Total Tayangan Halaman

Rabu, 05 April 2023

SEPERTIGA MALAM

 

Pict by Ig Naturesmsok

SEPERTIGA MALAM

Pak Tyqnue Azbynt


Bukan. Bukan aku menangis sembari berdoa di atas tikar sembahyangan. Kupilih menuntaskan sisa rokok di tanganku dan kopi kental yang sudah kedinginan didekap malam.


Dulu selepas isya ayahku sering melambungkan asap rokoknya di teras rumah. Bersama bias temaram damar ublik yang pasrah di pojok balai-balai. Tanpa mau diganggu sesiapa. Aku hanya menurut tanpa banyak tanya.


Kini setelah aku menua kurasakan pula apa yang menjajah pikiranku. Melambungkan asap rokok sembari menghitung-hitung hutang kerjaan, hutang tanggung jawab, dan segala hal yang menjajah sukmaku. Di sepertiga malam ini kurasakan betul betapa banyak anugerah yang kusia-siakan. Betapa banyak pula beban yang menjajah isi otak seorang ayah sepertiku. Demi senyum kedua bidadariku dan si sulung jagoanku, kupilih bersenandung lepas berpura-pura tanpa ada beban yang menjajah sukmaku. Di sepertiga malam ini hanya keluh yang bukan berupa dedoa kusampaikan pada-Mu Tuhan Sang Penguasa segala. 

_______

Bondowoso, 5 April 2023

Singkong dan Toa Musala

 


SINGKONG DAN TOA MUSALA

Pak Tyqnue Azbynt


Hampir di tiap penjuru mata angin terdengar lantunan manusia mengaji. Sudah lazim selepas Salat Tarawih load speaker bersautan dengan ayat-ayat Al Qur'an, begitupun di musala RT ku yang pas di depan rumahku. 


Para pelantun bergantian tadarus Al Qur'an agar tak terasa capai hingga jelang puku 24. Tapi kenapa hari itu Pak RT yang terbiasa memborong bacaan, malam itu justru tak ada. Tersisa si Imron yang terbiasa dibersamai Riyan justru ngajinya sendirian. Suara mengaji haruslah tetap tersuar seperti musala-musala lain di kampungku. Aku yang baru datang dan memang kebetulan sakit batuk taklah mungkin untuk menggantikannya, tapi Imron pasang cara untuk menjebak ku di depan mikrofon. Dia memohon pamit tuk ke kamar kecil dengan alasan hendak berwudhu. Benar saja dia mengelabuiku. Dia kabur dan tak kembali.


Tidaklah elok kalau batukku yang kebetulan lumayan parah harus di depan mikrofon. Akhirnya dengan modal googling di internet kuposting makan lezat. Aku tuliskan "Berkah Ramadhan, makanan melimpah di musala ". And satu persatu orang-orang pada berdatangan. Padahal di dalam Musala hanyalah singkong goreng rebus plus kopi kental buatan Bu. RT. Saat mikrofon diganti, kuikuti teorinya Imron tuk pura-pura berwudhu. And finally saya ikutan Pak RT nonton sepak bola di televisi.

___

Bondowoso, 5 April 2023

5 Bidadari di Serambi Pondok

 


5 Bidadari di Serambi Pondok


Pak Tyqnue Azbynt


Suara lantunan qasidah itu mengobrak abrik ruang dengarku. Dan keelokan suaranya telah menyeretku ke sumbernya. Yassalam ternyata para nyonya muda sedang bersenandung sembari menunggu jemputan anaknya yang hari ini sedang agenda pulang mondok selama jelang idul Fitri. 


Lamur pandanganku tuk menelisik kian jauh, karena zona wanita tabu tuk didekati para lelaki, apalagi yang jalang macam aku ini, he he. Tapi suaranya benar-benar telah menyihirku. Sumpah demi ayam geprek atau es cendol suaranya telah merindingkan bulu-bulu kudukku. Fashohah yang tepat ditambah suara yang elok menjadikan dingin rasanya di kalbuku. Betah berlama-lama mendengarnya. Apalagi para pelantun itu molek-molek. 


Julie Kanaya yang biasa kisebut Julia Cakep seperti di akun Ig-nya hanya itu yang aku kenal, sedang 4 orang lainnya asing bagiku. Rupa-rupa si Julie dkk tahu sedang aku perhatikan. Eh malah mengulahiku dengan syairan-syairan spontanitas yang mengusiliku. 

