Total Tayangan Halaman

Minggu, 24 Desember 2023

Drama di Malam Pertama

 DRAMA DI MALAM PERTAMA

Pak Tyqnue Azbynt

          Semula aku mnganggap beberapa lembar daun pacar di mangkuk kecil dalam kamar adalah pelengkap estetika pernikahan kami walaupun sebenarnya telah menggunakan pasta dengan merk Hena. Ya memang dulu masih jaman kuno memakai tumbukan daun pacar yang dicampur dengan gambir, tapi kan sekarang sudah ada Hena dan sejenisnya? Aku memilih tak begitu peduli akan hal itu. 

         


 Pernikahan kami adalah sebuah keterpaksaan belaka. Aku memilih menikah gegara permintaan ibu saat beliau sakit parah, sedangkan dinda dipaksa oleh Pak Lik saudara ibu mertuaku almarhumah. Dinda seolah-olah manut saja, karena beliau yang telah membiayai studinya hingga perguruan tinggi. Di hadapan keluarga kami bersikap damai dan tampak harmonis selalu. Tapi saat di kamar justru kami bagaikan Tom and Jerry yang tak pernah damai. Dinda tidur di bed sedangkan aku tidur di lantai. Aku memilih megalah karena dia mengancam akan bunuh diri.

          Prosesi pernikahan kami pas malam tahun baru. Malam Senin selepas acara sekitar pukul 23.00 para sinuman tak memilih rehat karena menunggu malam pergantian tahun. Sebagian besar bergeser ke area barat rumah kami tepatnya di jalan pavingstone di lingkungan kami. Dinda istriku memilih bergabung dengan mereka, namun Pak Lik memarahinya agar segera istirahat. 

 Kakang jangan apaapain aku, kalau tak ingin ada berita kematian, ancamnya.

Up..., ya oke, aku coba memahaminya, toh aku pun tak kebelet cinta. Selama ini aku belum pernah tidur sekamar dengan wanita mana pun, namun ketika seruangan dengan seorang yang bernama istri pikiran mulai mengembara. Mata mulai teruju pada sesosok gadis usia 20 tahun yang sedang terlentang pulas. Pipinya yang merona, serta lekuk tubuhnya menyihir perasaanku. Temaram lampu menyahdukan malam itu. 

          Tempelan daun pacar yang sudah digunting benttuk gerigi di pinggirnya itu ditempatkan secara acak di lehernya. Reaksi minyak angin yang dioleskan ke daun pacar itu telah menjadi sablon monoprint di bagian lehernya. Atas permintaanya kami melakukan keramas sebelum subuh demi membahagiakan keluarga. Setelah ngopi pagi baru aku memahami strategi daun pacar itu saat cewek-cewek di teras depan menggojlognya. Yee, stempel ritual cinta semalam neh, yah bikin kami-kami pingin nikahan juga, selorohnya. Anggota keluarga hanya senyum-senyum bahagia.  

          Menikmai Djie Sam Soe yang sesekali disela dengan kopi hitam, kukembarakan angan-angan ke langit 3. Anganku jauh ke drama semalam, inikah takdir itu? Kuambil gawai sekedar membaca-baca biografi tokoh-tokoh dunia di internet. Tetiba aku dikejutkan bunyi piring yang menyentuh meja kecil di hadapanku. Asap goreng pisang di atas piring bergoyang dicumbu angin.

“sila didahar kang, katanya sok ramah dan mesra. Karena ada beberapa anggota keluarga, aku pun bisa main drama. oh ya terima kasih say, tolong ambilkan rokok di atas bufet kamar. Kulirik dia seikit ketus, sedang aku seyum bangga. 

          Dua pekan berlalu, hari-hari kami dilewati tanpa cerita indah yang berarti selain jamaah tiap salatku di ruang tengah. Selepas dedoa dia menyalamiku seakan mesra karena semua keluarga menjadi jamaahku. Saat seperti itulah kurasakan kelembut an dan kehalusan tangan bidadariku.

          Mungkin karena kekesalanku, saat di ruang salat keluarga ide nakalku muncul jua. And one again, dia sedikit menyingkap mukenah tuk sekedar menunjukkan noktah merah palsu di lehernya pada keluarga. Kugamit tangannya sembari kunakali dengan pertanyaan, Kapan kita punya momongan ya? Dia sedikit merengut dan sekelebat mendelik memarahiku dalam gestur. 

          ‘Duaarrr tetiba suara petir seakan di atas wuwungan rumah, dan dia loncat memelukku. Hmm rupanya dia astrophobia atau penakut suara petir. Keringatnya dingin dan bercucuran di keningnya. Pelukan eratnya menceritakan ketakutannya tanpa kata. Nafsu nakalku muncul seketika. Kecium keningnya seraya kubelai rambutnya yang sudah menanggalkan mukenahnya. Wangi tubuhnya menambah nafsu nakalku. Namun hujan yang mulai terang dan suara petir mulai jarang, dia melepaskan pelukannya padaku. Dalam hati kumeminta, Oh Tuhan di mana sura petir-Mu. 

          Drama malam pertamanya boleh sukses, tapi sejak aku tahu kelemahannya aku mulai mencari-cari akal bulus. Tiap malam aku selalu menggunakan baju tidur yang selalu aku semprotkan Avon fifth avenue agar aromanya lembut mesra. Tiap malam menunggu petir membentak alam, namun jarang terjadi, mungkin karena di bulan Januari 2024 ini mengalami musim hujan kering atau Elninu. 

          Sudah beberapa malam harapanku tak dikabulkan alam, toh kalaupun hujan petir tak ikut hadir, sedangkan harapanku sudah merambah ke titik nadir. Otakku mulai terasa tak beres. Kubawa membuat lukisan, mengaransir lagu, atau sedikit menulis flash story, namun hasilnya kering dan sepi estetika. Aneh memang, keseharianku menjadi tak produkif dan badmood saja. Akhirnya kupilih mencumbu digital TV di ruang tengah. Menyaksikan National Geographic justru memberikan inspirasi. Menyaksikan tayangan hujan di Sungai Mara dengan petirnya yang menggelegar merambah ke otakku. Dengan suara yang tak begitu keras, kucoba koneksikan dengan suara Subwoofer di home theater, hemmm, menggelegar. Tapi kalau ada keluarga yang lain, kan bisa mengganggu keluarga +62. 

          Otakku mulai diracuni skenario yang tak bisa kueksekusikan segera gegara ada banyak penghuni di rumah. Saat menanti begitu terasa panjang, sedangkan huajn dan petir justru kian jarang. Dalam hati protes, kenapa alam tak peduli padaku. Sampailah suatu ketika, saat keluarga mertuaku menginap di keluaga yang lain karena ada hajatan. Istriku sejak siang sudah mengancam agar aku jangan macam-macam. Apapun ancamannya aku acuhkan saja, dan aku berlagak seakan menurutinya. 

          Malam pun tiba, hatiku begitu riang menyongsong senyap malam lalu lelaplah biadari titipan mertuaku. Rupanya dia terlalu curiga akan terjadi sesuatu, dia memilih membaca buku-buku novel di pustaka pribadiku. Untungnya dia tak tahu nama pena yang aku sematkan di tiap karyaku. Aku pura-pura menyegerakan tidur, sedangkan timer TV telah kusetting timer pada sebuah kanal Youtube tanpa iklan yang menayangkan hujan di Sungai Mara. 

         Mungkin karena mendung yang begitu rendah malam itu, suasananya begitu gerah, dan pantaslah kalau kutanggalkan bajuku, bahkan tanpa singlet melekat di tubuhku. Celana bokser biru tua bertuliskan Nike yang kukenakan menjadi pembalut tubuhku. Mataku yang sudah terjajah kantuk menjadikan sukma di ambang sadar.

            Duarrrr, duarrr..., bruggg aku dikagetkan gelegar suara subwoofer di ruang tengah namun yang lebih mengejutkan saat Dinda loncat dan menghimpit tubuhku.

Ya Allah. Baaang, dinda takut, kok petirnya lama banget, gumamnya. Tenang ada abang” sambungku. 

 Kok abang juga deg degan, memang juga takut?

Iya dind, aku akut khilaf saja, makanya jangan terlalu rapat dindaaa, sambungku sembari memeluknya dengan lembut. Dia hanya menatapku penuh harap agar tak melepaskan pelukanku. Untuk berapa kalinya aku pura-pura agar merenggang dariku.

 please deh bang, biarkan aku tetap menggelayut, bujuknya

“iyaa deh demi bidadari aku bersedia dan tak akan nakalan padamu”

Mungkin karena merasa aman dan nyaman, dia mulai tersenyum.

“ Bang, aku merasa terlindungi di dekapan abang, aku rela menjadi pelayan abang di rumah ini dengan setulus hati, mencuci, memasak dan lainnya”.

Aku tak minta itu semua, aku hanya takut khilaf malam ini. 

“ Owh begitu yaa?, suaranya lirih. Kugamit tangan kanannya, letakkan di dadaku sebagai tanda ketulusan. Dan ternyata dia mencium bahuku malu-malu. Perlahan dia tindihkan pipinya ke dadaku yang kian bergemuruh. 

 Bang, aku pasrah, katanyasembari menyibakkan rambut panjangnya. Gemuruh suara di dadaku mengalahkan suara subwoofer di ruang tengah. 

          Menjelang subuh dia membangunkan aku, mengajak keramas sebelum salat subuh. Walaupun kulihat dia seperti menahan nyeri, tapi rupanya tak memprotesku. Noktah merah di lehernya kali ini bukan dari daun pacar seperti dulu-dulu. Seusai subuhan dia rebah di pahaku penuh kemesraan.

 Aah Dind, jangan tiduran begitu, aku takut khilaf, selorohku, dan dia protes genit sembari mencubit pahaku. 

Moga ada petir lagi, candaku.

 Yeehhh ga usah nunggu petir, but yang lembut yaa, theres a little pain here, sambungnya sambil melempar tasbih ke wajahku dengan nakal manja.

          Kami terjaga agak kesiangan. Dia kaget karena di halaman tak ada bekas air hujan. Sampai cerita ini kutulis, dia tak ahu sebenarnya skenario tersebut. Aku sebut kalau dia halusinogen dari bacaan novel percintaan. 

“iiih gak kok, sambungnya penuh keheranan, dan dia menganggap bahwa suara petir itu adalah bisikan malaikat cinta di hatinya.

__________ 

Bondowoso, pekan terakhir Desember 2023


Sabtu, 02 Desember 2023

BONDOWOSO-PEKANBARU DALAM TAUTAN CINTA LINTAS SEGARA


 Bondowoso-Pekanbaru dalam Tautan Cinta Lintas Segara

Pak Tyqnue Azbynt

Perlawatanku ke Kota Sawit merupakan sebuah takdir yang tak terelakkan. Tugas dari kampus tuk mengikuti free college di Universitas Abdurrab serasa keterpaksaan saja. Demi ikut seminar yang menghadirkan seorang Profesor dari Universiti Malaya, Prof.Dr. Thamil Selvy Velayutham. Secarik piagam demi thesis, ya begitulah. Senyampang di kota perdagangan dan kota sawit itu, kusempatkan tuk healing menghempaskan jenuh di sekitaran spot kedai yang instagramable.


