Total Tayangan Halaman

Jumat, 30 Januari 2026

SAMBAL ANGGUR MERAH

 SAMBAL ANGGUR MERAH

Pak Tyqnue Azbynt 



Hem MBG, MBG. Makanan bergizi gratis itu masih tersisa beberapa ompreng di pojok kantor dekat pustaka guru. Ada sekitar 20 yang masih menunggu sentuhan guru-guru yang ogah-ogahan gegara waktunya kurang pas. Mau di bilang santap siang masih pukul sepuluh mau dikata sarapan sudah semenjana waktu. Akhirnya mereka mereka seperti merana diacuhkan para guru.


Walaupun sedikit acuh kucoba membuka tutup omprengnya, hemm setangkup nasi, sekepal naget, sayur bening plus empat butir anggur merah. Akhirnya kupaksa tuk memindahkannya ke dalam beberapa box plastik yang terpisah. Kalau tak dipindahkan pasti para petugas kurir MBG itu meminta untuk dikonsumsi. But, teman-teman guru seperti hilang selera, bukan hanya karena sudah kenyang tapi juga soal masakannya yang hambar. Biasanya sih, ada saja teman yang menyiasatinya dengan membawa sambal dari rumahnya, tapi kali ini tak ada satu pun yang membawanya. Mau beli di kantin madrasah, kami para guru tak punya e_maal kartu belanja. 


Terpaksa aku blusak-blusuk ke rak cangkir di ruang sebelah. Alhamdulillah-nya aku menemukan sedikit garam dapur dan cabai yang sudah hampir mengering. Tanpa ba-bi-bu langsung saja kueksekusi, tapi rasanya hancur tak semeriah permen nano nano. Atas saran untaz Rian agar diberi anggur MBG agar sedikit ada airnya. Dilalah selepas diramu dengan anggur merah rasa sambal itu menjadi beda dan menggugah selera. Setelah selesai diulek oleh ustaz Ahmadi yang bersebelahan dengan ustaz Rian. Kami pun melahap nasi MBG dengan sambal anggur merah. Disela-sela makan Ustaz Rahman berseloroh, "hah ini perlu dilaporkan ke Pak Presiden Prabowo, bahwa sambalnya adalah sambal saingannya masakan Eskimo". "Pasti beliau acung jempol atas kejeniusan guru-guru yang sudah disuplai menu MBG tiap hari, karena otaknya makin smart", timpal ustaz Rahman sembari mengunyah santapannya.

___

Bondowoso, 30 Januari 2026

Senin, 19 Januari 2026

PIA PAK SYAM

 PIA PAK SYAM 

Pak Tyqnue Azbynt 



Jelang subuh bis kami tiba di pelataran parkir yang tak sebegitu jauh dari area komplek Asta Embah Sunan Ampel Surabaya. Sekedar melepas penat sembari antre toilet tuk mandi atau wudhu tuk salat subuh. Kupilih bantaran kecil di depan toilet duduk berselonjor sembari melihat teman-teman lain yang memang membawa pasangannya. Misi kami adalah mengikuti pelatihan manasik di asrama haji Sukolilo Surabaya, sedangkan ziarah kubur menjadi bagian lain yang mesti kami ikuti sesuai jadwal yang sudah diskenariokan. Tapi bukan itu pointnya yang hendak kuceritakan, ini tentang perang di dalam dadaku yang berkecamuk melawan diriku sendiri. Berapa tidak, hasil kerjaku bersama istri bidadari titipan mertua itu hanya dipakai untuk biaya ibadahku sendirian tanpa mengajaknya ke tanah suci. Walaupun alasanya adalah tuk bea studi anakku di luar negeri, tapi mengesampingkan istri sungguh terlalu ego.  Tangis kutahan agar aku terlihat begitu tegar, padahal sejatinya aku runtuh. 


