Bondowoso-Pekanbaru dalam Tautan Cinta Lintas Segara
Pak Tyqnue Azbynt
Perlawatanku ke Kota Sawit merupakan sebuah takdir yang tak terelakkan. Tugas dari kampus tuk mengikuti free college di Universitas Abdurrab serasa keterpaksaan saja. Demi ikut seminar yang menghadirkan seorang Profesor dari Universiti Malaya, Prof.Dr. Thamil Selvy Velayutham. Secarik piagam demi thesis, ya begitulah. Senyampang di kota perdagangan dan kota sawit itu, kusempatkan tuk healing menghempaskan jenuh di sekitaran spot kedai yang instagramable.
Kedai Kopi Genteng yang konon sudah berdiri sejak 1950 menjadi tujuanku. Menu kopi susu plus roti srikaya bakar terasa nikmat sekali, pantas saja kalau ramai dan legend karena rasanya memang istimewa. Selepas itu kulanjutkan ke Perpustakaan Syuman HS, yang katanya menyimpan banyak manuskrip kunonya. Benar juga, sampai-sampai aku lupa waktu gegara melihat banyak buku menarik di sana. " Lah masse?, kok bisa terdampar kemari?", Kata Judi Arianti yang biasa berkorespondensi literasi denganku. Sungguh aku tak tahu kalau dianya manusia Pekanbaru. Maklum saja koneksitasku dengannya hanya sekitar literasi. Senyum manjanya menjadi mengganjal di dadaku, dag dig dug der rasanya. Gamitan tangannya yang hangat mengalirkan energi ke pori-pori tanganku, dan aku nyaman dibuatnya. Tetiba saja aku disandra tuk keliling kota dengannya. Vespa matic LX 125 biru toska membawa kami entah kemana, dia driver dan aku pemboncengnya. Amboy indahnya Pekanbaru. Merapat sejenak tuk makan siang di sebuah kedai. Sup tunjang dengan kuah bening dan rasa kaldunya yang nikmat menjadi semakin lezzat kala dia menyuapiku. Sup dari tulang kaki sapi ini mengantar kami pada perjamuan cinta. Kugamit kedua tangannya, " Jud..., selama ini aku sibuk di bangku kuliyah, and gpernah mikir cewek, tapi kenapa hari ini aku jadi tak berdaya di hadapanmu?". " Halah gombyal", sembari menarik tanganku ke mulut mangkuk kecil berisi sambal. " Seriously", kuyakinkan dia. Dia tak bergeming, tapi saat kucium keningnya sepertinya dia mulai luluh.
Rupanya Judi Arianti pernah tersakiti oleh seorang cowok, dan hingga kini menganggap semua cowok adalah buaya. Aku tak memaksanya, karena toh hanya bertemu hari itu saja. Namun saat dia mengantarku ke hotel, kekatanya membuatku yakin kalau kami bisa bersatu. "Mas, aku percaya ucapanmu, bawalah aku ke Jawa tuk kau kenalkan dengan keluargamu", ucapnya tulus sembari mencubit kecil pinggangku. Kutarik dia kupeluk lembut sambil mencium keningnya. " Yap, I Will", timpalku sembari menjabat tangannya di lobby hotel, dan dia pun say "bye bye" sambil mengerlingkan matanya dengan genit.
____
Bondowoso, 2 12 2023

Tidak ada komentar:
Posting Komentar