" Aduh Bapak Dosen Bahasa, curi dengar itu bahaya, bisa-bisa hati tersandra, nanti malam tidur tersiksa " 

Wah si Julie benar-benar memerahkan telingaku, but I like it. Saat jemputanku tiba dan melintas dekat serambi, kembali mereka megusiliku dengan koor, " pak doseeennn I love you...".  Anakku bertanya, " siapa mereka Abah?" "Ow... teman ngekskul di sebuah SMA dulu".  

____

Bondowoso, 5 April 2023

PADA TEPIAN SUNGAI MAHAKAM

 


PADA TEPIAN SUNGAI MAHAKAM

Pak Tyqnue Azbynt


Belum tergambar sebelumnya kalau takdir rihlah masa tuaku bisa bertandang ke Kalimatan  Timur. Purna sudah tugasku sebagai Abdi Negara, dan rutinitas membersamai anak bangsa harus kutuntaskan di bangku formal. 


Jawa timur - Kalimantan timur adalah jarak yang jauh dan harus melintasi segara, taklah santun bagi seorang wanita berumur semacam aku. Melintasi laut yang memisahkan dua pulau itu adalah tantang jiwa dan ragaku. Angin geram dan erangan suara ombak yang proklamirkan keperkasaannya kuanggap sepi belaka. Tekad tuk menemui 'Indah' si sulung anakku bulat sudah. Anak yang sempat disingkirkan oleh beberapa sekolah di Jawa dengan alasan tak jelas, kini harus melesatkan dirinya ke Pulau Borneo untuk mengabdikan diri sebagai pendidik anak bangsa. Sengaja kukubur rinduku dalam-dalam demi turuti tekadnya. Dan benar saja keberaniannya telah terbukti, betahun tahun dia di sana bahkan sempat beberapa kali menjadi duta negeri sebagai Guru Fisika SMA yang studi di Thailand. Bahagiakah aku? Ya tentu saja. Tapi rinduku tak pernah terentaskan. 


Selepas dinas sebagai ASN aku punya banyak waktu luang tuk memeluk anakku yang teramat kurindukan. Renta usia kuacuhkan saja demi menampak senyum manisnya, demi memeluknya dalam pelukan penuh cinta. Tak perlulah kuceritakan tantangan perjalanan yang menciutkan nyaliku.  Arum arus air sungai yang memporak porandakan isi perut saat menuju hulu terlalu jahat tuk kugambarkan detail bagi seorang tua sepertiku. Tapi rindu is rindu, cinta is cinta. Kutampik semua aral rintang itu. 


Jabat erat tangan anakku kudapat sudah. Air mata haru membasahi tanganku yang banjir dari matanya kala menjabat tanganku. Dipersilahkannya aku mengenal lingkungan rumahnya yang sisi belakangnya berhadapan dengan bantaran Sungai Mahakam nan perkasa itu. Tiap hari kunikmati keindahan alam Borneo, alun air sungai di belakang rumahnya. Kadang monyet liar yang masuk dan mengacak acak serambi belakang adalah catatan lain yang mesti kutorehkan di otakku. Yang paling menyiutkan nyaliku saat air sungai pasang. Aku bertafakur mendalam saat sepanjang hari hujan turun begitu derasnya. Tanpa petir yang berteriak di angkasa yang memberitahuku, tapi deras hujannya begitu lebat. Bermilyar-milyar titik air berlomba turun menemui bumi. Cumbu langit pada bumi terlalu barbar. Kutahu semua itu  karena air Sungai Mahakam yang menepuk nepuk teras belakang rumah anakku. Hatiku berkata, " juangmu adalah nyali terbaik anakku. Demi kecintaan pada anak bangsa kau jalani semua tanpa ketakutan berarti. Pasrah pada Sang Ilah adalah azimat jiwa yang harus tetap kau pertahankan. Selamat berjuang, semoga terbarokahkan, aamien". Arum deras air itu rupanya mengusik bendungan di kelopak mataku, banjir di Sungai Mahakam telah membanjirkan tirta netraku.


#catatan_perjalanan_di_Pulau_Borneo.


__

 Bondowoso, 5 April 2023


@tulisan ini kudedikasikan untuk Bu Sri Nurul Hidayati dan Indah Anakku.

Selasa, 04 April 2023

TAMPIAS HUJAN DI CUCURAN ATAP

 


pict source by @ig beautifuldixe dengan sedikit edit

TAMPIAS HUJAN DI CUCURAN ATAP

Pak Tyqnue Azbynt


Walau ada selinap caya arunika tetap saja air itu pasrah menjatuhkan diri. Aku kembarakan angan jauh melintas kota pada anakku yang berjuang memberkasi lembar lembar ilmu di kota Serpong. Kubiarkan rinduku tak berujung agar tagihannya tak pernah terlunaskan. Tatap matanya, senyum serta gerak langkahnya mengelebat di depan netra.


