HERLIANTY
Pak Tyqnue Azbynt
Belum tuntas garapan lukisanku lelah telah mendera tubuhku, dan gagasan-gagasan perlahan menjadi sirna. Permainan warna semakin tak hidup. Ritma, perspektif, contras, balancing menjadi kacau. Dan terpaksa kanvas kutinggalkan tanpa guratan estetis.
Sebuah video call bertamu di gawayku. Wajah dan suaranya seperti tak begitu asing walaupun lamur di memoriku. Dan baru aku tersadar saat kusimak bicaranya ketus-ketus manja. Herlianty seorang dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam ' Noor El Hikmah ' di kotaku. Maklum saja aku sempat terlupa padanya karena sejak aku bersalah padanya dulu. Koneksitasku padanya terputus semua. VC itu menjadi temu maya yang mengasyikkan. Tak ada batasan etika, semua ditabraknya demi jelajah semua rindu yang pernah kami punya. Rupanya kesibukan kami masing-masing yang sama sebagai dosen telah merenggangkan temali cinta kami.
Tak pernah logikaku terbawa ilusi pada seorang wanita. Semua analisa yang ada di kepala kuacuhkan saja. Dosen vs dosen biasanya selalu bermain logika, tapi kemanjaannya meruntuhkan daya nalarku. Aku terbawa oleh permainanya. Senyumnya benar-benar mengunci semuanya.' Herlianty tunggu saja hadirku selepas libur semester depan, kan kumanja engkau di langit ke 1', begitu kata hantiku. Kita kan bermain gemintang di taman Nebula, dan kucolek lesung pipinya. Kerlingan manjanya sembari mencubit lenganku. Saat itu bersinarlah semua debu debu angkasa menjadi Aurora selatan yang memesona.
Bondowoso, 24 1 23

Tidak ada komentar:
Posting Komentar