Kedai Kopi Genteng yang konon sudah berdiri sejak 1950 menjadi tujuanku. Menu kopi susu plus roti srikaya bakar terasa nikmat sekali, pantas saja kalau ramai dan legend karena rasanya memang istimewa. Selepas itu kulanjutkan ke Perpustakaan Syuman HS, yang katanya menyimpan banyak manuskrip kunonya. Benar juga, sampai-sampai aku lupa waktu gegara melihat banyak buku menarik di sana. " Lah masse?, kok bisa terdampar kemari?", Kata Judi Arianti yang biasa berkorespondensi literasi denganku. Sungguh aku tak tahu kalau dianya manusia Pekanbaru. Maklum saja koneksitasku dengannya hanya sekitar literasi. Senyum manjanya menjadi mengganjal di dadaku, dag dig dug der rasanya. Gamitan tangannya yang hangat mengalirkan energi ke pori-pori tanganku, dan aku nyaman dibuatnya. Tetiba saja aku disandra tuk keliling kota dengannya. Vespa matic LX 125 biru toska membawa kami entah kemana, dia driver dan aku pemboncengnya. Amboy indahnya Pekanbaru. Merapat sejenak tuk makan siang di sebuah kedai. Sup tunjang dengan kuah bening dan rasa kaldunya yang nikmat menjadi semakin lezzat kala dia menyuapiku. Sup dari tulang kaki sapi ini mengantar kami pada perjamuan cinta. Kugamit kedua tangannya, " Jud..., selama ini aku sibuk di bangku kuliyah, and gpernah mikir cewek, tapi kenapa hari ini aku jadi tak berdaya di hadapanmu?". " Halah gombyal", sembari menarik tanganku ke mulut mangkuk kecil berisi sambal. " Seriously", kuyakinkan dia. Dia tak bergeming, tapi saat kucium keningnya sepertinya dia mulai luluh.


Rupanya Judi Arianti pernah tersakiti oleh seorang cowok, dan hingga kini menganggap semua cowok adalah buaya. Aku tak memaksanya, karena toh hanya bertemu hari itu saja. Namun saat dia mengantarku ke hotel, kekatanya membuatku yakin kalau kami bisa bersatu. "Mas, aku percaya ucapanmu, bawalah aku ke Jawa tuk kau kenalkan dengan keluargamu", ucapnya tulus sembari mencubit kecil pinggangku. Kutarik dia kupeluk lembut sambil mencium keningnya. " Yap, I Will", timpalku sembari menjabat tangannya di lobby hotel, dan dia pun say "bye bye" sambil mengerlingkan matanya dengan genit.

____

Bondowoso, 2 12 2023

Senin, 13 November 2023

JALAN UNTUKNYA

 JALAN UNTUKNYA

Pak Tyqnue Azbynt


Hadir di panggung besar sebagai tetamu bersama para penyair Asean menjadi kebahagiaan tersendiri, apalagi di ibukota: sungguh istimewa. 


Mewakili kabupaten tercinta, bangga di dada terasa kali. Manusia punya cita tapi Tuhan punya kuasa. Di bulan yang sama si Sulung anakku harus terbang ke Malaya University bersama beberapa mahasiswa teman-temannya dalam misi free college. Butuh financial ekstra tuk uang sakunya di negeri Jiran itu. Terpaksalah kuurungkan niat ke ibukota tuk menerima hadiah istimewa itu. Biarlah kuberikan jalan untuk jagoanku, dan aku cukup kirim doa dan pengharapan kesuksesan buatnya. 


Baju adat Jawa timur yang kusiapkan terpaksa kulemarikan saja. Dan bila saatnya tiba, walau dalam.moment dan event yang beda insyaallah menuju panggung kehormatan akan tergapai juga. 

____

Bondowoso, 13 11 23

Bias bias Cinta DEELA NOOR

 Bias bias Cinta DEELA NOOR

Pak Tyqnue Azbynt



Ingin lepas dari keruwetan tugas kantor yang menyandra otakku, memilih ngopi di Orilla Cafe menjadi titiak sasarku. Di lantai atas tersaji mini garden yang sedikit menjadikan healing sukma. Sembari menyesap Raung Arabika Coffe yang menyela hisapan Wismilak rokokku. Tenang dan sedikit melegakan.

This is me time. Bermaksud mencari file lagu dan foto-foto di laptop yang bisa dijadikan modeblat lukisan, kutemukan foto Si rambut panjang Deela Noor, mantas mahasiswiku dulu. Seorang gadis yang dulu pernah menyekap dirinya berhari-hari di kamar, tanpa minum tanpa makan gegara ingin melepaskan pertunangan dengan mantannya. Cerita itu sempat kudengar dari mulut manisnya. Entah kini dia di mana dan berprofesi apa aku tak pernah tahu. By the way, file lama tentang mahasiswi jurusan arsitek itu bukan target yang akan kulukis. Tapi dari balik cerita waktu remajanya justru menjadi titik telisik lain tuk kujadikan cerita novelku. Memang banyak mahasiswi kujadikan sebagai objek lukisan atau inspirasi cerita. And Finally kutemukan tokohnya. 

