Total Tayangan Halaman

Minggu, 10 Juli 2022

Juragan Kambing

 

Source pict. Instagram@candraadff

( Foto ilustrasi belaka )


JURAGAN KAMBING

Pak Tyqnue Azbynt


Setelah 8 tahun Dullah mondok di sebuah pesantren Banten akhirnya pulang jua karena usianya sudah hampir matang. Di kampungnya dia harus membersamai sang ibu pasca meninggalnya ayah yang pencari nafkah dan biaya mondoknya. 


Terjun ke masyarakat perlu banyak adaptasi. Hingar bingar di pondok yang sibuk dengan kajian kitab, kini berubah dengan riuh rendah banyak hal, mulai dari usaha kerja, kegiatan sosial dan lainnya yang perlu belajar dan belajar lagi. Demi mencari cuan yang banyak dia berusaha mendekati tengkulak kambing agar jualannya bisa dititipkan padanya. Perkembangannya yang siginfikan telah membuat kolega kerjanya percaya penuh pada Dullah. Di bulan haji ini saja dia dititipi 32 ekor kambing dan harus laku sebelum prosesi qurbanan berakhir. Alhamdulillah H-1 tinggallah 7 ekor. Sampai memasuki H+2 semestinya harus sudah laku. Akhirnya dia memberanikan diri untuk dihutangkan pada siapa yang mau. 


7 ekor itu akhirnya dibeli oleh Jeng Atun janda muda yang kaya raya. Wajah imut sang janda yang kelewat kaya itu, membuat sesiapa pun lelaki takut melamarnya, karena beda kelas sosial.  Status jandanya gegara sang suami meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang saat pulang dari Dubai. Bagi Dullah walaupun dia cantik dan kaya sama sekali tak memengaruhinya. Bussiness is a bussiness, makanya tak ada anggapan lain lain padanya. Beda Dullah beda Jeng Atun, dia telah meneropong kejujuran dan kebersahajaannya.  Apalagi usianya 3 lebih muda darinya. Pas hari Idul Qurban, jeng Atun datang kerumah Dullah dengan dibersamai Haji Ibrahim ayahnya. Mereka melamar si Dullah agar sudi memperistrikan janda imut itu. Dullah hanya diam menunggu restu ibunya. Karena sang ibu mengembalikan keputusan padanya, Dullah pun mau. Tanpa banyak ini itu, haji Ibrahim langsung menelpon pak RT dan Kiyai di desa itu, serta beberapa saksi agar hari itu juga diakad nikah secara Sirri dulu. Ada pun akad secara resmi akan dilangsungkan akhir bilang haji ini. Seusai akad Sirri itu, Dullah hanya misem malu, tapi Jeng Atung langsung saja nyosor mencium pipi suami brondongnya itu. Orang-orang di sekitarnya hanya meri pada juragan kambing itu , mendapat janda imut plus tajir.

___

Bondowoso, 10 Juli 2022

Sabtu, 09 Juli 2022

Beda Dulu Beda Kini



 Beda Dulu 

Beda Kini


PakTyqnue Azbynt


Nakalku dulu adalah bermain kanvas, kuguratkan garis, ruang, perspektif, irama, dan warna pada wajah kanvasku. Kubiarkan kuas dan palet knife mencumbui kanvas 40 x 60 demi merekam wajah wanita-wanita cantik, lalu kutulis nama di pojok kanvas itu. Dan aku bisa mengenalnya. Kini aku terdampar di samudera sastra. Demi mengenal seorang wanita kutorehkan diksi diksi, dan flash fiction. 


Sebulan kituliskan faksi faksi, kubegal nama dan setting ceritanya. Entah suka atau tidak, dan bahkan mungkin sebel, kupilih cuek saja. Seperti dulu koleksi wajah di kanvas-kanvasku, tapi kini hanya tumpukan kekata. Entah alurnya menarik atau tidak, yaa itulah caraku. Tinimbang tumbuh jerawat penyekap rindu, kutumpahkan saja pada imaji imaji nakalku. 


Suatu pagi istriku memelototi semua karyaku. Aku senang karena tambah viewer yang membacanya. Namun sungguh di luar dugaku, dia malah mencurigaiku banyak bermain wanita seperti pada tulisanku. Dan..tak ada kopi kental pagi itu. Dia cemburu ulat mulut penaku dalam roman love story yang kugarap di bloggku.

