Total Tayangan Halaman

Selasa, 07 Mei 2024

BEGAL GAHARU

 BEGAL GAHARU

Pak Tyqnue Azbynt



          Tanah perdikan itu selalu saja menghadirkan banyak masalah. Cekcok dan sengketa batas wilayah acapkali menjadi riak perseteruan yang bak bara sekam saja. Saling ghibah di luaran sudah menjadi habitual yang tak elok tuk dilanjtukan, namun selalu saja ada pemicu yang menyinambungkannya. Konon tanah yang bagai tak bertuan itu sejatinya masih ada ahli waris yang diabaikan dan justru di-claim sepihak oleh salah satu klannya.

          Menelisihi kenyataan yang sudah kasat mata saja dianggap tak bakalan menjadi perhatian publik. Nun di batas seberangnya ada lahan persawahan yang kini mengering gegara kanalnya selalu ditimbuni tanah dengan perlahan. Warga pemilik sawah pun memilih mengalah tinimbang mempuk permasalahan yang tak berkesudahan.

          kali ini sudah menjadi kian nyata keserakahannya para penguni tanah perdikan itu. Pokok baharu yang berada di balok batas itu tumbang sudah, padahal sebagian besar berada di lahan sebelahnya Tiga lelaki anaknya yang sejatinya pernah nyantri itu la kalam wala salam telah secara sepihak menggunakan chaisaw merobohkannya. Deru mesin potong itu memekakkan teliga tetangga sekiarnya. Kabar menjadi viral setelah diketahui warga sekitar ternyata yang memotongnya bukan pemilik sahnya. Kasak-kusuk mulai merebak, namun sang pemilik lebih memilih diam dan hanya dibincangkan dengan kluarganya tinimbang berkeluh kesah ke orang lain yang hanya memperkeruh suasana.

Bu, pohon gaharu yang harga jutaan itu telah tumbang, kata Mang Ilyas.

Lho, kenapa pak? Apakah kena angin kencang? tanya istrinya.

Gak.

Ya Allah pak, tiga lelaki itukah yang memotongnya? tanyanya.

Ya begitulah, jawab suaminya singkat.

Gimana neh, kita mesti ngapain, sambung istrinya.

Serahkan saja pada Gusti Allah bu, mau gimana lagi.

          Banyaknya tetangga yang diam-diam menanyakan telah menggoyahkan pedirian keluarga Mang Ilyas. Berbagai bujuk yang masuk ke telinganya telah merusak kejernihan nalarnya. Mau dilabrak taklah mungkin karena tak elok selalu berebut urusan dunia. Yang satu bilang ini soal harga diri dan soal hak, di pihak lain lain ada menyuruh pasrah saja. Bujukan-bujukan itu benar-benar mereduksi otakya.

          Selepas subuh didatanginya puing pokok gaharu itu. Dalam hatinya berkata “ternyata takdirmu bukan menjadi milikku. Munculnya orang yang kebetulan lewat di tempat itu memanaskan suasana. Dia bilang agar tak membiarkan kebiasaanya yang serakah itu. Bukankah lahan persawahan itu mengering gegara kuarga yang sok kuasa atas tanah perdikan itu? Saat pulang ke rumahnya, Mang Ilyas hendak membujuk istrinya agar melabrak tetangganya, namun telepon dari anaknya yang di rantauan agar mengirimkan uang tuk biaya pendidikannya. Dan, permasalahan pun pudar seketika. Mereka lebih berkonsentrasi pada kebutuhan anaknya.

          Mungkin karena usianyalah yang menjadikan Mang Ilyas memilih diam, demi memberi tauladan untuk anak cucunya. Dia hanya berkata pada keluarganya Kasihan dengan status kesantriannya, yang harus mereka taggalkan seperti tumbangya pohon gaharu itu. Kita diam bukan berarti kita ikhlas tapi karena keterpaksaan atas nama umur yang sudah kian menua dan hanya menunggu purna usianya saja. Semoga anak cuccu kita tidak aa yang serakah dan menegasikan kepemikan orang lain, jelasnya sembari menyesap bibir gelas saat mencumbu kopi hitam buatan biddarinya.

_______ 

Rumah seni Latansa, 7 Mei 2024

Selasa, 30 April 2024

Griya Cinta Putih Abu abu

 GRIYA CINTA PUTIH ABU ABU

Pak Tyqnue Abynt



          Cinta abg semasa di SMPN 1 Tenggarang Bondowoso itu berlanjut di dua sekolah yang beda. Roffy Dian dan Anjasmara bak Romeo dan Juliet saja. Selepas dari SMP mereka tetap mengikat temali cintanya walau di dua kutub yang beda. Roffy MAN Bondowoso jurusan keagamaan sedangkan Anjasmara memilih SMAN 1 Bondowoso jurusan IPA. Tak ada alasan tuk saling berganti pinjam buku, apalagi Raffy stay di pondok pesantren yang bersebelahan dengan madrasahnya, sedangkan Anjas melilih kost di bilangan Gang Palm dekat RSUD yang berjarak kekitar 200-an meter dari pondoknya.  Cinta mereka kini terpenjara entah sampai kapan kan terlepas dari sekapannya.

          Janji tuk saling berbagi kisah justru kini sama sekali tak dapat dilakukan. Madrasah Roffy yang ekstra ketat apalagi dia memilih ekskul Tahfiz Qur an yang limitasi waktuya sangat presisi. Di tempat yang berbeda Anjas lebih menemukan kebebasan, apalagi saat ekskul Sepak Bola. Stadion Magenda yang tepat di depan gedung MAN menjadi tempat indah tuk menyemai harapan, barangkali bisa walau barang sekejap melihat wajah kekasihnya kongkow di beranda madrasahnya. Harapan itu sia-sialah belaka. Indah romansa cinta hanya di sinetron saja.

          Setahun sudah masa penyiksaan perasaan itu mereka lewati, berbagai cara tuk bisa bersewajah dengan idamannya tak pernah tertunaikan jua. Anjas berkali sudah mencari cara yang ekstrim agar bisa menemui sang kekasih. Dia tak mengacuhkan betapa bahayanya jika tercium oleh guru BK di sekolah maupun madrasahnya, bukankah antar guru BK MA dan SMA di kota itu ada MoU tuk saling berbagi cara tuk membimbing anak-anak sekolah masing-masing.

          Entah ide dari mana, Anjas justru nekat mengirimkan paket untuk bidadarinya di MAN. Mungkin melalui kurir dia bisa berkirim salam via paket cintanya. Dilalah bencana justru kini bermula gegara dia kirimkan paket bertepatan dengan hari Valentine yang justru mengundang atensi Pak Prik sang guru BK. Sebuah set seragam sekolahnya putih abu-abu dengan stempel OSIS di ada kirinya. Entah apa maksudya harus dibubuhi stempel itu. Dalam saku bajunya diselipka kertas surat biru muda bertuliskan kekata ucapan salam rindu. Cerita cinta mereka bak era 80an saja, yang belum ada media sosial seperti sekarang ini. memang di MAN selama mereka sekolah tak boleh memegang HP terlebih lagi yang hidup di asrama pesantren. Walau di sekolah Anjas HP diperkenankan, tapi apalah guna jika tak bisa berkoneksi dengan Roffy.

           Petaka bagi sang bidadari, Roffy mendapat peringatan dari marasahnya, bahkan selama sepekan dia diskorsing tak boleh megikuti pembelajaran di marasahnya. Perasaannya mulai berontak, bukankah dia tak melakukan apa-apa? Toh rayuan dan cerita cinta yang disampaikan Anjas adalah kisah abg-nya dulu di SMPN 1 Tenggarang. Roffy mulai protes dalam banyak tindakan yang tak wajar. Salah satunya adalah saat dia kegiatan Olahraga justru memakai jersy SMPnya. Kaos olahraga warna putih dengan striping abu-abu dan merah yang justru menyolok di antara jersi teman-temannya. Yang paling ekstrim justru di dada kanannya ada bekas telapak tangan kotor lumpur plus tanda tangan di bawahnya. Konon ia dapatkan saat kejadian tanpa sengaja saat ekskul basket saat SMP dulu. 

          Gelagat tak baik itu kini telah menjadi perhaian publik MAN, peringatan ke-2  dan ke-3 telah dilakukan. Pernyataan untuk tidak mengulangi diabaikannya, dan finalnya Roffy memilih drop out dari madrasahnya. Di sisi lain sebagai rasa tenggang rasanya, Anjas pun memilih jalan yang sama, namun orang tua mereka masing-masing tak merestuinya cara mereka. Dan gita cinta mereka terbengkalai dengan keidakpastian.

         Roffy diganjar ayahnya  agar nyantri di sebuah pesantren kecil  sebuah desa yang sama sekali tak ada pendidikan formalnya, sedang Anjas di usia yang teramat belia itu harus pergi ke Jepang menjadi petani bersama beberapa remaja yang sudah beberapa tahun pernah bekerja di sana. Tautan cinta itu nyaris tak ada kini selain lamur terkikis oleh perjalanan waktu. 

           6x12 purnama terlewati sudah,  teman-teman mereka sudah berada di perguruan tinggi dengan asa yang begitu indahnya. Roffy dan Anjas hanya menjadi korban halusinasi cinta masa abg. Harapan orang tuanya terabaikan sudah. Namun tekat kedua anak manusia itu tetap tersemat di hatinya. Hanya dedoa yang bisa mereka langitkan, pada Sang Ilah semua harapan ditambatkan.

           Setiap gajian dari Jepang Anjas transfring pada Pak De-nya, agar di belikan sebidang tanah dan dibuatkan rumah sederhana. Selama 6 tahun itu tak ada pihak keluarga lain yang mengetahuinya, hal ini sebagai protes pada kedua orang tuanya. Proses pembuatan rumahnya purna sudah. Detail penggarapan besteknya dibuat sendiri oleh Anjas. Dengan plot gambar itu, dibuat semirip mungkin dengan kemauan si empunya. Beranda depan warna putih dan abu abu, plus bercak bercak kuning podang dan pink di beberapa bagian. Konon katanya sebagai lambang kisah SMA-nya dulu, sedang kuning dan pink tuk mngingatkan ice cream kesukaan Roffy.

           Kepulangan Anjas dari Jepang disambut suka cita oleh keluarganya walaupun tak banyak membawa Yen dari Jepang karena telah terwujud pada griya mugil nan indah. Karena rindu orang tua pada si anak rantau itu telah mengubur kemarahannya yang dulu. Namun bias-bias kemarahannya mulai tumbuh kembali saat dia nekat hendak melamar bidadarinya yang dulu.

Aladalah, masihkah kamu mau bertahan dengan pacarmu yang telah menjadikan kamu kuli di Jepang ini? dan apa yang hendak kamu persembahkan? Kerjamu hanya lama saja, hasilnya tak seberapa, sergah bapaknya.

Pokoknya dengan sepenuh hati saya mohon kali ini tolong direstui, pintanya.

Kalau tak karena bujuk ibumu, aku takkan pernah meridhaimu, asal kau biaya sendiri, bapak akan turuti permintanmu, timpal bapaknya.

Gampag kang, biar aku saja yang tanggung, sergah Pak De-nya.

Oke, aku turuti, cari waktu dan hari yang tepat.

          Pertunanngan terjadi sudah, 4 bulan berlalu, dan prosesi pernikahan kini berlangsung. Diaundang teman-teman SMP, teman kelas MAN, SMAnya. Pesta meriah dipadati oleh teman sekolah, bak reuni saja. Yang paling ekstrim justru saat akad nikah mereka mengundang kedua guru BK- nya masing masing sebagai saksi. Tak cukup hanya itu, baju yang pernah dikirim ke Roffy dipakai sebagai kemeja penganten begitu pun Sang Permaisuri yang mngenakan almamater madrasahnya. Hanya beberapa sentuhan estetik yang disematkan oleh penata riasnya. Di tengah asyik masyuknya band SMA 1 yang didapuk sebagai musical accompaniment, seorang guru seneor SMA memberikan kekata yang membuat audien haru biru.Ketulusan cinta mereka telah melahirkan banyak cerita, konon rumah warna putih abu-abu ini merupakan persmbahan cinta Anjas pada bidadarinya. Dan ini juga surprise kepada kita semua, saya dapat bocoran dari Pak De-nya agar disampaikan kepada orang tua serta teman-temannya. Rumahnya adalah istana cinta mereka berdua. Hadirin pun terbelalak menyaksikan alur cinta mereka yang bak cerita asmara Romawi itu.

________ 

Bondowoso, 30 April 2024 


Minggu, 28 April 2024

ZEHRA LIEM

 ZEHRA LIEM 

Pak Tyqnue Azbynt



           Enam bulan terakhir ini aku hampir tiap hari stay di ruang pustaka kampus. Memelototi buku cetak lebih terasa daripada dengan buku digital yang meradiasi mata. Lembar demi lembar kujelajah referensi yang hendak kusematkan di jurnal yang akan kupublikasi di SINTA. Seorang gadis dengan wajah orientalnya selalu tampak di tiap pandangku saat duduk memesrai buku di beranda baca. Anehnya gadis itu seringkali menawarkan buku-buku asing tuk tiap pengunjung pustaka termasuk aku yang tetap menyintas di sana. Demi menambah pengetahuan bahasa aku beli beberapa buku sastra Jerman, alasannya sederhana karena Zehra Liem bisa menjadi mentorku walau hanya melalui media sosial, agar bisa mengikuti waku senggangnya.

           Gadis yang sudah mmpunyai Geothe Zertifikat B1  telah menjadi penambah hazanah kesusasteraan asingku. Semula aku hendak belajar sastra China padanya lantaran dia manusia cantik keturunan Tionghoa yang sedang menempuh S2nya di Universitas Negeri Surabaya. Keintensifannya menawarkan buku bahasa asing telah menjadikannya terkenal dengan julukan agen bahasa dunia. Semula aku tak tertarik untuk mengulik tentang habitualnya itu, namun saat dia menyampaikan permasalahan pribadi barulah aku memahami fenomena hidupnya.

          Semenjak konversi agama, dan memilih menjadi muallaf telah mengubah banyak hal tentang jati dirinya. Hampir-hampir dia kembali ke agama asalnya karena, di tahun-tahun pertamanya begitu tersiksa. Dihapus dari daftar anggota keluarga, memilih hidup mandiri, dan dikucilkan dari lingkungan masyarakatnya benar-benar menjadi ujian berat baginya. Walaupun studi S2nya mendapat beasiswa dari kedutaan Jerman, namun biaya hidup di kota Surabaya sangatlah mahal.

          Saling share secara intens menjadikan kami saling mengenal kian jauh. Semula yang hanya berkutat sekitar akademis namaun akhirnya beruba pada hal-hal yang teramat privasi. Tak segan-sgan dia mengirimiku tulisan panjang demi meminta atensi mendalam dariku.

                                                                                       Kagem Koko Ano 

                                                                                           di Ruang baca

assalamu alaikum ww

salam satu jiwa, 

Untuk yang ke sekian kalinya kusampaikan uneg-uneg yang belum tertumpahkan pada siapa pun. Ko Ano sobat setiaku,  ketika aku muallaf, aset pribadi yang pernah aku miliki semuanya disita oleh keluarga, bahkan mau numpang tidur pun aku tak diperkenankan oleh semua anggota keluarga. Beberapa malam aku harus menginap di mess Kantor Wilayah NU setelah mendapat restu dari pengurus harian di sana. Bermodal buku-buku yang kudapat dari kedutaan Jerman yang free, sedikit demi sedikit bisa kujadikan modal tuk kost di sekitaran kampus ini. Ketika buku kian menipis aku berkoresponensi dengan para mahasiswa RI yang ada di luar negeri, dan Alhamdulillah sampai sekarang usaha ini menjadi penopang kehidupanku. 

Dulu, aku pernah punya boutiqeu yang income perbulannya lumayan besar, tapi kini aku harus menjadi pengedar buku berbahasa asing dengan penghasilan yang fluktuatif. Finally aku sekarang ingin bersewajah secara langsung dengan Ko Ano agar bisa lebih pas. Oh ya, Ko Ano kan dulu pernah di pesantren, so, boleh dong aku belajar Islamologi pada koko.

Ya, gitu dulu. Sambung lain waktu.

                                                                             Bye, wassalam

                                                              Melanie Tjandra Liem ( Zehra Liem)

          Pertemuan kian intens semenjak keseriusan Zehra Liem pada ke-Islaman. Kami memilih tempat di sebuah beranda Kantor wilayah NU Jawa Timur dengan harapan juga dapat bantuan pemahaman dari tokoh-tokoh di kantor itu. Sejauh ini progresifnya sangalah terasa. Sesekali dia mengikuti rutinan dan kajian kitab kuning walaupun hanya ingin merasakan hal-hal kenahdiyahan.

          Hatiku mulai kacau, keiklasan membimbingnya berubah tendensi asmara. Sebagai seorang mahasiswa pasca aku harus menjaga marwah kilmiyahan Islamologi, jangan rusak dengan sikap atau perkataan yang terlalu konyol. Entahlah, apakah karena aku angkuh atau takut mencari peluang tuk memberikan sedikit saja sinyal cinta? Atau apakah memeng benar kekata orang-orang tua, orang yang terlalu tinggi pendidikannya akan sulit menyampaikan perasaan cintanya? Logikaku menjadi kacau, senyumnya selalu menyintas di benakku. What the matter with you? celetuk Zehra. Nothing,” pungkasku.

        Suatu hari Bang Oemar seorang dosen di UIN Maliki Malang yang sering kali melakukan kajian kitab di kantor PWNU, menyempatkan diri bersewajah dengan kami dan berbincang banyak hal. Rupanya beliau lebih peka pada gundah hatiku. Sindiran-sindiran kecil kuacuhkan saja demi menjaga agar koneksitasku tak rusak karenanya. Bukankah aku belum tahu menahu tentang telaga asmara Zehra padaku? Jangan-jangan tandus dan menerik selamanya dan kering memanggagng hati ini. Ah, perasaanku tak tenang, tersesat di belantara asmara.

