DI LANGIT MADINAH DI SAHN NABAWI
Pak Tyqnue Azbynt
Terasa kali ribuan percikan air springkler menyegarkan saat embusannya mendarat lembut di wajahku. Payung payung raksasa sudah mengembang hingga tak tampaklah langit Madinah tanpa bercak putih setitikpun. Tercatat 43° Celsius di berita hp-ku. Menunggu ashar tiba di sahn tak sesejuk di dalam masjid. Sengaja aku pilih sahn agar bisa sedikit berkenalan dengan orang-orang manca negara demi mengusir kantuk siangku.
Duduk di sahn lebih rileks dan bisa bertaarruf dengan saudara-saudara seiman dari berbagai belahan dunia ini. Dari busananya sudah bisa kita duga-duga sebenarnya meraka itu bangsa mana. Orang Afgan dengan surbanya yang disebut Lungee (surban Afganistan) yang panjangnya bis 5-6 meter melilit di kepala, atu patke/pagri warna hitam yang ujungnya dibiarkan menjuntai ke belakang seperti orang Taliban. Sementara orang Arab kita kenali dengan Ghutrah kain kotak-kotak putih atau merahnya. Orang Asia tenggara kebanyakan pakai sarung yang model dan bentuknya hampir sama, hanya saja Indonesia lebih spesifik dengan sarung batiknya. Wajar kalau batik Indonesia diakui UNESCO, lah wong ke tanah suci aja gak ketinggalan berbatik dengan Songkok Nasionalnya, ada dari bangsa lain menyebut Songkok Muhammad Suharto, ada yang bilang Songkok Sukarno, entahlah.
Duduk di Sahn sembari saling mengenal simbol-simbol pakaian menjadi keakraban tersendiri, apalagi sambil bercanda-canda ringan. Namun ada yang sangat ektrim kadang dari pakaian surbannya saja ada dengan penghormatan khusus yang tidak boleh disentuh sembarang orang, karena dianggap mengganggu kehormatannya. Sedangkan songkok nasional kita kadang dijadikan pemukul santri oleh guru ngaji saat masih ngaji di surau. Dari penjelasannya mereka yang diselingi dengan isyarat karena bahasa yang digunakan beragam kadang Inggris kadang Arab. Diantara saudara-saudara seagama itu ada yang bawa anak kecil sembari menunjukkan gambar di HP nya, "Uncle, uncle what's this?", sembari menunjukkan gambar orang Nusantara. Duh sayangnya aku tak bnyak tahu, yang kukenal hanya blangkon dan Udeng Madura. Ah betapa tak menghargainya aku akan hazanah busana nasional ini. Wajarlah kalau Ashraf yang nanya sedikit kecewa, tapi untunglah aku berikan dia Udeng Madura yang selalu saya bawa dalam tas tentang. Walaupun sedikit kedodoran tapi dia senang kok.
__
Madinah, 19 Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar