BILAN SOMALI GIRL
Pak Tyqnue Azbynt
"Hey bapak Indonesia? Garuda di dadaku...", katanya sembari mengepalkan tangannya. "Kok bisa bahasa Indonesia", tanyaku penasaran. Dari penjelasannya baru tahu kalau Orang Somalia banyak bisa Bahasa Indonesia karena diajari bapak-bapak tentara Indonesia yang mengemban misi perdamaian PBB. Saking penasarannya aku lanjut berbahasa Indonesia dan anehnya dia masih sanggup melayani. "Indonesia hebat, Indonesia saudara Afrika", lanjutnya meyakinkan.
"Namaku Bilan seorang guru di Elementary school, masih single dan imut".katanya sambil senyum. "Well well, aku tidak single aku punya istri..he he", paparku. "Owh laki boleh more wife, two until four", jelasnya, bahkan di Afrika itu kalau monogami dianggap aib oleh masyarakat. Berbagi suami sudah menjadi tradisi. Somalia di kawasan utara lebih aman dari friksi peperangan. Dan dia merupakan warga bagian sana. "Bukankah, warga Somalia sering merompak kapal di teluk Aden, wih itu mengerikan", candaku. Namun penjelasannya membuat aku maklum. Negera Somalia tak punya angkatan laut, lautnya panjang, sementara laut mereka dijadikan bancakan kapal-kapal besar internasional, dan membuat nelayan miskin, tidak hanya itu limbah berbahaya juga dibuang di laut Somalia. Jelasnya panjang lebar yang sesekali pakai English walaupun sebenarnya dia justru lebih suka pakai bahasa Perancis, yaa akunya yang gak bisa. " Aku belum pernah berencana beristri lebih dari satu, wah bisa diusir dari rumah aku selepas haji ini". "Coba saja, kita boleh coba toh, aku satu keluarga tujuh orang berhaji, and so kita bisa nikah di tanah haram. Kami cinta bapak Indonesia, kan anak kita bisa Indonesia-Somali", katanya yakin sekali. "Kalau aku menolak?" "Tak apa tapi kami rompak biar jadi suami aku". Duh kok bisa sejauh ini sih, pikirku. Nikah itu bukan main-main kan, masa mau menikah di Mekkah. Ah ini tidak bisa jelasku. "Tidak apa apa toh, nikah bentar aja setelah itu pulang ke negara sendiri sendiri". "Yaaa masa nikah langsung pulang, gimana sih?", sambungku. "Bukan begitu, kita bulan madu dulu, kalau sudah tiba saat pulang, ya kita pulang". "Ah berarti aku hanya menikmati cinta sesaat dong". "Tidak apa kita bisa saling jumpa di sini dengan umrah tiap tahun", jelasnya. "Duh gimana sih kok bisa belibet gini, jujur aku juga suka gaya kamu lho, tapi aku menghianati istri di rumah ". "Tidak apa jangan so bilang bilang, waktu aku masih satu bulan di sini". "Ah aku kan kurang 2 Minggu". "Kan sudah tawaf Ifadah, and so kita bole bersenang senang". Aduh maaaak, cobaan apa lagi ini, aku jadi ingat ungkapan Bahasa Madura, "Ekabin Enger edinah niser" (dikawin gaduh ditinggal kasihan).
____
Tanah Haram, 3 Juni 2026
Gimana ne pembaca, nikah pa gak? Keknya coklat bronis manis menggoda Yach?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar