Total Tayangan Halaman

Jumat, 28 Februari 2025

ANYA DANANTARA

 ANYA DANANTARA 

Pak Tyqnue Azbynt 



Gadis bengal berparas ayu yang dibalut jilbab itu terasa kontras dengan mulutnya yang bak knalpot bronk saja. Apa yang dianggap tak selaras dengan otaknya langsung saja diumpatnya tak peduli ia benar ataupun salah. Aya Fatma tersemat nama pada dirinya, namun di kampus justru punya julukan keren ANYA DANANTARA lantaran dia viral saat menjadi lead orator demo menjalang release  Mega dana republik ini yang digagas Pak Presiden.


Mulut Anya selalu lepas kontrol siapa pun diumpatnya tak peduli seorang RI 1. Bagi genk dan teman-temannya hal itu sangat diperlukan karena gaya agitatifnya membakar semangat massa pendemo. Namun sangat disayangkan tanggapan di spot demo dan di masyarakat berbeda tanggapan. Masyarakat melalui medsos menghujatnya habis-habisan. Tagar Indonesia gelap yang dijargonkan justru menjadi gelap padanya. Anya menjadi migrain menanggapi hujatan warganet. 


Sematan nama yang menguntungkan, sebelum pihak kepolisian menangkapnya, ia lebih dulu kabur ke luar negri melanjutkan studinya yang lolos scholarship di salah satu universitas di Taiwan. Pihak imigrasi Kemenlu tak mengintrogasinya saat ia take off dari Bandara Juanda menuju  Bandara Taoyuan.  Niqob ia sematkan sebagai cadar agar tak dikenal warga saat pemberangkatan. Hanya saat diwawancarai singkat saja ia membuka niqobnya, selepas itu dikenakan kembali. Sementara publik +62 masih saja ramai dengan hujatannya di internet sedangkan Anya telah pergi jauh "kabur aja dulu" ke negeri seberang. Anya Danantara di hujat di bumi Pertiwi, sedangkan Aya Fatma pergi menjauh, mencerna kembali sikap kelakuannya yang ternyata banyak salahnya. Kini ia menyadari ternyata orang yang menginjak orang lain cukup mengatakan maaf, sedangkan yang terinjak apalagi macam sepatu  high hill sakitnya tak ketulungan, apalagi  karena mulut serapah sakitnya hingga ke ulu hati 

__

Bondowoso, ultimo Februari 2025

Senin, 27 Januari 2025

DI ATAS ASAP BELERANG

 DI ATAS ASAP BELERANG 

Pak Tyqnue Azbynt 



Gigil pagi menyiksa raga kami saat deru Jeep Wrangler menggendong penumpang menuju Kawah Wurung, sebuah destinasi wisata di ketinggian kota kecil Bondowoso. Maklum saja suhunya begitu dingin karena berada pada 1500 MDPL apalagi di bulan Desember yang biasa bermain hujan. 


Malam-malam aku tiba disambut beberapa rekan penulis yang keesokan harinya meng-guide kami menuju Kawah Wurung dan berlanjut hingga ke Kawah Ijen justru menjadi penyihir sukma. Yang lebih memesonakanku bukan destinasi belaka tapi Miss Empang yang selalu menggelayut manja padaku. Dada berdegup kian kencang saat dia minta gendong menuju puncak. Beban berat tak terasa saat dia berbisik, "mas aku nyaman bersamamu". Sontak saja energiku kian bertambah kala dia membisikkan kekata mesra itu.


Tiba di puncak tampaklah kawah yang mendanau biru kehijauan penuh pesona,  walaupun kami tak bisa menikmati nyala api birunya karena siang hari. Pesonanya sungguh menjeratkan pada nuansa yang lain apalagi ditemani Miss. Empang yang manja. Asap sulphur mulai menyengat hidung, dan mata sedikit terasa perih. Pandanganku tertuju pada para pencari belerang yang memikul batu belerang kekuningan tampak dari kejauhan. Sialnya si Empang tak sadarkan diri gegara sesak oleh asap sulphur. Kami semua panik, apalagi aku. Mesranya berubah panik, hidungnya diberi inheler tidaklah pengaruh apa-apa. "Mungkin dengan napas buatan bisa mas Alee!" Tanpa babibu aku langsung ACC, namun baru kutempelkan bibirku, dia mendelik dan berucap, "Ye modus yaa?". Hah sial, pikirku, aku kena prank, tapi kenapa tak dibiarkan yaa? Bukankah dia tahu bahwa aku mencintainya? "Santai mas, momentnya jangn di sini" katanya sembari menyeringai bangga.

