Total Tayangan Halaman

Selasa, 30 Januari 2024

JALAN PULANG

 JALAN PULANG

Pak Tyqnue Azbynt

           Tampak buram kaca helm oleh sapaan sisa gerimis malam yang menyerta perjalananku pulang. Setelah dua jam terlewati, duduk bersemuka dengan murid les privat, kantuk pun mulai merayap, dan saatnya pulang menuju ruang rehat di rumahku. Sesekali angin dingin mendera membawa sisa rinai gerimis yang menakali tubuh lelahku. Tak banyak yang kuhayal diperjalanan, selain perasaan damai di jalan itu. Entahlah apa maknanya, aku hanya merasa damai di jalan itu. Mungkin karena di salah satu sisi jalannya ada rumah Veve yang dulu pernah membersamaiku saat di bangku sekolah.



          Sengaja kupelankan laju motor demi menuruti persaan damai, walau malam kian beranjak larut. Aku pulang dari memberi materi les sekitar pukul 11 malam. Jika tak ada hujan, jalan di kota kecil kami sesekali masih ada motor, atau mobil yang melintas, dan kadang melintas juga penjual jajanan yang pulang membawa gerobaknya. Saat tepat melintas di dekat rumahnya, jendela itu masih terbuka dan tampaklah dia masih memesrai buku di depannya. Oh dia sedang belajar begitu benakku,  jendela itu terbuka padahal malam sudah kian dalam. Adakah seseorang yang sedang dituggunya?, atau dia sengaja memberi sinyal padaku agar aku mendekatinya? Aah tak mungkin, dia kan sudah bukan apa-apaku lagi, sejak ibundanya tak menerimaku sebagai sahabatnya. Mau kukode dengan bunyi klason?, ah ini kan sudah lumayan malam, begitu dialog di otak ini.

          Untuk menggenapi biaya kuliyah, paruh waktu aku nyambi mengajar di beberapa sekolah yang gajinya tak seberapa, karenanyalah kutambah dengan menjadi guru les privat, Bahasa Inggris, dan Dirosah Islamiyah (Islamologi) di rumah seorang pegawai Jasa Raharja. Memang porsi belajar materi kuliyah sedikit berkurang, karena tersandera belajar materi lesku. 3 hari dalam sepekan, aku selalu mendatangi rumah orang kaya itu tuk mengajari dua orang anaknya. Sejak aku melihat jendela itu terbuka beberapa malam yang lalu, persaanku ingin saja  melintas di jalan itu selalu.

          Di dokument keeper masih kusimpan surat-suratnya saat dia sekolah dulu. Dia seorang murid dan aku gurunya yang punya interval umur 8 tahun. Aku mulai mengajar masih awal kuliyah karenanya tak terlalu terpaut jauh usiaku dengannya. Di kelas tak kutunjukkan gelagat cinta padanya, begitu pun dia padaku. Di mata warga sekolah kami nyaris tak ada satu pun yang mengetahui jalinan asmara itu. Teringat saat kuabsen namanya, dia menjawab dengan sedikit senyuman, kadang matanya menakali perasaanku. 

          Sepi jalanan itu banyak menghilangkan nalar, sedang perasaan terlena oleh belaian angin malam. Entah apalah namanya, aku benar-benar ingin dijajah perasaan saja malam itu. Dan, brukk aku jatuh, ban motorku terkilir saat menjamah grevel di bibir aspalt. Trotel motor menjerit, gas motorku terbetot tanpa sengaja. Pelipis memar, sedang kaki kiri terasa ngilu gegara terimpit motor. 

          Sembari menahan ngilu, kusorotkan mata pada pintu rumahnya yang terkuak. Detak jantung kian kencang, semula karena kaget jatuh, kini ditambah lagi dengan bidadari yang pernah rebah di bahuku dulu. Langkah ragunya tampak jelas, mungkin karena suasana sudah kian malam. Walau kaki tertindih motor, sengaja aku biarkan demi mendapat perhatiannya. Benar saja, dia tergopoh-gopoh hendak mengangkat motorku. Karena lampu yang temaram dari kejauhan, pastilah dia tak melihat wajahku.  

 Duh gimana nih, yaa Allah, dia berusaha mengangkat motorku. 

“ Hezzz gumam sengaja kusamarkan suara agar dia tak mengenali suara asliku.

Setelah berhasil sedikit mengangkat motor, kugeser kaki sedang tangan menggamit tangannya agar aku dibangunkan. Hasrat hati ingin memeluknya karena rindu, tapi aku tahan agar tak merusak suasana.  Pertanyaannya sedikit panik tak tahu harus berbuat apa. Dengan kukode pakai jempol kalau aku tak apa-apa, harapanku dia melihat jariku saja, dan tak perlulah menampak wajahku.

 Gimana mas, tak kenapa-kenapa kan?

“ He em, makasih telah membantu, dengan suara kuberatkan.

Ketulusannya itu lho, yang masih seperti dulu. Dia tanpa curiga dan takut di keheningan malam itu, masih saja duduk di dekatku. Mungkin untuk memastikan keadaanku. Hadirnya sang ayah yang tanpa kusadari, hampir saja merusak suasana.

Suruh masuk aja ke ruang tamu, jangan di jalanan begini. Kamu jangan gegabah kalau ada peristiwa begini, panggil aku atau orang lain biar bisa mmbantu dan tak terjadi hal yang tak diinginkan, begitu kuliyah ayahnya pada Veve.

Ya, pap, sahutnya singkat.

          Menyadari situasi yang tak lagi memungkinkan, aku sediki panik dan otak tak berfungsi normal tuk mencari cara agar rinduku terentaskan tanpa diganggu sang ayah. Ganci di kontak motor, ya di gantungan kunci itu berupa akrilik sebesar kartu ATM yang ada QR Codenya. Dengan sedikit scanning pakai camera HP akan didapatinya tentang data jati diriku, nope, tetala, dan beberapa platform medsosku. Yap, tinggal mencari cara agar ganci itu bisa ke tangan Veve tanpa dicurigai sang ayah. 

“ Hayo segera ke rumah, dan disilakan saja mas itu, kata ayahnya sedikit mendesak.

Saat itu segera saja kutarik ganci dari ring kontak, dan terlepaslah. Kucolek lengan Veve agar menerima ganci berbarcode itu.

****

         Sampai di rumah mataku tak hendak lelap, bukan karena nyeri luka, tapi sentuhan tangannya masih terasa di sukmaku. Untunglah ada gaway yang bisa kuajak untuk menjelajah dunia maya. Andai gaway itu tak kusimpan di jok motor, pastilah ia terjatuh saat kecelakaan tadinya. Menikmati kelucuan stand up komedi telah melamurkan anganku tentang Veve, bakan tanpa kusadari beberapa pesan masuk terabaikan. 

           8 kali misscall yang terabaikan akhirnya kupedulikan juga dengan keluar dari kanal You Tube dan beralih ke platform Whats App. Nomer asing masuk malam-malam kuanggap orang iseng atau bahkan modus penipuan.  Please, angkat dong ini Veve, kata pesan di W A itu. Dan kuberanikan diri untuk vc padanya. Rambut kusutnya tanpak sesekali bergerai jatuh menjamah baju baby doll merah jambunya. Wih cantik alami cuy, begitu benakku.

 Mas, 6 hari lagi aku ada kegiatan P5 di Kampung Kopi, kami mau praktek berbagai teknik pengolahan kopi. Masnya kangen aku kan?, sejak aku dipindahkan ke SMK, kita sama sekali tak penah bertemu.beruntungya ada kecelakaan tadi itu

Trus?

 Ya kamu datang lah, kan banyak kunjungan turis dan wisatawan lokal yang berkunjung ke desa itu. Aku ingin kamu bimbing aku berbicara dengan turis”

 Trus apa upahnya?

 Masnya boleh cium keningku

“ Boleh tambah bonus gak?, godaku   

 Hemmm apa ya?, traktir bakso Kangen Roso?

ogah

 Gimana kalau cipika cipiki, tapi tak boleh yang lain, manjanya sembari menjurlan lidahnya ke kamera HPnya.

___________ 

Bondowoso, 29 1 2024

Notula: P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)



           

Minggu, 14 Januari 2024

JANDA MERESAHKAN

 JANDA MERESAHKAN

Pak Tyqnue Azbynt

          Mungkin sudah jamannya, kehidupan warga +62 kini sibuk  dalam egoistik dan gaya hidup glamour. Flexing-flexing menjadi keniscayaan yang tak terhindarkan. Banyak baby Gen-Z hidup dengan gaya mewah walaupun cenderung dipaksakan. Mereka hidup diburu oleh gaya hidup, tak ketinggalan pula para wanita, baik remaja maupun para ibu-ibu muda. Citycar atau motor matic gede menjadi media gaya mereka. 



          Tidaklah mengherankan bila ada kegiatan agama justru lebih mementingkan tampilan dan gaya tinimbang nilai yang sebenarnya. Bagi kami para lelaki yang sudah berumur menjadi polusi budaya yang harus diatasi. Namun reduksinya sudah terlalu jauh, persaingan tak sehat seringkali memaksa para lelaki bekerja yang resikonya sudah melewati ambang wajar. Otak sudah dituntut untuk berpikir materialisik. Bagi yang tidak mampu meredam, terpaksa mengalami stress yang menyiksa. Healing, shopping, facial treatment, dan tetekbengik yang lainnya menjadi penyiksa lelaki pencari rupiah. 

          Mangkal di warung kopi, atau bercanda di pos ronda menjadi zona nyaman bagi para lelaki pejuang rupiah yang selalu disibukkan dengan kerja dan kerja. Munculnya Teras Kafe di sebuah beranda rumah yang didiami pendatang baru, menjadi hotspot baru bagi para lelaki termasuk aku. Rumah Joglo dengan penataan ala Jawa kuno di teras itu menjadi pengembali perasaan pada masa silam yang hidup tanpa banyak persaingan. Hal itu menjadi alasan bagi para lelaki tuk sekedar healing. Yang paling istimewa justru sang pemilik teras kafe itu adalah janda muda yang gemoy, smart dan ramah, namun kadang-kadang mengisengi para wanita yang sok kecantikan dan terlalu possesive terhadap suaminya yang telah mereka siksa kerja itu. 

           Ahad pagi warga desa kami sedang bergiat membersihkan lingkungan semacam kerja bakti yang justru digagas saat ngopi-ngopi di rumah sang janda. Entah ke mana muara dari kegiatan itu, kok tetiba saja warga menjadi guyub khususnya para lelaki, dan anehnya paling banyak warga bekerja justru di jalan depan rumah si gemoy. Bak Eva begitu para warga memanggilnya janda yang punya nama lengkap Eva Anastasia itu. Konon dia resign dari pekerjaanya sebagai CS di bank swasta, karena kewalahan mengelola waktunya, sementara itu anaknya masih usia kelas 1 SD yang perlu perhatian lebih pasca meniggalnya sang suami. Secara ekonomi dia sudah bisa dikata lumayan, dana pensiun suami plus pesangonnya pasca resignnya.  

                    Tampilan yang natural, tanpa make up, serta sapaan akrabnya menjadi penyintas hati para lelaki. Smart, cantik, luwes dalam bergaul menjadi pesona yang tak bisa dihindarkan. Wajarlah kalau banyak cewek dan ibu-ibu merasa terganggu atas kehadirannya. Sering mendapatkan sindiran baik seara langsung maupun di media sosial telah menjadikannya mengeluarkan trik nakalnya. Mulai dari quotes yang sering dia sindirkan di medsos maupun tampilan di tempat gerainya berjualan.  Teras Kafe Garangan Pemburu Kaih Sayang  merupakan jargon yang tertulis di beranda rumahnya tempat kami mangkal, ngopi dan rokokan, apalagi free WiFi, menjadikan tempat yang nyaman untuk berbetah-betah.

          Di medsos mulai ramai serangan bully quotes yang sangat memojokkannya. Hati-hati, jangan sampai suami kalian tersesat di kafe janda, adalah tagline yang menjadi tagar bagi mak-emak di komplek kami. Puncaknya saat acara pertemuan Dhasa Wisma di musala bu RT, Eva menjadi bulan-bulanan dalam cemooh sindiran yang begitu menohok. Pembawaan yang santai dan ditenang-tenangkan perasaannya begitu menghimpit dadanya. Pengalaman menjadi CS adalah modalnya mengendalikan emosi. 

          Perlahan dia mulai melakukan serangan balik yang mematikan. Postingan tentang cafenya dengan quotes, yang mulai menyiksa perasaan ibu-ibu di kompleks kami. Update statusnya selalu bikin panas para wanita pesaingnya. Selamat datang para garangan di kafe kami,  anda yang terjajah di rumah, merapatlah di kafe kami,  healing di kafe kami lebih dari sekedar ngopi bareng, dan sebagainya menjadi quotes yang memanggang hati para wanita di komplek itu.

           Rumah sang Janda diluruk warga yang dimotori Bu RT atas desakan warga, namun dia tetap bersikap tenang, dan menjawabnya dengan diplomatis. Tak ada bukti yang menguatkan, kecurigaan warga.Kedewasaan bersosial di kompleks kami justru berada di tangan sang Janda. Memang pada kenyataannya dia tak pernah menggoda sesiapa pun, walau banyak lelaki yang menyatroninya dengan tebar pesona dan kemapanan. Kalaulah ada candaan, itupun candaan umum yang bersifat normaif.

          Ngopi-ngopi dan rokokan menjadi kegiatan bareng para garangan di kafe itu. HP sementara dikesampingkan, kami justru ingin menikmati suasana tanpa piranti media sosial di tempat itu. Kami kembali ke era dulu. Guyub, dan nyaman menjadi alasan kami untuk hampir tiap malam melenakan rasa dan melepaskan diri dari siksa seharian kerja yang melelahkan. Di sisi lain banyak ibu-ibu dan cewek remaja yang merasa terabaikan oleh para lelakinya yang sedang menikmati zona nyamannya. Anehnya cowok-cowok remaja pada ikutan nimbrung, tapi di deretan kursi yang tak ditempati para dewasa. 

          Lagi-lagi pertemuan dasa wisma di musala Bu RT yang dihadiri Bu. Lurah menjadi ajang pembantaian perasaan, dan kali ini jusru lebih barbar. Bu Lurah yang lebih membela warga, telah menjadikan Bak Eva benar-benar terpojok dan mati kutu saat itu. Sabar dan tenangnya  menjadikan warga merasa kehabisan akal. 

          Selepas pembullyan warga, sang janda kian massive memprovokasi warga dengan tagline di medsosnya yang kian menusuk jauh hingga ke ulu hati musuhnya.  Terima kasih mas kumis tebal yang semalam membuatku nyaman, jangan lupa tuk mampir lagi garangan yang bermotor sport merah, aku tunggu lagi mas garangan muda yang berjaket coksu, dan sebagainya yang sengaja dideskripsikan pada sosok yang sering mangkal di kafe itu. Pinternya, dia ak menyebutkan sosoknya secara jelas, and tak ada alasan bagi ceweknya tuk melabraknya secara langsung. Aku ketawa aja melihat fenomena ini. pertengkaran di rumah tangga masing-masing tak dapat dihindarkan. Friksi di manamana mulai terjadi.

          Gimana perang Gaza di rumah kalian, aman gak? begitu selorohku.  aaah, cuekin aja, “gak urus , dan sebagainya jawaban mereka. Hanya di keluargaku yang aman karena bidadari titipan mertua begitu percayanya padaku. Dan, nasib sial ternyata menimpaku juga, gegara Pak RT, yang memotret songkok blangkonku, lalu memosting di Instagramnya dengan tulisan yang memprovokasi warga lainnya.  Blangkonmu, ketinggalan di kamarnya Jeng Eva Bro, sila ambil di rumahku, aku dah bawanya semalam. Cucian piring dalam keranjang di padasan belakang langsung saja dilemparkan istriku gegara ramainya rumpian ibu-ibu saat belanja sayur di abang sayur di jalanan komplek kami. Duh, akhirnya aku kena pula. Janda meresahkan, begitu benakku tapi lucu dan mngasyikkan, he he.

______ 

Bondowoso, 14 Januari 2024

          

Selasa, 09 Januari 2024

LOVE and RAIN

 LOVE and RAIN

Pak Tyqnue Azbynt


Menapaki jalan utama menuju kecamatan Curahdami badan terasa begitu lelahnya. Bak digigit anjing otot betis terasa berat kali melangkah. Gegara langkah yang kami percepat demi menghindari hujan yang sepertinya tak tahan tuk segera turun. Awan berat menggantung di cakrawala. And, saat mempercepat langkah badan terasa remuk saja.


Benar saja, hujan tiba dengan barbarnya. Datang tanpa permisi melalui gerimis, semuanya begitu saja. Dengan tergopoh-gopoh kami merapat ke Waroeng Djoglo di sisi kiri jalan. Di beranda depan tampak seorang wanita bule sedang menyedot rokoknya dalam-dalam yang sesekali dicumbui dengan sesapan kopi Raung Arabika di bibir cangkir terakota warna tembikar. Kami berempat hanya bisa meredam rasa ingin hangat kopi dan asap tembakau itu. Maklumlah kami baru pulang muncak dari Gunung Piramid, bekal kami habis di perjalanan. Maklumlah backpacker memang selalu begitu. 3 temanku hanya bercanda ala Bhasa Madura karena tak sedikit pun mereka bisa bahasa Inggris, akulah satu-satunya yang sedikit bisa. Ya penguasaan bahasa asing di program sekolah dulu menjadi sedikit modal tuk bersuakata dengannya. 



" Good afternoon,

How do you do.  excuse  me, may  introduce my self?"

"How do you do, oh Yach ofcourse"

Selepas itu kami menjadi sedikit akrab, dan saling bercerita tentang jati diri kami, begitu juga dengan rekan-rekan yang turut kuperkenalkan padanya. Barbara cewek Ausy ini begitu terasa telah kenal lama denganku. Keakraban dan candaan yang lepas menjadi penghangat suasana kala itu. Setelah kukata kami ingin kudapan, rokok, dan kopi, tapi karena kehabisan modal yaa terpaksa menelan ludah saja. Dia hanya senyum dan berlanjut mentraktir kami. " Exactly, poor Boys", candanya sembari melemparkan sebungkus rokok ke ribaanku. Tak hanya itu, si Anto teman di sebelahku, malah ngomong ngaco dengan bahasa serampangan. "This is love you love you", katanya ngasal sembari menunjuk ke aku dan padanya. "Oh, are you sure?", Kata Barbara sembari meraih tanganku. Ya tentu saja aku kaget dan gelagapan tak bisa memilih kekata yang tepat. Aku ya memang senang dengan cewek pirang, tapi tak senekat itu. Belum aku jawab si dia malah menarikku ke cucuran atap sambil berucap. " Love and Rain make us unity in diversity". 

" Are you sure?" Tanyaku

" Yach ofcourse" jawabnya. 

___

Bondowoso, 9 Januari 2024

Minggu, 07 Januari 2024

KIDUNG WANITA DI SISI KALI

 


KIDUNG WANITA DI SISI KALI

Pak Tyqnue Azbynt

           Aah sial banget sih , gerutu Si Qushoi kala didapatkan kamera dan ranselnya teringgal di Pos 1, saat rehat beberapa jam yang lalu. Mau lanjut perjalanan yang menanjak itu rasanya taklah mungkin sebelum kembali ke pos semula . Kamera pinjaman dari rental harus segera didapatkan kembali, kalau tidak segera, bisa saja pindah ke tangan orang lain. Dan itu artinya harus segera ganti. 

          Demi membantu kawanku yang satu itu, kurelakan kembali ke area rehat tadi, sementara 7orang lainnya lanjut ke pos 2 dan berjanji akan ditunggu di sana sebelum akhirnya berangkat bareng lagi menuju Puncak Piramida Gunung Argopuro. Dengan sedikit nekat kuajak Qushoi memilih jalan pintas walaupun terjal dan penuh semak berduri. Benar saja gangguan di perjalanan mulai terjadi, melintasi semak Jelatang menjadikan wajah dan tangan kami memerah gatal-gatal. Gegera itulah konsentrasiku mulai kurang fokus ke jalannya, mataku lebih menelisik tumbuhan Sirih China atau Sirih Tanah yang konon bisa menawarkan sengatan daun Jelatang itu.

          Ya Allah  ya Rabb, ternyata kami tersasar dan justru semakin jauh ke arah nan dituju. Hal itu dapat kuketahui dari pucuk pohon Ara yang melambai dari kejauhan padahal pohon itu berada di belakang pos 1 yang kami tuju. Gegara gatal yang menderaku hingga aku tak fokus, sementara temanku hanya mengekor sambil menggerutu menyesali situasinya. Karena situasi itulah kami memutuskan untuk pulang saja selepas kamera itu di tangan. Sembari mencari signal  celular kami mengarah ke area yang lebih tinggi tuk menyampaikan pesan pada teman-teman yang bergerak menuju puncak. Yes, pesan tersampaikan dan centang biru sudah itu artinya kami positif pecah kongsi dari kesepakatan semula.

          Masih ada sisa air mineral yang bisa mengentas dahaga walaupun harus berbagi dengan temanku. Sembari mengipas-ngipaskan peci demi menerpakan angin ke wajah, kulepaskan pandanganku ke segala penjuru. Nun jauh tanpak kabut sudah mulai turun padahal hari belumlah sore. Kecemasan mulai menghantui benak kami. Kamera belum didapat, arah tujuan tersasar, sedang kabut mulai merambah. Pertimbangannya, kembali mencari jalan pos 1, atau pulang mengikuti alur ngarai yang sudah bisa dipastikan mengarah ke pedesaan di kaki gunung Argopuro itu. 

        Sayup dari kejauhan kudengar kidung wanita di tengah hutan. Merdu ya merdu kali. Hati terpana tapi perasaan sedikit merinding, manusia, peri, atau jin yang sedang bersenandung? Dengan modal nekat akhirnya kami menelisik sumber suara itu. Ini adalah kali yang kesekian kami mengubah rencana. Memang suara merdu itu menjerat perasaan kami apalagi yang disenandungkan adalah tembang Wahyu Kolo Sebo, dipastikan  adalah suara manusia karena kidung itu digurat oleh manusia. Kami hentikan langkah demi tak ada suara langkah kaki, lalu terdengarlah suara gemericik air yang dipadu desau angin ditambah kidung nan merdu. Gemericik air yang ritmis, desau angin memelodikan siul ditambah kidung merdu. Damai terasa. 

          Kuradarkan telingaku, suara itu sayup dari arah depan, kadang belakang, kadang sisi kami karena angin ngarai yang mengacaukannya. Akhirnya kupastikan arahnya dari sisi kanan dan ke bawah. Kulintasi semak belukar, cilakanya mnjadi bencana yang di luar perkiraan kami. Temanku terjun berguling-guling bebas dan aku mengikutinya dengan menerabas semak yang penuh onak. Dilalah ternyata justru tercebur di embung kecil dengan pancuran bambu di depannya. 

          Perasaanku pecah atensi, karena Qushoi ternyata jatuh pas di depan seorang gadis. Dia meringis kesakitan dengan luka-luka di sekujur tubuhnya, sedangkan sang gadis tergeletak di dekat batu cucian tak sadarkan diri. Rupanya dia kaget hinggak tak sadarkan diri gegara temanku bergulung-gulung menjerit hingga jatuh di dekatnya. Mungkin dikira mahluk planet jatuh dari langit ke-delapan, he he. Menolong sahabatku kukesampingkan dulu, coz dia kurang menarik, ha ha.

           cuih..., kampret lu, aku lagi kesakitan malah mentingin cewek tak dikenal, gerutu Qushoi meringis kesakitan. 

Kubuka jaket parasut lalu kututupkan pada bagian tubuhnya yang terbuka. Kuselonjorkan di atas matlas yang kuambil dari ransel si Qushoi. Temanku malah ngedumel karena kuacuhkan. Tak ada reaksi saat kubalurkan minyak angin di atas bibirnya, tapi napasnya masih stabil. Lagi-lagi temanku menyumpahiku.  dasar bajingan tengil kau, lebih respek cewek itu, bok yao bantuin aku dikit. Aku cuek saja saat dia meneteskan obat merah di beberapa bagian tubuhnya yang lecet. Lagian kan asyik mijitin lengan si cewek agar tersadarkan. Antara khawatir dan nafsu bertengkar di otakku.

 Yaaa Allah..., teriaknya dan kembali tak sadarkan diri. Apa aku ini serupa hantu ya kok bisa menjadikannya ketakutan.  Aku benar-benar cemas kali ini, karenanya aku posisikan dia dengan baik. Kualihkan perhatian dan membantu temanku membebatkan perban di lengannya. Untungnya kami sudah terbiasa membawa P3K setiap muncak.

            Makanya pedulikan aku dulu, baru peduli orang lain. Ayo ak ajarin tuk ngatasi orang tak sadarkan diri, ceramahnya. Dia menelentangkan si cewek dan menyingkirkan bantal lipatan sal yang kutempakan sebelumnya.  gak perlu bantal posisikan dia senyaman mungkin dan lihat mungkin ada bagian tubuhnya yang memar, atau terbebat pakaiannya. Wa Subanallah, sejenak kemudian dia seperti tersedak, dan membuka matanya keheranan.

          Aminah, ya Aminah namanya saat kenalkan diri. Anat Pak RT 17 di pedukuhan Tegal Tengah merupakan RT terpinggir dari kelurahan Curahdami yang berada di kaki Gunung Argopuro. Karena kakinya bengkak dan tak bisa digerakkan terpaksalah aku menggendongnya. Rupanya terbentur batu rejeng saat dia kaget gegara temenku yang jatuh itu. Semula kusuruh temanku menggendongnya, padaal aku tahu dia takkan mungkin karena tubuhnya sendiri memar di mana-mana. Ye, asyik, pikirku, dapat bidadari dari kaki gunung. 

          Jalan yang sedikit menanjak rupanya tak membuatku kecapaian, mungkin karena yang digendong adalah seorang gadis, he he, otak nakalku deplomasi. Sesampai di rumah gubuknya kudapati Pak RT, sedikit marah tanpa kenapa kenapa. Setelah Aminah menjelaskan barulah suasana menjadi tenang.

 Maaf adik-adik, saya sedikit emosi karena di sini tabu orang yang bukan muhrimnya saling bersentuhan, apalagi orang tak dikenal, kalau sudah berani bersentuhan biasanya harus dipinang dan segera dinikahkan, jelasnya.

“Trus gimana ini Pak RT? sambung Qushoi

 Biasanya begitu itu atau si perempuan harus di asingkan ke rumah sanak keluarganya yang jauh, hingga dia menikah, dan barulah boleh kembali, paparnya.

 Duh gimana ini pak?, tanyaku pura-pura.

 Yaa gimana lagi, aku sebagai bapaknya warga sini harus memberi contoh bagi warga”

 Maaf, sekali lagi kami mohon maaf pak, jika bapak tak berkeberatan, aku akan meminang anak bapak”, jawabku sembari menggamit tangan gadis itu. Tampaknya Pak RT sedikit meenahan amarahnya saat melihat nakalku tanpa sengaja itu.

 Yaa adatnya gak begitu, orang tua adik harus datang, dan juga harus ada persetujuan putriku.  Gimana nduk?, tanyanya sembari melihat Aminah.

 kalau saya terserah bapak saja, jawabnya sambil memepermainkan ujung kebayanya.

 Gimana Nak?, sekarang saya harus panggil anak pada...?

 Anggito pak, nama saya, Anggito Azbynt.

Negosiasi itu berlangsung dramatis, Aminah yang cantik benar-benar bak bidadari yang jatuh di hadapanku. Pendakianku justru menuju puncak asmara. Seorang gadis di kaki gunung yang kesehariannya bermain dengan alam dan sewaktu-waktu saja iku memetik kopi di lereng Argopuro itu. Gadis yang alami, tanpa sentuhan gaya-gaya yang norak.

Cuih kampret kau Gito, dasar garangan tengik, sambat Qushoi yang sebenarnya juga naksir, seperti ceritanya saat di perjalanan dari embung tadi.

_________ 

Bondowoso, 7 Januari 2024



Minggu, 24 Desember 2023

Drama di Malam Pertama

 DRAMA DI MALAM PERTAMA

Pak Tyqnue Azbynt

          Semula aku mnganggap beberapa lembar daun pacar di mangkuk kecil dalam kamar adalah pelengkap estetika pernikahan kami walaupun sebenarnya telah menggunakan pasta dengan merk Hena. Ya memang dulu masih jaman kuno memakai tumbukan daun pacar yang dicampur dengan gambir, tapi kan sekarang sudah ada Hena dan sejenisnya? Aku memilih tak begitu peduli akan hal itu. 

         


 Pernikahan kami adalah sebuah keterpaksaan belaka. Aku memilih menikah gegara permintaan ibu saat beliau sakit parah, sedangkan dinda dipaksa oleh Pak Lik saudara ibu mertuaku almarhumah. Dinda seolah-olah manut saja, karena beliau yang telah membiayai studinya hingga perguruan tinggi. Di hadapan keluarga kami bersikap damai dan tampak harmonis selalu. Tapi saat di kamar justru kami bagaikan Tom and Jerry yang tak pernah damai. Dinda tidur di bed sedangkan aku tidur di lantai. Aku memilih megalah karena dia mengancam akan bunuh diri.

          Prosesi pernikahan kami pas malam tahun baru. Malam Senin selepas acara sekitar pukul 23.00 para sinuman tak memilih rehat karena menunggu malam pergantian tahun. Sebagian besar bergeser ke area barat rumah kami tepatnya di jalan pavingstone di lingkungan kami. Dinda istriku memilih bergabung dengan mereka, namun Pak Lik memarahinya agar segera istirahat. 

 Kakang jangan apaapain aku, kalau tak ingin ada berita kematian, ancamnya.

Up..., ya oke, aku coba memahaminya, toh aku pun tak kebelet cinta. Selama ini aku belum pernah tidur sekamar dengan wanita mana pun, namun ketika seruangan dengan seorang yang bernama istri pikiran mulai mengembara. Mata mulai teruju pada sesosok gadis usia 20 tahun yang sedang terlentang pulas. Pipinya yang merona, serta lekuk tubuhnya menyihir perasaanku. Temaram lampu menyahdukan malam itu. 

          Tempelan daun pacar yang sudah digunting benttuk gerigi di pinggirnya itu ditempatkan secara acak di lehernya. Reaksi minyak angin yang dioleskan ke daun pacar itu telah menjadi sablon monoprint di bagian lehernya. Atas permintaanya kami melakukan keramas sebelum subuh demi membahagiakan keluarga. Setelah ngopi pagi baru aku memahami strategi daun pacar itu saat cewek-cewek di teras depan menggojlognya. Yee, stempel ritual cinta semalam neh, yah bikin kami-kami pingin nikahan juga, selorohnya. Anggota keluarga hanya senyum-senyum bahagia.  

          Menikmai Djie Sam Soe yang sesekali disela dengan kopi hitam, kukembarakan angan-angan ke langit 3. Anganku jauh ke drama semalam, inikah takdir itu? Kuambil gawai sekedar membaca-baca biografi tokoh-tokoh dunia di internet. Tetiba aku dikejutkan bunyi piring yang menyentuh meja kecil di hadapanku. Asap goreng pisang di atas piring bergoyang dicumbu angin.

“sila didahar kang, katanya sok ramah dan mesra. Karena ada beberapa anggota keluarga, aku pun bisa main drama. oh ya terima kasih say, tolong ambilkan rokok di atas bufet kamar. Kulirik dia seikit ketus, sedang aku seyum bangga. 

          Dua pekan berlalu, hari-hari kami dilewati tanpa cerita indah yang berarti selain jamaah tiap salatku di ruang tengah. Selepas dedoa dia menyalamiku seakan mesra karena semua keluarga menjadi jamaahku. Saat seperti itulah kurasakan kelembut an dan kehalusan tangan bidadariku.

          Mungkin karena kekesalanku, saat di ruang salat keluarga ide nakalku muncul jua. And one again, dia sedikit menyingkap mukenah tuk sekedar menunjukkan noktah merah palsu di lehernya pada keluarga. Kugamit tangannya sembari kunakali dengan pertanyaan, Kapan kita punya momongan ya? Dia sedikit merengut dan sekelebat mendelik memarahiku dalam gestur. 

          ‘Duaarrr tetiba suara petir seakan di atas wuwungan rumah, dan dia loncat memelukku. Hmm rupanya dia astrophobia atau penakut suara petir. Keringatnya dingin dan bercucuran di keningnya. Pelukan eratnya menceritakan ketakutannya tanpa kata. Nafsu nakalku muncul seketika. Kecium keningnya seraya kubelai rambutnya yang sudah menanggalkan mukenahnya. Wangi tubuhnya menambah nafsu nakalku. Namun hujan yang mulai terang dan suara petir mulai jarang, dia melepaskan pelukannya padaku. Dalam hati kumeminta, Oh Tuhan di mana sura petir-Mu. 

          Drama malam pertamanya boleh sukses, tapi sejak aku tahu kelemahannya aku mulai mencari-cari akal bulus. Tiap malam aku selalu menggunakan baju tidur yang selalu aku semprotkan Avon fifth avenue agar aromanya lembut mesra. Tiap malam menunggu petir membentak alam, namun jarang terjadi, mungkin karena di bulan Januari 2024 ini mengalami musim hujan kering atau Elninu. 

          Sudah beberapa malam harapanku tak dikabulkan alam, toh kalaupun hujan petir tak ikut hadir, sedangkan harapanku sudah merambah ke titik nadir. Otakku mulai terasa tak beres. Kubawa membuat lukisan, mengaransir lagu, atau sedikit menulis flash story, namun hasilnya kering dan sepi estetika. Aneh memang, keseharianku menjadi tak produkif dan badmood saja. Akhirnya kupilih mencumbu digital TV di ruang tengah. Menyaksikan National Geographic justru memberikan inspirasi. Menyaksikan tayangan hujan di Sungai Mara dengan petirnya yang menggelegar merambah ke otakku. Dengan suara yang tak begitu keras, kucoba koneksikan dengan suara Subwoofer di home theater, hemmm, menggelegar. Tapi kalau ada keluarga yang lain, kan bisa mengganggu keluarga +62. 

          Otakku mulai diracuni skenario yang tak bisa kueksekusikan segera gegara ada banyak penghuni di rumah. Saat menanti begitu terasa panjang, sedangkan huajn dan petir justru kian jarang. Dalam hati protes, kenapa alam tak peduli padaku. Sampailah suatu ketika, saat keluarga mertuaku menginap di keluaga yang lain karena ada hajatan. Istriku sejak siang sudah mengancam agar aku jangan macam-macam. Apapun ancamannya aku acuhkan saja, dan aku berlagak seakan menurutinya. 

          Malam pun tiba, hatiku begitu riang menyongsong senyap malam lalu lelaplah biadari titipan mertuaku. Rupanya dia terlalu curiga akan terjadi sesuatu, dia memilih membaca buku-buku novel di pustaka pribadiku. Untungnya dia tak tahu nama pena yang aku sematkan di tiap karyaku. Aku pura-pura menyegerakan tidur, sedangkan timer TV telah kusetting timer pada sebuah kanal Youtube tanpa iklan yang menayangkan hujan di Sungai Mara. 

         Mungkin karena mendung yang begitu rendah malam itu, suasananya begitu gerah, dan pantaslah kalau kutanggalkan bajuku, bahkan tanpa singlet melekat di tubuhku. Celana bokser biru tua bertuliskan Nike yang kukenakan menjadi pembalut tubuhku. Mataku yang sudah terjajah kantuk menjadikan sukma di ambang sadar.

            Duarrrr, duarrr..., bruggg aku dikagetkan gelegar suara subwoofer di ruang tengah namun yang lebih mengejutkan saat Dinda loncat dan menghimpit tubuhku.

Ya Allah. Baaang, dinda takut, kok petirnya lama banget, gumamnya. Tenang ada abang” sambungku. 

 Kok abang juga deg degan, memang juga takut?

Iya dind, aku akut khilaf saja, makanya jangan terlalu rapat dindaaa, sambungku sembari memeluknya dengan lembut. Dia hanya menatapku penuh harap agar tak melepaskan pelukanku. Untuk berapa kalinya aku pura-pura agar merenggang dariku.

 please deh bang, biarkan aku tetap menggelayut, bujuknya

“iyaa deh demi bidadari aku bersedia dan tak akan nakalan padamu”

Mungkin karena merasa aman dan nyaman, dia mulai tersenyum.

“ Bang, aku merasa terlindungi di dekapan abang, aku rela menjadi pelayan abang di rumah ini dengan setulus hati, mencuci, memasak dan lainnya”.

Aku tak minta itu semua, aku hanya takut khilaf malam ini. 

“ Owh begitu yaa?, suaranya lirih. Kugamit tangan kanannya, letakkan di dadaku sebagai tanda ketulusan. Dan ternyata dia mencium bahuku malu-malu. Perlahan dia tindihkan pipinya ke dadaku yang kian bergemuruh. 

 Bang, aku pasrah, katanyasembari menyibakkan rambut panjangnya. Gemuruh suara di dadaku mengalahkan suara subwoofer di ruang tengah. 

          Menjelang subuh dia membangunkan aku, mengajak keramas sebelum salat subuh. Walaupun kulihat dia seperti menahan nyeri, tapi rupanya tak memprotesku. Noktah merah di lehernya kali ini bukan dari daun pacar seperti dulu-dulu. Seusai subuhan dia rebah di pahaku penuh kemesraan.

 Aah Dind, jangan tiduran begitu, aku takut khilaf, selorohku, dan dia protes genit sembari mencubit pahaku. 

Moga ada petir lagi, candaku.

 Yeehhh ga usah nunggu petir, but yang lembut yaa, theres a little pain here, sambungnya sambil melempar tasbih ke wajahku dengan nakal manja.

          Kami terjaga agak kesiangan. Dia kaget karena di halaman tak ada bekas air hujan. Sampai cerita ini kutulis, dia tak ahu sebenarnya skenario tersebut. Aku sebut kalau dia halusinogen dari bacaan novel percintaan. 

“iiih gak kok, sambungnya penuh keheranan, dan dia menganggap bahwa suara petir itu adalah bisikan malaikat cinta di hatinya.

__________ 

Bondowoso, pekan terakhir Desember 2023


Sabtu, 02 Desember 2023

BONDOWOSO-PEKANBARU DALAM TAUTAN CINTA LINTAS SEGARA


 Bondowoso-Pekanbaru dalam Tautan Cinta Lintas Segara

Pak Tyqnue Azbynt

Perlawatanku ke Kota Sawit merupakan sebuah takdir yang tak terelakkan. Tugas dari kampus tuk mengikuti free college di Universitas Abdurrab serasa keterpaksaan saja. Demi ikut seminar yang menghadirkan seorang Profesor dari Universiti Malaya, Prof.Dr. Thamil Selvy Velayutham. Secarik piagam demi thesis, ya begitulah. Senyampang di kota perdagangan dan kota sawit itu, kusempatkan tuk healing menghempaskan jenuh di sekitaran spot kedai yang instagramable.


Kedai Kopi Genteng yang konon sudah berdiri sejak 1950 menjadi tujuanku. Menu kopi susu plus roti srikaya bakar terasa nikmat sekali, pantas saja kalau ramai dan legend karena rasanya memang istimewa. Selepas itu kulanjutkan ke Perpustakaan Syuman HS, yang katanya menyimpan banyak manuskrip kunonya. Benar juga, sampai-sampai aku lupa waktu gegara melihat banyak buku menarik di sana. " Lah masse?, kok bisa terdampar kemari?", Kata Judi Arianti yang biasa berkorespondensi literasi denganku. Sungguh aku tak tahu kalau dianya manusia Pekanbaru. Maklum saja koneksitasku dengannya hanya sekitar literasi. Senyum manjanya menjadi mengganjal di dadaku, dag dig dug der rasanya. Gamitan tangannya yang hangat mengalirkan energi ke pori-pori tanganku, dan aku nyaman dibuatnya. Tetiba saja aku disandra tuk keliling kota dengannya. Vespa matic LX 125 biru toska membawa kami entah kemana, dia driver dan aku pemboncengnya. Amboy indahnya Pekanbaru. Merapat sejenak tuk makan siang di sebuah kedai. Sup tunjang dengan kuah bening dan rasa kaldunya yang nikmat menjadi semakin lezzat kala dia menyuapiku. Sup dari tulang kaki sapi ini mengantar kami pada perjamuan cinta. Kugamit kedua tangannya, " Jud..., selama ini aku sibuk di bangku kuliyah, and gpernah mikir cewek, tapi kenapa hari ini aku jadi tak berdaya di hadapanmu?". " Halah gombyal", sembari menarik tanganku ke mulut mangkuk kecil berisi sambal. " Seriously", kuyakinkan dia. Dia tak bergeming, tapi saat kucium keningnya sepertinya dia mulai luluh.


Rupanya Judi Arianti pernah tersakiti oleh seorang cowok, dan hingga kini menganggap semua cowok adalah buaya. Aku tak memaksanya, karena toh hanya bertemu hari itu saja. Namun saat dia mengantarku ke hotel, kekatanya membuatku yakin kalau kami bisa bersatu. "Mas, aku percaya ucapanmu, bawalah aku ke Jawa tuk kau kenalkan dengan keluargamu", ucapnya tulus sembari mencubit kecil pinggangku. Kutarik dia kupeluk lembut sambil mencium keningnya. " Yap, I Will", timpalku sembari menjabat tangannya di lobby hotel, dan dia pun say "bye bye" sambil mengerlingkan matanya dengan genit.

____

Bondowoso, 2 12 2023

Senin, 13 November 2023

JALAN UNTUKNYA

 JALAN UNTUKNYA

Pak Tyqnue Azbynt


Hadir di panggung besar sebagai tetamu bersama para penyair Asean menjadi kebahagiaan tersendiri, apalagi di ibukota: sungguh istimewa. 


Mewakili kabupaten tercinta, bangga di dada terasa kali. Manusia punya cita tapi Tuhan punya kuasa. Di bulan yang sama si Sulung anakku harus terbang ke Malaya University bersama beberapa mahasiswa teman-temannya dalam misi free college. Butuh financial ekstra tuk uang sakunya di negeri Jiran itu. Terpaksalah kuurungkan niat ke ibukota tuk menerima hadiah istimewa itu. Biarlah kuberikan jalan untuk jagoanku, dan aku cukup kirim doa dan pengharapan kesuksesan buatnya. 


Baju adat Jawa timur yang kusiapkan terpaksa kulemarikan saja. Dan bila saatnya tiba, walau dalam.moment dan event yang beda insyaallah menuju panggung kehormatan akan tergapai juga. 

____

Bondowoso, 13 11 23

Bias bias Cinta DEELA NOOR

 Bias bias Cinta DEELA NOOR

Pak Tyqnue Azbynt



Ingin lepas dari keruwetan tugas kantor yang menyandra otakku, memilih ngopi di Orilla Cafe menjadi titiak sasarku. Di lantai atas tersaji mini garden yang sedikit menjadikan healing sukma. Sembari menyesap Raung Arabika Coffe yang menyela hisapan Wismilak rokokku. Tenang dan sedikit melegakan.

This is me time. Bermaksud mencari file lagu dan foto-foto di laptop yang bisa dijadikan modeblat lukisan, kutemukan foto Si rambut panjang Deela Noor, mantas mahasiswiku dulu. Seorang gadis yang dulu pernah menyekap dirinya berhari-hari di kamar, tanpa minum tanpa makan gegara ingin melepaskan pertunangan dengan mantannya. Cerita itu sempat kudengar dari mulut manisnya. Entah kini dia di mana dan berprofesi apa aku tak pernah tahu. By the way, file lama tentang mahasiswi jurusan arsitek itu bukan target yang akan kulukis. Tapi dari balik cerita waktu remajanya justru menjadi titik telisik lain tuk kujadikan cerita novelku. Memang banyak mahasiswi kujadikan sebagai objek lukisan atau inspirasi cerita. And Finally kutemukan tokohnya. 