Hujan ini mengingatkan lagi kala dia kujemput di Bimbel Primagama. Di atas jog motor beringsut merapat demi mendapat teduhan di jas hujan yang dipakai berdua. Begitu pun saat kujemputnya di sebuah madrasah seringkali kami dicumbu hujan bulan April itu.


Tiap gemerisik datang membawa Tirta langit, kembali anganku jauh melintas padanya anak lelakiku. Jagoan penggantiku yang kelak melindungi kami dengan dedoanya. 


Aku tak tahu apakah ini air hujan yang dulu nan pernah membasahi kami di jalanan. Tapi bagiku hujan ya hujan, titik. Dia hanya membawaku pada haru biru rindu yang tak pernah usai. Hujan jika kau diprintah Tuhan tuk menghapus debu di kelopak bebunga. Pintaku jangan kau hapus debu debu cerita yang pernah kami alami bersamanya. 

___

Bondowoso, 4 April 2023

Rabu, 15 Maret 2023

Zona Nyaman di Para Jelata

 



ZONA NYAMAN DI PARA JELATA

Pak Tyqnue Azbynt


Tetiba saja ada kring telepon dari orang inspektorat yang menyomasi kealpaan laporanku di SIHARKA. Tertanggal di akhir 2019 pelaporan dan selebihnya zonk. Teguran sopannya membuatku _cat_ malu-malu. 


Sumpah demi senyum para bidadari kampung, aku tak tahu itu namanya Siharka, karena sejak dulu orang-orang UPTD yang selalu meminta berkas. Sejak peniadaan UPTD aku sama sekali buta tindakan apa yang mesti kuperbuat berkait dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan administrasi. Hal ini diperparah karena status kepegawaianku yang DPK ( dipekerjakan ) pada MTs yang notabene berada di bawah naungan Kemenag sedangkan pangkalan indukku di Dinas Pendidikan. Jangan tanya kapan ngurusi kenaikan pangkat dan lain-lain, semua kutinggalkan. Yang penting tunaikan tugas mengajar yang dalam sepekan hingga 58 Jam Tatap Muka. Berangkat pagi pulang petang bak bangau yang sedang melumpur di sawah. Bagiku gaji bulanan lancar cukup sudah. 


Di lembagaku yang ada di lingkungan pesantren dengan kegiatan yang padat plus jumlah siswa yang tak sedikit telah menjeratku pada lingkungan kerja. Tak hanya itu, berbagai mata pelajaran pernah aku ampu. English, Tata Negara, Sejarah Nasional, Seni Budaya, Bahasa Indonesia, dan Sejarah Kebudayaan Islam yang sesuai dengan Program akademikku ( tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam ). Semua kesibukan itu telah menyandra waktuku hingga lupa laporan sebagai budak Negara. Apakah zona nyamanku sebagai manusia jelata ya? . Oh ya rupanya aku lupa bersyukur, hingga lupa tunaikan kewajiban administrasi. Hampunkeun hamba ini bapak ibu inspektorat. Percayalah hartaku tidak gendut, yang bongsor malah hutangku. 

___

Bondowoso, 15 3 22

Selasa, 14 Maret 2023

BIAS API MERDEKA



 BIAS API MERDEKA

Pak Tyqnue Azbynt


Heboh, ramai, meriah saat masyarakat di bilangan kecamatan Gajahmungkur itu menyaksikan jilatan api obor menerangi area sekitarnya. Aku lupa tanggal berapa malam itu tapi yang kuingat hanya malam Agustusan di kota Semarang. Maunya sih hanya jalan-jalan menikmati suasana malam di kota Semarang, eh ternyata ada event Obor Estafet yang konon menurut cerita orang yang sempat kutanya, itu adalah kegiatan rutin tiap tahun.


Begitu melihat api yang menjilat-jilat di ujung obor aku jadi teringat kekata pak guru SD-ku dulu, obor itu ibarat ilmu yang menyuluhi kegelapan logika dan hati. Tapi tetap saja aku hanya ingat kekata itu tanpa mencari makna sesungguhnya. Demi turuti pinta perut yang mulai demo, kucoba mencari Mie Jawa kesukaanku. Di sebuah kedai yang tak begitu ramai aku melabuhkan rasaku pada sajian khas Jawa itu. Saat lidah bermesra dengan mie tetiba saja telingaku dijajah oleh suara para sastrawan yang sedang asyik berdiskusi tentang dunianya.


Bahasa dan bahasannya yang renyah dan enak didengar benar-benar menyintaskanku di suasana itu. Sebagai orang pendatang aku tak malu-malu perkenalkan diri dan justru ikutan nimbrung. Mas KEF, bak Indah dan bak Alfi begitulah nama mereka. Tuturan mas KEF serta timpalan bak Alfi dan sahabatnya itu telah menyalakan semangat menulisku yang dulu saat aku masih remaja. Bak api obor itu semangatku kembali menyala-nyala. Buku ' Nulis Bareng Mas KEF, dan cerpen Bisik Jendela' hadiah dari mereka menjadi penyemangat tambahan bagiku. Oh yaa lupa, makanku malah di traktrir sama bak indah and the Geng itu. Terima kasih bak Alfi, bak Indah atas traktirannya, juga mas KEF atas ilmu-ilmunya. 

___

Bondowoso, 14 Maret 2023

Kamis, 09 Maret 2023

TERSESAT DI De TANI WATERPARK

 


TERSESAT DI De TANI WATERPARK

Pak Tyqnue Azbynt


Sukabumi Jawa Barat yang sempat menyandraku dalam hutan pesona budaya, kini menyisakan pengalaman buruk namun mengasyikkan. 


Paket wisata West Java tour telah menterlantarkanku gegara asyik memelototi mobil hias perayaan Hari Jadi Sukabumi ke 152. Rombongan lepas dari radarku karena HPku raib entak kemana. Jatuh atau dicopet orang aku tak tahu. Hanya tersisa 120.000, Rupiah yang ada di sakuku. Aku bak orang linglung saja. Dan entah rombongan dari mana, aku ngikut saja demi tumpangan gratis ke De Tani Waterpark yang berlokasi tak jauh dari Alun alun kota. Kurang lebih 30 menitan kami sudah tiba di tempat yang bernama Goalpara dengan wisata edukasinya itu. 


Perut lapar sudah, uang perlu dieman-eman, teman hilang jejak. 90% otakku kacau. Hatiku mulai sedikit tenang saat 3 orang wanita yang mampu kuingat 2 nama saat mereka perkenalkan namanya. Lisna Nurhilaliyah, Nuramalia Az-Zahra, dan satunya lagi aku lupa. Mereka menyinyan lagu yang sedang viral, ' Satu Rasa Cinta'. Aku tak sadar ikut larut menyanyikannya. Cilakanya aku diseret ke gazebo itu oleh beberapa pengunjung agar ikutan nyanyi. Wah moment penting ne, pikirku. Ketika lagu dari Lisna Nurhilaliyah and the gank berakhir, kucoba menyanyikan sebuah lagu daerah ' Bubuy Bulan', yang kata mereka pelafalan kataku hancur, ha ha. Bermodal dari mikrofon yang kupegang itu kusempatkan untuk menyampaikan Ikhwal kehilangan HP-ku. Entah apa yang merasuki merek aku malah dikerjain oleh 3 wanita manis itu agar menyanyikan lagu 'Muskurane', sambil koreo ala India, demi mendapat cuan sebagai ongkos pulang ke Jawa timur, ya setidaknya ke kantor Polisi agar dapat uang pengantar dari pak Pol. Dilalah saat aku Reffrain lagu itu ternyata si Nurhilaliyah malah memberikan HPku yang katanya terjatuh saat di alun-alun kota. Dia sengaja menyimpannya karena ada grup literasi yang ada temannya ' Anik Susanti'. Sukabumi kotamu menorehkan cerita indah bersama Lisna Nurhilaliyah and the gank yang tak mungkin kulupa.

___

Bondowoso, 9 3 23

Senin, 27 Februari 2023

MAKKAH KECIL DI KOTA LINXIA

 




MAKKAH KECIL DI KOTA LINXIA

Pak Tyqnue Azbynt


Negeri elok di bantaran sungai dengan kontur pengunungan nan asri merupakan daya tawar yang tinggi bagi penyuka keindahan. Linxia adalah kawasan yang perlu aku singgahi selepas dari beberapa kawasan penelitianku tentang masyarakat muslim China. Linxia dengan beribu masjid dan madrasah madrasahnya, seperli negeri yang lepas dari imaji semula tentang Negara Tirai Bambu itu.