____

Pojok kantor, 9 7 22

Buatlah Jejak

 

Buatlah Jejak

Pak Tyqnue Azbynt


Seorang penulis betapapun jelek karyanya dia telah berusaha menumpahkan berjuta angan dan rasanya lewat pena. Walaupun tak elok di estetika, di bahasa, setidaknya dia sudah mencoba.


Melihat tulisanku yang masih morat-marit, bahasanya yang sering ambigu, serta alur yang berantakan. Wajar jika para bembaca tak ada ghirah untuk menyikapi mengomentarinya. Kulihat dari gambar sorot mata di grafik, tulisanku yang belum sebulan ini sudah hampir dilihat oleh 1000an orang namun tak banyak komentar yang di jejakkan.


Adalah suatu kebahagian bagi seorang penulis jika tulisannya ada jejak orang membaca. Kesudian pembaca memberi komentar, arahan dan lain-lain adalah harga yang patut disyukuri dan diucapkan terimah kasih, walaupun hanya dengan tanda titik.

___

Bhumi, 9 Juli 2022

R I O

 


R I O

Pak Tyqnue Azbynt


Tangis bahagia itu saat penasbihannya sebagai bintara polisi, betapa tidak keluarga orang tuanya yang pecah menjadikannya mutlak bak gudel yang ngekor pada induknya. Sang papa memilih hengkang dengan wanita pilihannya. Bukanlah alasan finansial bagi sang papa tak hirau padanya karena dia mapan dengan penghasilannya sebagai abdi negara. Sementara mamanya merangkak berjuang, hutang sana hutang sini, semua tanah garapan peninggalan embahnya dijual demi karier Rio yang ingin menjadi pemain bola nasional. 


Kemana pun Rio berlaga dalam pertandingan bahkan lintas pulau sang mama selalu menyertainya. Wajarlah kalau kemudian hutang menumpuk. Kekata orang bahwa hartanya ludes sejak perceraian sang ortu diacuhkan saja walau sejatinya sesak di dada. Sukses sebagai pebola nasional, muncullah tekat untuk menjadi penopang dan pelindung mamanya. Dari kaki yang lihai mengocek bola itu, selalu dalam restu mama, dan dalam promosinya. Tak malu-malu disampaikan pada tokoh-tokoh di pemerintahan kabupaten tentang kelebihan anaknya. Wajar kalau kemudian banyak tokok publik mulai Wabup, ketua DPRD hingga terdengar di petinggi kepolisian. Ini adalah entry point untuk merambah pengabdian di dunia kepolisian.


Malam tasyakuran Bribda Rio Aldona Hari, menjadi tumpahan unek-uneknya selama dia dibersamai oleh mamanya si pejuang tangguh yang melebihi Cat Women saja. Satu persatu disebutkan jasa-jasa orang yang telah mengantarkan ke karirnya ini. Satu persatu didatanginya dengan pelukan haru dan tetes air mata bahagia. Dan yang mengejutkan halayak saat dia berucap,  " terima kasih sedalam dalamnya untuk orang-orang yang care pada saya dan yang sangat khusus adalah pada  Adel bidadari calon ibu dari anak-anakku", selorohnya. Sontak saja para hadirin bertepuk riuh kaget atas shock ending statement nya.

___

Bondowoso, 9 Juli 2022

JALAN DAN MASJID

 

Sumber Foto : Tempo.com

JALAN DAN MASJID

_pak_tyqnue_azbynt_


Ramadhan tiba Ramadhan tiba

Celoteh anak kecil dalam senandung ria 

antara ibadah dan baju baru tergambar di otaknya

Jalanan ramai pengais rupiah sangu ibadah

riuh berbalut senyum mandi keringat

ada pundi bertambah di bulan berkah

Anakku lalu bertanya...

"masjid ramai orang ngaji 

apakah itu berarti memakmurkan masjid?

Tapi....menurutku lebih makmur yang di jalanan ayah....kan mereka banyak ngaji di tempat mencari duit".  

" Hus ", sergahku.

"Di masjid bisa i'tikaf anakku...sedang di jalan bisa apa saja termasuk copet dan tipu-tipu..."


"Trusssss...itu kebaikan apa bukan yaa?...kalau ngaji di jalan?", _kepo_ nya

" Baik kok...baik. ..sekarang ayah mau tanya, bolehkan berjualan dalam masjid?",

" Gak boleh dong yaah "

"Kenapa?"