Dengan sketchbook tangan kirinya seorang wanita mojok di sebelah Musala lantai atas dekatku sedang nyantai. Tak tampak wajanya karena gerai rambut panjang menutupinya. Aku tak peduli. Lagu-lagu country rupanya melenakanku, antara tertidur dan sadar aku dikejutkan oleh sapaan manis " Bapak masih melukis kan, ayo dong lukiskan wajahku, ini kebetulan aku bawa buku gambar sket bestek bangunan yang masih ada yang kosong". Sekonyong-konyong saja aku kaget dan sadar ternyata orang yang hendak kujadikan ide cerita malah muncul tetiba di sampingku. Rupanya si rambut panjang itu, yang di dekat Musala tadi. Dia ceritakan banyak hal tentangnya, mulai hal yang umum hingga hal yang teramat privacy. Cinta pertamanya yang gagal hingga kenekatannya yang nyaris membahayaka dirinya. Kini ia heandak healing, ngafe, dan menghayal lepas, eh malah ketemu aku. Sebagai mantan dosennya aku tetap menjaga image, agar tetap berwibawa. Kenekatannya tetap saja dia lakukan, bersanda di bahu kiriku, sembari memainkan pulpen pilot warna merah dia bercerita dan bermanja padaku. " Pak tolong jangan protes, biarkan aku melepas semua keruwetan beban kerja, ijinkan aku bermanja pada dosenku yang sering menyindiku dulu". Kugamit tangannya sembari kebelai rambut panjangnya. " This is me time, kataku, boleh aku cium keningmu, mahasiswiku yang dulu 'nakal' itu?". Dia no coment tapi menarik leherku sebagi pertanda kalau dia tak keberatan. Dan dari peristiwa itu kini kami masih menyinambungkan bias bias cinta kami. Entah sampai kapan harus berlabuh di pelaminan, bukankah kami sama-sama sebagai manusia jomblo. Deela I like that moment.

___

Bondowoso, 13 Nov 23

Rabu, 08 November 2023

BU ANITA GURUKU

 BU ANITA GURUKU

Pak Tyqnue Azbynt


Kota Malang yang menghangat gegara hujan yang tak kunjung turun, membuatku kian jengah dan ogah-ogahan ngampus. Mungkin karena beberapa pekan ini aku bolak-balik ke Lab demi mematentkan penelitianku. And Finally, bawaannya capek dan badmood. 



Tetiba saja gawayku berdering, panggilan dari sahabat kampus agar aku segera merapat ke ballroom Fakultas Fisika. "Segera merapat guys, ada beberapa orang yang menanyakanmu". Dalam hati bertanya-tanya, apakah duta dari Malaka University? Kusegerakan saja berangkat tanpa pikir ini itu lagi, lagian tempat kostku hanya 75m saja. Yassalam, dari jauh kulihat Bu Nita, guru matematika saat aku MTs di pondok, dan kemudian saat aku masuk MAN beliau mutasi ke tempat studiku yang baru. Dulu aku kurang respect pada pelajaran beliau yang cara menerangkannya cepat bagai lagu RAP saja, and "criwis"nya bikin aku malu kalau gak ngerjakan tugas-tugas darinya. 


" Waah anakku ini tah?", Sapanya sembari pamerkan kemolekan lesung pipinya. Kujabat tangannya penuh haru karena dari beliaulah dasar-dasar exacta aku dapatkan. " Salam Karo abae, aku suwi Ra ketemu". " Enjih Bu". Beliau dulu memang teman Abah saat masih ngajar di pesantren. Yang tak bisa aku lupakan tentang beliau saat aku belajar wawancara kala masih MI. Kuwawancarai beliau yang guru MTs itu. "Sini jangan malu-malu, kamu mau tanya apa?". Beliau langsung mengambil buku catatan pertanyaan dan langsung menjawab panjang lebar hingga aku tak bisa menulisnya. Bu Anita, 'we can't stop missing you'.

___

Indonesia, 8 November 2023

Minggu, 05 November 2023

SOCIO COCCI

 Socio Cocci

" Bruuuum I am flying now", begitu celoteh si Cocci Zei, anak paling bontot tapi gayanya yang selangit membuat marganya jengah dengan kelakuannya. Tiap hari pamer sayap, kelihaiannya bermanuver terbang diantara reranting elok klorofil di dedaunan. 

 Cocci Ei, Cocci Bi, hingga Cocci Dablyu , berkali-kali telah mengingatkannya. Tapi kelakuannya memang susah diubah. Kali itu Si Sulung Cocci Ei memperingatkannya dengan keras agar jangan bermain di Lembah Kematian dekat _Fumarol_ yang banyak mengeluarkan _Sulfura_ dan gas yang lainnya. Kesombongannya telah mengantarkannya ke ambang celaka. Benar saja dia tergelincir di daun akasia dan terpelanting hingga tak bisa bangkit, ia terlentang dengan kepala pusing 7 keliling karena banyak menghirup gas belerang. " Toloooong!",pintanya memelas. " Alaaah gayamu", sergah yang lainnya. Dan benar saja dia kesulitan bergerak, napasnya sudah megap-megap.


Si Sulung Cocci Ei mengomando teman-temannya agar membantu Si Nakal Cocci Zei.Mereka bergelantungan di daun akasia membandulkan diri untuk menjadikan tangkai daun itu sebagai pengangkat tubuh si Nakal. And Finally, mereka pun berhasil membantunya. Si Nakal itu baru menyadari akan kelakuannya, ternyata berkawan dan bersahabat dengan tulus akan menjadikannya selamat dalam kehidupan.

____


Notula:

 Coccinellidae (nama ilmiyah kumbang kura-kura).

 Socius (masyarakat).

 Fumarol  lubang dari gunung berapi

 Sulfura (sulphur) belerang.

HIDUP DI DUA ALAM

 HIDUP DI DUA ALAM Pak Tyqnue Azbynt Motor kubejek abis hingga bajuku kiwir-kiwir digoda angin. Bayangin aja Upacara Hari Santri Nasional di...