Ko, jaketmu ketinggalan di kantor PW, aku bawa pulang, paparnya saat VC denganku.

Bawa aja saat ngampus besok Senin.

“Oke, siap 86, candanya sembari pamer senyum manisnya.

          Senin saat matahari masih sepenggalah, dan baru beberapa lembar buku kubaca, aku dikejutkan oleh bekapan telapak tangan di mataku. sesorang telah melingkarkan tangannya dari belakang. Tak tahu siapakah gerangan, hanya harum aroma Fifth Aveneu yang menjajah ruang ciumku. Apakah si Zehra? Tak mungkinlah, aroma parfumnya kan biasanya silver, lagian tak pernah pula dia bersentuhan denganku. Aroma parfum itu kunikmati hingga ke ujung hati, begitu pun sentuhan lembut tangannya.

Wahai mahluk asing siapakah ini?

“Tralalaaaa.., Ini aku ko, jawabnya.

Yassalam, cantik kali kau, 

Yeee baru tahu, kan sedari dulu emang imut, apalagi pakai jaket yang ada bedge logo ini!

“Wah

“Cocok gaaak? Tanyanya sembari berputar putar di depanku. Tak pernah aku melihatnya seceria itu. 

Sumpah demi ayam geprek cocok, pake banget lagi.”

Naah kalau cocok, boleh dong aku miliki.

Yap oke oke, sure, jawabku walau sejatinya jaket itu merupakan kebanggaan yang aku dapat saat mengikuti bimbingan penelitian di BRIN. Yah demi si imut apa pun akan kuberikan, bahkan mobil milik tetangga akan kuberikan padanya, he he.

          Sentuhan itu hingga kuguratkan dalam tulisan ini masih terasa jua. Saat itu kusempat mengusilinya dengan mencolek dagunya. Dia tersenyum manja bak anak abg saja. Sinyal itu kumanfaatkan tuk menggamit tangannya dan kukecup mesra penuh kesyahduan di hatiku. Tanpa kata, hanya senyum yang tak bisa kugambarkan rasanya di tulisan ini. Gegara tak melepas sedikit kekata cinta itulah yang justru membuatku kian tersiksa tanpa kepastian. Hatiku rajadan khauf (cemas penuh harap) pada sebuah kata cinta. Memang cinta sulit dilogikakan.

          Setelah beberapa pekan berlalu, sedang aku belum berani melepas sauh cinta di dasar hatinya. Dilalah saat kembali ke kantor PW, Bang Oemar dan Gus Aab, yang semula hendak mengusiliku berubah mejadi keseriusan.

Gus gimana sejoli ini kalau kita khitbahkan? seru Bang Oemar

Oke, aku bisa kan jadi wali muhakkamnya? timpal Gus Aab

Emang bo..leh? celetuknya

Boleh kok, jawab Bang Oemar dan Gus Aab bersamaan.

Waah kode keras ne, jawab Bang Oemar sembari mengerlingkan matanya.

And finally,  28 April 2024 aku resmi bertungan dengan dicomblangi oleh orang-orang di PW itu. Anehnya tanggal itu justru pas hari ulang tahunnya. Sebagai hadiah khitbah saat itu Gus Aab memberi rida yang katanya sudah berkali-kali dipakai untuk umroh, beliau berikan padaku. Kain rida itu kulilitkan dilehernya sembari kuberucap, Bidadariku, kini dan selamanya kau akan menjadi milikku, hingga ke surga Nya kelak.

Ya Allah, terima kasih Ko, jawabnya, bibir gemetar dan buliran air matanya berlomba melintasi pipi mulusnya.

___ 

Bondowoso, 28 April 2024

        


Senin, 15 April 2024

Sepekan Menjelang Lebaran

 SEPEKAN MENJELANG LEBARAN

Pak Tyqnue Azbynt



          Sisi jalan di kawasan timur Stadion Magenda sudah terbiasa dengan pasar dadakan di bulan Ramadhan. Tiap menjelang ujung siang ramai oleh para pemburu kudapan berbuka puasa. Santapan manis segar yang menjajah imaji rasa, begitupun tampilan gorengan ginuk-ginuk yang menggoda. Bagiku sore adalah waktu jeda yang mengasyikkan bila berkumpul komunitas motor sambil ngabuburit healing dari kerja yang melelahkan otak dan ragaku.

          Mengamati keramaian sosial seringkali melahirkan inspirasi bagiku. Objek lukisan keramaian menjadi titik sasar. Objek alami takkan tergantikan oleh ulah aplikasi lukisan AI, walaupun tampak lebih indah namun di situlah keindahan seni asli yang sesungguhnya. Kupotret tiap spot yang menarik dengan kamera gaway. Anak yang menenteng kantong plastik hingga nenek renta yang masih berupaya mencari receh dengan jualannya yang teramat sederhana. Berkah Ramadhan menjadi fenomena sosial yang indah di jiwa lukisku.

          Sekitar dua depa di depanku seorang bocah terjatuh dan jajanan takjil yang dibelinya jatuh berserakan, sontak saja dia mengerang nangis antara kesakitan dan kalut oleh makanan miliknya yang berserak. Seorang ibu muda penjual mie ayam datang membantu, diseka air matanya sembari berujar,  Duh hati hati tole, gimana ya jajanmu kotor sudah. Aku belum dapat receh tuk menggantinya. Mendengar celoteh si ibu muda kusegerakan saja melangkah dan memberinya lima puluh ribuan kepada si ibu agar dibelikan jajan si bocah kecil itu. Dan saat aku kembali berbicang dengan teman-temanku, si penjual bakso memberikan sisa belanjaan bocah tadi. Dua lembar duapuluhan dijulurkan padaku namun suruh kuambil padanya. 

          Perkenalan pun bermula dengan bu penjual mie ayam. Dari keluhannya aku tahu kalau selama sepekan ini dia hanya membawa receh sekedarnya saja karena pembeli banyak yang hanya mencari takjil jajanan dan minuman segar. Istri dari seorang waker sebuah kantor pemerintahan itu terpaksa melapakkan mie ayamnya di jalanan demi membantu ekonomi keluarga. Konon sang suami yang menikahinya selepas gagal dengan istri pertamanya, begitu pun dia yang kandas dengan suami pertamanya. Perjalanan cintanya yang lempeng-lempeng saja, tak ada peningkatan ekonomi walaupun sang suami sudah tampak keras bekerja. Demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya dia harus berjualan. Kebiasaan Sang  suami masih tetap dengan hobi mancing bersama teman-temannya.  Bu mie ayam yang telah rela membantunya itu rupanya kurang diapresiasi sang suami. Dari berbagai ceritanya itu dapat aku simpulkan kalau dia sangat mencintai keutuhan rumah tangganya yang sudah dikarunianya cewek kecil usia TK. Bagaimana pun juga dia selalu berusaha bertahan walau biduk rumah tangganya terombang-ambing ombak kehidupan.  

          Seorang teman klub motorku bilang kalau dia itu istri teman kantornya. Dari penjelasannya aku tahu kalau sang suami telah back sreet dengan mantan istri pertamanya. Bu mie ayam wanita berjilbab yang manis itu sama sekali tak mengetahui tingkah suaminya.Tanda kesetiaan si istri tersia-siakan belaka, baju lebaran untuk suami dan anaknya telah dibelikan, karena kata arjunanya gaji harus menutup semua hutang-hutannya di bank. Sang istri hanya mengenakan baju sederhana, bahkan katanya untuk lebaran tahun ini dia tak berani mudik ke desa orang tua gegara tak ada buah tangan yang bisa diberikan pada mereka.

          Lebaran kian dekat saja, lapak Bu mie ayam semakin jarang didatangi pembeli, mungkin karena orang-orang lebih berburu baju baru atau parcel lebaran. Sesekali aku amati dia sedang asyik memelototi gawaynya. Kukira dia sedang menonton sinetron atau apalah yang bisa menjadi penenang jiwa. Dugaanku salah belaka, dia ternyata sedang melanjutkan hataman qur annya, yang konon sudah menjelang hataman ke-6nya selama Ramadhan ini. wajar saja kalau dia tak pernah bergeming saat dinakali dengan kata-kata oleh pembelinya, rupanya Al qur an menjadi pelabuhan gundahnya.  

          Entah sore yang keberapa aku kembali ngabuburit di pangkalan klubku. Kembali kuperhatikan ibu muda penjual mie ayam itu, babyface-nya menjadi nilai eksotika tersendiri. Kenapa kok di sia-siakan ya? begitu benakku. Di tengah keasyikan lamunanku, seorang teman mengejutkanku dengan petasan kecil yang di sulut di belakangku. Kaget dan ledekan  teman-temankulah yang mnyadarkan petualangan anganku yang terlalu jauh. Demi menyembunyikan gelagat otakku, kupura-pura aja sedang konsentrasi atas karya-karyaku yang kupost di beberapa platform medsos.

          Terlalu asyik kerja dan motoran sedikit mengenyampingkan info-info medsosku. Oh ya, mungkin juga karena ibu muda yang sekarang sudah mengatensi otak ini. 