"Karena tempat suci..."

" Ngaji perbuatan suci gak?"


Tetiba songkoknya dibanting sesungukan sembari berkata..

" Yang kacau ini otakku atau apanya ...?"


" Anakku duduklah di kursi jangan duduk di atas tungku...berjalanlah di jalan, jangan di selokan...karena itu tak semestinya dilalui"

___

Bondowoso,3 4 22

Kamis, 07 Juli 2022

JULIE KANAYA

 




JULIE KANAYA

Pak Tyqnue Azbynt


Malioboro dalam geliat malam masih saja tebarkan pesona budaya pesona seni dan kedamaian tuk penyintas plesir kota. Aku yang terbiasa kumpul di lesehan seni di mana para budak seni kongkow-kongkow. Penulis, cerpenis, pemusik, perupa berbaur dalam satu area sambil nyanyi nyanyi dengan musik pop kentrung yang lagi marak di kota itu.


Tampak olehku sesosok gadis belia yang sepertinya pernah kukenal, namun aku ragu.  Masa iya sih, guru MAN Bondowoso yang dulu pernah melatih ekskul olah vokal itu melancong malam malam di sini?. Ah itu orang lain ah, pikirku. Apalagi malam itu memang banyak wisman dan lokal lagi hadir di kota Jogjakarta dalam gelaran ASEAN's culture festival. Saat Ali Harsojo temanku asal Sumenep yang ikutan nimbrung di lesehan kami bertanya, " baknya dari delegasi Jawa Timur?".  " Yaa mas...kok tahu? ", Jawab gadis itu. Perbincangan mereka tambah akrab saja, maklum sama dari Jawa Timurnya. Sementara aku kenal dengan Ali ini saat belajar nulis padanya, tapi gegara aku resign dari tempat ngajarku, akhirnya memilih Jogja untuk menjadi seniman jalanan dalam seni rupa. Perbincangan Ali dengan sang gadis tak kuhiraukan, karena sedang asyik masyuk dalam nyanyian lagu-lagu Katon Bagaskara. Terkejutnya aku saat gadis yang bincang dengan Ali itu justru meminta dinamic microphone-ku dan meminta untuk menyanyikan lagu Malioboro.  " Saya persembahkan lagu ini untuk teman pelatih ekskul di MAN Bondowoso dulu, namun gegara jadi perupa Jogja dia mengacuhkanku....". 


Aku masih ragu, karena tak ada pelatih ekskul yang bernama Kanaya. Demi menuntaskan penasaranku, selepas dia bernyanyi kuganti microphonenya dan kuajak dia bernyanyi Shalawat Jibril. Benar saja dia ternyata si Julia, karena masih kuingat lesung pipinya kala dia melatih anak-anak di Paseban Ar Raudhah MAN Bondowoso dulu. " Yeee bapak sombong amat sih....", sambil mencubit lengan kiriku. Aku senyum aja, kapan lagi dicubit bidadari cantik yang tersesat ke bumi. 

____

Bondowoso, 7 Juli 2022

Rabu, 06 Juli 2022

MADURESSE GIRL

 


MADURESSE GIRL

Pak Tyqnue Azbynt


Rehat di Gazebo depan rumahmu itu menyisakan siksa rindu di hati kami. Aku bersama Mr. Jerry (seorang peneliti sosial Australia ) yang sedang melakukan kajian sosiologi di desanya Wardah  gadis molek Potre Madura ini sungguh dibuat betah oleh masyarakatnya yang serba apa adanya tanpa tedeng aling-aling, bicara lugas dan bersahaja. Sungguh perilaku sosial yang jujur.  


Tiap sore kutampak Wardah selalu duduk santai sembari membaca buku novel Mariposa dengan Book cover warna hitam itu. Dia selalu tersenyum manis diantara pipi embem yang empuk macam.bakpao itu. Mr. Jerry rupanya kesemsem  pada kemolekan Si Wardah, sehingga harus mengajukan klaim perpanjangan waktu kajian. Aku sebagai pendampingnya merasa aneh dan cemburu dibuatnya. Aku haqqul yakin si bule ini akan merebut hati Wardah dariku. Benar saja Sabtu sore dia telah membawa bouquet bunga yang penuh mawar agar aku samapaikan padanya. Dia tak berani memberinya langsung karena Abah Warda anti orang bule, dan dibilangnya sebagai orang kafir.


Urusan tampan aku kalah, urusan smart aku kalah, urusan cuan aku kalah, dan urusan jabatan aku kalah., tapi urusan cinta aku berani adu bar bar dengannya. Oh yaa urusan beling aku juga bisa, buktinya bouquet itu aku ganti nama pengirimnya. Kata kata. " With love ...by Jerry ",  aku ganti " Salam kerrong ... Tyqnue..".

Rupanya Wardah tak tahu Ikhwal itu, hingga dia menganggap Mr. Jerry tak jatuh cinta padanya, padahal dia menjauh gegara aku sampaikan pada Abah Wardah bahwa si bule itu hendah menjadikan Wardah sebagai orang kafir. Yaaah , " sorry Mr. Jerry ...I won ..., .don't pick her of me...”. 


___

Bondowoso, 6 7 22

GEMULAI DALAM WIRAGA

 

Sumber Foto. Wildanz DCS Cinematography

GEMULAI DALAM WIRAGA

Pak Tyqnue Azbynt


Bapak dan ibu guru taklah akan asing dengan FL2SN yang merupakan ajang adu apik dalam tata estetika. Keberhasilan dalam berolah seni merupakan amanat estetis yang dibebankan pada guru seni budaya atau guru ekskul seni. Keberhasilan nya akan menjadi nilai tawar pada masyarakat luas di bidang keindahan. 


Vindi guru cantik yang satu ini merupakan budak seni khususnya dalam koreografi. baginya melatih tari adalah kenikmatan tersendiri, bukan karena urusan ajang FL2SN.  Sayangnya kreasi-kreasinya sering dipandang hanya sebatas hiburan belaka. Padahal bagaimana dia memadu-padankan antara wiraga, wirasa, dan wirama dalam tampilan yang totalitas apik itu begitu sulitnya. Hadirnya wabah Tiktok di belahan bumi ini, menjadikan seni tari murni menjadi terabaikan dan bahkan dianggap terlalu terhukum oleh pakem yang sudah begitu adanya. Vindi mencoba menentang arus wabah Tiktok dengan tarian-tarian etnik maupun tarian kreasi baru. Berhasilkah dia mendobrak fenomena itu?. Apalagi orang nomer satu di kabupatennya adalah seorang kiyai. Usahanya nyaris seperti mustahil besar. 


Suatu sore dia sedang melatih tari di pelataran sekolahnya dengan tarian Petik Kopi yang menggambarkan eksotika budaya BONDOWOSO yang berjuluk Republik Kopi itu. Tak ada satu pun guru atau pihak sekolah yang hirau padanya. Tapi takdir estetika telah memberikan hal lain. Saat dia menata gerak di pelataran sekolahnya bersamaan dengan 3 orang wisman dari Russia yang kebetulan lewat. mereka begitu tertarik dan antusias memperhatikannya. Ini adalah entry point bagi Vindi untuk mengenalkan pada orang asing itu walaupun hanya 3 orang itu. Ternyata mereka justru duta seni yang sedang mengamati berbagai hal yang berbau etnik. Dan....alangkah kagetnya ketika guide yang membersamai wisman itu mengajak Vindi untuk ikutan ke Saint Petersburg untuk mengikuti event Pekan Budaya Asia di pelataran Saint Petersburg Museum yang terbesar di dunia itu. Menindak lanjuti penawaran itu ternyata pihak Disparpora yang dihubungi oleh Kepala sekolah Vindi, justru menyetujui dan siap dengan segala akomodasinya. Sungguh gemulai wiraganya telah mengantar Vindi dan murid-muridnya menuju Russia di akhir bulan Juli ini.

___'

Bondowoso, 6 Juli 2022

Capung Pantau

 

Photo source Wildanz DCS Cinematography

CAPUNG PANTAU

Pak Tyqnue Azbynt


Resign dari tugasnya sebagai guru bukan sebuah pilihan yang damai di hatinya. Wildaz dengan berat hati keluar dari lembaganya gegara gaji yang sudah tak bisa dijadikan kebanggaan, bahkan tak lah cukup untuk beli pakan ayam untuk sebulan. Guru honorer mulia di tampilan sengsara di penghasilan, apalagi dia tak bisa tercover di P3K yang sekarang lagi marak itu. Akhirnya demi mencari cuan buat keluarganya dia memilih menjadi cinematographer dan photographer yang mendapat cuan dari Google dengan memonetasi postingan-nya yang direlease oleh Nasional Geographic. Bekerja freelance lebih membahagiakan baginya. 