Dengan sketchbook tangan kirinya seorang wanita mojok di sebelah Musala lantai atas dekatku sedang nyantai. Tak tampak wajanya karena gerai rambut panjang menutupinya. Aku tak peduli. Lagu-lagu country rupanya melenakanku, antara tertidur dan sadar aku dikejutkan oleh sapaan manis " Bapak masih melukis kan, ayo dong lukiskan wajahku, ini kebetulan aku bawa buku gambar sket bestek bangunan yang masih ada yang kosong". Sekonyong-konyong saja aku kaget dan sadar ternyata orang yang hendak kujadikan ide cerita malah muncul tetiba di sampingku. Rupanya si rambut panjang itu, yang di dekat Musala tadi. Dia ceritakan banyak hal tentangnya, mulai hal yang umum hingga hal yang teramat privacy. Cinta pertamanya yang gagal hingga kenekatannya yang nyaris membahayaka dirinya. Kini ia heandak healing, ngafe, dan menghayal lepas, eh malah ketemu aku. Sebagai mantan dosennya aku tetap menjaga image, agar tetap berwibawa. Kenekatannya tetap saja dia lakukan, bersanda di bahu kiriku, sembari memainkan pulpen pilot warna merah dia bercerita dan bermanja padaku. " Pak tolong jangan protes, biarkan aku melepas semua keruwetan beban kerja, ijinkan aku bermanja pada dosenku yang sering menyindiku dulu". Kugamit tangannya sembari kebelai rambut panjangnya. " This is me time, kataku, boleh aku cium keningmu, mahasiswiku yang dulu 'nakal' itu?". Dia no coment tapi menarik leherku sebagi pertanda kalau dia tak keberatan. Dan dari peristiwa itu kini kami masih menyinambungkan bias bias cinta kami. Entah sampai kapan harus berlabuh di pelaminan, bukankah kami sama-sama sebagai manusia jomblo. Deela I like that moment.

___

Bondowoso, 13 Nov 23

Rabu, 08 November 2023

BU ANITA GURUKU

 BU ANITA GURUKU

Pak Tyqnue Azbynt


Kota Malang yang menghangat gegara hujan yang tak kunjung turun, membuatku kian jengah dan ogah-ogahan ngampus. Mungkin karena beberapa pekan ini aku bolak-balik ke Lab demi mematentkan penelitianku. And Finally, bawaannya capek dan badmood. 



Tetiba saja gawayku berdering, panggilan dari sahabat kampus agar aku segera merapat ke ballroom Fakultas Fisika. "Segera merapat guys, ada beberapa orang yang menanyakanmu". Dalam hati bertanya-tanya, apakah duta dari Malaka University? Kusegerakan saja berangkat tanpa pikir ini itu lagi, lagian tempat kostku hanya 75m saja. Yassalam, dari jauh kulihat Bu Nita, guru matematika saat aku MTs di pondok, dan kemudian saat aku masuk MAN beliau mutasi ke tempat studiku yang baru. Dulu aku kurang respect pada pelajaran beliau yang cara menerangkannya cepat bagai lagu RAP saja, and "criwis"nya bikin aku malu kalau gak ngerjakan tugas-tugas darinya. 


" Waah anakku ini tah?", Sapanya sembari pamerkan kemolekan lesung pipinya. Kujabat tangannya penuh haru karena dari beliaulah dasar-dasar exacta aku dapatkan. " Salam Karo abae, aku suwi Ra ketemu". " Enjih Bu". Beliau dulu memang teman Abah saat masih ngajar di pesantren. Yang tak bisa aku lupakan tentang beliau saat aku belajar wawancara kala masih MI. Kuwawancarai beliau yang guru MTs itu. "Sini jangan malu-malu, kamu mau tanya apa?". Beliau langsung mengambil buku catatan pertanyaan dan langsung menjawab panjang lebar hingga aku tak bisa menulisnya. Bu Anita, 'we can't stop missing you'.

___

Indonesia, 8 November 2023

Minggu, 05 November 2023

SOCIO COCCI

 Socio Cocci

" Bruuuum I am flying now", begitu celoteh si Cocci Zei, anak paling bontot tapi gayanya yang selangit membuat marganya jengah dengan kelakuannya. Tiap hari pamer sayap, kelihaiannya bermanuver terbang diantara reranting elok klorofil di dedaunan. 

 Cocci Ei, Cocci Bi, hingga Cocci Dablyu , berkali-kali telah mengingatkannya. Tapi kelakuannya memang susah diubah. Kali itu Si Sulung Cocci Ei memperingatkannya dengan keras agar jangan bermain di Lembah Kematian dekat _Fumarol_ yang banyak mengeluarkan _Sulfura_ dan gas yang lainnya. Kesombongannya telah mengantarkannya ke ambang celaka. Benar saja dia tergelincir di daun akasia dan terpelanting hingga tak bisa bangkit, ia terlentang dengan kepala pusing 7 keliling karena banyak menghirup gas belerang. " Toloooong!",pintanya memelas. " Alaaah gayamu", sergah yang lainnya. Dan benar saja dia kesulitan bergerak, napasnya sudah megap-megap.


Si Sulung Cocci Ei mengomando teman-temannya agar membantu Si Nakal Cocci Zei.Mereka bergelantungan di daun akasia membandulkan diri untuk menjadikan tangkai daun itu sebagai pengangkat tubuh si Nakal. And Finally, mereka pun berhasil membantunya. Si Nakal itu baru menyadari akan kelakuannya, ternyata berkawan dan bersahabat dengan tulus akan menjadikannya selamat dalam kehidupan.

____


Notula:

 Coccinellidae (nama ilmiyah kumbang kura-kura).

 Socius (masyarakat).

 Fumarol  lubang dari gunung berapi

 Sulfura (sulphur) belerang.

Kamis, 02 November 2023

Madah Cinta untuk Bidadari Titipan Mertua

 MADAH CINTA UNTUK BIDADARI TITIPAN MERTUA

Pak Tyqnue Azbynt


Dua dasawarsa lewat sudah usia pernikahan kami, aku dibersamainya tanpa syarat apapun. Sejatinya aku taklah setara dengannya, namun begitulah cinta memilih takdirnya. Empat buah hati menjadi bukti semaian cinta kami. Aku, dia, serta mereka buah hati itu telah menjadi kami. 



Selepas salat Zuhur, kurehatkan otak sejenak sembari menikmati sajian instrumental Raimy Salazar yang mengembarakan anganku hingga jauh ke langit 3. Teringat masa dulu dia kali pertama menggamit tanganku. Dadaku berdegub kencang saat kulihat dia tertunduk dengan senyman, sementara dari ekor matanya dia mencuri pandang. Kutarik dan kurebahkan kepalanya ke pahaku, sembari kucium keningnya dengan sisipan kata ' I can't stop loving you '. Dia hanya tersenyum, entah apa yang ada di benaknya, apakah tak mengerti kekataku, atau ada suara lain di sukmanya. 


Dari bilik kantor kukirimkan tiga emoji cinta via WhatsApp. Centang biru dua pertanda pesanku telah terbaca, lalu dia v-call, " Abang cepat pulang dong!" Madah cinta yang hendak kukata hilang seketika, berganti hasrat ingin segera pulang.

____

Bondowoso, Premio November 2023



Senin, 30 Oktober 2023

Si PETOK dan Si EMPUS

Si PETOK dan Si EMPUS


Pak Tyqnue Azbynt


Wak Diman lelaki tua yang tinggal di Lembah Argopuro ternyata seorang pawang hewan. Tiupan serulingnya bisa meninabobokan, menggerakkan, marga satwa sesuai kehendak Wak Diman. Seruling itu kecil dan panjangnya hanya sejengkal. 


Dari semua mahluk yang dihipnotisnya hanya ayam dan kucing yang lolos dari pengaruh tiupan serulingnya. Maka dipeliharalah dua hewan itu. Si Empus dan Si Petok begitulah penamaan oleh Wak Diman. Rupanya Wak Diman punya trik lain tuk menaklukkan 2 binatang itu. Ternyata seruling yang kecil itu merupakan pena yang sewaktu-waktu bisa menuliskan mantera, dengan mantera itu bisa dirapal olehnya, dan akhirnya sesiapa pun terjerat oleh pengaruh manteranya. Rupanya Si Empus dan si Petok tahu akan hal itu. Mereka pun menyusun rencana tuk merebut penanya demi memanterai si Empunya.


Selepas petang Wak Diman duduk di balai-balai tuk menunggu Maghrib tiba. Saat itulah kedua piaraannya itu menyusun niat jahatnya.

"Petok pas maghrib tiba, bebunyilah kau sekencangnya dan bikin gaduh suasana agar Wak Diman keluar. Saat itulah aku akan mengunci pintu, lalu mengambil seruling yang sejatinya adalah pena itu", pinta Si Empus.

" Oke, siap laksanakan bentar lagi", timpal si Petok. Dan benarlah saat   Wak Diman keluar, si Empus mengunci pintu dan mengambil seruling nya. Sambil mengibas-ngibaskan ekornya si Empus bergumam sambil membaca mantera seperti apa yang dibaca Wak Diman, namun serulingnya itu berubah menjadi pena utuh tanpa lubang nada seperti biasanya. Baik si Empus maupun Di Petok tak bisa meniupnya tuk menghipnotis si empunya. Pada saat yang bersamaan Wak Diman menepuk tanah tiga kaki, dilalah _penanya terbang_ disertai angin ribut, hujan lebat dan petir yang menyambar dimana-mana.


_____

Bondowoso, 30 10 23

Rabu, 25 Oktober 2023

BIIA & NARA diadopsi dari Puisi Pengungsi dan Penjual Miniatur Eiffel karya Muhammad de Putra

 BIIA & NARA

diadopsi dari Puisi Pengungsi dan Penjual Miniatur Eiffel karya Muhammad de Putra


Pak Tyqnue Azbynt

Entah mengapa malam itu begitu menyiksa bagi kami para penyintas di negeri orang dengan status sebagai pengungsi. Paris dunia glamor para pemburu gaya, ternyata menjadi neraka bagiku. Sejak kegagalanku menjadi legislator di tanah asalku, semua harta terkuras habis tanpa sisa. Begitu pun, tabungan Antam untuk adik adikku. Ludes dan aku tak menjadi apa-apa.





Dengan bermodal pinjaman dari seorang sahabat, aku nekat ke negeri para model tanpa tujuan yang jelas. Mungkin karena malu di kampunglah yang membuatku hilang pikiran warasku. Semula aku berpikir kalau kelihaian melukis yang selama ini aku tinggalkan, bisa aku jadikan penyambung finansialku selama di sana. Semua dugaku jauh dari kenyataan, aku menjadi gelandangan kota bersama, orang-orang imigran Yaman yang tak kunjung dapat suaka dari sana. 