Santai bro, aku bukan lagi ngayal ini-itu, aku sedang konsentrasi ma jualan karya-karyaku yang sudah dijajah oleh karya Artificial Intellegence, begitu kilahku.

Trus kalau terjual, you mau trakir kami, timpal Adit sahabaku.

Eehhh, ngapain? Kalau kita-kita tak perlu lah. Tuh lho Bu mie”

Naaah, tu kan, tu kan, kata teman yang lain.

Gak bro, sumpah ne kalau laku, akan kuberikan semua hasil padanya, tapi yang laku saja yaa! 

Tanpa kusadari ternyata saat kulihat di emailku ada seorang keturunan Belanda yang akan memborong 10 kanvasku, dengan dealing separuhnya dulu. Dan dengan nego singkat kujual murah karyaku, 5 lukisan hanya 7juta 5ratus saja. Sementara 5 lainnya laku 12juta tapi pada pembayaran berikutnya.  Dilalah tanpa kusadari mulut berucap Alhamdulillah yang jusru aku ketahuan teman-teman karenanya aku didaulat untuk merealisasikan janji semula. Sorry bro, ini baru deal awal belum ada transfering dari pembelinya, kilahku. But, tak seberapa lama ada calling dari Si Pembeli untuk memastikan nomer rekening BCA-ku. Dan dalam hitungan sekian menit saja transfer berhasil.

          Qonita Boutique menjadi persinggahan. Segera kumeminta Bu Mie Ayam untuk memilihkan baju untuk istriku, dengan alasan sebagai kejutan. Dia manut saja, tanpa curiga. 2 abaya Navy dan Dark red by Elva Fauqo dan kerudung silky  grey saya padu padankan akan menambah cerah bening kulit Venyta Gloria Sang penjual mie. Sepatu white Korean style akan menambah tampilan belianya walaupun sudah punya seorang bocah TK. Total  4600.000,- dan sisanya kubelikan 2 parcel sederhna tuk kedua orang tuanya, ortu dan mertuanya. Tuntas transfer ke kasir, barang langsung kuberikan padanya. Tangan gemetar, matanya berkaca-kaca, saat menerima semua itu. Semula dia menolak dengan gigih, tapi penjelasanku yang kemudian meluluhkannya.

“Dede Veny tak perlu rikuh dengan ini semua, aku takkan mengganggu kehidupanmu,karena kita sudah sama-sama punya keluarga sendiri-sendiri. And so, anggap ini hanyalah takdir di jalanan yang harus diterima tanpa ini itu.

Tapi ini terlalu berlebihan mas

“Udaaah terima saja, kamu berhak menikmati rejeki ini, toh ini didapat dengan cara halalan.

Gimana kalau ditanyakan suamiku mas, harganya terlalu tinggi tuh, gak pantas untuk orang sepertiku.

Hmmm, bak kasir tolong buatkan nota fake, tulis aja totanya Rp.500.000,- dengan parcelnya.

Oke, siap mas, Jawab bak kasirnya.

          Sepekan berlalu, kini lebaran tiba. Di depan pelataran Masjid Attaqwa aku salat ied demi membersamai teman-teman Religi Sunmori komunitas dari luar kota yang hendak merayakan lebaran di Jampit House tempat wisata di bilangan Kawah Ijen. Keluargaku salat di musala di depan rumah saja. Untuk kali ini mereka memaklumkanku. Satu di antara egoku yang tak boleh diganggu adalah kalau sudah bersama komunitas motor, komunitas nulis, atau lukis. Ego dan angkuh memang, parah!? 

          Tak seberapa lama saling bersalaman para pemotor itu segera gaspol pergi ke hotel tuk mempersiapkan keberangkatannya ke spot yang direncanakan. Aku memohon maaf karena tak bisa mmbersamainya mengaspal menuju Jampit. Mereka pun memaklumkan hal itu, karena selama 6 hari sudah aku menemaninya berkunjung ke tempat-tempat yang asyik untuk mengaspalt di kota ini. 

          Berhamburan saling menjabat tangan kenal atau tidak, tanpa rikuh kami saling berjabat akrab dengan ikatan Ukhuwah Islamiyah. Sejatinya aku ingin segera beranjak pulang namun beberapa wanita berniqab buru-buru menjabat tanganku memohon kemaafan. Mereka adalah mantan muridku di sebuah pesantren. Salah seorang memohon agar menyediakan waktu untukku tuk bertemu di pojok alun alun kota, tepatnya pojok tenggara. Aku pun menyanggupinya dengan tanda tanya besar.

          Masih mengenakan mukenah dan niqab, wanita itu telah menunggu di bangku taman menyambutku.

Ya Tuhan, mas apakah ini kebetulan? Saya oleh suamiku diperintah untuk menjadi pramusaji di rumah kepala kantornya yang ditinggal mudik pembantunya, dan saya salatnya di masjid besar itu. Kok masnya juga di sini? Tadi sengaja saat kujabat tanganmu kulama-lamakan sebagai ungkapan terima kasih yang sangat mendalam atas semuanya.

Hah, kukira muridku seperti mereka itu.

Hemmm.

Makanya sedikit aneh, malah ditempelkan ke pipi kanan kiri kanan selepas menciumnya. Pikirku , ada yang nakal mridku ini,” timpalku.

Silakan mas lihat, tampilanku sebelum dilihat orang lain, pintanya sembari membuka mukenah berikut niqabnya. Masaallah, elok kali hingga aku terperanjat oleh pesonanya.

Yassalaaaam.

Lalu dengan apa aku harus membalas semua kebaikan masnya?

Ah, ga perlu, yang penting dede bahagia, oh yaa aku hendak pulang ne.

Ijinkan aku menempelkan punggung tangan masnya ke pipiku lagi.”

Tanpa pikir panjang, kujulurkan tanganku. Saat digamitnya jantungku berdetak kencang apalagi kala disntuhkan ke pipi beningnya. Dan aku pun mencubit hidungnya sebelum berlalu. Dia tersenyum, aku gila.

________  

Bondowoso,15 April 2024

Notula kata:

         Niqab         , kain penutup kepala dan wajah, hanya keliatan matanya.

         Mukenah  , Pakaian salat untuk  wanita

Minggu, 24 Maret 2024

Petaka Selepas Zuhur

 PETAKA SELEPAS ZUHUR 

Pak Tyqnue Azbynt

            Entah angin apa yang telah membawa kedamaian kelas IVa dan IVb, mereka begitu guyubnya. Kelas yang selalu bersaing itu, baik tanding kelas, yel yel, adu gaya, atau apapun yang digandrungi bocah-bocah usia SD itu. Rasa-rasanya ada sesuatu yang bakalan terjadi dengan mereka ne.



            Darel, Nabhan, dan Mahfudz dari kelas A yang menjadi motornya, sementara kelas B, Ilham, Ubaid, dan Imam yang menjadi penggeraknya. Tak ada kecurigaan dari guru-guru justru keakuran mereka merupakan keberhasilan dari bimbingannya. Di teras utara dekat gedung TK mereka tampak begitu seriusnya membicarakan sesuatu, namun saat Ustaz Subali guru PAI itu lewat di depan perpustakaan yang berdekatan dengan TK , mereka berebut bersalaman sebagai tanda ketakzimannya. Bu Ila dan Bu Melda hanya mesam misem melihat kekompakan mereka.

          Nun di ruang musala Ustaz Muhyid, sedang menyiapkan perangkat salat jamaah. Memang sudah menjadi kelaziman di SDN Curahdami, baik di gedung satu maupun gedung dua selalu dirutinkan pulang sekolah selepas salat zuhur dulu. Kebiasaan ini mendapat apresiasi dari wali murid atas pembiasaan itu. Ruang kelas yang dijadikan musala atau bahkan auditorium itu selalu ditata rapi oleh Ustaz Muhyid yang kesehariannya bertugas pokok sebagai penjaga sekolah, namun latar belakang santrinya menjadi penyinergi dengan guru PAI di situ.

          Sudah bebeapa hari ini konsentrasi kedua ustaz itu difokuskan untuk membina tatacara salat yang benar untuk murid putri. Rupanya konsentrasi ke salah satu sisi itu menjadi peluang anak-anak cowok untuk sedikit santai dan bahkan sembunyi tidak salat.  Ada yang berwudhu di kran depan kelas masing-masing, ada yang di kamar kecil siswa, bahkan kalau terlalu lama antre mereka pun diperkanankan menggunakan kamar kecil guru. Celah ini yang menjadikan peluang bagi anak putra tuk mangkir salat jamaah, ya alasannya tidak nutut waktu.

          Konsentrasi pada pembinaan anak putri plus antre yang panjang karena air PDAM yang beberapa hari sedikit turun debitnya telah melahirkan permufakatan mangkir salat. Berbekal bumbu racik yang telah mereka bawa dari rumah, sedikit kerupuk yang dibeli di Bak Hoda sang penjaga kantin, mereka mengadakan pesta ala survivel anak petualang di belakang sekolah. Sekitar 20an anak cowok yang sedang lesehan menikmati sajian pestanya. Gina satu-satunya anak cewek yang terpaksa ikutan gegara memergoki mereka dan dijadikan sandera tuk jangan membongkar permufakatan itu pada guru-guru. Gina si kecil mungil itu terpaksa menuruti mereka tuk berpesta.

          Pohon pisang di belakang sekolah menjadi tumbal pesta itu. Dengan bermodal cutter  Ubaid dan Nabhan membelah dan mengambil batang-dalam gedebok itu, begitu  juga pupusnya yang masih berwarna putih susu. Setelah dicacah bak irisan timun lalu dicocolkan pada bumbu raciknya. Daun pisang dijadikan alas, duduk mengelilingi sajian, wah seru tampaknya. Konon mereka terinspirasi Sang Petualang di tayangan You Tube yang mereka saksikan.

          Sakit massal keesokan hari menjadi tanya tanya besar bagi guru kelas IVa dan IV b. Apakah sudah ada wabah lagi? Atau mreka sedang mogok kelas dengan alasan sakit? Hal ini yang menjadi teka-teki saja. Muncul kecurigaan dari pihak sekolah pada kantin Bak Hoda, Mak Siti penjual kudapan di sisi barat sekolah. Apakah sajian makanan yang mereka jual yang menjadi biang keroknya sakit massal itu? Satu persatu anak-anak yang sehat ditanyakan perihal makanan yang dimakan mereka bersama temannya. Setelah melakukan investigasi ke kantin dan lapak Mak Siti, makanannya masih saja seprti yang kemaren. 

            Demi tak mengundang curiga, salah seorang guru menyuruh murid tuk membeli berbagai makanan di kantin dan lapak di sekolahnya. Di tanyakan apakah mereka kemaren memakan jenis makan itu? Experied-nya masih aman, dan sebagian besar sama seprti yang dimakan mereka. Kecurigaan pun pada bak Kantin dan Mak Siti hilang sudah, namun yang menjadi tanya besar adalah kenapa hanya kelas IV a dan b saja sedang kelas V aman. Apakah ada yang salah dengan cara mengajarnya guru kelasnya? Semua itu masih berupa misteri. 

          Ada beberapa siswa yang opname di Puskesmas, dan RSU. Ada yang menuduh keracunan di sekolah, dan menganggap sekolah abai terhadap anak-anaknya. Karena hanya Gina yang cewek kebeulan juga sakit, akhirnya pihak sekolah menelpon walinya tuk menanyakan perihal sakitnya. Namun Ibu Gina hanya menyampaikan muntah-muntah saja, dan sudah mendingan. Karena infonya tak menghawatirkan akhirnya Bu Ila dan Bu Melda sang guru kelas datang membezuk Gina di rumahnya.

          Dari mulut Ginalah semua mulai terkuak misteri itu. 99 % diputuskan mereka keracunan gedebok dan pupus pisang di belakang sekolahnya. Pohon pisang setiap berbuah selalu mengering sebelum tua dan daunnya pun ikut membelarak kering. Konon pohon pisang itu memang berpenyakit, dan tak pernah panen buahnya. Sekolah mendadak melakukan rapat penting khususnya para guru di gedung 2. Dipimpin guru seneor Ustaz Subali didampingi guru kelas IV a dan b demi memberikan tindakan yang tepat pada mereka. Kesalahan tak bisa ditujukan pada anak, pada guru PAI, atau guru kelas. Tapi sebuah kejadian haruslah disikapi dengan bijak tetap memberi keputusan yang adil dan edukatif. Dewan guru sudah menentukan tindakan terukurnya saat semua siswanya telah pulih dan kembali ke sekolah.

          Sepekan berlalu sudah dan pas hari Sabtu mereka sudah kembali ke sekolah semuanya. Berlanjut hari Senin pihak sekolah telah membuat rencana istimewa yakni Upacara Bendera khusus. Upacara pun berlangsung seperti biasa, namun saat amanat pembina, satu persatu dipanggillah anak yang baru pulih dari keracunannya.

Ilham, Ubaid, Imam, Darel, Nabhan, dan kawan-kawan  yang kemaren sakit bersamaan silahkan kedepan, begitu panggil dari pembina upacara.

Dikeluarkan bebarapa piring, sajian seperti yang disantap oleh mereka. Ada dua meja yang sebelumnya sudah disiapkan, sajian itu ditata dengan menarik di atas meja.

Nabhan, Darel, kenama senyam senyum?

Imam, Mafudz, Ubaid, dan Ilham, maukah kalian makan sajian lezat ini? tak satu pun dari mereka berbicara.

Ginaaa kamu satu satunya yang perempuan, maukah kamu makan ini?

Tidak pak saya pun beberapa hari yang lalu ikutan makan karena diledek mereka. Pas pulang muntah-muntah, kepala pusing, dan mincret

Oke anak-anakku, ada beberpa hal yang perlu kalian ketahui yaitu: satu, kalian telah meninggalkan salat jamaah zuhur. Kedua, kalian makan yang bukan haknya. Ketiga, kalian tidak memperhatikan higienisnya makanan. Yang terakhir, jangan gampang menerima info-info sebelum tahu kebenarannya, selepas itu pererta upacara yang lain misam-misem menanggapi kelucuan an kesalahan tingkah mereka.

_____

                                                       *******



Sabtu, 09 Maret 2024

Maling Mangga

 MALING MANGGA

Pak Tyqnue Azbynt

     


     Rumah gede di ujung desa itu cukup teduh dan banyak pohon besarnya. Buah-buahan langka masih saja ada yang justru anak-anak kekinian tak tahu rasanya bahkan namanya saja tak tahu. Mungkin karena pagar tembok setinggi dada orang dewasa yang mengelilinginya membuat orang segan mendekatinya. Wak Kaji Dullah bersama istri plus pembantu yang sudah sama manula tetap bertahan di rumah kuno nan kokoh itu. Anak anak Wak kaji lebih memilih tinggal di luar kota sebagai pejabat negara atau pengusaha. Sebenarnya wak Kaji cukup ramah dan bersahaja, namun kekayaannyalah yang membuat orang silau bersamanya.



          Di sisi kiri gerbang ada loji yang lumayan besar tapi hanya ditempati beberapa motor tua yang sudah tak difungsikan, mesin ketik kuno, dan perkakas jaman Belanda yang tak digunakan tapi tetap saja dibersihkan debu-debunya oleh Bi Salma sang pembantu. Rumput-rumput di pekarangan selalu dipangkas rapi oleh Mang Diman suami pembantunya. Di belakang rumah ada 3 pohon mangga besar yang tampak sudah menua, namun tetap saja berbuah dengan lebat kala musim buah tiba. 

          Musim buah kali ini mangga Wak Kaji benar-benar lebat, hanya kelelawar yang berani mencurinya, padahal di sekitar lingkungannya banyak anak yang sedang aktif nakalnya. Sebut saja si Ilham, Ubaid, Holil, and the genk yang biasa mengusili buah milik tetangga. Aneh, khusus untuk milik Wak Kaji tak ada satu pun yang berani mencurinya. Mungkin karena beliau selalu bagi-bagi pada tetangga apa saja termasuk juga buah-buahan kalau dah panen tiba.

           Sepulang sekolah Ilham cs, tengah terheran-heran dengan hadirnya beberapa anjing pemburu di pojok pekarangan Wak Kaji. Bukankah tak ada yang mencuri buahnya? Kenapa harus dijaga gugguk. Barulah mereka tahu kalau Mas Baim anak sulungnya yang mengutus pemburu beserta anjingnya untuk memburu babi hutan di kebun kopi ayahnya. Mas Baim rupanya sengaja menghubungi para pemburu dari kota tempatnya bermukim. Memang babi hutan cukup meresahkan di desa kami.

           Sore-sore Ilham cs tengah melihat anjing-anjing pemburu yang sehat dan besar-besar itu. Salah seorang memanggilnya agar masuk ke pekarangan Wak Kaji karena mereka menyuruh membeli rokok di warung ujung jalan. Ini adalah kali pertama Ilham cs memasuki pekarangan yang luas dan bersih itu. Matanya tersorot pada buah mangga yang sedang pamer pesona. Dilihati pokok mangga yang sepertinya punya tantangan tuk dinaikinya. Ubaid mengerlingkan mata sembari memberi kode pada pokok mangga itu.

          Usia sudah lanjut yang menjadi penyebab Wak Kaji tak pernah menjenguk kebunnya, tapi berbeda dengan pekan-pekan ini yang mendapat tawaran dari pemburu untuk ikutan ke kebunnya dengan mengendarai campervan (mobil van yang biasa dibawa berkemah) mereka. Hari minggu itu kebetulan anak sulungnya membersamai mereka ke kebun yang telah lama terlantar. Konon mas Baim sengaja plessir ke desa orang tuanya selama setengah bulan ya maklumlah, harus menyiasati kebunnya yang bagai tak bertuan.

          Mentari masih sepenggalah rumah wak kaji sudah mulai sepi, kecuali Bi Salmah yang tetap bersih-bersih rumah, sedang Mang Diman justru ikutan Mas Baim ke kebun. Ilham cs, yang hendak main layangan mengubah niatnya. Pohon mangga di belakang rumah menjadi titik sasar petualangan nakalnya. Mangga Alphonso (mangga India) yang terkenal kelezatan dan manis beraroma itu menjadi penyihir penasaran rasa. Hanya orang-orang kaya di desanya yang punya varietas mangga India itu. 

 “Spadaa...Bi, mau ambil layangan di belakang rumah, teriak Imam.

Oh iya, hati-hati, jawab Bi Salmah sembari bersih-bersih paseban.

Okeeee..., jawab bocah-boca itu serempak.

Dari dekat, mangga alphonso kian tebar pesona, tanpa ba bi bu lagi mereka naik pohon mangga itu, dan aksi mencurinya terbilang barbar, karena bukan hanya satu dua yang mereka petik, melainkan sekaos oblongnya yang dijadikan bungkus. Barulah mereka turun setelah Bi Salmah menanyakan dari kejauhan dan tanpa mencurigainya. Dan mereka pun bilang terima kasih setelah mangga dilempar ke luar pagar dan mereka lewat gerbang depan dengan berlagak tanpa dosa.

          Sore menjelang barulah Wak Kaji dan rombongan pulang dari kebun. Seusai mandi Mas Baim mengajak para pemburu ke halaman belakang dengan maksud hendak memasang beberapa lampu taman di depan gazebo belakang. 

Ini sandal siapa?, tanya Mas Baim saat melihat sandal jepet kecil berwarna kuning di bawah pokok mangga.

Wah, keknya ada yang curi mangga mas, timpal salah seorang pemburu. 

Setelah tanya-tanya sama pembantunya yang tak tahu-menahu, justru menjelaskan bahwa tak pernah ada yang curi apa pun di tempat itu. Rupanya Bi Salmah lupa tadi pagi Ilham and the gank telah memasuki halaman belakang, maklumlah usianya sudah lanjut, bisa saja daya ingatannya berkurang. 

          Hari ke dua pembenahan kebun Mas baim mempekerjakan warga kampung yang dibantu para pemburu untuk mengusir babi huan juga ular yang mungkin banyak bercokol di situ. Sejatinya hari Senin adalah hari aktif sekolah, karena ada pertemuan guru penggerak di sekolah Ilham, mereka diliburkan. Di benak mereka kembali ke petualangan di atas pohon mangga Wak Kaji. Tanpa mereka sadari kalau salah satu anjing pemburu sengaja tak di bawa. Rupanya pak pemburu hendak menangkap sang pencuri mangga.

           4 bocah itu dengan cekatan memanjat pohon mangga, sementara di bawah sedang ada si gugguk menunggunya. Sambil menyalak anjing itu mengeliligi pohon mangga. Sontak saja bocah-bocah itu ketakutan, mau turun takut, tak turun ketemu; bagaikan makan buah simalakama saja. Terpaksa mereka berlama-lama di atas pohon dengan harapan anjingnya bisa jenuh dan menjauh. Namun harapan itu sia-sia belaka.

           Selepas lohor Mas Baim dan rombongan baru pulang, dan ketemulah bocah pencuri mangganya. Sambil senyam-senyum mas Baim ngerjain mereka.

Hai bocah, apa perlu bantal agar kalian bisa tidur di atas pohon itu?

Maaf deh mas, kami ngaku salah, timpal Holil.

Ya turun...gak papa kok

Tapi si gugguk gimana mas?, seru Ubaid

Gak papa paling cuman digigit dikit, canda mas Baim sambil senyum-senyum.

Karena merasa kasihan, akhinya si gugguk di singkirkan. Mereka sambil menangis sesungukan meminta ampun.

Gak papa, kalau pengin ya minta aja, pasti di beri kok, kenapa kok mau mangga itu”

Ya mas, kami salah. Habisnya mangganya menggoda udah mateng, merah-merah kek pipinya Bu Guru, celetuk Imam.

Dasar anak bangor, sambung Mas Baim heran dengan sikap boca-bocah itu.

Awas besok tak laporkan ke Bu Gurumu

Yaaaah jangan mas, nanti bapak dipanggil lagi ke sekolah. Dulu bapakku dipanggil gegara aku merusak paku papan hingga jatuh dan tak bisa dipancang lagi, jawab Ubaid, sambil cengar-cengir.    

                                                     *************


          

 

Rabu, 06 Maret 2024

Pasukan Terakhir

 PASUKAN TERAKHIR

Pak Tyqnue Azbynt

     Agustus tiba, semarak 79 tahun Indonesia merdeka terasa di mana-mana begitu pun di kampung Ilham. Ilham bocah SD Curahami yang masih kelas 4 itu ikutan sok sibuk menyemarakkan gangnya. Tak seperti biasanya bocah seusianya yang terbiasa punya teman sekomunitas sekolahnya tapi justru berkawan dengan teman di SD desa lain yang saling kenal melalui game kids via internet. Setidaknya ada 5 sampai 6 SD luar yang dia kenal akrab semi saling bully. Kebiasaan buruk itu mulai berakhir saat ada pekan olah raga dan seni tingkat kecamatan. Kecurigaan guru masing-masing telah mengislahkan mereka pasca pekan porseni berakhir. Bullying yang bar-bar saat menjadi supporter pertandingan volly yang bisa membongkar permusuhan dalam persahabatan game kidsnya.



     Game kids sudah tak mereka lakukan, kini justru saling unjuk postingan semarak Agustusannya via Tik Tok masing-masing. Opik anak desa Penambangan pamer-pamer lampion di gangnya yang sangat menarik, begitu pun Fadly anak Curahpoh tak mau kalah eksist, dia posting barisan bendera merah puih berjajar sama tinggi dengan rapi diselingi umbul-umbul warna-warni. Vian anak desa Sumbersuko memamerkan patung Singo Ulung dari kertas semen yang berdiri kokoh di sisi kanan dan kiri menuju gang rumahnya. ILham hanya bisa memamerkan barisan penjor bambu dengan janur sintetis menuju gangnya, tapi jika dilihat-lihat masing-masing postingan itu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.

     Selepas tanggal 10 Agustus masing-masing saingan itu sedang speak up, via Tik Toknya tentang persiapan mengikuti kemah hari PRAMUKA yang dimulai 12 hingga 14 Agustus. Apesnya si Ilham justru tak menjadi utusan sekolahnya untuk berkemah. Anak yang rada bandel itu mencari cara agar dia bisa ikut mewakili sekolahnya, namun lagi-lagi usahanya gagal belaka. And finally Ilham kehilangan muka di hadapan teman medsosnya itu. 

     Tak mau dipermalukan oleh teman luar desa, ia dan ce es- ce esnya tengah melakukan rencana illegal. Mereka tanpa sepengetahuan gurunya hendak mengikuti kemah itu dengan swadana. Tenda telah mereka pinjam pada bapak Tarmizi seorang tentara yang menjadi BABINSA di desanya. Menderikan tenda yang besar dari yang paling kecil punya meliter tak akan mungkin dilakukan oleh Ilham dan kawan-kawan. Terpaksa Pak Tarmizi mengajak bapaknya Ilham, Imam, Holil, dan Ubaid untuk memancangkan tenda. Entah rumus apa yang dipakai Ilham and the Gank, hingga mereka diperknankan mingikuti perkemahan itu. Usut punya usut ternyata Pak Tarmizi telah minta ijin pada Bapak Abu Ahmad ketua korwil sebagai penanggung jawab. Semula beliau menganggap bapak Tarmizi membantu pihak sekolah, sementara pihak sekolah menganggap itu tenda panitia. Karena tenda telah terpancang terpaksalah panitia memberinya nomer tenda 41sebagai tenda terakhir di paling pojok bumi perkemahan Lapangan Victory kecamatan Curahdami. Dan, tenda nomer 41 diberi nama Regu Garangan. Aneh memang, bendera regunya saja mereka pesan sendiri di Mona bordir, sebuah industri garmen dan bordir di desanya.

     Agar tak memalukan sekolah dengan tepaksa mereka didampingi Pak Edy guru olah raga yang tegas itu. Rupa-rupanya mereka telah tahu jnis pelombaan yang akan diadakan, karenanya mereka melakukan latihan mandiri melalui bimbingan di You Tube. Tarian tradisional, smaphore, keterampilan tali temali, dan terakhir penjelajahan dengan busana adat yang diiringi musik enik dengan alat yang mudah mereka bawa. Khusus musik ini Ilham and The Gank jusru menggunakan alat masak sebagai instrumennya. 

     Nun di tenda, Opik, Vian, Fadly, justru semua peralatannya disiapkan sekolahnya. Maklum saja mereka adalah sebagai duta sekolah, Ilham hanyalah peserta illegal dari sekolahnya tapi ternyata tak malu-maluin sekolahnya saat unjuk aksi di perlombaan kemah itu. Lomba smaphore juara 2, keterampilan tali temali juara 3, teater justru nomer 1, dan tinggal lomba penjelajahan yang belum mereka ikuti. 

