untuk guru berprestasi dari sekitar 70-an terasa begitu delay di otakku. "Dewan guru dan anak-anak muridku sekalian, guru berprestasi berikut adalah di bidang Literasi, kita turut bangga padanya, inilah dia Bu Novi Fransiska, S.Pd yang telah membuat karya novelet remaja dengan judul TANORA LOVE STORY, kepadanya dipersilahkan menuju panggung utama". Dia tampak kebingungan, tapi melangkah jua untuk menerima piagam dari sekolah. 

"Kepada Bu Novi saya minta untuk sedikit memberi komentar atas karyanya tersebut", lanjut Waka kurikulum yang menjadi protokol di acara penerimaan piagam itu. Ah kenapa ada gituan sih, begitu benakku, ini kejutan bisa kacau. 

"Terima kasih bapak ibu sekalian, sampai detik ini saya belum menerima buku itu, dan tak bisa saya komentar lebih jauh", kilahnya. Namun saat kepala sekolah menyodorkan sampel dari buku itu, Bu Novi membuka daftar isinya. Sub judul demi sub judul tak beda jauh dengan catatan di agendanya. 

"Bapak ibu dan anak-anakku yang saya banggakan, detik ini juga saya umumkan, siap pun yang telah menemukan buku agenda saya harap maju ke hadapan saya, karen novelet ini ada di catatan pribadi saya. Jika seorang murid, aku akan hadiahkan netbook jika seorang guru saya akan minta persetujuan hadiah apa yang dimauinya". Peserta upacara saling pandang karena tak ada satu pun yang maju. Namun ketika Bu Kepala yang memerintahkan, akhirnya aku maju jua. Tepuk tangan riuh menjadi penyemarak saat itu. Bu Novi kaget karena ternyata yang merayunya tiap malam adalah saya. 

"Baiklah, untuk bapak saya hadiahkan salam cinta dari saya, karena ternyata dialah yang menjadi manusia misterius di malam malamku"

_____

Bondowoso, 11 Mei 2025

Kamis, 01 Mei 2025

Ojhung Bandabasa

 OJHUNG BANDABASA

Pak Tyqnue Azbynt

Dari Bumi Megalitikum Bondowoso

Kabarkan tradisi leluhur pengunduh hujan

Batang rotan senjata lelaki ksatria bertajuk Ujung

Menggeliat menari unjuk gagah tak peduli tubuh memar disabet rotan musuh

             Akaleya majhendhar atengka mapeyar

             Ngabes eyattas lajhu meltas macowet paceppet

             Moso nyise, aba ngalle moso nyandher laju majhuwer

             Dara nyapcap pello aghili panjhelin asepsap  attas baba

Menggeliat dihajar melangkah menampar

Lihat atas dilibas melanting secepat kilat

Musuh menyisih aku mendekat menggempur

Darah menetes peluh luruh, manuver rotan atas dan bawah

             Gendhing se nyandhing etabbhu maramme

             Bebini adhandhan maraddhin male ta akaon kodhin

             Masanta samangat senegghu ojhung

             Se nenggu male perna tor jhumambhar 

Gending disanding tetabuhan menyemarak

Perempuan perempuan bersolek biar molek

Penambah semangat ksatria penari Ujung

Penonton biar betah dan gembira terpendar

           Ojhung Bandabasa tradisi pengunduh hujan

            Riual tari berbalut dedoa, darah menetes hujan pun menampias

___________

Bondowoso, 2 Mei 2025

Selasa, 22 April 2025

PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN LITERASI DAN NILAI KEISLAMAN

Teks Pidato

PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN LITERASI DAN NILAI KEISLAMAN

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Segenap Dewan Juri yang kami hormai

Bapak Ibu guru pendamping yang kami hormati dan takzimi

Rekan-rekanita dan hadirin sekalian yang berbahagia

           Assalamu alaikum warahmaullahi wabarakaatuh

           Hamidan Lillah salliman wa mushalliyan ala rasulillah

Puji syukur kepadanya Sang Penguasa jagat Allah Subhanahu wa taala karena atas kuasaNyalah kita bisa bersemuka di tempat ini.

Salawat serta salam senantiasa terhatur untuknya baginda Rasulillah yang telah membawa kita ke alam ilmiyah Islamiyah.