Entah kenapa malam itu, langit begitu barbarnya mencumbu bumi, hujan yang begitu deras mendera kami tanpa ampun. Kami yang hampir seharian menjajakan miniatur menara Eiffel harus mencari teduhan dari dera air langit itu. Malam sudahlah larut sedang hujan tak jua henti, jaket kulit lusuh bak perasan santan kelapa saja, deras mengucur. Saat rinai mulai menipis, sedikit legalah perasaanku. Dingin?, Masih saja menyiksa. Tak ada sebatang rokok pun tuk menjadi penghangat rasa. Suara burung malam semakin menyiksa sukma, ejekannya menusuk ulu hati. 

Paris memang tak pernah tidur, dari arah timur tampak dua gadis kembar sedang menuju ke arahku, memotret kami dan benda-benda di sekitar kami. " These are enough as our painting object ", seru salah satunya. " Yaa cukup ", sambung satunya dengan Bahasa Indonesia. Dari situlah ingin rasanya aku berkenalan dan mengulik jauh tentang dua gadis kembar itu. 

Dari long jacket nya dia mengeluarkan rokok lalu menyalakannya. Mulutku terasa rindu menghisap asap saat dingin begini. " Boleh sebatang saja buatku?". " Oh Indonesian? ". Dari situlah baru aku tahu namanya ' Biia dan Nara ' , sosok.kembar yang baru saja pulang dari Mojerel Garden Marocco, dan berlanjut ke Eifel tuk liburan selepas menuntaskan studinya di Muhamed 1 University di Oujda, Maroko. Memang taklah terlalu jauh jarak Maroko-Prancis, makanya mereka enjoy saja, apalagi bagi mahasiswa berduit macam.mereka. 

Pertemuan itu benar-benar berarti bagiku, aku seperti bertemu semua keluarga di tanah air. Keakraban dan upayanya tuk mengantarku ke konsulat agar dicarikan jalan demi tidak.menkadi penyintas di negeri orang. Dan benar saja keesokan hari mereka telah menjemputku, dan mengantar ke kantor konsulat RI di sana. Selama diperjalanan mereka menunjukkan sebuah Sketchbook dengan beberapa sketsa lukisannya. Kucoba kritisi tekniknya yang kurang rapi. " Oh bisa merupa?". " Sedikit ", sambungku. Kuminta Sketchbook dan carbonit pensilnya, and kulukis wajah mereka berdua walaupun tak seberapa bagus karena posisi dalam mobil yang sesekali melencengkan arah mulut pensilku. Bila dan Nara, kalian telah menghidupkan asaku yang sudah mati, berkat petunjuknya aku justru menjadi road artist di Majorel Garden Marocco. Berkat lukisan-lukisan yang kujual akhirnya aku bisa studi di 'Mohamed 1 University Marocco '. Konon kabarnya mereka berdua sudah berada di tanah air dan menjadi dosen de perguruan tinggi ternama di Indonesia. Thank alot, Biia dan Nara. 

____

Bondowoso, 25 10 23

Minggu, 15 Oktober 2023

Kutukan Peri Gigi

 KUTUKAN PERI GIGI

Pak Tyqnue Azbynt

          Kadang takdir perjalanan cinta itu sulit diprediksi, bahkan jauh dari nalar tapi nyata dalam peristiwa. Adalah kisah cinta kami yang bak dongeng jaman bahuela saja.  Profesiku yang sebagai PNS tepatnya guru di sebuah Sekolah Dasar, bagi orang desa dianggap stratanya di atas masyarakat kebanyakan. Karenanyalah aku kadang berani memilah milih calon pendamping, walaupun kalau mereka melihat tampangku mungkin otaknya akan stress seketika.

          Selepas dari Pendidikan Guru Agama ( PGA ) aku ak terlalu lama menganggur, dan hanya 1tahun setengah telah bisa lolos menjadi PNS sebagai Guru Agama Islam. Ditugaskan di pelosok desa justru aku kian dihormati, bahkan bak seorang  Gus  ( Gusti Syarif ) yang biasa disematkan pada keturunan kiyai. Jumawa pun sering bersarang di otakku.



          Sebenarnya gajiku taklah seberapa kala itu, tapi tampil rapi dan dihormati banyak orang menjadikanku berada di zona nyaman. Yang menjadi tak nyaman justru desakan dari keluarga agar aku segera mencari pendamping, padahal aku punya program tuk berlanjut studi S1. Semula aku acuhkan saja karena aku masih mau menikmati kebebasan kesendirian tanpa aturan seseorang yang mendampingiku. Gegara haus tunduk pada titah orang tua aku pun mencari alon pandampingku, tapi dengan santai dan sedikit ogah-ogahan.

          Suatu hari aku sowan ke rumah guru SD-ku, di samping tuk mengabarkan tentang status pekerjaanku juga tuk silaturrahim dan mengucapkan terima kasih aas segala bimbingannya hingga menjadi seorang guru. Lama kali beliau memberikan bimbingan tentang hidup dan kehidupan di masyarakat. Dilalah  kembali soal pendamping hidup jadi bahan obrolan.  Dan, jelas sudah jawabanku belum menemukan bidadari titipan calon mertua.

          Perjalanan pulang ari rumah guru hujan datang tiba-tiba, di sebuah mushala aku numpang berteduh sekalian Asharan dulu. Nun di teras rumah depan mushala itu ada seorang gadis masih berseragam anak Madrasah Aliyah sedang menyekakan kain pel di terasnya yang kena tampias hujan. Kuperhatikan ari aas hingga ke bawah, wajahnya, kulitnya, tubuhnya, semua menggetarkan dadaku. Entah energi apa yang menjadikanku semangat tuk melamarnya. 