____

Bondowoso, 27 01 25

Minggu, 12 Januari 2025

NGEDAI BARENG POK LEHA

 NGEDAI BARENG POK LEHA

Pak Tyqnue Azbynt 




Laju kuda besi GSX-ku mulai oleng sejak memasuki Pal 9 Bondowoso. Tangan mulai kaku dan separuh tubuhku seperti mati rasa, oh aku kena hipotermia, begitu benakku. Mungkin gegara hujan yang sudah mulai menjajah tubuh ini sejak dari kota Proling yang lumayan deras dan tak jeda sekejap pun. Menunggangi GSX S touring memang terasa asik, handing yang enak, larinya yang stabil membuat keasyikan tersendiri. Namun raga yang terjajah hujan menjadikan aku tak bisa mengendalikan dengan nyaman. Dan benar saja di pertigaan menuju desa Locare aku terpelanting, motor masuk parit sedang aku tak bisa berdiri. Ngilu, nyeri dan pikiranenjadi kacau. 


Seorang wanita berpayung biru tosca menghampiri sembari membangunkanku, berat  dan kaku. Payung disingkirkan dan aku dipapahnya menuju gardu kecil pangkalan ojek yang saat itu tak ada sepotong manusia pun di sana. Rupanya wanita itu mengerti kalau aku mengalami hipotermia, ia segera berlari ke sebuah rumah dan membawaku handuk serta pakaian ganti. But how to wear it?. "Duh gimana dong masa mau ganti di sini?" Dia menarikku ke sebuah kedai di pinggir jalan itu yang sedang ada orang menyesap kopi bibir cangkir. Aku disorong ke bilik kecil di kedai itu tuk ganti pakaian. Jamper warna biru, kaos oblong, hot pant cewek dan celana cargo coklat susu. "Pakai saja gak usah ribet" sergahnya dari ruang depan kedai itu. Ya aku memakai pakaian cewek ne, hemm harum aroma fifth Evenue membuatku terasa nyaman, maklumlah pakaian cewek selalu perfect. Sontak saja nyeri dan kaku di tubuh seperti mulai tak terasa. Dan, eng ing eng, aku keluar ke ruang depan. Dia cekikikan melihatku. 


"Heh aneh?" Tanyaku asal saja. "Iya kakang jadi girly kek tante-tante komplek". Tapi tubuhku masih shaking hipo, walau sudah lumayan, namun terasa kaku jua. "Pok Leha, dia tuh masih kedinginan, kasih aja teh manis panas" kata lelaki itu. Teh panas masih belum juga ngaruh. " Keknya dia hipo berat, peluk saja agar bisa pulih" kata lelaki itu sambil menghisap rokonya dalam-dalam. "Aku ini guru olah raga, lakukan saja, " timpalnya. Dan wanita itu melakukannya walau semula malu-malu tapi dia melakukannya dengan perlahan. Sontak aliran hangat dara di tubuhku seperti menyeruak ke seluruh tubuh ini. Kaku mulai hilang perlahan. Anehnya tubuh Pok Leha juga mulai menghangat bahkan terasa panas bak demam saja. Rupanya ada hal lain yang menjajah rasa kami. "Makasih neng, aku sudah pulih," seruku sambil mencuri kesempatan mencium keningnya pura-pura terima kasih sepontan. Aku minta maaf dan ucapkan khilaf, padahal sengaja. "Oh ga papa kang, toh kakang menikmatinya", celetuknya sambil memungkasinya dengan senyum manis plus kerlingan manjanya. Selepas itu aku berbetah-betah duduk di kedai itu menunggu hujan reda. "Gimana dengan baju ini, kalau aku pulang?", "pakai saja biar kakang merasakan hangat tubuhku dari bajuku itu". 

---

Bondowoso, 12 1 25

Minggu, 01 Desember 2024

NEGERI SAKIT

 NEGERI SAKIT 

Pak Tyqnue Azbynt 


"Negeri ini sedang tidak baik-baik saja, negeri ini sakit," kata seorang suhu politik. Semula aku anggap itu jargon politik demi meraup atensi massa. Narasinya mematikan juang pemimpin sebelumnya yang bergerak dengan sahaja tanpa saling melindungi maling-maling negara. Kekata dia kalau negeri ini sedang sakit. Aku anggap tanpa makna. 



Sosok Gus-gus muda mencoba memancangkan layar tuk mengarungi samudera politik, walaupun terlalu belia dan bahkan teramat belia. Bertarung dengan dikepung para suhu mencoba peruntungan demi membenahi bumi kelahirannya. Sebut saja mereka para semut yang hendak merobohkan sekawanan gajah. Terlalu sulit tapi bukan mustahil. 


Pesantren-pesantren gurem yang ada di negeri ini seperti dicibirkan massa. Dianggap mengada ada dan haus kekuasaan. Semula aku pun beranggapan begitu. Tetapi setelah saya bertanya langsung pada salah seorang Gus yang notabene menjadi leader menghadapi massa rivalnya. "Mohon maaf pak, kekata suhu politik itu benar adanya, tapi justru mereka menjadi lingkaran setan di dalamnya. Para klebun sebagai pimpinan anak negeri bersembunyi di ketiak para politisi, dan politisinya meminta dukungan tuk mendapatkan atensi massa. Kecurangan-kecurangan itu tanpa disadari oleh para klebun itu. Finalnya rakyat bawah tak termakmurkan.


Ketika Gus Gus muda itu mendapat atensi massa,   dan imbasnya sofa empuk mereka terancam keadaannya. Lalu, mencarilah sosok saingan yang dianggap trahnya lebih besar. Cilakanya rakyat tak tahu trik permainan mereka. 


Demi meraup sejuta atensi, simbul dan institusi besar keagamaan dijadikan budak politik tapi dibingkai dengan perjuangan kesucian, padahal institusi ini dijadikan kuda tunggang belaka. Situasi ini serupa dengan penjajah Belanda yang mendatangkan orang-orang Yaman tuk mencekoki otak pribumi dengan dali manusia suci keturunan nabi. Lalu, perjuangan rakyat menjadi bias antara berjuang atau takut kualat.


"Ini bukan masalah singgasana raja, ini adalah jihad politik tuk membela rakyat, namun apalah daya otak rakyat sudah tercuci oleh doktrin manis mereka. Dan rakyat telah menggadaikan kedaulatannya kepada pendatang yang nantinya akan berimplikasi pada politik balas Budi. Kejahatan-kejahatan demokrasi akan kian berkarat di negeri ini". 


Belum duduk di singgasana saja, rakyat-rakyat kecil tampak melampiaskan kegirangan sesaat yang implikasinya belum mereka sadari. Sebuah pesta pasti akan berakhir. Sebuah hidangan yang terlalu berlebihan rasa dan sajiannya justru akan mematikan kenikmatan rasanya. Kami dianggap sebagai ulat tak mengapa, sebab ulat di dalam buah halal dikonsumsi sesiapa, justru ulat yang dari luar haram dikonsumsinya walau dikemudian hari tampil memesona menjadi kupu-kupu.


Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Penjajahan demokrasi kian menjadi-jadi. Cukong-cukong kekuasaan, bebas sebebas-bebasnya melintas di depan hidung rakyat kecil korbannya. Ini bukan soal kekuasaan, tapi masalah kedaulatan rakyat yang dijajah dengan cara menina-bobokkan dengan belaian pembawa mimpi. 

____

Bondowoso, 1 12 2024

Jumat, 25 Oktober 2024

SERIGALA BERWAJAH BIDADARI

 SERIGALA BERWAJAH BIDADARI 

Pak Tyqnue Azbynt 



Terjabak dalam pusaran rindu adalah labirin yang akan merusak nalar kita.  Walau terasa asyik dan menantang tapi justru merusak otak dan perasaan kita. Aku adalah korban di pusaran rindu itu, seorang wanita muda selalu menyintaskan senyum manisnya. Kekatanya biasa seakan begitu polosnya hingga kupercaya ia adalah bidadari yang sejinak merpati. 