Hadirin yang berbahagia, di kesempatan yang berbahagia ini saya akan menyampaikan materi pidato saya dengan judul, PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN LITERASI DAN NILAI KEISLAMAN”

Ada tiga komponen yang akan saya kupas pada kesempaan kali ini, yakni

Pertama: Media Sosial yang kemudian diakronimkan denga istilah MEDSOS

Kedua : Peningkatan Literasi, dan yang

Ketiga : Nilai Keislaman

Bapak, Ibu, rekan-rekanita sekalian yang berbahagia, mari kita sejenak pancangkan pikiran pada apa yag akan saya sampaikan!

Media Sosial atau Medsos merupakan platform media online yang dijadikan penala untuk melakkan interaksi sosial, berbagi, dan berkomunikasi dengan orang lain. Dari media ini kita bisa berbagi pengalaman, pengetahuan, ide-ide brillian bahkan melakukan transaksi ekonomi serta politik kepemerintahan dengan cara yang singkat dan tepat. Tetapi perlu dicatat dari berbagai kemudahan itu muncul pula ekses-ekses yang sangat membahayakan bagi generasi bangsa. 

Media yang berasis online ini degan mudah mengirimkan pesan, tulisan, gambar, suara atau audio, bahkan video. File-file penting, data-data yang jlimet dan rumit pun mudah kita bagikan melalui berbagi platform yang ada seperti: WhatsApp, Tik Tok, You Tube, Twitter, Facebook, OmeTV, Linkdin dan sebagainya. 

Di era yang serba digital ini menjadikan segala sesuatu mudah dilakukan, lebih mudah lebih cepat, lebih tepat. Saking mudahnya bahkan anak kecil pun bisa memanfaatkannya. Di sinilah yang perlu menjadi perhatian dari semua pihak agar otak-otak generasi muda tidak tercemari, tereduksi oleh limbah-limah medsos yang memahayakan. Seperti :

Social Media Addiction (kecanduan Sosmed)

Social Media Dependence (Ketergantungan Medsos)

Social Media Obsession (Obsesi Medsos)

Kecanduan, ketergantungan, dan obsesi medsos tersebut menjadikan kita tak bisa dilepaskan dari media tersebut yang berdampak pada, kemalasan berpikir kreatif, ketergantungan pada karya orang lain, mudah menjiplak yang semua itu belum tentu sesuai dengan budaya kita bangsa keitmuran ini. Munculnya Gen Zie, Gen Alpha semakin menyemarakkan dunia permedsosan ini. Banyak baiknya tetapi banyak pula buruknya, and so kita harus bisa memilah, memilih mana yang harus kita lakukan.

Hadirin yang budiman, selanjutnya saya akan memaparkan tentang Peningkatan Litrasi. And than apa itu literasi? Literasi dimaknai sebagi kemampuan sesorang untuk membaca, menulis dan memahami informasi dalam berbagai bentuk. Itu artinya tidak hanya sebatas membaca dan menulis tetapi mencakup kemampuan untuk memahami, menganalisis dan menggunakan informasi secara efektif. 

Rekan rekanita dan hadirin yang berbahagia, setidaknya ada beberapa jenis yang bisa kita pahami, misalnya:

Literasi Dasar yaitu yang berkaitan dengan membaca dan menulis

Literasi Informasi berupa bagaimana kita mencari, mengevaluasi dan menggnakan informasi tersebut.

Literasi Digital yakni informasi yang berbasis teknologi, dan

Literasi Keislamam literasi untuk memahami ajaran Islam, Islamologi atau Dirasah Islamiyah.

Hadirin, dari sinilah dipandang betapa pentingnya kita mengetahui, kemudian meningkatkan kemampuan berliterasi karena salah satu indikator kemajuan suatu bangsa adalah tingkat atau level literasinya dalam berbangsa dan bernegara. Era keterbukaan medsos ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya.

Bapak ibu dan hadirin yang berbahagia. Pada bagian berikutnya saya akan paparkan tentang Nilai-nilai keislaman. Nilai menjadi acuan bagi kita dalam berprilaku baik atau buruk, benar dan salah. Artinya nilai ini mencakup prinsip-prinsip norma standar yang mengatur prilaku, keputusan dan tindakan. Hal ini akan dipengaruhi oleh: Agama, Budaya, Tradisi, Pendidikan dan Pengalaman Hidup.  

Nah lalu bagaimana dengan Nilai Keislaman? Tentunya tata nilai yang berhubungan dengan aspek keislaman seperi: Tauhid, Ahlak, Keadilan, empati, Amanah, Ihsan dan sebagainya yang tidak lepas dari ajaranajaran Islam. 

Rekan-rekanita, dewan juri dan hadirin sekalian, lalu bagaimana kita menyinambungkan ketiga unsur di atas yakni: Medsos, Literasi dan Nilai Keislaman. Baiklah, berikut ini saya akan sampaikan keterkaitan dari keiganya sekaligus menjadi penyimpul dari pidato saya ini.

Islam merupakan Agama menekankan kekuatan logika bahkan sejak penobatan Kanjeng Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai Nabi di Gua Hira sudah sejak awal diperintahkan untuk membaca, itu artinya harus berliterasi. Literasi yang bagaimana? Yaa semua aspek dalam kehidupan ini baik yang bersifat Hablum minallah ataupun hablum minannaas, hubungan kepada Allah maupun hubungan dengan manusia. 

Lalu bagaimana dengan Media Sosial? Hendaknya media ini dijadikan sebagai alat untuk meningkatkan litarsi kita agar bisa menjadi bangsa yang maju, generasi yang smart. Tidak hanya smart dan maju tetapi harus didasari oleh nilai nilai yang Islami. Dengan begitu, adanya media sosial bisa kita jadikan sebagai alat untuk kebaikan dan kemajuan dan paling penting yaitu menyinambungkan dengan nilai Islamiyah dalam kehidupan sehari-hari. Karena Maju suatu bangsa tanpa adanya sentuhan nilai keagamaan hanya akan serupa AI ( artifisial Intelegence atau kecerdasan tiruan) yang pandai tetapi tak punya hati dan perasaan.

Hadirin sekalian demikianlah pidato singkat saya, 

Indah gading pada retaknya, salah tingkah dan kekata ada pada saya sebagai mansia. Mohon maaf atas segala kesalahan. Wallahl muwafiq Ilaa aqwamith Thariq

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabara kaatuh.



Sabtu, 19 April 2025

21 FEBRUARI DI SMA ISLAM MIFTAHUSSAADAH

 21 FEBRUARI DI SMA ISLAM MIFTAHUSSAADAH 

Pak Tyqnue Azbynt 



Pagi buta kulintasi Jalan Pakuwon Km 10  Sukabumi agar bisa kunikmati kenangan indah dulu sebelum aku hijrah ke Bondowoso Jawa Timur. Tekatku hanya tuk menemui Si Cantik Nih R Hayati. Liburan kami sekeluarga, digunakan tuk menemui keluarga yang jauh gegara bapakku pindah tugas ke Jawa Timur. Maklumlah pegawai kemenag memang tergantung dari kewenangan pusat yang harus siap ditempatkan di mana pun di Indonesia ini. Kepindahan kami benar benar menyisakan rindu pada kampung yang damai itu. 


Salah satu siswi cantik yang menjadi idola di SMA itu adalah Nih.R. Hayati. Wajah oriental bumi Pasundan menyempurnakan keelokannya. Hanya kegilaanku saja yang beling berkorespondensi dengan murid perempuan, padahal di lembaga itu begitu ketatnya. Satu hal yang tak mudah kulupa saat aku memberikan hadiah ultahnya, yang kemudian ketahuan salah seorang ustaz, yang mengakibatkan aku disuruh menghadap di bagian BK. Finalnya saat upacara bendera hari Senin aku didaulat untuk menyatakan permohonan maaf di hadapan siswa siswi yang lain. Mungkin karena aku sudah terlanjur kebelet cinta, sama sekali aku tidak nervous. "Bapak ibu dewan Asatiz wal ustazaad, mohon maaf atas pelanggaran saya yang telah berkhalwat dengan salah seorang siswi yang sedang memberi surprise di ulang tahunnya. Sekali lagi mohon maaf, jika lain kali aku mengulanginya saya siap dinikahkan dengannya”. Entah karena apa, mulut saya berujar begitu, karenanya halaman sekolah menjadi riuh. Cilakanya, Hayati justru semaput tak sadarkan diri. Mungkin karena malu atas ulahku yang dibully peserta upacara. Upacara menjadi kacau. Dan, aku diskorsing selama sepekan tidak boleh masuk sekolah. 


Setelah dipikir-pikir ternyata kekonyolanku memang terlalu gila. Bapakku yang juga sebagai guru di tempat itu terdampak akan ulahku. Mungkin karena itulah beliau mengajukan mutasi ke Jawa Timur tepatnya di Bondowoso tempat tanah lahirnya. Dilalah tak sampai satu bulan, kami pun pindah meninggalkan tanah kelahiran ibu yang asli Sukabumi itu. 


Kali ini aku liburan mengikuti cuti bapak untuk menjenguk nenek sedang sakit parah. Aku sengaja ikut walau pun sekolah masih aktif, apalagi kelas 12 yang harus bersiap asesmen akhir. Ah aku tak pedulikan itu semua. Niatku kembali menemui si cantik, yang sempat menyandera hatiku dulu. Jum at pagi 21 Februari 2025 aku kembali ke sekolah itu setelah satu tahun aku tinggalkan. Aku sengaja memakai masker dan menyamar menjadi pengantar paket. Kutemui kepala sekolah dan guru-guru sembari memohon maaf, aku katakan sebagai alumni di sekolah itu. Masker tetap aku pakai saat membawa paket yang kutulis "Untuk. Nih.R.Hayati kelas 12 IPA". "Mohon maaf bak, mau difoto dulu sebagai laporan". Saat hendak aku foto, kubuka maskerku, terbelalaklah matanya sembari berujar,"Yaa Allah". Sontak saja mengundang perhatian warga sekolah yang saat itu sedang rehat pertama. Dan, sekolah menjadi ramai, teman-temannya melempari kami. Tapi aku segera ke bapak ibu guru sembari meminta maaf setulusnya. Mereka hanya geleng-geleng atas sikapku. Mungkin karena bapakku sempat menjadi teman merekalah yang masih mentolerir gilaku. Sebelum aku pamit pulang kusempatkan menjabat tangan Hayati.  Wiiih lembut cuy, terasa sampai ke ulu hati. Senymnya itu lho yang kini masih kubawa ke Jawa Timur. "Hayati, hidupku” begitulah gumamku saat kulepas jabat tangannya. Getar bibir dan nanar tatapnya menyiksa dadaku. Moga dia tak tersakiti hatinya gegara ulahku. Hayati-hidupku.

____

Bondowoso, 19 April 2025

Sabtu, 12 April 2025

GADIS PENJUAL BUKET

 GADIS PENJUAL BUKET

Pak Tyqnue Azbynt 

12 April 2025 pagi yang begitu dingin menyambutku di kota Malang dalam sebuah gelaran Wisuda 132. Riuh riang membuka pagi itu. Wali wisudawan hilir mudik berswafoto, ber-vlog ria mengabadikan event istimewa itu.


Di mulut pintu Utara kudapati seorang penjual buket yang begitu sopannya. Ah itu memang biasa, tapi tidak juga justru di saat pembeli mulai sepi dia justru membuka kotak tanggung berisi Alquran. Ah itu biasa juga kok, ah gak kok justru bacaan yang indah pelan disertai tetesan air matanya yang mengalir deras. Saat kudekati dan menelisik keberadaannya. Ternyata dia juga seorang mahasiswi di kampus itu. Aku dan istri begitu kagum akan kecintaannya pada Al-Qur'an disela berjualan buket itu.


"Maaf, bapak dan ibu, bolehkah aku berbagi bahagia dengan kalian?" Tawarnya padaku. 

"Oh tentu saja"

Sebentuk buket diberikan padaku, dan aku menolaknya, karena takut membuatnya rugi. Namun dia memaksanya jua.

"Bapak, ibu, saya juga wisudawati yang sebentar lagi mau masuk ruangan. Graha Cakrawala tuk diwisuda juga. Maaf ibu bapak, saya teramat bersyukur karena berkat pekerjaanku sebagai penjual buket ini sebagai penopang dana kuliyahku. Mohon dengan hormat bapak tuk mewakili orang tua saya yang tak bisa hadir karena berada di pelosok Sumbawa. Alhamdulillah saya mendapat summa cumlaude, dan bapak saya mohon mewakili orang tua saya", katanya panjang lebar sembari bercucuran air matanya begitu derasnya.

-----

Malang, 12 April2025

Kamis, 10 April 2025

GLASSES ON THE RAILWAY

 GLASSES ON THE RAILWAY 

Pak Tyqnue Azbynt 



Kereta Parahiyangan mendengus kecapaian saat kujabat tangannya

Seorang sahabat dari kota sebelah. Dadaku berdetak kencang, girang nafsu cinta birahi. Kulit kuning pucat halus membalur sekujur tubuhnya. Ah, aku gila cinta. Tak peduli ia punya rasa atau tidak padaku. Sayangnya otakku telah mati rasa, logikaku terkunci birahi. Walau hanya ingin bermesra bersewajah dalam pandangan. Ah ini birahi cinta yang bisa saja menjurus bencana. Tapi hanya ingin menikmati pandang saja. Titik. Entahlah.