          Bermodal sisa rokok yang tinggal separuh bungkus kujadikan siasat tuk mendekati rumah itu. Hujan sudah tinggal rinai risiknya, tanpa sepengetahuannya kulempar korek ke halaman mushala itu. Meminjam korek, yaa alasan meminjam korek menjadi alasan tuk mendekatinya.  Tak seberapa lama seorang ibu paruh baya keluar ke teras itu hanya tuk membuang sisa puntung rokok di halamannya yang sudah penuh air hujan. 

 Permisi, boleh meminjam korek bu?, bukaku tuk mendapatkan sedikit atensi artinya.  Dia pun segera menyilakanku tuk masuk ke ruang tamu.

 Mari, masuk nak saya carikan korek dulu. Saat aku masuk kulihat di sekeliling dinding rumahnya. Tampak beberapa lukisan kaligrafi, dan foto seorang lelaki dengan perawakan seorang kiyai. Lama kali tak kunjung keluar si ibu, hatiku menduga-duga bakalan ada kopi keluar. Dan benar saja secangkir kopi hitam dengan asap yang mengepul disuguhkan ke hadapanku. 

 Maaf nak kalau agak lama, soalnya koreknya baru ketemu. Yaa biasalah saya selalu lupa menaruhnya, maklumlah tak ada lelaki di rumah ini, terangnya.

 trus, maaf Pak Kiyai di foto itu?

 Oh itu almarhum ayahnya Aisah. Sejak beliau meninggal kami kelabakan ngajari anak-anak santri ngaji tiap malamnya. Maklumlah hana kami berdua yang melayani santri sekitar 20an itu. 

Mendengar cerita itu, otakku menyimpulkan sendiri kalau aa peluang tuk melamar anaknya.  Persetan dengan tampangku ang pas-pasan, yang pening aku punya nyali. 

          Hari-hari pun berlalu, aku selalu menunggu datangnya hujan demi singgah ke mushala itu. Rupanya hujan iri denganku, sudah hampir sebulan hujan tak kunjung iba padahal ini bulan Januari, harusnya sih hujan. Otakku mulai kacau, tak ada alasan tuk mampir ke mushala itu lagi.  Wajah Aishah mulai menjajah sukmaku.kangkuhan an kesombonganku engan status pupus sudah. Nyaliku menjadi ciut dan nyaris tak punya logika tuk bisa melamarnya. 

          Ikhwal kusampaikan pada ibu, kalau aku sedang jatuh cinta pada seorang putri kiyai. Ibu pun ragu, saat kusampaikan alamat gadis yang dimaksud. Rupanya beliau tahu kalau dia bertrah Neng  atau  Neng Mas , panggilan yang biasa di sematkan pada putri kiyai.  Namun keluhku pada bunda, menjadikan beliau menyemangatiku dengan doa doanya.

          28 Oktober 2023sore ketika menyaksikan event lomba pembacaan puisi di Musium Kereta Api Bondowoso, perlahan titik titik hujan menemui bumi, bertambah dan bertambah hingga deraslah hujan.  Berpamitan paa teman-teman dengan alasan hendak mengentas jemuran. Kenakan baju hujan, lalu gaspol menuju jalan yang melintas di dekat mushalla si Aishah. Sekitar 100meer menjelang mushala itu, kulepas jas hujan agar baju sedikit basah. Dan kembali aku berteduh di mushala beberapa tahun lalu. 5 menit lewat sudah, belum kutampak penghuni rumah itu keluar. Dalam hati eap munajatkan doa agar hujan tetap saja mencumbu bumi, agar ada alasan uk berbetah-betah di mushala itu.

          Ibu Nyai bunda Aishah muncul jua, dan sepertinya dia baru menyadari ada mahluk kepo yang sedang menunggu sapaannya. Finally beliau menyilakan aku tuk sudi singgah di ruang tamunya, sudah pasti aku mengiyakannya tanpa babibu lagi. Pisang goreng panas, plus teh hangat tersaji sudah, namun si Aishah belumlah kelihatan batang hidungnya. Usut punya usut dia sedang sibuk mengatasi bocor atap di kamarnya. Kutanyakan paa Bu Nyai kalau-kalau ada tangga, dan jika diperkenankan aku akan mngentas bab geneng bocor di kamar bidadarinya.  And yes, tangga ada, dan aku diperkenankan pula. Maklumlah tah ada lelaki di rumah itu, beberapa ember teronggok di atas kasurnya. 

          Kerjaan kelar sudah, dan aku kembali ke ruang tamu. Dari situlah kutemukan asa saat Bu Nyai menanyakan status kelajanganku. Dengan merendahkan diri, bahwa tak bakalan ada orang yang sudi menjadikan aku sebagai suaminya. Beliau berkata kalau lelaki itu lebih punya otoritas menentukan jalan hidupnya, sedangkan wanita hanya menunggu kepastian dari seorang lelaki yang bisa meminangnya.

          Dengan mohon ijin kupergi ke petirtaan di sisi mushala tuk buang air kecil, hal ini kujadikan sebagai alasan tuk ambil wudhu. Langsung duduk di beranda mushala membaca surah Yaa Siin tuk diberi keberanian bertutur maksud hati kepada beliau. Selepas itu aku kembali ke ruang tamu dan bertemu dengan Bu Nyai. Berkali aku memohon ampun jikalau berani lancang dan banyak kesalahan karena berani bertutur hendak melamar Aishah putri beliau.