     Seperti dugaan dewan guru SDN Curahdami 01, pastilah tampilan mereka akan mengecewakan. Regu lain tampil dengan pakaian adat yang menarik membawa alat musik etnik, sementara Regu Ilham dan kawan-kawan malah berpakaian serba hitam plus wajahnya coreng moreng dengan cat kulit yang biasa dipakai pak tentara tuk berkamuflase. Sontak saja Bu kepala sekolah dongkol dibuatnya. Sudah tampil seram, alat musiknya perkakas dapur, masih saja membawa lastok ( tongkat yang ukurannya melebihi dari ukuran biasa.

     Pasukan terakhir nomer 41 saatnya menuju area penjelajahan di sekitar hutan pinus terus melintasi perkebunan jagung milik warga. Nun jauh di sisi lain sedang ada latihan tentara Raider. Pak tentara latihan perang sedangkan Si Ilham menjelajah sambil memainkan musik mereka sambil menyanyi ala tentara, ya maklum saja bocah-bocah tengil itu selalu ingin merdeka dengan kemauannya. 

     Tampak pasukan mereka kian menjauh bahkan sudah melewati hutan pinus, dan suara alat musik mereka mulai sayup dari kejauhan. Pak Edy yang memantaunya mulai dongkol, karena dari pasukan terakhir itu tampak sedang membakar rumput kering yang asapnya dikibaskan dengan berkala ke udara. Dari ujung tongkat mereka dikibarkan 4 bendera Setangan Leher yang berulis huruf S, O, S, dan yang terakhir bertuliskan kata HELP. Pak Edy kian mangkel saja takut terjadi kebakaran lahan dan menganggapnya main-main saja. Niat untuk menghukumnya sudah direncanakannya, ikutan sudah dengan cara illegal masih saja bikin ulah.

     Belum lagi tiba di pangkalan panitia, ada 2 orang tentara sedang menginterogasi panita terkait dengan berita udara S O S yang disampaikan oleh pasukan terakhir pimpinan Ilham. Karena pasukan itu masih di perjalanan kakak pembina pendamping yaitu Pak Edy dipanggil ke stand Panitia untuk menjelaskan tentang kelakuan anak-anaknya. Tak berselang lama mereka pun datang dengan kelelahan karena kebagian di waktu terakhir yangsedang panas-panasnya. 

Selama siang adik-adik, mohon ijin saya bertanya perihal, kode genting dengan asap, tulisan S O S, dan Help di Setangan Leher yang kalian pancang di tongkat kalian, oh ya apakah apinya sudah dimatikan, tanyanya tegas.

Bocah-bocah itu tampak tegang karena Pak Edy melotot mmberi kode marah, akhirnya Ilham sebagai ketua menyuruh Holil untuk menceritakan maksudnya.

Maaf pak, begini..., tapi plis jangan marah, kata Holil ragu. Akhirnya Ubaid yang memberanikan diri.

Gini pak, pas Holil pingin pipis di tengah ladang jagung itu, melihat beberapa orang laki-laki sedang mabuk. Ada dua motor yang sedang dipereteli, beberapa botol berserakan di sana, jelasnya.

 Lalu kenapa kali mmbuat kode SOS, kata pak tentara.

 Heemm, begini karena Holil sempat melihat mereka, rupanya tak suka kami mengetahuinya. Ada yang mengacungkan golok agar kami menjauh, tapi suruh jalan biasa agar ak mencurigakan. Lalu kami berinisiatif membuat kode pertolongan seperti saat kami main Game War di HP.

Baik adik-adik, terima kasih, pungkasnya, dilanjut dengan mengontak temannya yang lain untuk menuju ke area yang di tunjukkan oleh pasukan terakir itu.

     Selepas apel malam, tibalah kini penyalaan api unggun plus unjuk kebolehan di atas pentas.Di sela-sela pementasan diumumkan pula para pemenang lomba dan menerima hadiah dari panitia. Kejutan yang tak terduga dari semua peserta saat komandan Raider 514, dan Kapolsek Curahdami memberikan hadiah khusus untuk Pasukan Terakhir yang berhasil memebrikan informasi SOS dan menjadi perantara tertangkapnya kawanan pencuri motor yang lama diincar pihak kepolisian. ***********************

Jumat, 01 Maret 2024

Surabi Telor Pak De Wowo

 SURABI TELOR PAK DE WOWO

Pak Tyqnue Azbynt


Kedai Ko Xiaoling yang biasa dipanggil Pak De Wowo ini selalu ramai dijubeli pembeli tiap lapaknya dibuka. Pembeli menyebut Pak De Wowo karena dia lebih senang dipanggil Soedjarwo sebagai nama  Chindonya. Rupanya nama itu hoki dan menjadi brand yang trending di kawasan kota kecilku.



Sembari mengantre, kusempatkan berbincang dengan beberapa pemuda yang juga ikutan menunggu giliran pembayaran kudapan itu.  Di samping surabinya memang Mak yus, tapi ya ng membuat pembeli kebanyakan para lelaki belia justru karena yang membantu Pak De adalah Cece Dawei Chan. Gadis Amoy cantik itu menjadi incaran mata lelaki, termasuk aku yang belum taubat-taubat ini. Hasrat nakalku kambuh saja saat melihat amoy cantik itu. Saat aku bayar kudapan itu sangaja kujatuhkan agar bisa antre lagi, dan alasannya tak mau diganti oleh sang pemilik kedai. Apkah aku rugi? Gak dong, kan bisa memandangi Dawei Tan lebih lama lagi. Ya kalau boleh seminggu pun tak mengapa, he he.


Akal bulusku justru dicurigai Pak De Wowo. Dawai di suruh ke belakangnya, agar tak, melayani aku. Cilakanya pengunjung pun satu persatu mulai beranjak pergi dan tak.mau antre lagi. Aku merasa bersalah pada mereka, terpaksalah uang hasil jual 2 kanvas lukisan cat minyak kuborongkan semua untuk surabi itu. 1juta 7ratus amblas sudah kubelikan surabi Telor. Beruntungnya pas jelang malam Jum at, kubawa saja ke mushala sebagai sajian kegiatan pengajian warga. Pak De Wowo yang semula dongkol padaku berubah menjadi baik dan ramah. Walaupun aku rugi belanjaan, namun jabat tangan dari Pak De dan si Amoy membuat hatiku adem ayem. "Maafkan kalau aku salah menganggap masnya".

"Aaah tak pa Pak De, habisnya Cece itu memang gemesin, senyumnya yang ramah bikin gimana gitu", selorohku. "Ah santai aja mas, papa memang begitu terlalu posesif, padahal aku juga senang dengan candaan para pelanggan sini". 

"Oh ya by the way, surabimu enak lho". Kembali Ko Xiaoling melotot mau marah.

"Eh pa, tahan emosi, gimana kalau dibilang surabiku gak enak?, Marah juga kan?"

Dengan sedikit menahan dongkol Pak De Wowo menghela napas sembari garuk kepalanya, "Huh surabi!!!".

___

Bondowoso, 1 3 24

Senin, 26 Februari 2024

Beras dan Kost


 BERAS DAN KOST

Pak Tyqnue Azbynt

Salam rindu dititip lewat angin internet, sehat selalu kabar baik dari jauh. Celoteh suasana musim hujan tersaji dalam cengkerama maya. 
Selepas pemilihan umum gunjang ganjing Ka Pe Uu kuacuhkan saja. Logika para senator menabrak pintu pintu etika dan logika, walaupun dengan retorika dipaksa dengan dalih logika. Semua kuasingkan jauh jauh dari otak ini. 

Tapi saat anakku bertanya harga beras di kampung, otakku terusik juga dengan narasi para politisi gagal menang laga. Dan rakyat kecil dipaksa ikuti alur logikanya. Aaah otakku mendidih saja, jika beras naik bukankah petani bahagia?, Tapi tak begitu tuan, sebab ibu ibu butuh harga beras murah. Nah trus? Pupuk mahal, beras murah? Siapa rugi?.mau naik Mak emak juga protes. 

Terpaksalah naraca uang kuliah anak-anak kami harus ditara ulang, agar jangan berpuasa sebelum Ramadhan tiba. Harga beras naik, biaya di kost kotsan mesti tambah. Laporan selesai.

___
Bondowoso, 26 02 24

Minggu, 25 Februari 2024

Ulah Gen Zie

 ULAH GEN ZIE

                      Pak Tyqnue Azbynt

          Liburan di akhir tahun kalender pendidikan menjadi healing bagi seorang guru sepertiku. Merencanakan program berikutnya dengan santai lebih mengasyikkan dan tak terbebani oleh desakan waktu yang memburu. Mencari ide-ide baru yang inovatif, atau sharing dengan sesama guru di seluruh penjuru negeri ini, demi yang lebih baik dan aplikatif.

          


 Hampir semua murid kami mudik jelang dan pasca lebaran yang kebetulan berbarengan dengan libur panjang akhir tahun pelajaran. Walaupun muridku semuanya merupakan santri yang hidup agamis, tapi era Gen Zie ini tetap saja mewarnai gaya hidupnya. Mereka yang terbiasa sibuk dengan kitab kuning dan kajian-kajian agama, tapi saat mudik mereka memanfaatkan waktu liburnya tuk bermain di dunia mereka, berselancar di medsos, memosting healingnya di berbagai platform media dengan gayanya yang bebas.