"Maaf bila engkau tak nyaman olehku", hanya itu yang terucap padanya. Sikapku yang tetiba aneh itu, kini terasa oleh otakku. Memang cinta itu gila. Pantas saja dia menjadi tak nyaman. Di tempat umum, bersikap aneh dan membuatnya disorot banyak mata. 


Saat kenekatanku menjadi-jadi, dia hanya mendengus hendak marah yang ditahan. Berusaha bersikap tenang tapi akhirnya marah juga. Saat kucoba meraih lengan kirinya, handbag yang dipegang hampir jatuh. Reflek diraihnya tapi kaki tersangkut di bantalan rel kereta api. Badannya rubuh tersanggah dadaku. Sial, kacamatanya terpelanting jatuh di atas rel, lensa kanan pecah berkeping. Demi tak tambah runyam segera saja kuajak ke Malaway optics. Semua gaji yang baru diambil kubelikan kacamata baru redcerry dengan gagang putih gading saat itu. Dia masih merasa aneh akan sikapku saat kuucapkan "Maafkan kawan aku benar-benar mencintaimu". Tatapannya tajam seperti tak percaya ucapanku. "Ya aku maafin salahmu, tapi tidak dengan cintamu". "And so, artinya ?"

"Maaf, aku tak memaafkan jika kamu mengatakan cinta padaku dengan cara itu, karena cinta memang tak perlu logika"

"Jadi?"

"Jawabanku ada di hatimu", timpalnya mengaduk-aduk isi otakku.

----

Bondowoso,.10 April 2025

Minggu, 30 Maret 2025

YANG TERLUKA

 YANG TERLUKA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Malam takbiran menjadi penyatu semua keluarga. Senyum dan canda tawa menyeruak di ruang makan. Semacam gala dinner keluarga. Opor ayam dan aneka sajian pamerkan semua pesonanya. Penuntasan puasa disambut santapan serba lezat yang biasa didapatkan setiap saat, ditambah lagi dengan berkumpulnya semua keluarga.


Malang bagi Zara Eng yang sejak bulan-bulan menjelang puasa sudah terjangkit Gastritis semacam peradangan lambung. Jangankan menyantap sajian yang begitu lezat, menghirup aromanya saja sudah hendak muntah. Perutnya bergejolak, ditambah lagi pemasukan ekonominya yang teramat sulit, sementara kebutuhan keluarga kian membengkak saja. Anggota keluarganya hanya cukup berkata, "kasihan" tanpa adanya solusi. Sementara sahabatnya yang senantiasa mensupport ternyata selama bulan puasa ini seakan acuh dan tak mau peduli. Memang dianya telah berkata, selama ramadhan koneksitas diputusin dulu agar konsentrasi dalam ibadah. Masa sih keadaan yang sudah genting begitu masih cuek saja? Yaa begitulah sebuah komitmen yang telah sama menyetujuinya.


Menjelang Maghrib tiba, tetiba saja Zara merasa sama sekali tak punya daya, dan dia pun ambruk di tempat tidurnya. Bukankah besok hari lebaran dan semua bersukacita meraih hari kemenangan? Di perasaan Zara, "aku harus tumpahkan semua air mata menerima semua kenyataan". Dia mencoba menenangkan diri walau sebenarnya begitu perih menyiksanya. Dia mulai merasakan penyesalan, bukankah sebelum bulan puasa tiba, sahabatnya telah berkata, "bermanjalah senyampang belum puasa tiba, karena di bulan itu kita harus berkontemplasi, fokus ibadah". Dia telah menyia-nyiakannya dan lebih cuek dan asyik dengan medsos dan teman-temannya yang lain. And so mungkin hanya alasan saja sahabat sejatinya mengatakan hendak fokus puasa, padahal telah mencampakkannya. Yach, kan hanya sekedar teman sejati, pacar pun bukan? Ngapain harus dihiraukan? Di otak Zara berkecamuk semua perasaan itu. Tetiba saja sang teman menghubungi agar segera rujuk ke dokter pribadinya, walaupun hanya sedikit finansial ditransfer kepadanya. Tanpa rujuk ke dokter, separuh rasa sakitnya mulai hilang. Kepeduliannya menjadi pembalut luka hatinya. "Sembuhlah bidadariku", itulah kekata yang membuat Zara tak merasa lara sendiri, ternyata ada teman spesial yang masih tetap mengerti dalam situasi apapun padanya.