Demi menuntaskan tuntutan rindu, kucoba memanjakannya. Kuacuhkan saja protes otakku yang mengatakan aku bukan prioritasnya. Mungkin karena senyum itu sudah menjadikanku setengah gila. Sering kumanjakan dia, dalam jalan yang tak dikenal orang. Sekali, dua kali bahkan berkali-kali kulihat sikapnya masih datar. Hatiku mulai ragu dan menyetujui kekata otak ini. Dia tak pantas diperhatikan, namun hatiku terlalu terobsesi olehnya. Banyak teman medsosnya yang mulai menerorku dengan hal-hal yang tak penting. Tiap kulihat akunnya tengah malam yang masih online, begitu pun mereka yng sering menerorku, dan anehnya off sering berbarengan. 

 

Suatu sore kulihat seorang lelaki yang berkunjung ke rumah bapaknya, dia berkata kalau teman waktu sekolah, padahal aku tahu mereka sekolah di tempat yang beda. Dan semua keluarga percaya akan hal itu. Otak dan hatiku kali ini sudah mulai sepaham, bahwa aku dan para lelaki pengagumnya hanya dijadikan tumbal senyum beracunnya. Tuturnya yang biasa lancar berkunjung ke inboxku kini telah tak ada lagi. 


Healing di dunia menulis dan melukis sedikit membantu menenangkan hatiku, walau masih terasa nyeri juga di ulu hati ini melihat kenyataan itu. Namaku yang sempat rusak karenanya, kini menyadarkan kembali akan kehaluanku tentangnya. Jamah tangannya, sentuhan pipinya, perlahan hilang dari file memoriku. Sampai aku menulis senandika ini, aku tak tahu bagaimana cara melepaskan dari sengkilit senyumnya yang lama menuba hatiku. Mungkin kenangan merah maroon dan cendera mata abu-abu darinya dulu yang telah memasung perasaanku.

____

Bondowoso, 25 10 24

Selasa, 22 Oktober 2024

Sepekan bersama AERA KINAN

 Sepekan bersama AERA KINAN

Pak Tyqnue Azbynt 



Hujan yang begitu deras itu benar-benar menyiksa ragaku, belum lagi perasaan yang kurang tenang telah benar-benar membuatku tak nyaman. Banyak orang yang merasa nyaman dan fresh di alam terbuka seperti saat aku di Villa Sekoci Mega Mendung Bogor. Tapi tidak denganku, cuacanya yang terlalu dingin apalagi kehujanan saat melakukan jelajah alam. Kegiatanku yang sedang melakukan penelitian terhadap prilaku sosial di sana menjadi siksa tersendiri. Kalau tak karena tugas dari kampus mungkin aku takkan pernah menyanggupinya.


22 Oktober tubuhku ambruk di dekat batu besar yang dikelilingi banyak pohon besar. Mulutku kelu, tubuh gemetar terserang hipotermia. Kupangil kawanku tak bisa didwngarnya mungkin karena lari dari hujan. Beruntunglah ada rombongan guru dari SDN Jatiranggon 1 Yang sedang melintas. Seorang guru yang usianya 15 tahun di bawahku dengan telaten membantuku. Aera Kinan begitu saat ia kenalkan namanya. Mungkin karena ia seorang guru dan mengerti trik dan cara mengatasi hipotermia, ia segera meneduhkanku, membuka jaket yang basah, lalu ia permisi untuk memelukku. Dengan bersentuhan kulitnya yang hangat aku mulai merasa kian lega. Napas mulai tak tersengal lagi. Anehnya teman-teman Bu Aera malah memilih diam dan berkata kalau yang ahli kepramukaan hanya Bu Aera yang biasa menangani hal semacam itu.


Hari ke 2 aku kembali melakukan wawancara dan menyebar angket di berbagai komunitas termasuk juga guru guru yang sedang mengikut workshop di tempat itu. Sampling dari informan itu kukumpulkan, dianalisa dan diformulasikan dalam rubrik rubrik penilaian. Tapi bukan itu yang perlu aku ceritakan lebih jauh, melainkan sosok guru SD itu yang serius menanganiku saat butuh pertolongan. Singkat cerita aku saling berbagi kontak nope, yang muaranya aku terpaksa kerumahnya untuk sekedar basa basi mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Namun justru kami saling merasa nyaman, walau usia berinterval 15 tahunan. Karena dia sosok singgel parent, menjadikan aku sedikit bebas dan tidaklah begitu canggung. Hari-hari berikutnya aku sering berkunjung ke rumahnya demi sekedar ngobrol yang tak penting tapi terasa mengasyikkan. Mungkin karena kecurigaan masyarakat sekitar kami sampai di datangi RT di komplek rumahnya. Bagiku kalau dianggap.macam-macam oleh masyarakat mending aku pastikan absah secara hukum, paling tidak hukum agama. Dan benar saja hanya waktu sepekan aku memilih menikahinya walaupun dengan nikah siri dulu Temu cinta pun berlangsung aku merasa nyaman saat dia bersandar ke bahu kiriku sembari berucap, " aku sebenarnya sudah menutup pintu hati untuk semua lelaki sejak kepergian mantanku yang dulu karena kecelakaan yang merenggut nyawanya . Entah kenapa saat aku mengatasi saat hipotermia itu dadaku berdetak kencang. Padahal aku reflek saja agar tak terjadi hal yang kritis", begitu jelasnya. Orang yang bisa dibilang biasa itu ternyata punya hati mulia. Terbukti saat menerimaku apa adanya. Karena kami sama-sama PNS terpaksalah aku harus berusaha untuk mutasi pindah propinsi. Tugas kuliah S2 ku harus kutuntaskan dulu agar nikahku dengnnya tak hanya sekedar siri saja, walaupun soal rasa tak ada beda. Aera Kinan dia bidadari tak bersayap yang menjadi penyamatku dan penambat hatiku.

____

Bondowoso, 22 10 2024

Rabu, 02 Oktober 2024

Love and Trust

 LOVE and TRUST 



Sayang...

Aku menyadari salah mencintaimu. Memilih rindu padamu adalah penjara perasaanku. Walau aku berusaha menenangkan diri dan berusaha bersikap wajar namun gelora di dadaku terlalu sulit tuk kukendalikan. Aku percaya bahwa tak sedikit pun engkau menaruh rasa padaku. Aku dan kamu sudah punya dunia yang berbeda. 

Kalau boleh aku memaksa kabulkan saja sedikit pinta cintaku yang aneh dan menyiksa kenyamananmu. 

Kemarin-kemarinnya aku percaya bahwa kita akan bisa saling jaga dan saling percaya karena hanya itu yang bisa aku lakukan. Lebih? Tidak!!!!

Kadang otakku berkata, jika kau tak menghargai juangnya seseorang, niscaya suatu saat kau akan tercampak dari siapapun. Perasaan itu kan berubah mengikuti masanya. 

Jika engkau merasa terganggu oleh kebodohan sikapku, aku rela harus mundur, dan jalankan kisahmu sendiri, aku akan berusaha jauh dari hatimu.

...

Dengan berat hati aku harus pergi darimu, karena sudah berulang kali aku kau cuekin tanpa kata.

Aku

Bye.

Jumat, 13 September 2024

CATATAN LELAKI HIDUNG BELANG

 CATATAN LELAKI HIDUNG BELANG 

Pak Tyqnue Azbynt 



Asap rokoknya menjajah hidungku dari beberapa lelaki berseragam dinas harian. Rupanya mereka para perangkat desa yang sedang ngopi di cafe tempatku mencumbu kudapan Gopi yang masih hangat menggoda.Gelak tawa renyahnya meramaikan cafe yang lumayan luas itu. Saat kopi zanjabil kureguk, telingaku terusik dari celoteh mereka yang  ngrumpi pasal wanita selingkuhannya. Wah ternyata pegawai perangkat desa itu sama juga hidung belangnya macam aku, begitu benakku. 


Jarak yang tak sebegitu jauh denganku menjadikan telingaku begitu peka menangkap setiap alurnya ceritanya. Sampai pada titik penasaranku saat salah seorang dari mereka bilang bahwa selingkuhannya seorang guru taman kanak-kanak yang sepertinya tak asing bagiku. Ceritanya yang bar-bar tanpa Tedeng aling-aling menjadi titik telisikku lebih mudah. "Bro, cewekku ini pernah jadi idamanku dulu, saat aku masih nyantri di sebuah pesantren. Cilakanya dia malah menikah dengan orang lain," kata lelaki berbadan tinggi besar itu.  "Wah terbakar hatimu cuy," salah seorang menimpalinya. 