 Nak Hamid boleh saja melamar anak saya, tapi perlu kamu ketahui, bahwa anak saya itu type pemberontak, dan masih kelas 2 MA.  Oh Yaa sebagai orang etnis Madura, saya masih menjaga tradisi. Artinya yang perlu datang ke sini adalah orang tua nak Hamid. Tentukan harinya, pilih ari yang baik dan kabari saya. 

Dari restu beliau, yang semula dada saya berdetak keras, kini perlahan perasaanku lebih tenang. Aku pun pamit undur dan pulang dengan hati berbunga-bunga.

          Pinangan usai sudah, akhirnya kami pun menikah sesuai dengan kesepakatan pemilihan hari baik. Prosesi nikah yang tidak terlalu besar tapi dari keluarga paman bibi kiyai semuanya merestui kami. Hikmad dan penuh kesyahduan. Hatiku bersorak senang, sedang wajah Aishah tampak kering dan seperti hendak berontak saja. Hanya 2 hari 1 malam acara itu, dan saya sudah bisa menguasai jiwa an raganya.

          Malam yang dinanti ternyata bagiku hanyalah siksa belaka, baginya juga menjadi neraka. Malam pertama bahkan sampai 9 bulan kami hanya menjadi cerita sakinah mawahdah wa rahmah di luaran saja, sedang bagi kami harus bermain sandiwara saat berada di luar rumah saat malam hari. Bila malam tiba istriku tersentuh kulitnya dikit saja, langsung menjerit, dan pastilah aku menjauh demi tidak mengundang perhatian warga. Sautu ketika Bu Nyai menanyakan padaku perihal tersebut. Rupanya beliau sudah mencium kejadian itu. Sarannya sangat ektrim agar saya melakban mulutnya, dan mengikat tangan kakinya. Cara itu kutampik saja karena aku masih memilih cara yang damai dan bermarwah. 

         Jangankan dalam keadaan sehat, dan tak punya beban, dalam keadaan sakit yang agak parah saja masih saja menampik bantuanku. Saat demam gegara terkena typus aku mencoba mencarikan obat tapi malah dibuang, alasannya takut diguna-guna. Dan hal seperti itu selalu berulang dan berulang dengan cerita yang sama.

          Tiap malam kuadukan saja masalahku pada Tuhan, ketegasan Mak Nyai mertuaku cukuplah menjadi pengikat hatiku untuk tetap bertahan.Walau pun minumnya selalu memakai air mineral bersegel, mie instan yang dibuat sendiri gegara kekhawatirannya akan guna-guna. Makananku dimasakkan oleh ibu mertua. Begitulah aku menuntaskan ahun pertama pernikahan kami. Masuk bulan ke 11, Aishah bidadari titipan metuaku terserang sakit gigi. Entah ini berkah atau hanya tipuan saat dia sedang sakit saja. Tanganku ditarik dan suruh memijat lengannya, lehernya, sambil mengerang kesakitan. Mungkin karena sangat heboh, Mak Nyai sedikit membuka pintu kamar kami, lalu segera beliau tuup kembal karena kami sedang pijit memijit. Begitulah malam berlalu hingga dia terlelap tidur di pahaku. 

          Azan subuh di mushala telah membangunkannya, dan dia terhenyak kaget karena tidur di atas pahaku sedang aku bersender di kepala divan. 

 "Uuuh, astaghfirullah, kau apakan aku, heeeh, hayo jawab", katanya meradang. 

 'Neng salat aja dulu, ambil wudhu, ayo kita makmum di mushala, Neng gak puna hadats besar kok, wudhu saja",  Jawabku ditenang-tenangkan, padahal aku harus memenjarakan nafsu sekuat-kuatnya semalam. Kuberikan dia beberapa obat vitamin dan antibioik serta pereda nyeri kalau sakitnya kembali kambuh.

          Sepulang mengajar, aku membuang kooran burung dari sangkar, dilalah kulihat bungkusan obat itu dibang di tempat sampah. Wah keras kepala benar ne cewek, begitu pikirku. Aku acuhkan saja, namun justru aku dikagetkan saat dia bertutur.

 "Kang, obatmu telah kuhabiskan dan nihil gak ada reaksinya", kilanya. 

 "owh gitu ya?", moga gak kambuh lagi.

 "Justru owh, ya Allah sakitnya, duuuuh"

 "Boleh saya pijit lagi neng?"

" Hayooo sakit nee"

Saat kusentuh ternyata yang terasa panas tak hanya di area lehernya, justru betisnya saat kusentuh juga terasa panas. Hatiku berkata si Neng ini pura-pura sakit gigi. 

 "Gimana neng, sudah agak baikan?"

 "Belum siiih, pijit di leher kang!"

Aku tahu dia ngprang aku, ya terpaksa kuprank balik. Aku pura-pura kramp, kakiku mengejang. Dia pun mulai gupuh cemas.

 "Kok malah berkeringat kang, sakit yaa?"

Alasanku sakit dan gerah, suruh bukakan hemku, aku gak bisa karena kaki dan tanganku kramp. Dari kejadian itu bintangpun berjatuhan, kabut kabut syahdu rindu melayang jauh ke ngarai-ngarai dan bukit asmara. Cinta kami saling berlaluh di pantai cita. 

" Kaang, maafkan kalau dulu aku membencimu, hingga Peri Gigi mengutukku", candanya sembari mencubit lenganku.

_________ 

Bondowoso, 15 10 2023


SEVARA

 SEVARA  Pak Tyqnue Azbynt  Seorang pelajar dari Tashkent Presidential School sedang asyik membaca buku di sebuah homestay Ubud Gianyar Bali...