Pak Syam yang hilir mudik meramahi kami, Bu Nasir yang sesekali melepas banyolan-banyolan kecil yang justru menjadi twist tersendiri. Bak Riskin Yang mengayomi kami-kami yang sudah manula, selalu saja dilakukannya dengan sabar. Cak Dul Sang Sensei yang menyemangatiku menjadi atensi terdiri bagiku. Tapi ketika otak dan perasaanku kembali menerawang jauh ke rumah, dadaku serasa berguncang keras, belum lagi harus pontang panting persiapan biaya, and finally aku terasa begitu rapuh. Selepas salat subuh kami bergegas ganti baju batik pemberian dari KBIHU muslimat NU sebagai baju komunitas.  Ziarah sebentar, sarapan pagi dan langsung bergegas menuju asrama haji.  Sampai di lokasi, aku ujug-ujug langsung memakai kain ihram dan merapat ke teman-teman yang hendak dibimbing Kiyai Maksum. tr sang motivator. Saat beliau bertanya perihal wudhu, hampir semua kami belum punya wudhu, padahal hendak salat Dhuha. Finally kami segera wudhu dan lanjut salat Dhuha.


Simulasi pelaksanaan manasik benar-benar memberi banyak gambaran bagi kami walaupun situasi sebenarnya di lapangan sangat mungkin berbeda  jauh terutama crawded-nya lautan manusia di sana. Satu hal yang mesti jadi perhatian adalah masalah kesehatan harus benar-benar prima karena ibadah ini banyak kegiatan fisik yang memerlukan effort tersendiri. 


Prosesi latihan selesai, ada temanku yang mandi lagi, ada yang duduk santai sembari menunggu pukul 10.30 tuk makan siang di RM Bromo Asri yang sudah di-booking oleh penanggung jawab event. Di acara santap siang itu, kembali hatiku diaduk-aduk manakala mereka santap siang bersama pasangannya sendiri-sendiri. Sebenarnya ada sih yang  berlagak "jomblo" seperti diriku dan tak mengajak pasangannya tuk tunaikan haji bersama. Alasan finansial dan hal lain yang bisa diceritakan. Tapi soal istriku kan sudah daftar tapi pada tahun tertentu sudah ditutup dan pada saat yang sama uang yang sudah di bank harus diambil demi kebutuhan anak yang praktek lapangan di BRIN (Badan Riset Nasional) selama 6 bulan plus pengayaan kajian ke Malaya University serta universitas lain di Malaysia. Intinya butuh biaya sampai ratusan juta. But soal istri kan belahan jiwa, bidadari titipan mertua. Inilah yang tetap menjadi alasan aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. 


Usai santap siang kami harus bergegas pulang karena sudah capai dan ingin menyapa orang-orang di rumah. Audio di bus melantunkan lagu-lagu kenangan masa mudaku  benar-benar mengajak perasaan ke masa belia, belum lagi ibu-ibu di belakangku yang ramai ngerumpi cerita kelincahannya di masa perawan dulu. Di sisi kiriku duduk seorang bapak yang konon lahir di jaman Jepang tapi kesehatannya masih prima. Hal unik yang membuatku angkat topi adalah habitualnya yang acap kali bergumam mengikuti lantunan lagu yang tayang di audio track bus itu. Hampir sepertiga perjalanan Pak Syam kembali berbagi jajanan pada kami begitu pun Pak Nasir dn Bu Nasir yang berbagi peduli. Saat Pak Nasir masih ke toilet tetiba kue pia yang diberikan. Pak Syam pada kami sudah tinggal 3 biji. Dan, "Eits saya minta lagi pak,  buat yayang suami mantan pacar", kata Bu Nasir kembali melepas banyolannya. End game nya kue Pia Pak Syam ini  menjadi cerita cinta Pak dan Bu Nasir yang diendorse-kan pada kami. Hemm jadi meri sama kemesraan mereka.

IFTARA RAMADANY

 IFTARA RAMADANY Pak Tyqnue Azbynt           12 tahun lalu bayi masih merah itu ditemukan seorang guru honorer di sebuah peron stasiun kecil...