"Yah benar-benar nyesek di dada, tapi dilalah sekarang malah jadi selingkuhanku, walaupun sudah punya laki, tapi lakinya terlalu bersahaja".

"Trus"

"Yaaah kita sama-sama lelaki liar bro, yaaa tahu sendiri lah bagaimana cara aku membawanya nyaman, dan pasrah di pangkuanku".


Aku pura-pura menjatuhkan hp di bawah mejanya demi melihat sosok cewek yang ditunjukkan perangkat desa itu di HPnya. Dilalah dugaanku benar bahwa wanita itu aku tahu betul, dan aku kenal dengannya. Dari sanalah aku tahu bahwa lelaki itu hanya ingin melampiaskan kekesalan cintanya pada wanita yang pernah diidamkan dulu. Hatiku berkata, sebelang-belangnya hidungku tak lah akan aku mengembarakan cinta sampai terlalu jauh,  apalagi menyisakan noktah cinta hitam yang menjadi catatan kelabu darinya. By the way begitulah jalannya lelaki yang merasa tak dihargai, sementara wanita menganggap mulut lelaki itu pasti dan nyata janjinya. Mulut manisnya sering menyiksa wanita dalam darah cinta. 


__

Bondowoso, 13 09 2024

Rabu, 21 Agustus 2024

Abah Kiyai

 ABAH KIYAI

Pak Tyqnue Azbynt 



Kalau sudah takdirnya apa yang hendak dikata, begitulah kira-kira menyikapi suatu nasib yang terjadi pada kita. Di sebuah lembaga pesantren, Tuhan telah mendaparkan aku dan beberapa pemuda tuk mengabdikan diri sebagai pendidik anak bangsa. Pondok Pesantren Bustanul Ulum  menyemat di lembaga itu, menaungi RA, MTs, hingga MA. Diantara para pengajar di madrasah itu akulah yang paling tua, walaupun aku masih selalu merasa muda, he he. 

Suatu hari mas Fadaillah dan mas Edy Prayitno bertandang ke rumah kami tuk mengajakku mengabdikan diri di lembaga itu. Singkat cerita selepas ACC aku menyambangi lembaga itu, yang berada agak masuk di pedalaman. Desa Locare kecamatan Curahdami Bondowoso Jawa Timur. Konon Embah Kiyai Hasan Bashri sang pendiri telah mengawinkan tanah dari berbagai pesantren besar di Jawa Timur dan ditaburkan di beberapa area perkarangan yang kelak menjadi pesantren itu. Menurut menantu beliau yang pegawai Kemenag dan menjadi guru di lingkungan MI yang kemudian dihibahkan ke negara menjadi MIN Locare. MIN Locare satu-satunya yang menjadi lembaga negeri di area pesantren itu, sementara RA, MTs dan MA tetap dikelola keluarganya. Kiyai Achmad Fajri, BA sang putra yang meneruskan perjuangan Mbah Kiyai.


Tak seberapa lama aku bisa berhabituasi di tempat itu. Masyarakat yang apa adanya, bersahabat, apalagi di lingkungan keluarga dalem yang menganggap kami sebagai keluarga. Abah Kiyai begitu sabarnya mengadopsi kami yang "biaya'an" sebagai guru yang harus setiap hari membersamai anak-anak baru gede. Polos, lucu, dan manja karena sudah beranjak ke usia teenager. Aku, mas Aly Sanusi, mas Soeboer, mas Wiwit Widiantoro merupakan orang yang pure bukan alumni di lembaga itu, tapi kami benar-benar nyaman berada di dalamnya. 

Badai mutasi sedikit mengganggu perkembangan di lembaga itu, saat sebagian besar guru di situ diangkat sebagai PNS pada tahun 2005, begitu pun aku harus meninggalkan tempat itu walau begitu berat rasanya. 

Saat jam rehat pagi kami semua menuju ruang makan dengan menu sangat istimewa setiap harinya. Bu Nyai yang sangat piawai meramu sajian menjadi kelebihan tersendiri. Di ruang makan kami sering bercanda yang kadang-kadang lepas kontrol padahal ruangan itu sangat dekat dengan ruangan Abah kiyai. Mungkin karena ingin dapat perhatian santri putri di dapur yang sedang membantu Ibu Nyai. Maklumlah semua guru di situ masih bujang bahkan masih terlalu belia sedang murid-murid dan santri-santrinya cantik-cantik. Dan benar saja banyak guru yang kemudian mempersunting santri di sana untuk diperistri. Abah Kiyai sungguh kami begitu rindu engkau. Kepulanganmu di hadapan Sang Ilah telah memabukan rindu kami yang tak pernah berujung. Semoga juang dan ibadahmu menjadi penggapi ridha-Nya, dan kami bisa meneladani semua kebaikanmu, Aamien.