          Hoffie murid di kelas VIII G tetiba mengirim pesan What’s App, Ayah, nanda mohon doanya untuk kesembuhan, aku sakit kelenjar getah bening, perdiksinya kesehatanku tinggal 25 persen saja. Murid yang satu-satunya panggil ayah padaku itu kini benar-benar menjajah atensi. Dicalling tak bisa, via pesan hanya centang satu. Sebagai guru aku turut mencemaskannya, lagian dia sudah terbiasa memanggilku dengan sebutan ayah. Benakku berkata, Apakah ini firasat sebagai pertanda buruk?. Aku tak punya akses untuk memnghubungi keluarganya, yang pernah kudengar dia hanya tinggal bersama neneknya, sedangkan ibunya lebih memilih kost demi dekat dengan tempat kerjanya sebagai pedagang buah di pinggiran alun alun kota.

          Perasaan kuterawangkan kembali pada saat sebelum liburan, kuingat kembali gadis dengan tahi lalat di dagunya itu selalu membawakan tasku ke kantor selepas pelajaran. Sebagai hadiah kuberikan dia coklat, atau apa saja yang mungkin bisa kubeli di kantin sekolah. Anehnya dia malah sering meminta pulpen atau pensil yang biasa aku pakai. Suatu ketika dia tunjukkan sebelas pulpen yang telah dikumpulkan dari pemberianku. Aneh, tapi begitulah nyatanya. Dia merasa bangga memiliki pulpen yang pernah aku pakai.

           Saat tanggal kelahiran aku banyak mendapat kado kecil dari anak-anak murid, yang kadang lebay sok dramatis. Aku sih mengikuti alurnya, agar tak menyinggung ketulusannya. Lalu bagaimana dengan si Hoffie?, tak ada ucapan atau haiah kecil darinya selain nomer HP yang ditulis pada selembar kertas kecil.  Tolong disimpan Yah, jangan dihubungi dan jangan dihilangkan, pada saatnya  nanti itu akan berguna. Teringat nomer kontak itu, kucoba mencari-cari di dompet barang kali kertas kecil itu masih ada. Dan dilalah masih ada diantara selipan STNK motor. 

          Nope baru itu kuhubungi dengan pesan suara,

  Assalamu alaikum, ini nomer Hoffie kan?, plis dijawab deh! 

Tak ada jawaban malah nopeku diblock, terpaksalah aku memakai nomer lain tuk mnghubunginya.

 Jangan usil dan sok kenal dengan gadisku, begitu timpalnya. Oh mungkin dia pacarnya, begitu pikirku.

 Owh maaf, yang penting tidak tambah parah dan kembali pulih. Tetiba dia malah calling, ternyata suara wanita.

Maaf anda siapa dan mengapa bicara tentang kesehatannya?

“Saya wali kelasnya di madrasah, dia kirim pesan ini, sembari kukirimkan tangkapan layar HP padanya. 

“Owh gimana ya, ini kuhubungi tak ada jawaban, sedang aku bila kerumahnya, pasi embahnya akan mengusirku lagi

Yang menjadi pertanyaanku, siapa orang itu sebenarnya, apakah ibunya atau siapa? 

          Untuk beberapa saat kami tak saling kontak setelah menyepakati akan menghubungi bila salah satu pihak telah menemukan dan mengetahui keberadaannya. Otakku berputar mencari cara, sedang perasaan kian cemas saja. Mungkin sama halnya dengan wanita yang sempat kuubungi beberapa hari lalu. Setiap akun medsos kucari tentang dia, sedikit sulit karena tiap akun murid-muridku mnggunakan fake-name dan tak pajang tampang wajahnya sendiri. Mngkin karena mereka santri, lebih menjaga privasi dan nama almamater mereka.

          Assalamu alaikum mohon bapak segera ke klinik Avicena, penting. wassalamu alaikum, begitu bunyi pesan masuk di instagramku. Otakku tertuju pada si Hoffie, dan tanpa pikir panjang segara gaspoll ke tujuan. Benar saja seorang paramedis membawaku ke Paviliun Catlea B3 kudapati dia sedang terlentang dengan pengasapan nebula di mulut dan hidungnya. Kutatap si manis anakku itu tetap menutup mata dan tanpa berkata apa-apa. Seorang dokter menyarankan agar jangan diganggu, karena baru saja melewati masa kritisnya. 

          Seorang wanita muda dengan kulit beningnya, plus wajah oriental yang menawan datang dengan wajah cemas. Karena saran dokter dia pun tak banyak bicara apa-apa. Kami saling menatap tanpa saling tanya, tapi firasatku menyimpulkan kalau dia itu kerabat Hoffie. Kali ini cemasku sedikit berkurang gegara senyum wanita itu, manis dan mendegupkan pacu jantung. Tak seberapa lama lamunanku terganggu saat Hoffie bergumam, ya Allah. Matanya memandang ke segala penjuru seperti kebingungan. 

Alhamdulillah, ini mama sayang, kata wanita muda itu sembari memegang bahu kirinya. Gadis abg itu meraih tangan wanita itu seraya berkata,aku rindu mama. Oh rupanya dia itu ibunya, begitu benakku. 

Ma..., ini ayahku di madrasah, beliau yang menjadi penguat hatiku. Dia guruku yang menyayangiku seperti anaknya sendiri. Saya hanya menganggukkan kepala saja saat mamanya menatapku. 

Mama sayang aku kan?, Ayah juga sayang aku?, tanyanya.

Tentu sayang, tetiba saja kami kompak menjawabnya.

Kata dokter aku tak boleh berat mikir agar aku kembali pulih.

Ya sayang, mama akan curahkan hidup mama demi kesembuhanmu, mama akan turuti semua permintaanmu, asal kamu kembali pulih seperti dulu.

Iiiih ngapusi.

Bener kok sayang, timbal wanita itu meyakinkannya.  

Dengan penuh harap, kupohonkan agar kesembuhan terjadi padanya, kembali pulih dan ceria seperti dulu lagi. Tetes demi tetes membanjiri pipi bening mamanya.

“Yah..., ini Ayesha mamaku yang tak pernah menjengukku di pesantren, hanya nenekku yang mengirimkan paket karena usianya yang sudah uzur taklah mungkin kalau ke pesantren yang harus siap antre menunggu waktu kunjungan tiba dan dibatasi waktu, celotehya panjang seakan tak merasakan siksa oleh penyakitnya. Dari penjelasannyalah aku baru tahu kalau dia memang membutuhkan tempat menyuarakan rindu, tempat bersandar dan mengadu. Wajarlah kalau dia memanggilku ayah semenjak aku sampaikan,kalian adalah anak-anakku. Pernyataan umum di kelas itu rupanya mengena khusus pada hati Hoffie.

          Tanpa aku sadari gadis itu telah menggamit tanganku, begitu juga pada tangan mamanya. Tangan kami disilih silangkan sembari berujar,Kalian yang aku punya, semoga selalu menjadi yang terbaik untukku. Kami berpagutan pandang, menelisik ke seluruh wajahnya, lalu mengarah ke wajah Hoffie. Dia mengerlingkan matanya sembari tersenyum.

Hups, bentar dulu, ini maksudnya apa, tanyaku sok pilon.

Ayah jadi papaku, mau kan?, hmmm nikah dengan mama, gimana?

Mamamu cantik kek gitu mana mau sama aku?

Maaaa, plis deh mau yaa?.Dia mengangguk tanda menyeujui pinta anaknya.

Tapi kalau karena alasan anaknya, saya pastikan saya menolaknya, karena itu bukan karena alasan sama cinta, jawabku sok jual mahal.

Tetiba saja Ayesha merapat ke sisiku, diciumnya punggung tanganku. Butiran air matanya membasahi tanganku. Kucium kening Hoffie smbari berucap, Ya sayang, di hadapanmu kupinang mamamu”

Maukah kalian bersumpah, pintanya.

Ya demi Tuhan aku bersumpah akan tunaikan janjiku.

Ya aku juga wallahi aku rela dipersunting pak guru ayahmu itu

Yeeee, aku sembuh daaaah, jawabnya. Bangun dari bed rest dan membuka peralatan medisnya dengan segera.

“Lho Dok, gimana ini , tanya Ayesha

Gak papa Bu, dia tak sakit kok, dia teman anakku di pesantren, mereka yang menyekenariokan ini semua.

Oh, Alhamdulillah, kataku

Alhamulillah gimana ne?, timpal Ayesha

Ya kita dikerjain, dan aku dapat wanita muda yang melebihi harapanku, Thanks nanda, jawabku.

Uh, kena prank, tapi gak pa, aku juga mau kok, imbuhnya sembari mencubit lengan anaknya.        

___________Bondowoso, 24 02 24_____________

SEVARA

 SEVARA  Pak Tyqnue Azbynt  Seorang pelajar dari Tashkent Presidential School sedang asyik membaca buku di sebuah homestay Ubud Gianyar Bali...