JANDA MERESAHKAN
Pak Tyqnue Azbynt
Mungkin sudah jamannya, kehidupan warga +62 kini sibuk dalam egoistik dan gaya hidup glamour. Flexing-flexing menjadi keniscayaan yang tak terhindarkan. Banyak baby Gen-Z hidup dengan gaya mewah walaupun cenderung dipaksakan. Mereka hidup diburu oleh gaya hidup, tak ketinggalan pula para wanita, baik remaja maupun para ibu-ibu muda. Citycar atau motor matic gede menjadi media gaya mereka.
Tidaklah mengherankan bila ada kegiatan agama justru lebih mementingkan tampilan dan gaya tinimbang nilai yang sebenarnya. Bagi kami para lelaki yang sudah berumur menjadi polusi budaya yang harus diatasi. Namun reduksinya sudah terlalu jauh, persaingan tak sehat seringkali memaksa para lelaki bekerja yang resikonya sudah melewati ambang wajar. Otak sudah dituntut untuk berpikir materialisik. Bagi yang tidak mampu meredam, terpaksa mengalami stress yang menyiksa. Healing, shopping, facial treatment, dan tetekbengik yang lainnya menjadi penyiksa lelaki pencari rupiah.
Mangkal di warung kopi, atau bercanda di pos ronda menjadi zona nyaman bagi para lelaki pejuang rupiah yang selalu disibukkan dengan kerja dan kerja. Munculnya Teras Kafe di sebuah beranda rumah yang didiami pendatang baru, menjadi hotspot baru bagi para lelaki termasuk aku. Rumah Joglo dengan penataan ala Jawa kuno di teras itu menjadi pengembali perasaan pada masa silam yang hidup tanpa banyak persaingan. Hal itu menjadi alasan bagi para lelaki tuk sekedar healing. Yang paling istimewa justru sang pemilik teras kafe itu adalah janda muda yang gemoy, smart dan ramah, namun kadang-kadang mengisengi para wanita yang sok kecantikan dan terlalu possesive terhadap suaminya yang telah mereka siksa kerja itu.
Ahad pagi warga desa kami sedang bergiat membersihkan lingkungan semacam kerja bakti yang justru digagas saat ngopi-ngopi di rumah sang janda. Entah ke mana muara dari kegiatan itu, kok tetiba saja warga menjadi guyub khususnya para lelaki, dan anehnya paling banyak warga bekerja justru di jalan depan rumah si gemoy. Bak Eva begitu para warga memanggilnya janda yang punya nama lengkap Eva Anastasia itu. Konon dia resign dari pekerjaanya sebagai CS di bank swasta, karena kewalahan mengelola waktunya, sementara itu anaknya masih usia kelas 1 SD yang perlu perhatian lebih pasca meniggalnya sang suami. Secara ekonomi dia sudah bisa dikata lumayan, dana pensiun suami plus pesangonnya pasca resignnya.
Tampilan yang natural, tanpa make up, serta sapaan akrabnya menjadi penyintas hati para lelaki. Smart, cantik, luwes dalam bergaul menjadi pesona yang tak bisa dihindarkan. Wajarlah kalau banyak cewek dan ibu-ibu merasa terganggu atas kehadirannya. Sering mendapatkan sindiran baik seara langsung maupun di media sosial telah menjadikannya mengeluarkan trik nakalnya. Mulai dari quotes yang sering dia sindirkan di medsos maupun tampilan di tempat gerainya berjualan. Teras Kafe Garangan Pemburu Kaih Sayang merupakan jargon yang tertulis di beranda rumahnya tempat kami mangkal, ngopi dan rokokan, apalagi free WiFi, menjadikan tempat yang nyaman untuk berbetah-betah.
Di medsos mulai ramai serangan bully quotes yang sangat memojokkannya. Hati-hati, jangan sampai suami kalian tersesat di kafe janda, adalah tagline yang menjadi tagar bagi mak-emak di komplek kami. Puncaknya saat acara pertemuan Dhasa Wisma di musala bu RT, Eva menjadi bulan-bulanan dalam cemooh sindiran yang begitu menohok. Pembawaan yang santai dan ditenang-tenangkan perasaannya begitu menghimpit dadanya. Pengalaman menjadi CS adalah modalnya mengendalikan emosi.
Perlahan dia mulai melakukan serangan balik yang mematikan. Postingan tentang cafenya dengan quotes, yang mulai menyiksa perasaan ibu-ibu di kompleks kami. Update statusnya selalu bikin panas para wanita pesaingnya. Selamat datang para garangan di kafe kami, anda yang terjajah di rumah, merapatlah di kafe kami, healing di kafe kami lebih dari sekedar ngopi bareng, dan sebagainya menjadi quotes yang memanggang hati para wanita di komplek itu.
Rumah sang Janda diluruk warga yang dimotori Bu RT atas desakan warga, namun dia tetap bersikap tenang, dan menjawabnya dengan diplomatis. Tak ada bukti yang menguatkan, kecurigaan warga.Kedewasaan bersosial di kompleks kami justru berada di tangan sang Janda. Memang pada kenyataannya dia tak pernah menggoda sesiapa pun, walau banyak lelaki yang menyatroninya dengan tebar pesona dan kemapanan. Kalaulah ada candaan, itupun candaan umum yang bersifat normaif.
Ngopi-ngopi dan rokokan menjadi kegiatan bareng para garangan di kafe itu. HP sementara dikesampingkan, kami justru ingin menikmati suasana tanpa piranti media sosial di tempat itu. Kami kembali ke era dulu. Guyub, dan nyaman menjadi alasan kami untuk hampir tiap malam melenakan rasa dan melepaskan diri dari siksa seharian kerja yang melelahkan. Di sisi lain banyak ibu-ibu dan cewek remaja yang merasa terabaikan oleh para lelakinya yang sedang menikmati zona nyamannya. Anehnya cowok-cowok remaja pada ikutan nimbrung, tapi di deretan kursi yang tak ditempati para dewasa.
Lagi-lagi pertemuan dasa wisma di musala Bu RT yang dihadiri Bu. Lurah menjadi ajang pembantaian perasaan, dan kali ini jusru lebih barbar. Bu Lurah yang lebih membela warga, telah menjadikan Bak Eva benar-benar terpojok dan mati kutu saat itu. Sabar dan tenangnya menjadikan warga merasa kehabisan akal.
Selepas pembullyan warga, sang janda kian massive memprovokasi warga dengan tagline di medsosnya yang kian menusuk jauh hingga ke ulu hati musuhnya. Terima kasih mas kumis tebal yang semalam membuatku nyaman, jangan lupa tuk mampir lagi garangan yang bermotor sport merah, aku tunggu lagi mas garangan muda yang berjaket coksu, dan sebagainya yang sengaja dideskripsikan pada sosok yang sering mangkal di kafe itu. Pinternya, dia ak menyebutkan sosoknya secara jelas, and tak ada alasan bagi ceweknya tuk melabraknya secara langsung. Aku ketawa aja melihat fenomena ini. pertengkaran di rumah tangga masing-masing tak dapat dihindarkan. Friksi di manamana mulai terjadi.
Gimana perang Gaza di rumah kalian, aman gak? begitu selorohku. aaah, cuekin aja, “gak urus , dan sebagainya jawaban mereka. Hanya di keluargaku yang aman karena bidadari titipan mertua begitu percayanya padaku. Dan, nasib sial ternyata menimpaku juga, gegara Pak RT, yang memotret songkok blangkonku, lalu memosting di Instagramnya dengan tulisan yang memprovokasi warga lainnya. Blangkonmu, ketinggalan di kamarnya Jeng Eva Bro, sila ambil di rumahku, aku dah bawanya semalam. Cucian piring dalam keranjang di padasan belakang langsung saja dilemparkan istriku gegara ramainya rumpian ibu-ibu saat belanja sayur di abang sayur di jalanan komplek kami. Duh, akhirnya aku kena pula. Janda meresahkan, begitu benakku tapi lucu dan mngasyikkan, he he.
______
Bondowoso, 14 Januari 2024

Tidak ada komentar:
Posting Komentar