Pict source. Instagram Beautifuldixe
BILA HATI SEDANG RINDUPak Tyqnue Azbynt
Hujan kembali membasahi hatiku bagai dulu saat dia membersamaiku. Kudapan kecil dan teh hangat penyela saat dingin melanda. Senyum renyah bersama cecanda tentang cita masa depan kami.
Mas Razli memilih belajar di negeri Jiran sedang aku terdampar di sebuah pesantren salaf di kotaku. Pulang mudik hanya 2x setahun, saat jelang Idul Fitri, dan saat bulan Maulid. Dia tak pernah diketahui kapan pulangnya dan tak pernah ada kontak yang bisa saya hubungi saat aku pulang dari pesantren.
Menjelang idul Fitri, 2 tahun yang lalu aku dengar kabar dari temanku yang kenal dengan keluarganya bahwa dia sudah memperistrikan orang Brunai. Semula aku tak percaya karena komitmen kami adalah saling percaya dan saling menjaga.
Aku pulang nyantri dengan hati remuk, lelaki idamanku rebah di pelukan orang lain. Setahun sudah aku berusaha melapaskan semua cerita yang pernah kami gurat bersama di dinding hati kami.
Idul Fitri tahun lalu tak bisa lagi kukirim kartu ucapan melalui keluarganya yang sesekali masih bisa aku hubungi saat mudik mondok. Maklumlah di pesantren tak diperkenankan memegang HP sehingga kami benar-benar diskonek dengannya. Lebih parah lagi saat kudengar tentang dia yang konon telah beristri orang lain. Hancur nian hati rasanya dan tak ingin lagi kudengar berita tentangnya.
Aku yang semula memilih Ghurfah Bahasa Arab karena bercita-cita bisa membarsamainya dengan kemampuan bahasa, karena pergaulan dia yang manca negara. Ya sedikitnya aku bisa mengandalkan bahasa Arabku.
Semenjak kabar dia telah dibersamai orang lain, asa kuganti dan beralihlah ke Ghurfah Tahfiz. Di tempat baru inilah aku menemukan damai. Walaupun hanya 10 juz hafalanku, lumayanlah bisa kumpul-kumpul dengan para senior di berbagai event mewakili pesantren kami.
Rabiul awal tiba, pulangan pesantren bagi semua santri menjadi dambaan tuk menuntaskan sisa rindu mereka, begitu pun aku. Kudapati kembali beranda tempat aku dulu, dan memorinya terkuak kembali. Hujan kembali tiba dan semua cerita dulu satu persatu melayang di benakku.
Tanpa kusadari banjir di mataku diketahui Abah dan umah apalagi sedu tangisku tak bisa kututupi. Umah ikut menangis sementara Abah malah membentukku agar tegar dan harus tunjukkan bahwa kita tak merendahkan diri demi cinta. Di bulan itu memang di mana-mana ramai orang shalawatan, dan mengaji yang di on kan pada Toa mushala, atau masjid-masjid. Maklumlah kami masih menjaga tradisi religiusitas kami. Karena aku hafal Al-Qur'an 10 juz dan suaraku lumayan bagus, beliau menyuruhku tuk mengaji dengan tilawah lagu Jiharkah kegemaran beliau. " Lupakan kisahmu bersama lelaki pembohong itu, hayo sana ke mushala depan Abah ingin dengan suaramu hasil di pesantrenmu", begitu seru beliau.
Aneh, tumben di depan rumah ramai orang lewat dan sesekali melihat ke arahku. Yang menjadi pengacau bacaanku saat mas Razli bersama Wak Kosim ayahnya datang ke mushala dan bertanya hendak menemui Abah yang kebetulan ada di balai-balai di halaman belakang. Dari situlah baru aku tahu kalau mereka hendak meminangku, tapi Abah menolaknya dengan halus, ya alasannya tidak mau anaknya dijadikan poligaminya. Suasna menjadi panas saat aku dipanggil dan menanyakan kesediaan untuk mendampinginya. Kunyatakan penolakanku dengan alasan tak mau merusak rumah tangga orang lain. " Bukankah adik yang telah nikah dengan ustaznya di pesantren?".
" Jangan cari alasan mas kalau masnya memang beristri orang Brunai itu".
" Kata Zainab".
"Lah katanya si Adik yang telah memulai nikah duluan dengan ustaznya, itu pun kata Zainab sehingga dia menawarkan diri tuk menjadi penggantimu, dan aku masih berharap bisa menunggu jandamu", katanya.
" Ngawur aja ...saya masih suci mas".
Tapi Abahku tak serta-merta menerima lamaran itu, takut itu tipuan bulus belaka. Beliau memberi syarat baleh bertunangan asal, aku hafal 30 juz dan mas Razli pulang dengan membawa titel kesarjanaannya.
____
Bondowoso, 2 Juni 2023

Tidak ada komentar:
Posting Komentar