Seorang cendikiawan Muslim Mahmud Zao Jian Hwa menyilakanku untuk menemui muslimah Indonesia yang sedang menempuh S3 nya di wilayah Uighur. Dari kartu namanya kukira dia memang asli China karena di ID cardnya bernama Affi Fha. Setelah aku bersemuka dengannya alngkah kagetnya, ternyata dia adalah Husnul Hafifah eks Pengawas Madrasahku dulu.

Orang yang pernah kukenal itulah membawaku ke beberapa tempat yang cukup mengasyikkan. Sebut saja Kashghar dengan masjid Id kah yang berarsitek eksotik, konon telah dibangun 1442 M itu. Lanzhou, xining, Xian, Urumqi, Turphan dan banyak tempat lainnya dengan keistimewaan yang belum tergambar di otakku sebelumnya.


Affi Fha yang dulu kusegani itu kini justru menjadi guideku di beberapa tempat yang menjadi spot penelitianku tentang masyarakat Muslim China. Yaa karena penelitianku tentang Studi "Oriental Moslem Culture", dengan wilayah kajian Turki, dan Uigur yang bahasanya hampir sama. Tapi aku lebih memilih China karena teman yang lain banyak memelih Turki. Namun Linxia-lah yang lebih mengesankan padaku. Bukan karena julukannya yang bertajuk Mekkah Kecil itu, tapi karena di situ aku dikenalkan dengan Ayeleen gadis lokal dengan wajah oriental berpadu dengan sentuhan Arab itu menjadikan penyandra sukmak. Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, karena Ayeleen juga punya rencana untuk mengadakan studi komparatif di pesantren pesantren di Indonesia. Moment itu tak kan kusia -siakan. Kan kuajak dia menikah denganku karena orang sana menganggap bangsa Indonesia adalah saudara yang bisa menjadikan mereka lebih diperhatikan oleh pemerintah China. Pasalnya sih tak hanya karena kunjungan Presiden Indonesia, tapi karena pemerintah setempat sudah banyak mengadakan MoU dengan NU dan Pesantren di Indonesia. Ayeleen, kan kupinang engkau dengan kain songket bertenun emas dari Padang. 

___

Bondowoso, Ultimo Februari 2023

Rabu, 22 Februari 2023

RANTING-RANTING RINDU DI KOTA MADIUN



 RANTING RANTING RINDU DI KOTA MADIUN

Pak Tyqnue Azbynt


Dua hari menyusuri Gunung Wilis, dan beberapa tempat wisata sejarah di kota pecel itu badanku terasa begitu penatnya. Terakhir di perusahaan Kereta Api INKA sebagai bonus wisata kami.  


Sejenak aku melapaskan diri dari komunitas kami demi merasakan sepiring nasi pecel yang berbeda dari tempat lain.  Munculnya lempeng dan sayur kembang turi adalah menjadi pembedanya di samping rempahnya yang terasa yummy bagi para penikmat rasa. Di warung pojok nan asri itu tampak sesosok wanita yang sepertinya tak asing di benakku, namun aku masih ragu. Diakah orang yang pernah kukunal di komunitas literasi Nasional itu.

Aku pura-pura saja menjatuhkan sendok demi mendapatkan atensi darinya. Tapi tetap saja dia tak ambil peduli padaku, dan aku justru menjadi ragu tentang jati dirinya. Lantunan instrumental Kenny G menjadi tak romantis di telinga karena aku terlalu terabawa imaji-imaji tentangnya. Hanya asa terakhirlah kucoba untuk manggung photo booth di warung itu sembari memohon ijin untuk membaca puisi karya penulis asal Kota Brem itu. " Ranting-ranting Rindu", kubacakan dengan penuh pendalaman. Tetiba dari pojok warung itu aku dikejutkan oleh abruknya seorang wanita. Sari Ayu sang penulis itu ternyata telah ambruk saat kubacakan puisinya di tempat dia ada bersamaku. Dari sanalah aku tahu kalau tulisan itu benar-benar dari kedalaman hatinya. Semalat Ulang tahun sahabatku Sari Ayu, yang hari ini merayakan ultah kan di Warung itu yang kebetulan aku turut berada di tempat yang sama. "21 Februari dalam Ranting-ranting Rindu di Kota Madiun"


__

Nurul Hidayah Islamic Secondary School of Bondowoso, 22 2 23

HIDUP DI DUA ALAM

 HIDUP DI DUA ALAM Pak Tyqnue Azbynt Motor kubejek abis hingga bajuku kiwir-kiwir digoda angin. Bayangin aja Upacara Hari Santri Nasional di...