Waktu sudah melewati tengah hari, mentari mulai condong. Seperti biasa dia mencari object spot yang punya nilai jual. Kawah Wurung menjadi pilihannya, kontur yang hijau ranau menjadi bidikannya, jumbai bunga lalang yang bergoyang digoda angin atau kabut yang sesekali berhelai helai mengajak kita ke dunia lain. Demi mendapat up angle, dia menaikkan drone-nya menyusuri luas Savana yang dibanggakan masyarakat Bondowoso itu. Di lekuk kawah belahan timur tampak beberapa orang yang sedang melukis di kanvas. Itu pun tak luput dari bidikan kamera capung pantaunya. Dilalah yang melukis justru Andhara Zelin gadis yang ia incar beberapa bulan terakhir ini. 


Drone pun ditarik kepangkalan. Diambilnya kertas yang dibungkus plastik kecil dan diikatkan pada sebelah kaki drone-nya. Di kertas itu dia tuliskan " Adhara...I love you ".  Sang pilot menerbangkan kembali dan dilandingkan dekat Adhara yang sedang melukis itu. Malangnya si Adhara justru menyandra capung pantau itu, yaa terpaksa sang pilot mendatanginya. " Owalaaah mas Wildanz tho....yang kirim, . .gak usah gitu mas, lagian aku juga suka kok sama masnya..., I agree with you", katanya sembari memberikan drone-nya.

___

Bondowoso, 6 Juli 2022.

TAK ADA YANG MENGELUH TAK ADA YANG MELENGUH

 

Photo source. DCS Cinematography

TAK ADA YANG MENGELUH

TAK ADA YANG MELENGUH


Pak Tyqnue Azbynt


Sesekali Pak Kasto melepas capilnya, dia jadikan kipas angin yang bisa mencumbu tubuh rentanya yang dijajah keriangat itu. Pandangannya jauh menerawang pada senyum anak-anaknya di sekolah dan yang di pesantren, pada senyum si merah sapi blasteran Limousine hasil dari paruhan yang ia gaduh dari Pak Razak tetangganya. Di bawah pohon asam dia rehat sejenak sebelum melanjutkan kayuhan onthelnya menuju rumah yang sudah ditunggu Bu Kasto sang bidadari titipan mertuanya.


Alhamdulillah semua anaknya baik yang sekolah maupun yang di pesantren bulan Juli ini samua mendapat peringkat 3 besar, sebuah prestasi yang dibuktikan anak-anaknya bahwa mereka menghargai setiap tetes peluh orang tuanya. Bagi Pak dan Bu Kasto prestasi itu tak sebegitu memengaruhi benaknya, yang dia bahagia justru jika anak-anaknya bisa tersenyum seperti anak-anak lain yang dalam keadaan tidak papa sepertinya. 


Menjelang Idul Adha, anak-anaknya yang di pesantren ada liburan dan boleh pulang selama 2 pekan karena bersamaan dengan libur akhir tahun akademik. Pak Kasto senang atas kehadirannya tapi juga tak senang karena khawatir minta biaya pendidikan atas kepulangannya. " Pak saya pulang ini gak minta biaya pondok kok, saya justru ingin memberitahu jenengan bahwa selama 6 tahun ini saya urusan biaya sudah ditanggung pesantren karena saya menjadi TU madrasah, karenanya tiap kiriman dari jenengan saya tabung yang kini sudah 12 jutaan ... Alhamdulillah ", papar si sulung anaknya. 

Tanpa disuruh air mata lelaki setengah baya itu meluncur dengan derasnya. 

" Wiiih si mas jadi TU ? jadi mundoknya di kantor  madrasah yaa?..we weee...kalo begitu mas sudah doktor dong alias mundok di kantor ", kelakar Fatimah adiknya. 

Semakin bahagia lagi sang bapak karena uang tabungannya hendak dibelikan sapi untuk dikurbankan. Dan si merah tak perlu dijual untuk biayanya, dia tak akan melenguh dan keluarganya tak akan mengeluh.

___

Bondowoso, 6 Juli 2022

( 6 Dulhijjah 1443 )

SEVARA

 SEVARA  Pak Tyqnue Azbynt  Seorang pelajar dari Tashkent Presidential School sedang asyik membaca buku di sebuah homestay Ubud Gianyar Bali...