-----

Bondowoso, 30 Ramadhan 1446

Senin, 24 Maret 2025

Munajat RINDU

Munajat RINDU 
Pak Tyqnue Azbynt 


Beberapa bulan terakhir aku sengaja mengesampingkan Zara dalam ingatanku. Menuntaskan tugas penelitian dan tetekbengik lainnya dari kampus telah memaksaku melupakannya. Ternyata di luar Zara masih banyak orang-orang asyik lebih membuatku nyaman, Tinimbang dia yang selalu merepek memanja, tapi saatnya aku cemburu kala dia dibersamai orang, dianya malah menganggap hanya sekedar teman, atau tak punya hubungan apa-apa. Dia sendiri begitu pencemburu dan sahabat-sahabat cewekku dicurigai semua. Hello, mana kuat aku kawan!

Biar tidak tambah runyam semua teman Zara, kujauhi semuanya. Mending cari sahabat baru yang jauh dari pantauan mereka. Bagiku, sahabat cowok adalah sahabat pemuncak karir, sedangkan sahabat cewek adalah penenang jiwa. Berkali-kali calling dari Zara dan kawan-kawannya aku acuhkan. Mau marah, mau sedih, aku tak mau ambil pusing.  Tekatku adalah menjauhi mereka demi karir dan kuliah segera tertuntaskan. 

Selepas santap sahur, kucoba membuka-buka email. Biasanya sih teman-teman penulis yang minta pandangan atau bahkan mengeditkan karyanya. Aku tertarik pada sebuah tulisan yang ditulis oleh "Zie" yang berjudul "Munajat RINDU". Sepertinya ini penulis baru, namanya asing bagiku. Cerita-cerita tentang kerinduannya dinrasikan dengan apik, pilihan kata, pertautan rasanya lumayan menarik, pinternya si penulis membuat alur ceritanya  bersambung. Saat aku menunggu surel berikutnya ternyata tak begitu lama datang juga episode berikutnya.  Begitu ada notulasi surel masuk, alangkah terkejutnya aku. Berlembar-lembar fotonya saat di Kampus, tempat kost dan lain-lain di sertakan pada surel yang baru kuterima. Ternyata si Zara Eng yang memaksa menghubungiku. "Mas, wanita selalu punya cara tuk meruntuhkan keangkuhan lelaki!"
"Ciye ciyeee paling mas pengin dekat aku lagi, cuman sok cuek, come on sayang jangan diemin aku akan kuadukan ke papa mama, bahwa engkau
 melecehkan aku"

---
Bondowoso, 24 Ramadhan 1446

Sabtu, 22 Maret 2025

Rindu yang MENELAGA

 Rindu yang MENELAGA

Pak Tyqnue Azbynt 

Kepergian Vinn Lee ke Taiwan National University Science and Technology beberapa tahun silam telah menumpuk jutaan rindu di hati Ayesha. Mereka yang terbiasa cekcok dan tengkar kakak adik justru setelah jauh rindu pertengkaran itu. 



Bila damai sedang tiba, si adek memanja sembari bercerita halu, sementara sang kakak menanggapinya dengan senyum tipis. Walau bisa sua Maya lewat androidnya, namun rindu temu nyata melanda jua. 


Tanpa memberi tahu kepulangannya dari Taiwan si Kaka pulang tuk beri kejutan pada keluarganya, khususnya pada Ayesha adek teman tengkarnya. Sere jelang ashar seorang lelaki memakai peci darkblue kaca mata hitam dan masker menutupi mulutnya.

"Misi, pakeeet, pakeeet"

"Buat siapa yaa?"

"Buat Ayesha, oh maaf boleh numpang WC dek?"

Tetiba saja dia malah menuju kamar adiknya, dan langsung rebahan"

"Maaaa...ada orang gila!"

Mamanya tergopoh-gopoh menghampiri jeritan itu. Songkok dibuka, kaca mata hitam begitu pun maskernya. Dan, sang mama memeluknya sementara Ayesha menggigit lengan kiri kakaknya sambil meneteskan air mata saking girang dan bahagianya. Dia bak menemukan telaga rindu yang bisa menuntaskan haus temunya.

-----

Bondowoso, 22 Ramadhan 1446


HIDUP DI DUA ALAM

 HIDUP DI DUA ALAM Pak Tyqnue Azbynt Motor kubejek abis hingga bajuku kiwir-kiwir digoda angin. Bayangin aja Upacara Hari Santri Nasional di...