___

Bondowoso, 21 Agustus 2024

Selasa, 13 Agustus 2024

BLACK ROSE

 BLACK ROSE 

Pak Tyqnue Azbynt 


Konon katanya telah ratusan surat yang ia berikan padaku, namun tak secarik pun tiba di haribaanku. Jaman dulu korespondensi biasa dan lazim menggunakan surat. Kadang demi menjaga kerahasiaan dan privasinya, seorang kurir menjadi pilihannya. Kurir yang seharusnya menjadi penyinambung justru membuang semua surat titipannya. Sudah bisa ditebak, aku tak mendapatkan kabar apa-apa, walaupun konon dianya punya hasrat yang begitu membara padaku. Sebagai seorang wanita, pantang bagiku menanya kabar semua itu. 


Hari, bulan, hingga tahun berlalu, aku sudah tak menggubris harsratnya itu. Seseorang lain yang tak pernah aku kenal sebelumnya ternyata telah meminangku melalui pendekatan Pak RT tetangga kami. Cilakanya semua anggota keluargaku menyanggupinya. Dan aku resmi bertunangan dengan lelaki itu. Cita-citaku untuk melanjutkan di sekolah menengah atas kandas sudah dan harus menikah belia. Sebelum prosesi pernikahan justru kabar cowok yang pernah menaruh hati padaku merasa kehilangan karena dicurangi kurirnya yang ternyata menaruh hati juga padaku. Aku sempat lari ke rumah teman-temanku sebagai protes pada ayah ibu. And finally saya menikah jua walau hati begitu kalut menerima kenyataan itu. 


Sebagai pasangan yang terlalu muda, aku masih ingin menjadi manusia bebas bagai anak sekolah, tapi apa daya aku telah dimiliki seorang lelaki yang tak pernah kebayangkan sebelumnya. Orang tuaku membiarkan aku beraktifitas di bidang pendidikan walau hanya sebagai pendidik anak usia dini di sebuah pesantren. Di lembaga pesantren ini aku bertemu kembali dengan orang yang pernah mengidolakanku dulu. Bak gayung bersambut, uluran tangan dan perkenalannya kuterima dengan ragu. Akhirnya kami menjadi akrab di jalan gelap tanpa sepengetahuan sesiapa. Aku benar-benar merasakan jatuh cinta, menemukan cerita usia masih virgin dulu. Ia tak permasalahkan itu semua, karena dia juga punya pasangan resmi. Dan kami memilih jalan gelap itu. 


Kami tak bisa menyembunyikan kekuatan cinta itu. Aku tak peduli dengan sikapku. Entahlah apakah ada orang yang mengetahui perjalanan cinta kami. Kadang aku berlabuh dan bersandar di dadanya. But this is wrong. Aku benar-benar telah dibutakan oleh kebaperanku. Mungkin karena kesalahan sikap kami itulah, di otak dan perasaanku berkecamuk berbagai rasa, marah, rindu, kecewa, dan lainnya. Akhirnya aku kalah, tubuhku menyerah,  aku harus opname ke sebuah rumah sakit swasta karena beban perasaan yang mendalam. Mau berlanjut di jalan gelap, aku dan dia sudah punya pasangan sendiri. Cinta kami serupa mawar hitam saja, tak cerah tapi kuberikan harum padanya, walau akhirnya duriku melukainya. Sepulang dari rumah sakit, ia kadang masih menyambangiku, namun akhirnya perlahan dia memilih menjauh dan mawarku tanpa siraman cintanya layu kering dan mati.

____

Bondowoso, 13 08 2024



HIDUP DI DUA ALAM

 HIDUP DI DUA ALAM Pak Tyqnue Azbynt Motor kubejek abis hingga bajuku kiwir-kiwir digoda angin. Bayangin aja Upacara Hari Santri Nasional di...